Arkan Dinda

Arkan Dinda
Hamil



Dinda tidak mau ke rumah sakit. Arkan marah memukul stir mobilnya dan bergerak pulang kerumah. Susah dan keras kepala.


Dinda sedih Arkan marah besar sekarang.


Arkan membawa Dinda pulang dan menelpon Bundanya Rama.


Tanpa Dinda tahu.


Arkan membawa Dinda masuk dan membaringkannya setelah mengganti pakaian Dinda. Memberikan air minum dan secangkir teh melati.


"Air anget kak, Gak mau airnya yang biasa," ucap Dinda meggeleng mendorong segelas air minum. Arkan diam pergi lagi menuruti Dinda yang maunya air hangat.


Setelah Dinda meminum air putih lalu teh manis. Arkan membiarkan istirahat sebentar.


Seketika Dinda melompat dari selimutnya dan berlari ke kamar mandi muntah lagi dan kali ini sedikit isi perutnya yang masih sisa keluar lagi dan cairan kuning juga bening.


"Pait kak," ucap Dinda menangis.


Arkan bingung kesal Bundanya Rama tidak segera datang.


Arkan membantu memijit tengkuknya dan menyiram muntahan agar tidak terlalu bau.


Dinda menyentuh tangan Arkan di bahunya merasa tangan Dinda dingin, Arkan semakin marah.


Tidak lama setelah membawa Dinda berbaring dengan nyaman, telepon Arkan berbunyi. Arkan mengecas hp Dinda didekat Dinda di atas nakas.


Arkan mendengar suara mobil datang segera turun sambil membawa ponselnya.


"Kenapa Dinda?" ucap Bundanya Rama yang datang sehabis menjemput Rama pulang dari les khususnya.


"Gak tahu Tante, Aneh aja dari tadi, muntah juga, Diatas dia," jelas Arkan.


Bundanya Rama segera naik keatas untuk melihat keadaan Dinda.


Arkan mengangkat telepon kakeknya.


Seketika tangan Arkan mengepal keras dan menatap kekamar atas dimana pintunya terbuka sedikit dan ada suara Bundanya Rama dan suara Rama bicara dan tertawa.


Arkan langsung bergegas pergi dengan setelan kaos dan jas dan celana jeannya.


Arkan pergi dengan mobil yang tadi di pakainya.


Sambil mengirim pesan di lampu merah Arkan mengetik untuk Bundanya Rama untuk menjaga Dinda sebentar karena kakek menelponnya.


Seketika langsung di balas oleh Bundanya Rama.


"Iya Tante juga lagi senggang." Pesan balasan Bundanya Rama.


Sampai di rumah kakeknya Arkan langsung melihat keluarga dari kolega Bisnisnya Kakek yang terlihat seperti acara formal tapi, tidak terlalu.


Arkan di tarik di ajak Nenek untuk duduk berhadapan dengan keluarga perempuannya.


"Kenalkan dia Arkan, Zalfa sudah kenal bukan waktu Mama papanya masih ada," ucap Nenek.


Seketika Arkan faham maksud ini.


"Tenang dan jangan kecewakan Kakek," bisikan Kakek membuat Arkan merasa sangat tertekan.


"Kita lanjutkan dengan acara lamarannya," ucap Nenek dengan wajah senang.


Arkan saat itu juga terkejut Karena nenek berbeda nenek yang saat ini ada bersama Arkan adalah istri kakek bukannya neneknya Arkan.


Ini semua harus Arkan hentikan.


"Maaf, Saya menyela tapi, saya tidak bisa, Saya sudah menikah dan istri saya sedang kurang sehat, tidak baik jika saya melakukan semua ini tanpa sepengetahuannya," ucap Arkan dengan sangat berani dan tenang.


Wajah datar dan dinginnya membuat Kakek kelepasan menampar Arkan didepan koleganya.


"Kamu tahu Dinda itu egois dia tidak ingin hamil dan sekarang ada yang bisa cepat, tidak masalah jika Dinda menunda, tidak masalah pula jika Lelaki memiliki lebih dari satu Istri."


Geram kakek sudah sangat tidak sabar dengan tolakan Arkan terang-terangan sebelum di minta jawabannya.


"Tidak baik kakek bilang, Arkan juga melakukan hal salah sekarang," ucap Arkan berusaha tenang mata Arkan memerah dan hampir berkaca kaca.


Di rumahnya Dinda dan Bundanya Rama seketika terkejut dengan hasil positif Dinda.


"Tente ini gimana Dinda gak mau, nanti Dinda di sangka yang enggak-enggak," ujarnya dengan nada sangat panik dan gelisah sedih.


"Enggak sayang! Kamu itu sehat kamu itu subur bahkan kamu itu gak pernah meminum obat-obat itu dan pasang apapun pencegah kehamilan, Tante juga minta maaf atas nama Thaliya, Tante sama Om akan jaga kamu kalo sampe semuanya di luar batas sayang."


"Rama Juga! Kakak jaga ponakan Rama yang kecil ini ya," ucapnya polos dan membuat Dinda dan Bundanya terkekeh.


Seketika Bundanya Rama mengingat sesuatu.


"Kamu ada ngerasa aneh?"


"Enggak Tante, Malah baru ini tapi, Dinda... oiya sebentar tan," ucapnya mengambil ponsel dan melihat tanggalan.


"Loh.. Aku kira Kemaren aku merah ternyata tiga bulan aku gak merah."


"Berarti kamu gak kerasa apa-apa beberapa bulan kemarin sayang?"


Bundanya Rama juga memeriksa hari terakhir Dinda dan kapan terakhir kali melakukannya.


Dinda menjawab geleng, tentang bersama Arkan tapi, Mulai dari ujian sekolah mendekati ujian nasional Arkan minta jatah dan itu terus di tiap hari minggu atau pas Dinda males belajar.


Bundanya Rama mengangguk mengerti. Dinda malu-malu rasanya tapi, Bundanya Rama hanya senyum-senyum lucu.


*


Arkan menatap semuanya dengan tatapan yang tajam lalu menatap mata Kakeknya dan langsung turun menatap lantai.


"Maaf kakek, untuk kali ini Kakek boleh lakuin semuanya sama tumpahin amarah kakek sama Arkan atau cabut aset Kakek yang udah ada sama Arkan, Arkan gak bisa ngelakuin semua ini di belakang Dinda," ucapnya tegas dan berjalan keluar dari rumah.


Arkan langsung pulang.


Di rumah Arkan langsung melangkah masuk ke kamar dan melihat Bundanya Rama dan Rama.


Dinda Rama dan Bundanya terkejut melihat Arkan terluka di wajahnya yang merah.


"Kakak!" Dinda langsung menghampiri Arkan dan menatap wajah Arkan. Dinda seketika di peluk Arkan. Bundanya Rama dan Rama pamit keluar kamar.


Beberapa menit kemudian Ketika Rama dan Bundanya akan pulang.


Di depan Rayhan datang dengan rahang mengeras emosi ingin meledak di wajahnya terlihat.


Tidak lama Kakek dan Nenek dengan Pak Johan datang membawa surat dari pengadilan tentang perceraian.


Seketika Rayhan menoleh ke belakang dan melihat Kakek datang dan di atas dari pintu kamarnya Arkan keluar.


Arkan keluar sendirian dari kamar. Rama di bawa Bundanya ke ruangan Arkan untuk diam disana sebentar.


Dinda terdiam duduk di tepi kasurnya.


Arkan melangkah turun kebawah menghampiri Kakek dan nenek.


"Kamu tanda tangan surat cerai sekarang dan biarin Dinda bebas. Kamu jadi tidak perlu memikirkan perasaannya lagi," ucap Kakek tanpa basa basi. Dan asalan bicara tidak memikirkan perasaan Dinda. Arkan baru sampai turun tangga langsung di minta tanda tangan.


Semua sudah duduk dan Rama di minta bermain di ruangan Arkan sejak tadi dan Istrinya Rayhan yang datang juga ikut duduk.


Rayhan sudah sangat ingin marah tapi, lagi-lagi Bundanya Rama menahan suaminya.


"Arkan pikirkan tentang masa depan saja, Kakek hanya ingin yang terbaik, kamu hanya perlu cerai dan memberikan sebagian harta kamu dan biarkan Dinda hidup tenang. Kakek tidak bisa mendapat menantu buruk seperti dia yang selalu memiliki kasus sekolah dan nilai dalam ujian sangat buruk."


Arkan mengepalkan tangannya di pangkuannya. Arkan sudah duduk dan di hadapkan surat perceraian.


Seketika salah satu tangan bergerak mengambil dokumen pengadilan agama.


"Kakek seharusnya sedikit paham bagaimana perasaan Dinda. Kakek juga pernah mengurus Mama dari kecil kakek harus paham itu, Arkan tidak ingin semua terjadi kalo bukan Dinda sendiri yang minta walapun, Dinda sekarang meminta Arkan nikah lagi, Arkan akan melakukannya tapi, tanpa hati dan walaupun, kakek juga minta Arkan nikahi lima perempuan sekaligus tetap Arkan gak akan pernah bagi kasih sayang Arkan sama mereka, Ataupun tidur bersama mereka, dan kalo kenyataannya buruk Kakek akan tahu nanti dan semuanya udah terlanjur dan adanya penyesalan," ucap Arkan dengan wajah datar dingin menatap serius pada Surat perceraian itu.


Di depan kamarnya Dinda berdiri diatas tangga mendengar semuanya.


Merasa jika Kak Arkan benar-benar tulus mencintainya. Dan kakek sepertinya marah kecewa karena masalah obat-obat pencegah kehamilannya.


Dinda tidak sanggup melihat dan melakukan semuanya sekarang.


Dinda juga takut Kak Arkan sedih dan merasa tersudutkan lagi, ini semua gara-gara Dinda.


Sreeeek....


Surat perceraian di sobek Arkan dan di letakan diatas meja.


Semuanya terdiam menatap Arkan. Dinda juga terkejut.


"Ini sudah tanggung jawab Arkan setelah ijab kabul membahagiakan seorang anak perempuan yang Arkan ambil dari keluarganya bukan membuatnya sengsara."


Katanya lagi lalu berdiri.


Kakek sudah sangat tidak bisa menahan emosi.


Seketika Dinda berlari turun dari tangga tidak memikirkan kesehatannya dan langsung memeluk Arkan di saksikan Rayhan juga istrinya juga nenek melihat itu. Kakek yang akan menghajar Arkan tidak jadi karena melihat Dinda datang dan memeluk Arkan.


"Jangan kek, Dinda yang salah, Biarin Dinda aja yang ngelepasin kakak, Kayaknya Dinda emang gak pantes. Maaf semuanya atas apa yang Dinda lakuin.Tapi, Kakak jangan cari Dinda kalo ada sesuatu yang kakak Denger."


Seketika Arkan mencengkaram kedua lengan atas Dinda dengan keras.


"Gak, Siapa yang suruh kamu pergi, gak ada! Gak bisa kamu tinggalin aku gitu aja," ucap Arkan marah.


Dinda menangis seketika ada rasa sangat tidak nyaman diperutnya terasa nyeri dan sakit luar biasa.


"Aw.. Sakit...." Keluhnya sambil menangis merintih sangat sakit.


Dinda ingin meremas perutnya seketika itu Bundanya Rama mencegahnya dengan mendudukannya lalu membaringkannya.


"Jangan di remas perutnya bahaya!"


Bundanya Rama membuat Dinda tenang semuanya nya menatap apa yang terjadi pada Dinda apa yang Bundanya Rama lakukan.


Arkan juaga melihat memperhatikan apa yang Bundanya Rama lakukan Arkan merasa curiga.


"Sakit tante.. Hiks.. sakit perutnya."


Berteriak terus merintih menangis, Arkan semakin kesal.


"Tenang. Tarik nafas. Hembusin tarik lagi hembusin lagi."


"Sebenernya Dinda udah telat tiga bulan dan saya sendiri udah pastiin pas cek tanggalan bulanan Dinda dan gak ada bulanan merah dan Saya perkirakan dia hamil kandungan nya masih lumayan rentan. Dinda baru melakukan test biasa belum USG, kondisi Dinda terlihat seperti tidak ada tanda kehamilan," jelas Bundanya rama.


Seketika membuat Arkan menjambak dan mengusap rambutnya kasar ekspresi Arkan bercampur khawatir juga lega ada sedikit rasa bersalah dan menangis.


Kakek langsung terduduk lemas di sofa ketika mendengar penjelasan istrinya Rayhan.


Ternyata Dinda hamil kenapa Dinda tidak bicara dengan Arkan.


Kakek hampir saja membuat kesalahan yang sangat besar.


Arkan hampir saja membuat anak pertamanya celaka. Seketika Arkan meneteskan air mata bahagia memeluk Dinda sambil menangis.