Arkan Dinda

Arkan Dinda
Hilang



Pergi ke supermarket hari ini setelah pulang dari kuliahnya. Arkan pergi bersama Dinda.


"Kak aku mau ini itu ini itu ya," ucapnya. Arkan mengangguk.


"Tapi, gak ciki lo Din," ucap Arkan.


"Yaa.. Kak Sekali aja.. Ciki- ciki boleh ya.. Boleh lagh kak!"


Arkan menghela nafasnya kasar, yaudah sana dengan anggukan dan gerakan dagu di angkat kedepan.


Dinda bersorak senang. Arkan menemani Dinda memilih kadang lupa jika dirinya sedang hamil malah berjalan ceroboh dan sembarangan Arkan sigap setiap saat ketika hampir jatuh ketika bajunya tersangkut dan lain sebagainya.


Dinda terdiam.


Ketika melihat dua trolinya penuh.


"Udah kak ini aja," ucap Dinda.


Arkan mengangguk dan pergi ke kasir untuk membayarnya.


"Kak Kita kepasar teradisional yuk abis dari sini," ucap Dinda.


"Mau apa lagi?"


"Ih.. Gitu amat jawabnya. Ya udahlah gak usah gak jadi dahlah pulang aja."


Arkan memegang kedua pipi Dinda dan membuat bibirnya seperti ikat lohan.


"IH... Kakak," kesalnya menepit tangan Arkan.


"Iya pergi."


Ucapan Arkan dengan wajah datarnya sambil mengambil belanjaan dari meja kasir membuat Dinda senang dan memeluk lengan Arkan.


Dinda senang berjalan duluan dan pergi ke parkiran.


*


Di sini banyak sayuran segar dan murah ada juga ikan dan daging langsung terlihat dan bisa di sentuh jari.


"Kak.. Jalan aja dulu," ucap Dinda. Arkan mengangguk saja.


Dinda sambil berjalan pelan terus melihat lihat dan melihat ada makan enak. Minta beli dan juga melihat ada rempah minta beli juga.


Yang terlihat enak dan bagus di mata Dinda di belinya.


"Ini buat apa ya." Dinda berpikir.


"Kan tadi buat ini sama itu," ucapnya Lagi berpikir lagi.


Arkan diam saja tidak bicara apapun.


"Kak.. Kok diem sih."


"Hem."


Dinda mendengkus kesal dan mencibir Arkan.


"Ham hem.. Dari tadi gitu coba kalo aku gitu. Bisa gak bisa jalan besok. Huuh Curang."


Baru akan melewati tukang batagor. Melihat Larisa dan Bagus lewat.


"Hey.. Dinda." Panggilan Larisa seketika Dinda menoleh.


"Kak Risa.. Apa kabar, eh.. Hamil juga kak," ucap Dinda.


"Iya.. Dah gede ya keliatan banget padahal aku dah pake baju besar biar gak terlalu gede."


Dinda mengusap perut Larisa.


"Ih.. Lucu kak," ucap Dinda.


"Oiya.. Kamu udah belanja apa, aku mau beli ikan bawal disana," ucap Larisa.


Dinda mengangguk.


"Iya Kak Udah nih.. Tapi, aku mau liat Kak risa beli ikan, Kak aku ikut kak Risa ya," ucap Dinda menoleh pada Arkan.


Arkan mengangguk.


Bagus menoleh pada Arkan.


"Hamil Dinda?" Bagus berjalan bersam Arkan.


"HEM." Anggukan Arkan.


Di tempat penjual ikan segar yang lantainya sedikit licin becek dan basah bau amis dan berbagai macam bau lainnya.


Dua ibu Hamil itu tidak ada yang repot mual.


Di belakang Arkan dan Bagus masih berdiri mengikuti mereka berdua berjalan kesana kemari.


Melihat ikan yang segar dan ikan bandeng besar sarden besar ada Lobster dan cumi-cumi ada gurita juga ada kepiting. Dinda banyak menyentuh dengan jari telunjuk tangan kanannya.


Belajar menawar dari Larisa Dinda juga terus berada disamping Larisa.


Seketika ramai orang berdesakan di harga ikan promo murah.


Arkan dan Bagus kehilangan Dinda dan Larisa.


Mereka kelabakan mencari kesan kemari tidak bila melihat mereka hingga. Sampai di luaran pintu belakang pasar sama sekali tidak bisa menemukan Dinda dan Larisa.


Arkan dengan tenang wajahnya mencari lagi Bagus sibuk mencari dan menelpon Larisa. Tidak ada hasil setengah jam mereka mencari. Seketika ada dua perempuan jalan bersama ketika di panggil ternyata bajunya yang sama.


Arkan terus mencari lagi seketika mereka lelah dan berhenti di depan parkiran mobil tidak lama melihat Zalfa dan Dinda bersama Larisa datang.


"Oh.. itu mereka." Zalfa pergi bersama dua pelayannya dan Dinda Larisa meneguk ludahnya kasar tatapan Arkan dan Bagus menatap mereka masing-masing dengan tajam.


*


"Darimana?" Tanya Bagus pada Larisa yang berjalan mendekat.


"Darimana aja?" Tanya Dinda pada Arkan ketika mobilnya sudah berjalan.


Seketika Bagus menatap Larisa dan menghentikan mobil dijalan, mata Bagus menangkap jika jari Larisa terluka.


"Kamu luka jarinya, sini, kamu ditanyaain kemana diem aja giliran luka juga diem aja apa susahnya sih ngomong aku ini suami kamu risa."


"Ya Aku belanjalah, masa iya aku jualan bakso dipasar." Acuh Larisa.


"Kamu ya..."


Di mobil Arkan Dinda membuka jendela dan makan batagor yang tadi di belinya.


"Kamu darimana aku sama Kak Risa nyariin."


Arkan diam.


"Kak.. Kayaknya kamu di parkiran dari tadi."


Arkan masih diam saja tidak berdehem atau bicara apapun.


"Ih.. Kakak!" Kesan Dinda.


"Iya."


Arkan menjawab dengan tenang.


Jujurnya Arkan ingin marah tapi, Dinda sepertinya juga lelah mencarinya Arkan memilih diam saja jawab seperlunya.


Arkan menghentikan mobil di lampu merah dan melirik ponselnya.


"Kakak," ucap Dinda lagi.


"Hem?"


Kembali Arkan fokus pada jalanan.


"Kakak jadi nikah sama Zalfa. Zalfa abis persiapan buat nikahan sama pindahan katanya tadi. Dinda rela kakak nikah lagi," ucap Dinda tiba-tiba membahas itu membuat Arkan lebih diam tidak mendengarkan Dinda bicara.


"Pasti gak ngomong diem aja terus," ucap Dinda.


Sampai di rumah lagi.


Arkan membereskan semua belanjaannya Dinda juga membantunya.


Arkan membatu Dinda membawa yang berat dan membiarkan yang ringan Dinda bawa.


Di dapur Arkan mencuci tangan bersamaan itu juga Dinda melakukan hal sama dengan Arkan lakukan.


Dinda duduk memperhatikan Arkan memberskan makanan lainnya Dinda mengambil sayuran karena tidak bisa melihat Arkan membereskannya sendirian.


Arkan masih diam ketika Dinda membantunya. Dinda diam juga. Tidak tahan dengan situasi ini Dinda mengambil Mie dan sosis juga sambal pedas yang banyak, membuat mie dan memakannya sendiri sampai wajahnya memerah kepanasan dan pedas juga tisu disebelahnya berkurang karengan mengelap keringat dan ingus. Dinda malas merengek lebih baik makan saja.


Arkan tetap membiarkannya.


Dinda melangkah ke ruang kerja Arkan dan mencari buku yang unik judulnya. Lalu membacanya ketika dapat. Lalu berdiri di sebelah Arkan. Dinda terus membuat Arkan agar bicara banyak lagi seperti waktu itu.


"Ck.. Udahlah males," ucapnya kesal pergi keruang tv makan lagi dan minum air putih.


Bosan! Dinda pergi keluar di Gazebo duduk sambil memberi makan ikan mendengarkan musik dan juga melakukan rutinitas lainnya.


Pergi ke belakang melihat lihat koleksi motor dan mobil Dinda terus berjalan-jalan keliling rumah.


Lalu melihat tanaman dan melakukan tanam menanam di sore harinya.


Arkan masih diam saja tidak mengajak Dinda bicara.


Malam tiba. Arkan duduk di meja makan dan Dinda yang memasak.


Makan dalam diam Setelah selesai Arkan pergi dan mencuci piringnya sendiri Dinda menatap Arkan dari belakang ketika mencuci piring rasanya sedih dan ingin menangis Dinda memakan makannya ternyata asin dan rasanya aneh tapi, enak untuk Dinda bagi Arkan apakah enak.


Dinda makan sambil menangis hingga suapan terakhir Dinda pergi membereskan semuanya karena sudah selesai. Dinda membuat susunya sendiri setelah jeda selesai makan lebih dari tiga puluh menit.


Setelah itu pergi lagi keruangan Arkan melihat sibuk dengan kerjaannya dan tugas kuliahnya Dinda mendekat lalu berbalik arah pergi kekamarnya.


Sampai jam sembilan Arkan tidak masuk kamar Dinda akhirnya tidur sendiri sambil menutup mata dengan kedua tangannya menangis.


Arkan masuk kedalam kamar dan Tidur membelakangi Dinda.


Dinda terdiam.


Menatap punggung Arkan.


"Maaf.. Kakak. Jangan marah. Hiks.. Kak!" ucap Dinda dengan pelan.


Arkan berbalik dan mendekat menarik Dinda ketengah mendekat.


"Maaf." Suara Arkan yang lembut. Dinda menangis.


Arkan mencium kening Dinda.


"Makanya kamu itu jangan ceroboh aku udah panik setengah mati cari kamu, kalo kenapa-kenapa gimana?"


Dinda semakin kencang menangisnya. Arkan jadi tidak tega dan memilih diam. Arkan masih mengusap punggung Dinda dan mengecup kepalanya berulang kali.


Dinda makin kencang hingga sesegukan dan bicara maaf-maaf berulang kali sambil menangis.


Arkan menenangkan Dinda terus sambil terus mengusap air mata dan punggungnya hingga Terbatuk.


Arkan terus menangkannya.


Salah siapa? Tidak ada, hanya saja Dinda sedang diajarkan Arkan untuk tidak ceroboh lagi perempuan yang tidak hamil saja bisa dalam bahaya sekarang apalagi sedang hamil dan Bagus saja mengomel membuat Arkan semakin khawatir waktu di pasar.