
Dinda terus mengayuh sepedanya hingga sampai dirumah dan terus memasukan sepeda kedalam garasi lalu menutupnya. Dinda tidak langsung masuk rumah tapi menangis di luar.
Duduk di ayunan teras dan menangis sendirian.
Rettrigo yang baru akan keluar dari mobil untuk memeriksa ban setelah bangun tidurnya dan Kuta yang baru sampai dengan motornya setelah mengikuti Dinda seketika terdiam
Rettrigo menoleh sedikit keget tapi wajahnya datar.
"Ngapain?" ucap Rettrigo dengan kesal.
"Nona pulang-pulang nangis." Kata Kuta dengan wajah menatap datar Dinda yang menangis.
Seketika Rettrigo menoleh membalik badanya.
Seketika itu Gareng datang sambil membawa keresek putih dan juga beberapa bungkus rokok.
"Gue gak tahu bisa gak buat berhentiin nangis, gue juga jomblo, gue tahu kalo Es krim katanya bisa nyembuhin tangis cewek," ucap Gareng menjelaskan tanpa ada yang minta.
Seketika Rettrigo dan Kuta menoleh bersamaan dengan dua temannya Gareng yang pergi ke toko kelontong sebrang gang.
"HAa... Apa lo bilang?" Seru mereka berempat terkejut dan tak percaya dengan ucapan Gareng.
Orang kaku sangar tidak kenal cewek hampir dikira penyuka sesama jenis ini memperhatikan kebahagiaan dan tangis Dinda,
Sulit di percaya dalam jangka waktu 24 jam?
"Ck... Noh Rettrigo lo yang kasih," ucap Gareng menyerakan keresek putih yang ada isi eskrim dan coklat.
Seketika Rettrigo mundur.
"Lah kok gue, bisa abis gue kalo gangguin calon bini bos," ucap Rettrigo malas.
Seketika Gareng menyerahkannya dan pergi tidak mau tahu dan terpaksa Rettrigo menerima dan memegang bungkusan putih itu.
Seketika semua juga menjauh dan pergi, Rettrigo mau tak mau harus memberikannya.
Tek..tek... Ketukan pintu pagar.
Dinda yang baru akan masuk seketika menoleh dengan mata sembab dan melihat ke arah gerbang.
"Ada Rettrigo?" ucap Dinda sambil berjalan menghampiri Rettrigo.
"Em.. Maaf Nona Kami ada sedikit camilan melihat nona menangis sepertinya butuh asupan vitaminG," ucap Rettrigo seketika Dinda terdiam. Sambil membuka sedikit gerbang. Menatap keresek putih itu lalu menatap Rettrigo lagi. Wajah Rettrigo sudah malu tapi, tetap di pasang wajah datar.
"Vitamin-G?" Beo Dinda.
"Gembira!" Sahut Rettrigo dengan malu.
Seketika Sunyi.
Dinda mengangguk duakali samar mengerti dengan ringisan senyum lebar malu.
"Ohahaha mmm... Makasih Rettrigo," Sahut Dinda setelah diam beberapa detik, dengan tawa yang renyah.
Rettrigo mengangguk sekali dan kembali pergi Dinda kembali menutup Gerbang dan masuk.
Lalu menguncinya dan pergi ke dapur mencuci tangan dan juga meletakan pakaian kotor di keranjang cucian.
Dinda pergi lagi ke depan tv lalu meletakan semua jajanan yang di berikan Rettrigo.
Dinda seketika sadar dan melihat gelang pemberian Arkan.
Dinda tahu kalo Kak Arkan pasti belum sepenuhnya ada rasa sama Dinda. Rasa nyaman sama Dinda gak bakalan ada apalagi Sikap Dinda waktu pagi itu.
Kak Arkan tetap akan dapet yang terbaik.
Dinda harus bisa terima menjalani kehidupan seperti biasa dan semua masalah ini harus hilang.
*
Pagi kembali datang untuk membawa semua murid ujian lagi.
Sudah beberapa minggu,
hingga beberapa ujian untuk kelas dua belas lewati selama bebera hari dan minggu terlewati oleh kelas dua belas tanpa sadar dan tanpa terasa berlalu begitu cepat,
ujian tengah semester untuk kelas sebelas dan sepuluh sudah selesai di munggu sebelumnya,
tinggal Ujian semester berikutnya yang menentukan kenaikan kelas.
Selama itu juga kelas dua belas tidak berhenti hingga sekarang harus ujian juga. Ujian kelulusan tahap pertama.
Selama itu juga Dinda menghindari kak Arkan tidak mungkin kak Arkan di dekati lagi setelah tahu kalo yang dilamar di rumah Ayahnya Syifa adalah Kak Syifa.
Walaupun bukan seibu tapi, Dinda dan juga Syifa adalah seayah.
Dinda harus bisa memberikan kebahagian pada Kak Syifa. Walaupun sekarang Kak Syifa sudah menjadi lebih baik bukan berarti membuat kebahagian Kak Syifa menjadi bermasalah dan malah Dinda yang tertawa diatas kesedihan Kakaknya.
Dinda terdiam menatap keluar jendela dengan dagu di tumpang dengan tangan. Di dalam kelas.
Dunia berpihak pada yang cantik dan terbaik? Tidak juga.
Situasi ini paling bisa membuat seseorang hancur dengan perasaannya sendiri. Masuk ke dalam lubang hitam kepedihan dan kemalangan terdalam.
Payah.. Ya.. Dinda pikir itu sangat payah. Dinda, walaupun sering begitu sekarang Dinda harus lebih dewasa berpikir.
Ingatkan jika setiap hari waktu dan Bulan juga Tahun bentar lagi berganti, Bukan berarti Dinda harus menjadi Dinda yang dulu. Dinda harus terus lebih baik dan lebih berpikir dewasa. Belajar sejak awal untuk keputusan terbaik termasuk untuk dirinya sendiri paling tidak.
*
Arkan duduk di kursi ujiannya menatap soal ujian lalu pena yang di pegangnya.
Ada kesan dan ada perasaan aneh. Selama beberapa bulan semenjak terakhir menatap Dinda ke Uks dan melihat Dinda di ajak bicara Maulana juga di ajak Citra kebelakang sekolah.
Arkan sekarang tidak bisa melihat atau mendengar kabar apapun tentang Dinda seperti berbeda tempat dan waktu Arkan dan Dinda. Padahal satu sekolah.
Sejauh pikiran Arkan melayang, Arkan selalu bertanya-tanya kapan? Bagaimana? Sedang apa Dinda?
Tapi, Malu dan malas Arkan bertanya, Setiap kabar dan pertanyaan hanya tertuju pada Arkan setelah beberapa Bulan lalu dan sekarang Arkan tidak dapat melihat atau mendapatkan notif pesan Dinda yang selalu menanyakan kabarnya.
Aneh sih. Ingin jauh, Giliran menjauh ingin dekat, Perasaan yang aneh Rumit. Inilah kenapa Arkan benci jatuh Cinta punya hubungan khusus dengan perempuan.
Hubungan keluarga saja Arkan kadang tidak terlalu perduli.
*
Dinda mengerjakan ulangan atau ujiannya dengan tenang walau sebenernya mikir keras untuk menjawab.
Haah... Otak Dinda cuman beberapa memori sekarang malah lelah dan sakit kepalanya. Ingin pingsan rasanya.
Triiing....
Bel pulang Tiba Dinda langsung bergegas pulang ke rumah tanpa mampir lagi sebentar lagi jam waktu kerja di butiknya Mamanya Kiran.
Kiran juga langsung pulang setelah mereka berpisah didepan Gerbang.
Tanpa Dinda tahu Arkan memperhatikannya dari belakang dan berjalan ke parkiran menghampiri motornya dan mengambil helmnya.
"Heee... Pak Ketua, Bagaiamana Kabar Anda saya sangat yakin jika anda baik karena Dinda menjauhi Anda," ucap Lorenzo di buat seperti orang dengan suara besar dan ada nada menyindir dalam ucapannya.
Arkan menoleh menatap Tajam. Lorenzo langsung takut dan terdiam.
"Kan... Lo harus milih salah satu, Waktu terus berputar. Sebentar lagi, habis ujian ini kita semua bakalan cabut dari sekolah ini, Dan Lo bisa cari Dinda lainnya," ucap Justin.
Arkan terdiam mengenakan helmnya.
Seketika Bagus memukul bahu Justin.
"Mudah berucap tapi, sulit untuk memperaktekannya, Lo tahu Arkan bilang dia gak mau tapi dari sikapnya dia itu ada sesuatu yang sulit dijelasin." Kata-kata Bagus yang mulai sok bijak.
Lorenzo seketika mual, iya tahu yang mau nikahin janda.
"Kalo gue jadi Arkan gue pilih Kehidupan bebas," ucap Lorenzo seketika Bagus menempeleng kepalanya sambil berseru.
"Gak semudah itu, Gue udah di jodohin sama anak koleganya dan kemaren, Bulan lalu lebih tepatnya, mereka udah kasih lamarannya kekeluarga itu, Setelah Anak koleganya lulus sekolah Gue diminta nikahin dia, Kakek gue dan kemaunnya," ucap Arkan pada ketiga temannya yang langsung menajamkan pendengaran dan seketika bisu saat itu juga.
Mereka diam beberapa menit ketika Arkan mengancingkan helemnya. Seketika itu tiba-tiba Bagus dan Lorenzo berseru.
"Astagfirullahaladzim," ucap Bagus dan Lorenzo seketika membuat semua orang siswa-siswi yang lewat menoleh menatap mereka.
Jarang sekali Lorenzo dan Bagus beristigfar. Mereka yang lewat seketika menekan dadanya karena kaget.
"Berat Kan, Lo emang paling kuat," ucap Justin seketika dengan nada bicara yang pelan tidak seperti Bagus dan Lorenzo yang rusuh
"Kalo itu terjadi diantara Kita bertiga Mungkin kita gak akan terima dan gak akan jadi anak penurut kayak lo," ucap Lorenzo.
"Jarang banget lo ceritaan pribadi lo ke kita gini," ucap Bagus.
"Kita temen, Yuda juga, Lo bisa bilang apa yang mau lo tahu dari Dinda lewat kita-kita. Lo bisa lakuin itu sebelum lo jabat tangan di pernikahan lo," ucap Bagus dengan tatapan penuh Arti. Ijab kabul maksudnya Bagus.
"Kalian faham banget sama Gue!" ucap Arkan menyeringai di balik helmnya. Sambil menaiki motornya Arkan memasang kunci lalu diam.
Seketika Arkan punya hal yang ingin temannya sampaikan ke Dinda.
"Gue cuman bilang sampai in maaf gue ke Dinda kalian yang sampein, gue emang cowok pengecut buat Dia, Gue harap Dia gak marah, kalian jagain dia selagi gue gak bisa deket sama Dinda," ucap Arkan dengan wajah datar tenang dan dengan tatapan menyedihkan.
Mereka bertiga mengangguk beberapa kali maksudnya Arkan, mereka sangat paham.
Arkan dan lainnya bergegas pulang dan Arkan akan pulang sebentar sebelum ke bengkel. Sedangkan yang lainnya mungkin bisa pulang atau kebengkel dahulu.
...Maafku terlalu banyak untuk semua perlakuan buruk yang membuatmu bersedih, kali ini akan lebih banyak maaf yang ingin aku ucapkan,...
...Jangan menangis untuk ku,...
...Menjauhlah dan bahagialah tanpa ada aku....
...~Arkan Prawira...