
Arkan terdiam menatap gelas yang Dinda berikan tadi dan juga menatap tempat Dinda berdiri tadi.
Tidak lama Semua kembali masuk Seketika Lorenzo dan Bagus merubung Arkan dan Justin juga langsung bersandar pada jendela.
"Lo ngomong apa ke Dinda. Dia sedih banget?" ucap Lorenzo seperti sangat marah.
"Gue bilang gue gak inget Dia?" ucap Arkan santai.
Loerenzo Bagus dan Justin menggeleng tidak percaya.
"Awas lo, Hati-hati sama rencana lo bisa jadi Itu tambah ngebahayain Dinda dan berbalik dia lupa sama Lo. Atau Lo amnesia beneran," Celetuk Yuda.
Sedang tidak ada Kiran karena Kiran memaksa mengikuti Dinda dan mengantarnya pulang Yuda juga menyuruh Kiran pulang dulu.
"Justru gue mau buat dia jauh, Gue gak mau bahayain Dia terus," ucap Arkan.
Sudahlah... percuma Arkan keras kepala. Sebenarnya Arkan takut Dinda kenapa-kenapa atau malas, Arkan mungkin merasa sudah ada sedikit perasaan jadi Arkan berusaha menjauhi Dinda. Arkan sulit di pahami bagi yang baru tahu Arkan. Yang sudah lama bersama saja tidak tahu dan belum paham jalan pikiran Arkan.
"Iya.. Serah lo baeknya, kita-kita cabut," ucap Bagus. Lorenzo dan Justin juga ikut pulang.
Arkan mengangguk membiarkan Justin dan yang lainnya pulang.
Arkan pergi ke kursi untuk duduk menonton tv sambil memainkan ponselnya. Yuda hanya menatap Arkan.
"Leader yang aneh..." ucap Yuda pelan.
Arkan dengar sebenarnya tapi, Arkan pura-pura saja tidak dengar.
Yuda juga tahu jika Arkan dengar.
...****************...
...[Flashback]........
Setelah pulang dan memasukan motor Lorenzo dan Bagus melihat ponsel Bagus yang terus bergetar. Lorenzo meminta Bagus mengangkatnya.
Setelah Bagus mengangkatnya Bagus langsung pergi dan Lorenzo juga.
Tidak sempat menutup gerbangnya Jadilah Bibi Art yang menutupnya.
Ketika melihat Bagus pergi keluar lagi bersama temannya, yang bibi Art di rumah Bagus lihat.
Di rumahnya Yuda langsung menyambar jaket dan menyambar kunci motor juga helmnya setelah menerima telepon dari Hansimon.
Yuda tidak bisa menunggu lagi hingga Hansimon jelas bicara.
Yuda pergi ke garasi dan keluar dengan motornya. Kiran tidak tahu jika kakanya keluar karena Kiran sibuk dengan Tontonan film actionnya yang dengan ada adegang kekasihnya yang hampir mati.
Arkan baru saja menerima paket misterius di rumah Dinda langsung membuangnya setelah melihat isi paket dan pergi. Dinda juga sudah masuk rumah kembali tapi, Diyo meminta Arkan ke markas karena Markas Mafia tengkorak diserang gengster dengan tanda ukiran aneh di tato juga mobil atau motor.
Tanpa banyak bicara Arkan langsung bergegas kesana.
Tapi, Diyo meminta Arkan untuk membuat bukti agar Kakeknya percaya jika Arkan kenapa-kenapa Alasan mereka bisa Kakek Arkan terima.
Arkan mengumpat.
"Gak Usah.. Salah satu orang pake helem sama motor gue dan lo gue pinjem motor lo," ucap Arkan pada salah satu orang di samping Diyo.
Mereka benar-benar membuat Alasan nyata agar kakek Arkan percaya.
Arkan yang sudah menjauh dari sana dan Diyo yang sedang membuat rencana sambil berjaga di dekat rumah Dinda.
Beberapa menit Arkan sampai dengan motor pinjaman.
Arkan melihat suasananya tidak karuan dan Arkan langsung masuk ke dalam seketika serang tinju Arkan terima tanpa persiapan tapi, bisa Arkan Hindari Seketika Itu juga Hansimon datang dan melindungi Arkan. Terjatuh Hansimon kelantai dengan Darah. Seketika Itu Arkan membawa Hansimon ke tempat Aman.
Merobek kemeja Hansimon dan baju anti peluru double.
Seketika Hansimon menahan.. Dan menggeleng. Seketika Arkan bangkit dan membiarkan Hansimon.
Arkan datang seketika melihat Yuda tersudah dan temannya yang Lain termasuk Justin Lorenzo dan Bagus sibuk menghajar beberapa orang lainnya tanpa senjata.
"Sialan."
Pekik orang itu menginjak injak Yuda. Seketika Arkan melompat dan menedang orang itu dengan tendangan berputarnya wajahnya sudah sangat terlihat marah .
Arkan balik menghajar Lawan Yuda dengan berutal hingga tanpa sadar lawan Yuda yang sekarang menjadi lawannya malah memegang Belati. Arkan dengan mencoba tenang memastikan Arah mata pisau belati tidak mengenai organ vitalnya. Seketika Arkan membalasnya duluan dengan cepet tanpa sadar tidak terasa sayatan di perut Arkan.
Bagus yang melihat Arkan dengan darah di perutnya setika menarik Arkan. Dengan cepat orang itu tersenyum dan pergi dengan belati yang masih ada darah Arkan.
Seketika Dari depan Bagus langsung berjaga menghadang orang yang akan menembak mereka. Bagus dengan cepat merebut senjata itu dan tanpa sadar Arkan di pukul Dari belakang dengan Balok kayu yang kasar. Arkan terjatuh dan semuanya seketika gelap.
Di rumah sakit Arkan sekarang.
Arkan sadar ketika di ruangan Oprasi lalu pindah keruangan rawat.
Ada Kakek dan neneknya Arkan melihat Diyo menjelaskan pada Kakeknya tentang kejadian Arkan dengan keadaan masih lemas Arkan seketika melihat Neneknya menangis.
Sayup-sayup Arkan mendengar penjelasan Diyo dan Rettrigo.
Arkan kembali memejamkan mata dan seketika Sadar Arkan masih melihat Neneknya menangis. Arkan langsung melihat dengan sadar dan menatap neneknya. Arkan mencabut selang pernapasan dan juga Infus di tangannya dengan paksa.
Seketika Nenek marah.. Ketika Arkan jelaskan bahwa ia tak suka Nenek mengerti dan Meminta perawat dan Dokter bicara pada Arkan dan Arkan sempat meminta Yuda satu Ruangan dengannya. Mau tak mau kakek mengizinkannya dan Nenek juga meminta Arkan mengatakan pada perawat.
"Sebelum itu, aku ingin bicara dengannya," ucap Kakek dengan tegas. Nenek menghela nafasnya.
Semuanya keluar memiarkan Arkan dengan Kakeknya.
"Jika Kamu ingin menyelamatkan gadis bernama Dinda, Kamu Harus menjauhinya dan Kakek Jamin dia Aman," ucap Kakek dengan wajah seriusnya.
Arkan menatap Kakeknya.
"Jadi selama ini Kakek yang ngawasin Dinda," ucap Arkan curiga.
Kakek menatap Arkan tajam dengan wajah Seriusnya.
"Kakek tidak akan melakukan hal murahan," ucap Kakek.
"Kakek Tahu Kamu menyukai gadis itu Kakek mau kamu menjauhinya dan fokus pada sekolahmu nanti setelah lulus baru kamu kuliah dan memikirkan masa depan, untuk jodoh kakek sudah siapkan, Jadi jauhi Gadis itu, Jika kamu masih mau membangkan kakek dan Nenek yang masih ada buat kamu," ucap Kakek.
Arkan meremas Selimutnya mengepalkan tangannya.
Arkan ingin sekali marah dan berontak.
"Iya, Arkan akan lakukan," ucap Arkan dengan wajah dan suara seperti tidak ikhlas dan Raut wajahnya lebih sangat tertekan.
"Makasih Arkan kamu sudah mau menuruti permintaan Kakek, Kakek ada saran," ucap Kakek dengan wajah datar tapi, ada raut senang. Di diakhir kalimatnya Kakek manatap Arkan serius.
"Amnesia, Perempuan itu pasti akan menjauh perlahan jika kamu mengatakan lupa padanya dan Kamu bisa fokus dengan sekolah kantor dan.." Kakek menghela nafasnya menjeda kalimatnya.
"Usaha bengkelmu," lanjut Kakek.
Arkan masih belum terima tapi, Arkan harus melakukannya.
Arkan mengangguk.
"Iya Arkan akan Lakukan."
...........[Flashback Off]..........
...****************...