Arkan Dinda

Arkan Dinda
When that night



Dinda dan Syifa juga ayah ibu mereka datang ke sebuah pesta dengan tema pesta ulang tahun.


Dinda sebenarnya malas tapi, Ibu yang minta melalui Syifa, Dinda harus mengiyakannya.


Tidak lama acara inti akan menjadi acara yang di tunggu-tunggu. Dinda memilih menyingkir dan berdiri di paling belakang.


Dinda duduk di kursi dekat meja bundar yang kosong di sudut ruangan ballroom yang sangat meriah karena sedang ada pesta itu.


Arkan yang di persilahkan kakeknya untuk melancarkan inti dari acara malam itu.


Arkan menatap datar dan dingin melakukan apa yang kakeknya perintah.


Arkan yang sudah selesai dengan acara inti yang memang dirinya di butuhkan dan sangat penting, sekarang sudah selesai. Arkan naik ke lif menuju lantai paling atas. Melepas dasi pitanya dan membuka satu kancing atas kemeja putihnya. Arkan juga melepas kancing jas hitam nya berjalan menuju ke pagar kaca pembatas rooftop.


Seketika langkah selangkah kaki Arkan memelan tatapan mata Arkan tidak berkedip ketika melihat seseorang didepannya yang duduk sendirian dengan wajah sayu dan bosan. Memainkan segelas air mineral.


"Kak Arkan," ucap Dinda ketika tidak sengaja melihat siapa yang berdiri di depannya.


Dinda langsung bangkit dan bergerak menyingkir seketika Arkan menghentikannya dengan berdiri di hadapan Dinda menghentikan langkahnya.


"Eh.. Ehmm maaf," ucap Dinda.


"Lo ada waktu," ucap Arkan.


Dinda terdiam, seketika mengangguk.


Dinda menatap Arkan.


Arkan malah melangkah pergi ke dekat pagar dan duduk menghadap pada menatap kedepan sana. Pemandangan malam kota yang padat dan lampu penerangan rumah gedung dan jalanan terlihat seperti cahaya berwarna cerah.


Dinda perlahan mengikuti Arkan dan duduk berdua.


"Lo suka gue dari kapan?" ucap Arkan tiba-tiba.


"Dinda lama suka Kak Arkan dari awal masuk sekolah Sma Bangsa, Waktu itu Dinda gak tahu kakak Siapa? Tapi, waktu Kiran tahu Dinda ngeidolain Kak Arkan karena pinter jago olahraganya dan juga sering bawa pulang piala waktu olimpiade sains atau lomba cerdas cermat di luar sekolah, dari situ Dinda suka sama Kak Arkan karena kakak rajin pinter disiplin," ucap Dinda dengan polos dan panjang.


Seketika Arkan terkekeh manis.


"Manisnya," ucap Dinda tanpa sadar. Arkan menoleh.


"Eh.. maaf kak," ucap Dinda malu.


"Gue harus ngejauhin lo karena alasan yang gak bisa gue bilang dan Maaf kalo gue pura-pura lupa sama lo," ucap Arkan.


Dinda terdiam.


Seketika tersenyum hangat.


"Oh.. itu gak masalah sih kak, Belakangan ini Dinda udah belajar lebih dewasa semoga sifat kekanakan Dinda gak malu-maluin lagi, Dinda sadar, Kak Arkan itu pasti gak bakalan jahat, Kalo jahat, udah dari dulu kali Kak Arkan nyakitin Dinda Heheh," kata Dinda di akhiri tawa ringan.


Arkan lagi-lagi tersenyum kali ini Dinda bisa melihatnya.


"Selama gue lulus Sma nanti apa lo bakalan masih suka sama gue," ucap Arkan seketika.


"Heeh.. Suka, Ya jelas, Masa iya gak suka, tapi, sebagai apa? Kalo waktu itu Dinda suka sama kak Arkan sebagai semangat brlajar terus kelas sebelas ini Dinda semakin kesini kayaknya suka lebih, dan ungkapan perasaan itu bisa dibilang beneran," ucap Dinda.


Arkan menunduk seketik menoleh menatap Dinda.


"Makasih lo udah buat warna di hidup gue yang suram," ucap Arkan.


Arkan terdiam seketika Dinda berdiri.


"Dinda juga mau bilang makasih buat semua hal yang pernah kakak kasih ke Dinda dari perhatian gak terduga kakak dan juga Perhatian kakak waktu hujan-hujan itu, Oiya helm... makasih banyak, Dinda percaya Kak Arkan cuman minjemin helm yang waktu itu ke kak Citra kan. Gak papa Dinda gak marah. Tapi, Kakak jangan pernah lupa sama Dinda ya, Karena Dinda juga gak akan lupa sama Kak Arkan...." ucap Dinda terhenti seketika Dinda tersenyum.


Darah... di gaun biru Dinda.


Arkan tersenyum lalu tatapan Dinda turun ke bawah, Dadanya terasa di tusuk timah panas.


Dinda jatuh. Seketika Arkan menatap dengan wajah khawatir yang sangat baru Dinda lihat, samar Dinda mendengar jika Kak Arkan mengatakan jangan tutup mata, jangan tutup mata.


Arkan turun kebawah Seketika meminta pegawai menelpon sopirnya. Tidak lama mobil Arkan datang Arkan langsung naik. Seketika Neneknya dan Kakek Arkan datang karena salah satu pegawai membawa kabar jika Arkan membawa gadis yang tertembak.


Syifa yang sempat melihat Dinda di gendong Arkan Syifa langsung memberitahu ayah ibunya.


"Pah Mah Dinda darurat di bawa Arkan pergi naik mobilnya barusan Syifa juga liat Kakek nenek Arkan itu pergi juga."


Penjelasn Syifa cukup membuat Ayah dan ibunya terkejut setengah mati.


Bergegas pergi, ayah Syifa sempat bertanya pada salah satu pegawai kemana Arkan pergi.


Tidak ada yang tahu, Mereka semua tidak tahu.


Tanpa basa basi Ayah Syifa dan Ibunya Dinda menaiki mobil yang sudah siap.


Di telepon ayah Syifa meminta pada seseorang untuk mencari tahu dimana Arkan membawa Dinda. Rumah sakit mana?


Disini Di rumah sakit tempat Arkan di rawat dulu.


*


Semua berkumpul di ruang tunggu menunggu Oprasi Dinda berjalan lancar.


Setengah jam berlalu.


Oprasi belum selesai.


Arkan terlihat acak-acakan frustasi. Ada noda darah di kemaja Arkan.


Kakek menatap cucunya yang begitu hancur walau tidak terlihat di depan semua orang tapi Arkan memperlihatkan semuanya di depan mata kakeknya.


"Pergi lah pulanglah dulu," ucap Kakek. Arkan menatap kakeknya wajahnya terlihat pucat.


Arkan mengeleng.


Nenek langsung memeluk Arkan.


Syifa berusaha menengkan ayah dan Ibunya. Mereka terkejut jika Dinda bisa sampai seperti ini.


Di ruang rawat Vvip. Arkan yang memberikan pada Dinda agar Dinda di rawat dengan baik.


Dokter menjelaskan pada ketiga pria didepannya Arkan Ayahnya Syifa dan Kakek.


"Peluru itu hampir mengenai jantungnya dan karena pendarahan yang di alami pasien cukup parah juga tingkat kesadaran semakin menurun, Kami tim medis hanya bisa berdoa semoga Tidak ada hal buruk terjadi pada pasien karena peluru tadi hampir menggores jantungnya...."


Arkan menatap Dinda dengan tatapan sedih ada rasa kehilangan seakan semuanya berhenti bergerak di sekitar Arkan. Dokter yang masih menjelaskan di hadapan Arkan tidak di dengarkan Arkan lagi setelah penjelasan terakhir.


Apa yang harus Arkan lakukan, Pembicaraan untuk tidak melupakan Dinda dan tidak menjauhinya, Apa ini, inikah yang di maksud?


Kakek dan ayah Syifa pergi meninggalkan Arkan sendiri dengan Dinda yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.


"Maaf."


Maaf. Kata itu yang bisa Arkan katakan, Bagaimana bisa Arkan lengah. Arkan seharusnya tidak lengah. Arkan merasa payah merasa pencundang dalam dirinya membuatnya lemah dan membuat Dinda terbaring di rumah sakit sekarang.


Arkan mengambil tangan Dinda mengenggamnya dan menciumnya dengan tulus.


"Jangan Pergi... Aku mohon sama kamu Dinda, Aku akan selalu ada buat kamu, Aku mohon, Kamu denger aku, aku akan selalu sama kamu, Aku ada disamping kamu, Jangan bilang makasih atas semuanya, Aku mohon jangan pergi Dinda," suara Arkan sangat puli. Sangat lembut dan sangat bisa membuat Dinda terbang dan melompat kegirangan.


Tapi, itu hanya bayangan yang sebenarnya Dinda tidak bisa melihat sikap manis Arkan sekarangan dan melihat seseorang yang di sukainya sedih untuknya mencium dan menggenggam erat tangannya.


Arkan harus bagaimana lagi, inikah titik lemahnya, Ini orang yang harus Arkan lindungi. Arkan mengerti sekarang.


Tapi, terlambat.


Suara alat medis yang berbunyi dan juga pelembab ruangan dan pengharum aroma terapi memenuhi ruangan Dinda.


Sepi sunyi isak tangis kecil Arkan tidak terdengar sama sekali. Arkan menangis sambil mencium tangan Dinda yang terpasang alat medis.


Di luar Tepatnya di ruang tunggu keluarga. Kakek Arkan dan Ayah Dinda saling berhadapan dan terdiam menatap dan nenek dengan Syifa juga Ibu Dinda ada di tempat satu ruangan dengan mereka tapi berjarak.


Malam ini adalah tragedi yang sangat mengejutkan Arkan atau pun keluarga Dinda tidak pernah membayangkan jika hal ini menjadi hal yang sangat tidak benyenangkan dan Sangat buruk untuk mendapatkan daftar pengalaman buruk.