Arkan Dinda

Arkan Dinda
Rencana



Dinda sampai di rumah yang cukup mewah untuk kompleks perumahan mewah di sekitar sini. Melangkah ke gerbang tidak lama seorang satpam datang.


"Eh.. Non Dinda. Bentar neng Pakde buka." Kata satpam dengan sopan. Jelas kenal, Satpam itu tahu siapa Dinda dan ibunya Dinda. Dinda mendorong masuk motornya ke dalam lalu membawa pesanan ibunya ke dalam.


Dinda melirik dengan wajah tenangnya sambil berjalan masuk ke dalam.


Didepan motornya terparkir mobil ibunya dan beberapa mobil mewah disamping mobil ibunya.


Rumah memang terlihat biasa tapi, Pemiliknya memang tidak biasanya.


Ketika sampai langkah kaki kanan masuk ke dalam Dinda melihat ibunya Syifa dan Ayah Tirinya duduk bersama di sofa. Waktu keluarga, Waktu yang segala-galanya untuk keluarga bahagia didepan ini.


Dengan salam tentunya. Dinda melangkah masuk bersama kantong bawaan di tangan kanannya.


"Eh.. Non Dinda," suara bibi dari arah dapur berlarian kecil membawakan Dinda air minum.


"Maaf ya non bibi di belakang," ucap Bibi dengan ramah. Bibi langsung meminta barang yang Dinda bawa.


Menoleh kebelakang, acuh Dinda memakai aerphonenya dan menyalakan musik dengan volume rendah.


"Makasih ya bi, Gak usah-repot-repot... Dindakan cuman kurir." Katanya dengan santai.


Bibi menatap dengan wajah terkejut.


Seketika tersenyum ramah lagi.


"Bi.. Dinda langsung pulang aja ya..." Kata Dinda sambil berbalik ketika akan melangkah keluar dapur.


Ibunya melangkah mendekat dan lewat begitu saja. Tidak ada senyuman apapun yang menyambut Dinda di rumah ini.


"Dinda gak bisa nganterin terus, pake jasa kurir, Dinda mau ujian besok," ucapnya lalu berlalu pergi keluar.


Setelah agak jauh Dinda berjalan Ibunya Dinda menoleh dan menatap dengan wajah suram.


Dinda mengepalkan tangannya ketika kakinya sampai di depan pintu lalu selangkah lagi keluar akhirnya Dinda bisa keluar dengan tenang tanpa menumpahkan Air mata.


Dinda pergi dengan menuru tangga menuju motornya.


Baru akan mengeluarkan motornya Dinda menghentikan motornya dan menoleh. Menstandarkan motor dengan benar Dinda berdiri menatap dingin pada seseorang yang sedang berjalan ke arahnya.


"Aku tidak tahu kau suka atau tidak. Bawalah salah satu mobil di rumah ini untukmu," ucap Ayah tiri Dinda yang memang ayah kandung dari Syifa.


Dinda menoleh ke samping melihat jajaran mobil mewah.


Seketika kembali menatap ayah sambungnya. Dinda melihatnya mengeluarkan uang dan kartu.


"Bawalah untukmu," ucapnya.


Seketika Dinda menyeringai. Menggeleng.


"Makasih Om..." Kata Dinda berhenti sebentar tatapan wajah ayah Syifa datar dan dingin.


"Dinda udah gede, Dinda bukan anak-anak lagi. Kalo Om mau ambil Ibu gak papa, Dinda tinggal sendiri aja, Lagi pula Syifa pengen ada orang tua perempuan di sampingnya. Kayaknya Ibunya Dinda memang nyaman disini, Maaf Om Dinda cukup sama motor dan sepeda. Besok lagi Dinda gak akan dateng kesini lagi," ucapnya dengan melepas aerphonya dan memakai helmnya.


"Kayaknya kedatangan Dinda buat suasana rumah sesak ya..." Dinda berucap dengan senyum paksa sambil berjalan mendekat dan mengambil tangan yang masih memegang uang dan kartu untuk menyalaminya.


Lalu berbalik menaiki motor dan pergi bersama motornya.


Wajah ayah Syifa sangat datar dan sulit di baca.


Tidak lama Dinda pergi Ibu Dinda turun menghampiri suaminya di halaman.


"Rencana kamu minta dia kemari salah," ucap Ayah Syifa.


"Setidaknya kamu tahu seberapa keras kepala dan sifat yang percaya dirinya." Kata Ibu Dinda.


"Dia anakmu," ucap Ayah Syifa.


"Anakmu juga.. kau tidak tahu jika anakmu itu mengalami penghinaan oleh putri dari istri keduamu yang hamil duluan," ucap Ibu Dinda menyindir Ibu Syifa.


"Mereka berdua anakku." Tepat Ayah Syifa berucap, Membuat Ibu Dinda diam.


"Aku hanya ingin bicara biasa tapi, setelah tahu dia anak yang tidak di inginkan siapapun dia jadi dingin seperti itu." Kata ayah Syifa dengan wajah datar.


"Keluarga besar hanya ingin anak yang pintar berprestasi dan tidak bodoh seperti Dinda. Tapi, malah anak istri keduamu yang mereka pilih, Mau tidak mau aku harus memberikan kasih sayang berlimpah." Kata Ibu Dinda dengan kesal.


"Kau dan aku sama, kita membuat masalah yang membuatnya di kucilkan beberapa orang yang tahu dan yang tidak tahu akan ikut-ikutan." Seketika Kata ayah Syifa membuat Ibu Dinda diam dan berpikir.


"Pernikahan kita yang diam diam, Kenyataan yang mereka lihat jika kita adalah orang asing lalu memiliki anak." Kata ibu Dinda dengan wajah sedihnya memeluk lengannya.


" Hanya Dinda putri Kandungku," Kata Ayah Syifa dengan wajah Datar.


Ibu Dinda meneteskan air mata dan berbalik, seketika tangan Ayah Syifa menarik dan memeluknya dengan erat. Seketika itu pelukan ayah Syifa di balas.


Syifa yang duduk di sofa sambil meminum jusnya dan menonton tv sendiri. Hanya diam.


"Lagi-lagi semua untuk Dinda... Apa mereka tidak menganggapku." Berucap dengan nada suara yang rendah ekspresi kesal. Tangannya mengepal ujung hoddi ungu mudanya.


Di perjalan pulang Dinda berhenti untuk membeli jajanan hingga sampai di sebuah kedai makanan kecil dan minuman Dinda langsung pesan dan bawa pulang.


Boby dan rekannya yang masih mengikuti Dinda terus memperhatikan Dinda. Hingga Dinda kembali berjalan dengan motornya.


Disini markas tengkorak. Belum selesai dengan pukulan pertama Arkan yang sangat sakit.


Farles kembali bangkit dengan darah yanh sudah mengotori pakaiannya.


Mereka yang melihat Arkan tidak jauh beda dengan iblis pembunuh di hadapan mereka. Seketika membuat lutut mereka bergetar hebat.


Sampai banyak yang berlutut.


"Pak ketu beneran marah kayaknya," kata Lorenzo dengan suara pelan berbisik pada Bagus.


"Iya." Sahutnya dengan berbisik juga.


Bruuuak... Dugh...


Meja Tenis hancur menjadi dua seketika itu bongkahan kecil Lima gram emas berhamburan keluar dari meja tenis.


Traang.. traang..


Lalu ujung tongkat Basbal mendorong Farles hingga membentur tiang penyanggah tali pembatas di arena gulat atau bela diri itu.


"Hahah.. Hahahah..."


"Dia bodoh ternyata pintar juga," ucap Farles masih sempat bicara.


"Kita semua gak takut apapun sekalipun sama tuhanmu, Kami bisa kaya tanpa Tuhanmu, dan karenamu Giovano jadi rajin ibadah dan berubah, derajat seorang bos mafia yang buruk," Kata Farles dengan wajah masih bisa tertawa bahagia.


"Kau membuat kamu tidak bisa minum-minuman keras sembarang, penjualan senjata ilegal, bergaul dengan banyak wanita dan membunuh dengan sesuka hati. Dan malah menggabungkan diri ke pemerintahan menjual jasa tentara bayaran dengan Legal dan menjadi tentara bayaran negara yang aneh dan lemah."


Arkan mengakat wajahnya dan menarik tongkat basbalnya.


Bruaak. Bugh.. Bugh....


"Jika kau tidak ingin mengikuti aturanku, kau tinggal bilang, kau punya kewenangan untuk mengubah keputusan Giovano," ucap Arkan dengan suara berat dan tajam Wajah Arkan masih tanpa ekspresi, selalu dingin.


Pahatan Es abadi memang mencair jika ingin, jika tidak, tidak akan mencair.


"Hah.. Hahahah.... Kau pikir aku bodoh... Tidak Lihat saja kau pasti akan mati dengan kesombonganmu dengan tongkat basbalmu sendiri." kata Farles dengan wajah santai tertawa seperti ada yang lucu.


Arkan menarik Farles keluar dengan kaki pincangnya. Memang sebelumnya Arkan memukul Kaki Farles dan tangan hingga seperti rasanya jika hanya dilihat kaki dan sebelah lengannya patah.


Pasukan khusus. Arkan dan Farles juga Lorenzo dan Bagus yang membawa keluar pengikut Farles.


Hellikopter yang sudah mendarat sejak tadi dan seorang dan beberapa yang yang sedang bicqra dengan Justin dan Yuda, dengan pakaian hitam bertuliskan nama devisi dan gambar tengkorak lengkap dengan helm pelindung peluru.


"Arkan terimakasih tugasmu cukup baik rencanamu untuk menangkapnya memang bagus." Kata orang yang terlihat seperti pimpinan, menghampiri Arkan.


Arkan menganguk.


"Bisa aku memberinya hadiah." Kata arkan sebelum Farles di bawa pergi.


"Silakan kau pasti akan mel..."


BUGH.... pukulan telas Farles terima di wajahnya hingga sudut bibirnya kembali berdarah.


"Kau mengincar gadis yang tidak ada hubungannya dengan masalahku, Kau membuatku kerepotan," ucap Arkan tajam pada Farles tatapan tajamnya membuat Farles kesal dan marah.


"Kali ini aku kalah, besok aku akan benar-benar melakukannya." Kata Farles yang belum benar-benar berbalik pergi naik ke dalam helikopter khusus pasukan. Beberapa orang juga ikut di bawa.


Pak Jersey yang mengucapkan terimakasih pada Arkan tadi menepuk bahu Arkan dan Tidak lama dua kotak hitam datang.


"Giovano juga sudah membuat perusahan khusus untuk anggota kalian dan itu ada di Indonesia dan Italia, Kau di minta Giovano dan aku memegang kendali, jika tidak kau bisa pilihlah salah satu orang untuk mengurusnya, Yang terpercaya tentunya." Kata Pak Jersey.


Beliau melangkah mundur tersenyum. Seketika teringat sesuatu.


"Beruntung kau tidak menghabisinya," ucap Pak Jersey belum benar benar pergi dan berbucara menatap Arkan.


Mereka semua pergi kembali ke Markas.


Hansimon menatap Arkan dengan takut. Kerusakan dan beberapa barang itu Seketika Arkan bawa keluar kecuali emas.


"Bakar semuanya." Suara tinggi Arkan mengintupsi Hansimon dan anak buahnya.


Tiga tas besar berisi emas batangan yang tidak hanya dari meja tanis melainkan ruangan tersembunyi di tempat markas dengan bentuk kastil itu.


Lalu minuman berakohol yang Di buang di tanah di tumpahkan ketanah tepat di hadapan Arkan.


Seketika Yuda menerima pesan lalu Lorenzo, Bagus, Justin, Hansimon juga.


Suara ponsel diantara mereka berbunyi.


"Bukan sekarang melainkan waktu tepatnya kalian akan bersiap-siap musnah." Isi pesan itu.


Arkan mematikan ponselnya dan pergi setelah semuanya selesai.


"Tuan Arkan, Maaf kan Saya karena saya tahu tapi, Saya tidak," Ucap Hansimon terpotong ketika Arkan melangkah mendekat.


"Bicarakan hal yang membuatmu tenang padaku, jangan membuatmu bicara memohon seperti pada Maut, Tutup mulutmu, sebelum kurobek dengan gunting besi," Kata Arkan dengan sadis lalu melangkah keluar dengan wajah dinginnya.