Arkan Dinda

Arkan Dinda
Seharian



Dinda duduk di sofa lapuk masih diatas atap sekolah.


Dinda merasa jika ada sesuatu yang aneh dalam artikel itu.


Di ruangan kepala sekolah Kedua orang tua yang menyatakan dirinya orang tua dari Syifa dan Dinda sedang bicara dengan pak Samino dan Kepala sekolah.


Ayah Syifa menatap kepala sekolah dan Pak Samino dengan tajam. Tidak lama Bu ayu datang dengan mengetuk pintu membawa Syifa masuk.


Kepala sekolah dan juga Pak Samino sangat tidak enak. Karena percaya dengan Syifa. Syifa juga memalsukan bukti yang terlihat fakta.


"Papa..." Suara Syifa takut.


Ayahnya menoleh dan juga Ibunya Dinda.


"Silakan duduk Syifa." Kata Bu Ayu Lalu kembali keluar.


"Saya sebenarnya tidak tahu apapun dan kemarin tiba-tiba Syifa membawakan saya bukti ini dan saya masih menyimpannya dengan baik," jelas Kepala sekolah sambil memberikan amplop coklat pada pak Samino dan Pak Samino memberikannya pada Ayah Syifa dan Istrinya.


Di buka amplop coklat itu, dan isinya foto-foto menjijikan tentang Dinda.


Ibu Dinda seketika Menatap Syifa kesal dan membuang wajahnya.


Terlihat asli sekilas tapi jika teliti itu adalah editan yang sangat rapi.


"Saya bawa ini, Ada lagi pak," ucap Ayah Syifa dengan datar.


Syifa sudah gemetar ketakutan.


Tidak berani mata Syifa menatap wajah Ibu sambung dan ayahnya.


"Ada yang mau kamu bilang?" ucap Ibu Dinda dengan tajam.


Syifa diam saja hingga beberapa menit.


"Saya minta waktu untuk bicara dengan anak saya bisa," ucap Ayah Syifa.


Pak Samino mengangguk.


"Silakan pak, Dan kami juga minta maaf dari pihak sekolah karena sudah keterlaluan menyinggung Dinda di depan umum."


Penyesalan Pak Samino terlihat dari wajahnya Kepala sekolah juga malu menyesal.


"Saya akan bawa Dia pulang," ucap Ayah Syifa. Pak Samino dan Pak kepala sekolah mengangguk mempersilahkan dengan wajah segan.


Di sini di dekat mobilnya.


Syifa baru akan masuk ke dalam dengan tas sekolah yang tadi sempat di antarkan Arinda temannya.


Dinda yang tidak sengaja lewat berpura-pura tidak lihat hingga, Sebuah tangan besar di meraih tangan Dinda lalu Dinda menatap wajah orang yang menarik tangannya.


"Maaf... Kamu gak nyaman? mau ikut pulang?" ucapnya dengan nada penuh rasa bersalah.


Dinda menepis tangan besar itu dengan pelan.


"Maaf... Om aku masih ada jam sekolah. Makasih Om... Dan Om jangan anggep saya lebih, Om ayahnya Syifa bukan ayahku, Maaf Om," ucapan Dinda Seperti sebuah peringatan dan tanpa sengaja perkataan itu membuat Dhanu ayah Syifa sekaligus ayah kandung dari Dinda juga harus menjaga jarak dan hidup dengan asing ketika bersama Dinda atau tidak sengaja dekat dengan Dinda.


Dinda pergi begitu saja setelah mengatakan itu. Syifa yang baru akan masuk mobil berhenti dan memilih melihat ayahnya yang tiba-tiba keluar mobil dan menghentikan Dinda yang tidak sengaja lewat.


Setelah Dinda akan berjalan pegi Syifa menghalangi Dinda sekarang.


"Minggir." Kata Dinda dengan kasar.


Syifa menyipit menatap Dinda seketika akan menampar Dinda, Syifa ditahan oleh ayahnya.


"Papa.. papa kenapa sih."


"Masuk kamu!" Nada bicara ayahnya yang tinggi.


Dinda pergi begitu saja meninggalkan Syifa dengan ayahnya. Dinda langsung melangkah kekelasnya Lalu duduk.


Ketika akan duduk Dodi Lia dan Yeni merubung Dinda.


"Gue baik yen, Santai aja... Hihi.." Kata Dinda dengan ceria. Seketika tangan Dodi menempel di dahi Dinda seketika itu Dinda menjauhkan Dahinya.


"Mau apa lo gue tabok tahu rasa lo," ucap Kiran tiba-tiba yang baru menoleh ketika Dodi akan menyentuh kening Dinda.


Dinda tersenyum pada Kiran.


"Jangan macem-macem Dod gue hajar lo nyakitin Dinda." Ancaman Kiran seketika membuat Lia dan Yeni mengangguk membenarkan apa yang Kiran Bilang.


"Din.. gue pinjem kursi lo," ucap Dodi. Seketika Dinda langsung bangkit dan Kiran gugup.


Dodi langsung duduk menghadap Kiran.


"Gimana Sayang Mau mulai dari mana, Dahi... pipi kiri- Atau pipi kanan atau mau Lips... " ucap Dodi seketika berhenti. Pas tepat Kiran memukul wajahnya dengan buku yang di gulung untuk memukul.


Tak...


"Aw... sakit, Yang," ucap Dodi.


Kiran malah lebih memukulinya dengan asal dan kasar.


"Ih.. jijik yang-yang Pala lo peyang... Minggir lo, Dinda duduk, nih buaya Bang...." terpotong ucapan Kiran. Seketika berhenti dengan guru yang masuk kelas.


Semuanya lansung bergegas duduk rapi, dan siap memulai pelajarannya.


Di ruangan Osis, Citra tidak sengaja lewat dan mendengar jika pengurus inti Osis membicarakan Dinda dan Syifa. Lalu berita hangat.


"Artikel apaan." Bisik Citra pada dirinya sendiri.


"Eh.. Eh.. tunggu," ucap Citra menghentika dua orang pengurus osis perempuan.


"Eh.. Citra.. lo kok gak ikutan sama kayak Syifa bukan kalian temenan deket."


Citra menatap dengan heran, kedua gadis itu tersenyum remeh.


"Eh. Enak aja gak juga ya.. Btw ada apaan kenapa pada ngomongin Syifa sama Dinda ada apaan emangnya?" Citra mengharap jawaban dari mereka.


Mereka berdua mengangguk.


"Lo kudet sih... buka Hp lo liat berita baru Artikel terkini." Kata salah satu gadis yang ada di depannya. Citra membukanya dan Melihat isi berita itu dengan wajah kaget.


Kedua gadis itu pergi meninggalkan Citra. Citra langsung bergegas mencari tempat aman untuk memahami berita ini.


Di toilet.


Cita berdiri bersandar pada meja wastafel.


"Dinda Anak dari istrinya pak Dhanu yang katanya Istri pertamanya selalu sembunyi dari publik, Kalo yang sering sama dia waktu itu Istri keduanya dan Syifa adalah anak dari istri keduanya yang sekarang sudah tiada. Kalo gitu berarti Dinda adik kandung Syifa karena satu bapak cuman beda ibu. Bener-bener heran...gue, gak abis pikr."


Seketika Citra yang murung berubah bahagia dan senang.


Ketika Artikel yang sebelumnya juga menjelaskan jika Dinda tidak membuat nama baik sekolah hancur dengan foto-foto vulgar dan juga sejenis Foto dewasa lainnya. Karena Itu semua hanya rekayasa. Ayahnya sendiri Dhanu Brahmanta yang menjelaskan sendiri dan bisa menjamin semua hal buruk yang merusak nama baik putrinya Dinda Alea, menjamin semua berita itu adalah palsu.


*


Disini Dinda belum keluar kelas Dinda menunggu jam tepat waktu yang di inginkannya. Dinda ingin sendiri. Hari ini juga Dinda Izin tidak masuk kerja.


Dinda duduk melamun didepan kelasnya.


Kiran sudah pulang lebih dulu. Dinda hanya ingin sendiri. Hari ini padahal di permalukan dalam waktu beberapa menit dan jam. Rasanya seperti di permalukan selama seharian. Dan belum lagi berita aneh yang mana Ayah Syifa yang Dinda kenal mengakui kalo Ibunya Dinda Istri pertama Ayah Syifa. Dan apa bener jika iya, lalu apa yang Rian bilang jika Ayahnya Syifa juga sudah membuat Ibunya Menjadi orang lain, Entahlah Dinda bingung. Dinda pusing memikirkannya.


Masalah tentang dirinya tentang Ibunya dan masalahnya dengan Arkan saja belum rapi dan masih semerawut... sekarang malah ada lagi. Dinda bisa gila kalo gak bisa tahan sama semua keadaan ini.


Untung aja ada Kiran, Dinda lumayan terhibur dan belum lagi tentang Arkan di atap tadi... Uh.. rasanya seperti ingin terbang. Terhitung Dua kali, Ya.. Dua kali Dinda di sentuh pucuk kepala walau tidak di usap atau di tepuk pelan hanya di letakan tangan besar itu lalu pergi.


Di parkiran Arkan masih menunggu Dinda turun.


Sebenarnya untuk apa Arkan menunggunya tapi, jika di biarkan para tikus sialan akan mengganggunya.