Arkan Dinda

Arkan Dinda
Warung pecel



Dinda menikmati sangat makanan yang di makannya hingga seorang anak kecil tiba-tiba duduk disampingnya dan ada perempuan dewasa.


"Eh.. Lala gak boleh nakal ya," ucap Wanita dewasa itu.


"Hehe.. Gak papa Adek manis ya, namanya siapa?" ucap Dinda dengan tersenyum.


Tidak lama Bagus datang membawa dua piring pecel ayam.


"Loh.. Kak Bagus." Kata Dinda ketika melihat Bagus disana.


"Bagus kamu kenal, Kamu pacarnya? maaf ya aku ganggu kalian," ucap Larisa wanita dengan anak kecil tadi yang tidak sengaja Lala menyenggol gelas teh Dinda dan membuat tehnya sedikit keluar gelas.


"Eh.. bukan!" Sahut Dinda cepat dengan wajah kikuk.


"A-aku adek kelasnya... aku juga gak terlalu kenal Kak bagus karena dia kakak kelasku, kalo kakak siapa namanya, ini anak kakak?" ucap Dinda.


Suasana kaku dan henjng di antara mereka. Bagus langsung melangkah pergi mengambil air teh untuk Lala dan Larisa. Bagus cari aman.


"Aku Larisa." Katanya dengan tersenyum. Dinda mengangguk-angguk sambil tersenyum.


Bagus tidak sengaja melihat Arkan dengan Citra disana.


Seketika itu tatapan Arkan bertemu dengan wajah Bagus yang menghadap ke arahnya. Arkan mengisyaratkan untuk diam. Bagus langsung mengalihkan wajah datarnya dan melangkah pergi ke meja Dinda dan Larisa.


"Kenalin Dinda.. dia calon anak gue." Seketika Larisa menyikut perut Bagus.


Bagus langsung kesakitan dan wajahnya terkejut.


Dinda merasa canggung.


"Ah.. Siapa tadi namanya?" ucap Dinda beralih pada Lala.


"Nama ku Lala, Kak. Kakak makannya banyak cambel(sambel), Lala juga cuka(suka) makan cambel(sambel) iya kan mah.." Katanya dengan polos lalu meminta Larisa ibunya menjawab dengan setuju. Larisa mengangguk.


"Wah.. keren suka sambel. Ngomong-ngomong kamu manis juga ya, oiya Kamu jangan banyak makan sambel nanti sakit perut tahu, ih.. kakak ini makan sambel karena kakak lama gak makan," ucap Dinda dengan riang.


Lala langsung menatap suka ke arah Dinda.


"Iya kak.. Wah.. kalo gitu aku gak bica(bisa) banyak-banyak ya..kan mah?" Menatap Larisa. Larisa tersenyum mengangguk.


" Iya sayang sekarang makan nanti langsung pulang." Mengatakan sambil memisahkan daging dengan tulangnya. laris tersenyum pada Lala.


Dinda seketika murung mengingat ibunya.


Ketika Larisa akan menatapnya Dinda segera menutupi sedihnya dengan senyuman dan wajah bahagianya.


Setelah Lala aman dan makan nyaman. Kini Larisa makan.


Dinda masih duduk makan dengan pelan hingga habis di tahap terakhir penutupan. Lalu meminum teh tawarnya.


Setelah selesai. Dinda tidak langsung pulang tapi, Duduk sebentar.


"Kak.. Maen Cama (sama) Lala ya.. kapan-kapan... nanti Om juga," ucap Lala. Dinda mengangguk.


"Ok nanti kakak maen gak janji kalo besok atau secepatnya. Ok," ucap Dinda.


"Ok Kak!" Sahut Lala sambil mengacungkan dua jempolnya.


Dinda tersenyum dan menempelkan dua jempolnya pada dua jempol Lala.


Arkan memperhatikannya, Dinda yang bicara dengan anak kecil, dan itu juga membuat Citra malas dan marah, tapi, Citra tahan karena dirinya harus terlihat baik di samping Arkan jangan buruk. Citra tahu jika ada Dinda disana.


Arkan menyelesaikan makannya dan membayarnya. Seketika Arkan berbalik pada Citra.


"Bayar sendiri." Katanya dengan tega dan santai. Citra menghela nafasnya.


Sabarin aja, pikir Citra. Sambil mengusap dadanya.


Dinda banyak bicara dengan Lala hingga memberikan nomor teleponnya pada larisa karena Dinda tidak bisa menolak permintaan Lala.


"Kakak juga cimpen(simpen) nomor mamah aku ya," ucapnya dengan senang seketika panggil masuk dan Dinda membalik layar menghadap Lala.


"Iya kak itu nomor Mama," ucap Lala.


"Lala oiya.. kamu jangan sembarang kasih nomor mama kamu sembarang orang kasihan mama kamu kalo sampe di gangguin rang jahat gimana?" ucap Dinda dengan tenang dan pelan.


Lala menatap mamanya dan Menatap Bagus.


"Tenang aja kakak. Mamaku juga orangnya teliti kayak kakak." Katanya dengan percaya diri. Seketika Dinda tersenyum dan mengangguk mengusap kepala Lala dengan lembut.


"Kakak pulang dulu ya.." Kata Dinda dengan tersenyum.


"Kak Risa aku pulang ya, Kak," ucap Dinda pada Bagus dan Larisa.


Dinda membayar lalu mengetik pesannya untuk pesan ojek online. Seketika Rian datang dan menyambar ponsel Dinda.


"Kebetulan gue sendiri lo bareng gue aja." Dinda menatap Rian dengan datar.


"Maaf kak tapi Dinda terlajur pesen ojek dan kasihan tukangnya pasti lagi jalan kemari."


Alasan Dinda seketika Dinda merebut ponselnya dengan cepat dan menjauh. Rian tersenyum getir menatap Dinda.


Seketika tukang ojek datang Dinda langsung mengambil helm dari tukang ojek tersebut.


Sebelumya Bagus juga melihat Rian di warung pecel dan Rian juga menyadari ada Arkan dan Citra lalu Bagus dengan Larisa.


Seketika ponsel Rian bergetar.


"Hallo."


"Iya.. Gue ikutin dia pulang," ucap Rian lalu menutup ponselnya.


Seseorang meletakan ponselnya di atas meja dekat balkon dan masuk setelah selesai menelpon Rian.


Rian pergi dengan motornya mengikuti Dinda.


Sampai dirumahnya Dinda langsung masuk dan kembali mengunci pagar dan pintu juga beralih jendela dan beberapa pintu di pagar belakang dan samping.


Dinda menatap cermin di kamarnya dengan malas.


Rian berhenti dan membuka helmnya. Rian menatap jendela kamar yang terang dan ada Dinda yang sedang duduk menatap keluar jendela sekarang.


Rian mengetik sesuatu di ponselnya dan menyimpannya lagi di saku jaketnya lalu pergi.


Di rumahnya Arkan mendapat pesan dari Boby jika Dinda baru saja pulang.


*


Di warung pecel Bagus dan Larisa pergi dan Lala juga. Seketika akan memakai helmnya Larisa terdiam.


"Gadis tadi namanya siapa?" ucap Larisa yang tidak sempat menayakan namanya.


Bagus menoleh.


"Dinda dia gebetan itu Arkan." Kata Bagus dengan jelas. Seketika Larisa terdiam.


"Ehm.. Aku kira dia gak ada siapa-siapa? Dia bakalan bisa gantiin tempat aku buat..."


"Jangan bahas itu, Ada Lala." Seketika Bagus memotong ucapan Larisa. Membuat Larisa seketika terdiam dan segera naik ke atas motor.


Di perjalanan pulang Larisa menatap jalanan lalu mengingat semua pembicaraan Lala dengan Dinda. Ternyata perempuan itu menyukai Arkan.


Larisa tidak bisa membuat Dinda suka dan memaksanya.


Sedangkan waktu Larisa tidak cukup lama bersama Lala dan Bagus tidak boleh tahu tentang hal ini.


Seketika Tangan Larisa terasa dingin.


'Tenang Larisa sabar jangan sekarang, batin Larisa.'


Sampai di depan rumah kontrakan yang baru yang sekarang Lala dan Larisa tinggal. Kontrakan itu milik Bagus.


"Nanti uang sewa aku bayar pas sama yang kemaren ya," ucap Larisa dengan wajah malu.


"Udahlah... kamu fokus sama Lala aja, urusan itu lupain aja, anggep aku kasih tempat buat pertumbuhan Lala dan juga tempat Lala nyaman, Anggap aku orang yang gak kamu kenal dan kebetulan kasih kamu kebaikan." Kata Bagus.


"Makacih(Makasih) Papa, Eh... Mama.. Eh.. Om deng, Om Bagus boleh gak Lala panggil Om pake kata Papa," ucap Lala dengan polos. Seketika Bagus menatap Lala lalu menatap Larisa.


"Eh.. Lala." Ucap Larisa seketika menarik memeluk Lala mundur.


"Mamah.. aku udah manggil mamah dan harusnya ada Papa tapi, Kenapa gak bica(bisa) ya Mamah... gak papa deh." Lala seketika lesu.


Bagus turun dari motornya, melepas helmnya.


"Dengar... Lala Om gak masalah kamu mau manggil Om apa tapi, jangan buat Mama kecewa ya," ucap Bagus pelan.


Seketika Lala memeluk Bagus dan menangis.


Seketika Bagus tertegun membeku diam seribu bahasa.


"Lala kenapa?" Seketika bukannya menjawab Lala justru memeluk Bagus lebih erat. Bagus merasa Lala terharu Bagus membalas pelukan itu.


"Mamah cakit (sakit) Om... Mama nangic (nangis) tiap malem Mamah demam mama pucing (pusing) mamah pucet. Lala tahu itu kalo mamah Lagi cakit(sakit). Waktu itu Mamah pingcan(pingsan) Lala gak tau haluc (harus) gimana om...Huhh.."


Bagus mendangak menatap Larisa. Seketika Bagus berdiri dengan menggendong Lala.


"Larisa kamu jujur sama kita?" ucap Bagus tegas.


"Ehmm.. Aku sakit kangker," ucap Larisa ragu takut tidak berani menatap wajah Bagus dan terus menunduk ketika bicara menjawab ucapan Bagus.


Bagus menatap Wajah Larisa dengan sedih.


"Kita harus buat kamu sembuh." Seketika Larisa menatap Bagus.


Bagus tersenyum.


"Tapi, aku gak bisa.." terpotong.


"Bisa.. Aku yang akan jaga Lala kamu bisa pergi berobat pake uang aku," ucap Bagus.


"Bagus.. kamu gak bisa kayak gini kita gak bisa aku udah punya anak satu dan aku janda kamu gak bisa berlebihan bantuin aku."


Bagus tersenyum.


"Dengerin kata orang gak akan ada habisnya, yang penting kita gak ngelakuin kesalahan kita gak perlu takut dan malu, Dan tunggu aku lulus aku lamar kamu, titik. Kamu akan berobat di luar negeri." Kata Bagus dengan wajah hangat.