
Dinda barusan pulang sekolah di jemput Gressia dengan motor dan sekarang Gressia dan Rettrigo ada di halaman sedang mengobrol.
Seminggu lebih Arkan belum pulang.
Dinda masuk dan berberes dirinya dari debu halus juga masak makanan untuknya dan tak lupa menawari Gressia dan Rettrigo juga.
Arkan yang baru saja selesai dengan proyek pertama sekarang berlanjut dengan proyek kedua.
Tanpa sengaja Ibu Rian masuk alias ibu tiri dari istri Giovano.
Yaah begitulah keluarga Rian... ehem sulit di jelaskan dengan singkat.
"Tuan Prawira," ucapnya dengan pelan.
"Iya," sahut Arkan sambil menatapnya Di ruang rapat ramai dengan banyak orang ini.
Ibu Rian, Stella namanya.
"Saya ingin menyarankan jika ....." Arkan mendengarkan saran dari Ibunya Rian. Lalu dengan kerja sama perusahaan Ayahnya Dinda yang memang sedang dalam tahap pindah tangan ke Syifa tapi, untuk beberapa Hal Stella bisa Diandalkan.
"Bisa di pertimbangkan, Jika tim pelaksana dan lapangan setuju saran dari anda, Nyonya Stella bisa digunakan," ucap Arkan dengan tenang dingin dan ekspresi datar.
Beberapa orang di ruangan rapat mengangguk.
"Sepertinya memang perusahan dari Tuan Dhanu sangat di butuhkan tidak sedikit membantu tapi banyak membantu, Karena salah satu perusahan pembangunan milik Tuan Dhanu sangat diandalkan dalam beberapa hal," ucap Staff kepala lapangan.
"Saya juga Setuju," Sahut ketua tim pelaksana dengan yakin.
"Terimakasih Tuan Prawira," ucap Stella dengan senang.
"Anda juga bisa membantu mengawasi kerja lapangan karena perusahaan Anda dan Tim pelaksana akan saling membantu," ucap Staf kepala lapangan.
Rapat ruangan itu akhirnya berakhir dan berpindah lokasi meninjau hasil proyek dengan datang bersama ketempat tujuan yang belum sepenuhnya rampung.
Melihat bersama bagaimana pengembangan tempatnya, barusan Arkan datang staf kepala lapangan mengajak Arkan untuk menjelajah luas wilayah dan sambil menjelaskan beberapa poin mengenai wilayah tersebut.
Berjalan-jalan sampai melihat beberapa pekerja yang sudah kembali bekerja setelah istirahat sebentar.
Arkan dan lainnya beralih berdiri di bawah Tenda.
"Mungkin untuk kali saya biarkan untuk santai tapi, lain kali tidak akan saya ulangi," jelas staf lapangan.
Tahu ketika ada beberapa orang yang waktu kerja malah tidak ada di tempatnya.
Tatapan dan Wajah Arkan yang dingin membuat staf lapangan kelabakan tadi.
"Iya, Anda urus itu, Karena pembangunan ini sudah ada batas waktunya jika belum juga rampung pinaltinya bisa anda yang tanggung," jelas Arkan dengan wajah datar tanpa Ekspresi dan berwibawa.
Stella memperhatikan sikap Arkan hampir sembilan, delapan belas seperti Rian, Hanya Rian banyak perotes jika Arkan diam tapi, semua mengerti langsung bahasa isyarat dari sikap Arkan memang aura kepemimpinan Arkan sangat pekat.
Stella seketika tersenyum tipis mengingatkannya pada Dhanu, ayah Dinda dan Syifa yang sangat baik hingga bisa di bilang lelaki sejati dan setia pada pasangannya walaupun terlihat baik hanya pada Stella ibu Rian di tempat kerja hingga terdengar gosip miring dan Stella juga tahu Rian hampir memperkosa Dinda. Stella dan Tuan Dhanu tetap rekan kerja, tidak lebih. Tuan Dhanu juga sangat profesional dan menjaga sekali martabatnya sebagai pimpinan dan kepala keluarga di luar dan di hadapan Stella.
*
Di rumah Dinda asik sendiri sebenarnya bosan juga tapi, Gressia tidak bisa menemani Dinda karena peraturannya hanya menjaga bukan ikut Dinda yang bersenang senang.
Dinda seketika mendapat pesan dari nomor tidak di kenal.
Vidio.
Dinda membukanya seketika menatap datar. Lalu membuang ponselnya.
Rasanya ingin mengumpat keras tapi, harus sabar ini rumah suami Dinda, Bisa murka nanti Kak Arkan Kalo Dinda bicara tak sopan. Bukannya udah tahu kalo Arkan menjaga sopan santun tapi, di liat dari sikapnya yang gak ngebolehin Dinda ngomong lo gue ke dia, otomatis ngomong kasar suara keras di rumah ini gak boleh juga kan.
Tapi kalo mulut di tutup bantal sofa terus nyaci maki didengerin diri sendiri gak masalahkan.
Seketika Gressia masuk dan terkejut melihat Dinda berteriak dengan kata kasar ditutup bantal.
"Haah.. Iya Ada apa Gress," ucap Dinda seketika menurunkan bantal dari wajahnya.
Tatapan Gressia bingung Dinda menatap ke ponselnya dan mengambilnya.
"Ah.. gak ada apa-apa, kamu mau ngapain Gressia," ucap Dinda yang tahu hal apa yang akan Gressia tanya dan mengalihkannya dengan posisi Gressia yang masuk kedalam rumah.
"Oh.. Saya lapar, boleh saya minta makan, untuk Rettrigo malam ini di Gazebo," ucap Gressia dengan Malu.
Dinda tersenyum.
"Tentu dong, Ambillah aku kan masak tadi kalian juga makan sedikit Ambil saja di sana juga ada wadah, pakai wadah sekali pakai biar kalian tidak repot, Aku keatas, tidur dulu," ucap Dinda.
"Gressia... Ambil air jangan lupa," ucap Dinda yang melihat Gressia sudah lima langkah jauh.
Gressia mengangguk dan mengacungkan jempol.
Dinda beralih ke pada layar ponselnya dan pergi ke ke kamarnya untuk tidur, tidak sepenuhnya tidur.
Setelah sampai di kamar Dinda hanya merebahkan dirinya. Seketika masuk pesan dari nomor lain lalu foto.
Lalu pesan teks lalu mencibir Dinda menyebut nama Dinda dengan kepanjangan yang buruk, Seperti perusak hubungan orang dan lainnya.
Aaaargh... Cari gara-gara nih orang, pikir Dinda sangat kesal.
Seketika di Markas tengkorak Diyo yang menjaga ponsel Dinda alias menyadap ponsel Dinda kesalnya bukan main dan mencari siapa pelakukannya tapi, kalah cepat karena pesannya lebih cepat terhapus dalam jangkauan Diyo, dan Diyo tidak tahu kalo di pesan Dinda semuanya belum terhapus.
Diyo mengirim pesan pada Arkan.
Jika pulang nanti jangan terkejut karena sangat banyak pesan di ponsel Dinda yang membuat Dinda marah semua tentang Arkan dan tentang orang yang pernah dekat dengan Arkan.
Gressia dan Rettrigo sedang menunggu waktu Dinda menunjukan sikap kesalnya tapi, mereka tidak tahu kalo Dinda hanya bisa terlihat terbuka pada beberapa orang.
*
Di sekolah Maulana mendekati Dinda dan mengajak bicara empat mata.
"Lo masam banget hari ini, kebanyakan makan cuka lo," ucap Maulana.
Dari kejauhan Kiran menatap tajam.
"Pergi lo gue gak mau ada Lo gue mau sendiri ganggu aja lo," ucap Dinda kesal seketika bangkit dan tangan Maulana mencegahnya.
"Sebentar, gue mau ngomong," ucap Maulana.
Entah ada perasaan, angin apa juga, Dinda langsung duduk menurut perkataan Maulana.
"Apa! gue gak bisa lama-lama." Kata Dinda ketus.
"Yaah sebentar Lima belas menit lo kasih gue." Sahut cepat Maulana membuat Dinda diam mendengarkan.
"Lo tahu siapa mantan Arkan, Violetta namanya, Dia orangnya cantik alisnya bagus dan mirip-mirip orang Russia. Di kabarin kalo dia mati lompat dari gedung tapi, semua salah ternyata Violetta selamat karena keajaiban dan orang tuanya yang punya materi banyak bisa buat anaknya sembuh total. Masih ada sampe sekarang," ucap Rian mendekat ke Dinda dan memperlihatkan foto Violetta.
"Dia," ucap Dinda sedikit kaget. Tatapan wajah Maulana seperti senang akhirnya Dinda terpancing.
Sebentar lagi akan bertengkar hebat dan Arkan akan meninggalkan Dinda.
Di luar terkenal Arkan diam dan anti perempuan semasa sekolah tapi, setelah di kabarkan jika Arkan sudah memiliki pasangan dan di rahasiakan semua penasaran siapa.
Tapi, Orang luar yang tidak di perkenankan tahu seperti Maulana tiba-tiba tahu dan membuat percikan api diantara keduanya.
Maulana berharap ini berhasil.
Mana mungkin laki-laki yang tidak pernah pacaran bisa membuat hubungan dengan perempuan dan bertahan lama. Itu mustahil apa lagi terkenal dengan patuhnya pada perintah kakek. Kalo bukan jagoan kadang, anak mama lah, begitu pikir Maulana mengira Arkan yang seperti apa.