
Dinda tidak melepaskan senyumannya untuk Arkan.
"Jangan cinta setelah kamu liat aku dari sudut pandang orang yang lagi kasihan sama orang lainnya."
Dinda melepaskan helemnya dan menatap Arkan.
"Keliatan di mata kamu," ucap Arkan dengan lembut.
Seketika Dinda terdiam malu.
"Maaf Kak, Dinda beneran tulus cuman mata sama muka Dinda gini, jangan tersinggung," katanya sambil menatap Arkan. Tangan Arkan diraih Dinda dan Dicium. Lalu pamit.
Arkan langsung pergi setelah Dinda masuk ke dalam sekolahan.
*
Di kampus kali ini Arkan masuk dan ternyata semuanya sedang berkumpul didepan ketika Arkan baru sampai. Menyapa Arkan mereka ketika melihat Arkan berjalan mendekat.
"Whats up Broo," seru Yuda lalu bersalaman seperti mengepal, adu kepalan.
Arkan juga berdiri bersama kelimanya.
Bicara mengobrol melucu ulah Lorenzo dan Bagus.
"Gue tanya ama pak somad kemaren tukang batagor depan rumah bilang kalo janda enaknya diapain," ucap Lorenzo seketika mendapat tempelengan dari Bagus.
"Ngaco lo kalo nyablak," ucap Bagus dengan kasar. Arkan diam saja sambil sesekali menatap teman-temannya yang sedang bicara heboh.
Dari depan sana sebuah mobil sport merah menurunkan perempuan cantik.
Arkan seketika mendapatkan panggilan dari Dosen.
Dengan langkah cepat Arkan pergi dan teman-temannya juga pergi mereka berpisah dan saling menyapa sebelum pergi masing-masing.
Perempuan cantik itu berpakaian sangat tomboy seperti perempuan dengan gaya sederhana lainnya tapi, cantik.
"Violetta," panggilan itu keluar dari mulut Rian yang sedang berjalan dengan semuanya.
Bagus dan Yuda yang pendengarannya tajam berhenti. Rian masih menatap kebawah dimana mobil merah itu menurunkan Violetta.
Justin juga Lorenzo menoleh setelah meresa semua berbalik arah.
"Wuiihh.. Ckc..berani juga dia munculin muka," ucap Lorenzo yang belum lihat wajah Violetta sepenuhnya.
"Dia oprasi pelastik," sahut Justin sadar ada yang berbeda ketika matanya melihat sesuatu di wajah Violetta ketika berjalan menaiki tangga teras.
Mereka seketika berpura-pura diam tidak tahu apapun dan seperti tidak terjadi apapun ketika Violetta melangkah mendekat.
"Rian," Suara manja itu datang dari Violetta sambil melambai.
Sorot mata tidak suka karena Violetta terlalu cantik. Dan ada Sorot mata memuja dari beberapa orang yang kagum.
Seketika mendekat, Violetta berhadapan dengan Lorenzo, seketika itu, Sebuah tas melayang dengan sigap Lorenzo menangkapnya tepat hampir mengenai wajahnya.
Rita berjalan dengan santai bersama dua temannya lalu memisahkan diri dari Rita ketika Rita hampir dekat Lorenzo dan lainnya.
Violetta menatap Rita dengan aneh heran sekaligus.
"Rita." Suara Lorenzo dengan gemetar karena tingkah Rita aneh bin ajaib.
Ada apa dengan Rita hari ini.
"Permisi, Ada yang bisa Di banting," ucap Rita seketika membuat Yuda hampir tertawa lepas. Justin Bagus dan Rian memalingkan wajahnya. Lorenzo mendengkus kesal.
"Bantu," ucap Lorenzo pelan sambil mengambil tas ditangan Lorenzo Rita tersenyum lebar dan terlihat memanis-maniskan senyumnya di depan wajah Lorenzo.
"Iya.. Maksudnya itu," ucap Rita dengan wajah terpaksa ramah.
"Oh.. Rita! aku Violetta." Mengukurkan tangan untuk berkenalan. Menggantung di udara uluran tangan Violetta. Rita menatap aneh siapa dia tahu namanya, oh.. terserah Lorenzo tadi pasti menyebut namanya.
"Mau keruangan Dosen ya, Kamu tinggal lurus naik tangga ini oh iya awas sepatu mahal kamu lecet, abis itu belok kanan ada ruangan Dosen pusat informasi lengkap, kalo kurang jelas nanti bisa tanya perempuan yang di sana jangan laki-laki bisa-bisa belok informasinya," ucapan Rita seperti tidak suka, ada nada mencibir dan benci juga. Terang-terangan mengalihkan pembicaraan.
Lorenzo dan lainnya berpura-pura menjadi orang tuli dan buta mereka tidak ingin menambahkan apapun dari pembicaraan Rita dengan Violetta.
Beda dengan Lorenzo! Ramah murah senyum.
Rita tersenyum ramah di buat-buat.
"Oh.. gitu makasih," ucap Violetta setengah kesal uluran tangannya tidak di tanggapi dan malah memberitahukan hal lainnya.
Seketika Violetta pergi dengan sopan.
Rita berbalik menatap Lorenzo.
"Pergi lo semua, Gue bilangin gebetan lo masing-masing dan Lo," ucap Rita mengancam juga menatap tajam semua termasuk Lorenzo.
"Lo kalo mau gue bantu berubah jadi cowok setia, bisa gak sih gak usah ngiler kalo liar yang bening-bening, Heran gue ama lo," ucap Rita setengah kesal tapi masih bisa santai biasa.
Violetta berbalik dan melipat tangannya memperhatikan Rita dari belakang.
"Dimana Arkan," ucapan itu keluar dari mulut Violetta seketika Rita diam dengan ocehannya.
Rita berbalik menatap Violetta dengan tangan biasa tatapannya datar.
"Hem," tersenyum dengan manis bersamaan deheman.
"Maaf jangan tanya terlalu banyak karena kita masih ada perlu ayo anak-anak ku kita menjauh dari nenek sihir," ucap Rita benar-benar tak suka dengan Violetta dan menarik Lorenzo dengan kencang.
"Jangan muncul lagi," ucapan Rian sebelum benar-benar pergi.
Di toilet perempuan Violetta membanting pintu dan menatap wajahnya depan cermin.
"Baru saja bertindak, Perempuan brengs*k!" Mengumpat untuk tingkah Rita.
Kali ini dia harus menyingkirkan Dinda tapi, malah baru keluar persembunyian bertemu Rita, menjengkelkan bagi Violetta.
*
Rita sedang berada di kelasnya. Lorenzo dan lainnya juga sedang ada kelas mereka masing-masing.
Hanya dua jam kelas Arkan dan teman-temannya berlangsung kecuali, Yuda dan Rita karena beda kelas juga jurusan, tidak terasa kelas berhenti dan selesai untuk hari ini.
Di sekolahnya Dinda sedang ada jam istirahat.
Lalu tak lama ada beberapa anak rombongan Lily datang dan meletakan semangkok makanan busuk disamping Dinda.
Satu kantin semua berhamburan menyingkir.
"Heeh.. J*lang makan tuh makanan busuk lo," ucap Jeni yang memakai masker karena tak tahan baunya. Dinda sedang asik makan somay seketika selesai dan dengan santai lalu pergi. Kiran juga dengan santai pergi.
Lia dan Yeni sedang tidak bersama Dinda sekarang.
"Aargh." Teriak kesakitan Dinda ketika rambutnya di jambak tiba-tiba tertarik kebelakang.
"Woy.. ngapain kalian liat doang," ucap Kiran emosi berusaha memisahkan Dinda dan Lily.
Jeni dan teman-temannya memegangi Kiran.
Kiran memberontak meminta lepas terus.
Dinda sudah sangat sakit tarikan Lily membuat rambunya tercabut beberapa helai.
Di depan pintu Kantin disana Maulana memperhatikan dengan tenang.
"Gue bilang lepasin gue, Gue gak mau cari ribut sama lo semua," ucap Dinda sambil mengeluarkan air mata karena sakit sekali.
"Denger denger lo udah nikah, eh nikah apa kawin ya, Gilaa... Diem-diem simpenan om-om lo, ck.. gitu aja masih ngejar-ngejar Kak Arkan," ucap Lily menarik lagi lebih kuat jambakannya.
Sabar Dinda...
"Heeh.. Bac*t lo di jaga ya, Lo kalo gak tau cerita gak usah ngomong, dah kayak paling bener lo," ucap Kiran dengan serangan seketika teman Jeni menampar Kiran dengan keras.
Plaak....
Suara tamparan itu membuat satu kantin diam.
Dinda mengumpat sangat kasar.
Mencakar tangan Lily hingga tergores berdarah.
"AW.. SAKIT J*lang!" Teriak Lily dengan keras sambil melayangkan tangan ingin memukul Dinda seketika di tahan Dinda.
Dari belakang Jeni memukul kepala belakang Dinda hingga berdarah karena tergores benda tumpul.
Merasa ada sesuatu mengalir di leher belakangnya Dinda merabanya, Darah!
Kiran melotot marah seketika mengigit tangan teman-teman Jeni.
Dinda di pukul dengan mangkuk hingga dahinya memar oleh Lily.
Seketika mangkuk langsung jatuh pecah, sedikit oleng Dinda mundur menabrak meja.
Kiran yang sudah bebas tanpa jeda melempar Satu gelas es jeruk ke wajah Lily. Beruntung gelas cup pelastik.
"Lo semua brengsek ya," ucap Kiran emosi.
"LO SEMUA YANG ADA DI KANTIN CUPU LO PADA, TAKUT LO SAMA LILY GENG, LIAT LO, LILY." Teriak Kiran. Seketika akan mengulurkan tangannya untuk Dinda. Dinda bangkit sendiri. Kiran menatap marah pada Lily dan semuanya.
"Udah, Ada lagi yang mau mukul gue lagi," ucap Dinda sambil berdiri.
Dari jauh teman Lily menendang wajah Dinda. Hampir! kena.
Kiran menarik rambut orang itu sebelum dirinya dan kakinya sampai ke Dinda dan terbanting ke lantai karena tarikan Kiran dirambutnya juga keseimbangan dirinya sendiri.
Semua murid diam-diam mengambil gambar dan vidio.
"Liat siapa yang bakalan salah disini," ucap Dinda yang belum sadar seketika terhuyung dan bertumpu pada meja. Makanan busuk itu di lempar kepada Dinda. Dengan tenangnya Dinda menghindar. Lily kesal dan menampar Dinda. Seketika pipinya begitu merah dan di dahinya juga baru berdarah sedikit karena rambutnya sedikit memperlihatkan dahinya yang mulai kebiruan.
Kiran membalas tapi kalah cepat lagi lagi di cekal.
Lily puas Dinda tertampar olehnya hingga berlutut.
Hening!
Dinda mendekat perlahan dengan tenaga yang sedikit ada dan mencengkram dagu Lily dengan kasar.
"LO B*GO,GUE BILANG GAK MAU RIBUT BUKAN BRARTI LO... Bisa sembarang!"
Dinda melepas cengkraman di dagu Lily dengan mendorongnya kebelakang tersungkur jatuh mengenai sudut meja lalu kursi panjang.
Dari depan Kantin guru yang sedang lewat mendengar suara bising langsung menghampiri dan melihat Dinda mendorong Lily dan semua teman-teman Lily membantu Lily.
Jadi disana Dinda dan Kiran terlihat seperti tersangka.