Arkan Dinda

Arkan Dinda
When that night



Arkan belum tidur masih terjaga di samping Dinda tidak lama, di depan rumah sakit.


Kiran datang dengan Yuda dan juga Lorenzo Bagus dan Justin dengan Kakaknya dan ponakannya.


Bagus datang dengan Lala dan Larisa.


Yuda yang melihat ada Larisa sempat malu dan Justin yang melihat ada Syifa baru keluar dari salah satu ruangan langsung menghampirinya.


"Syifa, lo.. ah.. bukan Dinda Arkan mereka dimana?" ucap Justin tanpa banyak basa-basi.


"Kalian tahu... Tahu dari siapa?" ucap Syifa balik bertanya.


"Sekarang gak penting sekarang lo bilang gimana keadaan dia orang?" ucap Lorenzo di angguki Rita dan Kak Indri.


Lorenzo datang dengan Kakaknya dan Rita.


Sempat sebelumnya Lorenzo ingin memanggil Arkan karena Lorenzo tahu jika suasana yang membosankan untuk Arkan pasti akan membuat Arkan untuk mencari tempat tenang dan tempat di hotel posidion adalah di atapnya karena Atap Bagian hotel Posidion selalu tenang dan sepi.


Tapi, ketika Lorenzo akan menaiki lift Lorenzo malah melihat lift bergerak turun dari lantai atas.


Tidak lama Arkan keluar menggendong Dinda yang berdarah. Arkan tidak sadar jika ada Lorenzo didepannya karena sangking panik dengan Dinda.


Lorenzo hampir membeku tidak bergerak jika dirinya sendiri tidak memberi perintah pada otaknya untuk fokus.


Seketika itu Lorenzo langsung berlari sambil menelpon Justin Bagus dan Yuda bersamaan.


Mengatakan jika Arkan dan Dinda dalam keadaan darurat.


Sampai disini mereka di rumah sakit. Di hadapan Syifa.


"Hey.. Syifa lo kok bengong sih," ucap Rita yang kesal.


Syifa seketika terkejut buyar lamunannya menatap Yuda Larisa dan juga anaknya Larisa.


"Eh.. Iya.. Kayaknya gue ajak kalian ke kantin rumah sakit aja, Kalo ke sana belum bisa karena masih ada kakek sama Bokap gue ngomong penting dan Mama gue sedih banget masihan," ucap Syifa mengajak semuanya pergi ke Cafe atau kantin Rumah sakit.


Di sini Cafe atau kantin Rumah sakit. Mereka duduk bersama kecuali Indri dan Larisa dengan Lala, mereka duduk sedikit jauh, sedangkan Rita dan Kiran duduk bersama Syifa dan lainnya.


"Jadi ceritanya Arkan bawa Dinda duluan dan itu sempet di kejar sama Kakeknya Arkan, Gue mau manggil Dinda di atap tapi, Gue kayaknya terlambat, Gue langsung bilang ke Bokap nyokap kalo Dinda lagi darurat, Kita langsung ke sini semua," ucap Syifa


"Kita semua sampe bareng dan liat Arkan udah duduk di depan ruang oprasi baju ada noda darah rupa udah kacau, Dia kayaknya memang terpukul banget, Saat itu gue hampir nangis ngeliat keadaan Dinda di Oprasi di dalem setengah jam lebih dan Arkan yang gue gak bisa lagi gambarin dia seemosional apa waktu itu, Dan sekarang, Arkan belum keluar dari ruangan Dinda dan dia gak mau siapapun deketin Dinda. Termasuk Orang tuanya Dinda Kakeknya aja gak dia percaya." Penjelasan Syifa.


Seketika membuat Bagus Lorenzo Justin mereka menghela nafasnya termasuk Yuda yang menatap datar meja lalu berdiri seketika.


"Bener-bener gila, Gengster itu emang minta di beri, Kita gak liat dia nunjukin apa pun selama Dua bulan belakangan ini," ucap Yuda seketika dengan nada kesalnya.


Lorenzo seketika mengangguk.


Bagus mengepalkan tangannya.


"Sial... pasti emang inceran mereka itu Dinda tahu kalo Arkan emang deket sama Dinda," ucap Bagus.


"Gak.. gak mungkin kalo Rian yang ngerencanain itu, tapi, Kalo beneran itu mustahil, Masalahnya Rian sayang banget sama Dinda sampe rela dia di benci Dinda dan jagain Dinda walaupun Arkan gak minta secara peribadi sama Dia. Dan Dia juga pernah bilang di depan kita semua kalo, dia gak bakalan maafin Arkan sampe Dinda kenapa-kenapa." Perkataan Justin tiba-tiba. Membuat Syifa dan Kiran menatap Justin.


Yuda juga Lorenzo menatap Justin.


Seketika Syifa berdiri.


"Gue tahu siapa yang kalian maksud, Gue sebelumnya minta maaf," ucap Syifa menatap semuanya seketika Kiran hilang kendali dan akan memukul Syifa dengan botol air mineral didepannya.


"Huuuhss.. Tenang Ran," ucap Yuda.


"Kiran.. gue tahu lo marah banget karena Sahabat lo yang temenan gak cuman setahun dua tahun dan hampir meregang nyawa, kita dengerin dulu penjelasan Kiran kenapa? Ok, tenang lo sekarang," ucap Rita. Seketika Kiran menatap memohon pada Rita.


Seketika itu Rita menekan Kiran dengan tatapan mata agar tenang Dulu.


"Ngomong lo, kalo gak gue tabok lo," ucap Kiran. Seketika Yuda istighfar.


"Sabar Ran," ucap Yuda. Kaget Yuda baru kali ini mendengar adiknya berucap kasar.


"Diem kakak Mau Kiran telen bulat-bulat," ucap Kiran menatap menjawab dengan kesal ke wajah kakaknya.


Seketika Lorenzo yang di samping Kiran menggeser sedikit duduknya.


"Buset.. sadis amat lo Yud punya adek.. emak lo dulu ngidam apaan waktu hamil nih anak," ucap Lorenzo.


Yuda melotot, seketika tersenyum.


"Lo gak tahu sih rahasia keluarga gue yang ngomong tajem. Nyokap gue ngidam kepiting Alaska yang di ambil di alaska langsung sama Bambu runcing segede lengan orang Dewasa. Lo tahu buat apa?" Kata Yuda.


Seketika Lorenzo menggeleng.


"Buat di bakar di makan sama areng-arengnya," ucap Yuda seketika lalu tertawa terbahak seketika itu juga Kiran memasukan roti kemulut Yuda.


Seketika itu Lorenzo tidak jadi tertawa terbahak menghentikan tawa sebelum suaranya terlanjur keluar. Seketika itu Lala terkekeh.


"Tante galak keren," ucap Lala seketika mereka semua menoleh termasuk Yuda dan Kiran.


"Iya dong cantik, tante gitu loh. Tos jauh kita, haha," ucap Kiran seketika semua kembali fokus pada Syifa dan pembicaraan mereka.


"Makanya kak, kalo ngomong yang bener Kiran laporin mama tahu rasa lo," ucap Kiran Seketika Menoleh pada Lala dan mengacungkan jempol sambil mengedipkan sebelah mata Lala juga mengangguk dengan wajah imutnya Lala tersenyum.


Di ruangan tunggu untuk keluarga Kakek Menghela nafasnya menatap ke bawah. Ayah Syifa juga melonggakan dasi pitanya dan malah melepasnya.


"Kita bjcarakan perjodohan ini di waktu yang tepat," ucap Ayah Syifa seketika.


Kakek berdehem dengan suara seraknya.


"Aku mengerti perasaan mu, Kondisi Dinda akan berangsur baik, dan kalian harus maklumi sifat posesif Arkan, Dia tidak tahu apa itu rasanya jatuh cinta Anak itu sudah terlalu banyak dengan Masalah logika berpikir logika, Aku sama sekali belum pernah melihatnya secara baik tentang perasaan pada orang luar kecuali neneknya, jika dengan Neneknya Arkan selalu berbeda dan lebih lebih tapi, Dengan Dinda aku merasa Arkan sudah mulai terlihat membuka diri," ucap Kakek pada ayahnya Syifa. Ayah Syifa menatap Kakek Arkan drngan wajah tenang.


"Aku tidak keberan jika cucu Anda menjaga anak saya tapi, jika sampai seperti ini saya ragu, Saya tahu ini bukan kesalahan Arkan, Ini kecelakaan." Kata Ayah Syifa di akhiri dengan menyandarkan punggungnya.


"Yaa itu kecelakaan yang di sengaja oleh orang lain, dan kenapa malam ini," ucap Kakek Arkan.


Seketika Ayah syifa kembali menegakkan tubuhnya.


"Tenang lah Dhanu aku sudah mengirim orang untuk menyelidiki ini," ucap Kakek.


"Tidak, Sebaiknya anda jangan kirim siapapun untuk mencari tahu tentang ini karena ini bisa membuat mereka tahu jika Anda dan saya ada hubungan keluarga atau dekat," ucap Ayah Syifa seketika membuat Kakek Bratha mengangguk.


Kakek bangkit menelpon seseorang.


"Johan, Hentikan pencarianmu," ucap singkat Kakek.


Di Cafe atau kantin Rumah sakit sekarang Syifa menjelaskan semuanya tentangnya dan Farles. Lalu tentang ke jadian tembakan hingga memecahkan kaca di Cafe tempat Dinda bekerja.


Kiran hampir kembali marah tapi, Rita kembali menahan. Syifa meminta maaf lagi hingga kesekian kalinya semua seperti jengah mendengarnya.


Di ruangannya Dinda belum menunjukan kemajuannya tapi jam dan hari harus terus berjalan hanya Dinda yang berhenti. Tapi, Arkan merasa harinya mati.