
Arkan berhenti didepan gang rumah Dinda perlahan suara mesin motor Arkan jalankan mendekat ke rumah Dinda. Tidak ada siapapun rumah yang terlihat penunggunya sepi.
Arkan sampai di depan gerbang turun dan melepas helmnya. Seketika Bagus dan Lorenzo datang.
Arkan menatap keduanya dengan datar.
Dari dekat mereka seorang dengan jaket kulit hitam datang.
"Didalam bahaya, Mereka di dalem kamarnya," Kata orang dengan tato tengkorak di leher bawah telinga kiri.
Arkan mengangguk.
Arkan masuk seketika Lorenzo menghentikannya.
"Kita gak bisa gegabah Bos." Ucap orang yang datang menghampirinya.
Seketika Arkan melihat jam tangannya.
Sialan hampir tengah malam.
"Kita cuman bisa masuk kalo kita bawa ini, tapi, Mereka pake bom di dalem rumah."
Terkejut. Ini gak mungkin sampai seperti itu, ini rencana gila.
"Bodoh." Kata Bagus dengan Emosi. Arkan mendengus kesal seketika tidak perduli dan membuka gerbang dengan langsung tanpa suara. Masuk pintu depan yang tidak terkunci.
Arkan masuk seketika todongan pistol membuatnya tidak bergerak.
Jebakan bukan di kamar melainkan langsung masuk langsung di sambut.
Lorenzo dan Bagus yang melihat Arkan mengangkat tangannya dari dalam langsung terkejut.
"Rett.. Lo pasti pinter kalo cuman siasat kan," ucap Lorenzo pada Rettrigo.
Retrigo mengangguk.
Sebelumnya Rettrigo membagi dua senjata kosong.
"Kita pake ini buat tipu mereka, Kalo panik mereka gak mungkin mikir ini kosong," ucap Rettrigo dengan Pd. Rencana Aneh!
Bagus dan Lorenzo mengangguk.
Rettrigo mengerti pandangan mata Bagus yang sedang mencari sesuatu.
"Mereka langsung IGD, Tembakan langsung kena dada," ucap Rettrigo tanpa basa basi. jelas Rettrigo tentang beberapa orang yang sempat bertengkar dengan tembakan orang yang menyandra Dinda.
Iya memang... kompleks perumahan yang aneh, penghuninya tidak keluar atau pun dirumah, tempat sekitarnya sedang ada rusuh mereka justru cuek.
Yaah kompleks sekitar Rumah Dinda memang seperti itu.
Seketika Bagus terkejut.
"Dada.. Jantung mereka?" ucap Bagus mengulang. Rettrigo mengangguk sambil mengisi peluru.
"Santai bener hidupnya," ucap Bagus. Ketika menoleh ke Lorenzo. Bagus berdehem dan langsung fokus.
Arkan diam saja seketika dari kursi terlihat seorang gadis terikat dan terluka di bagian sudut bibir dan pelipis.
Tangan Arkan mengepal.
'Terluka... gak.. gak ada yang bisa buat dia terluka selain gue, batin Arkan.'
Orang itu terkekeh. Mengarakan pistol ke kepala Dinda. Seketika mata Dinda mengerjap.
Samar seketika jelas. Dinda menatap Arkan yang berketingat dan berantakan..Lalu banyak orang.
"Hiik.. Lepas..." Berontak Dinda.
Plaak...
Seketika Arkan di liputi emosi. Gak, Gak bisa ini tidak bisa terjadi pada orang yang selalu membuat harinya berwarna sekarang.
Seketika tanpa aba-aba Arkan Melawan dan ketika salah satu dari mereka akan menembak kepala Arkan Seketika itu juga Bagus langsung menghantamnya dengan besi. Lalu Lorenzo dan Rettrigo masuk.
Seketika semuanya lumpuh dan terkapar Rettrigo Bagus dan Lorenzo berdiri di belakang Arkan.
"Ini pemukiman," ucap Retrigo mengingatkan Arkan Arkan mengangguk. Tadinya ingin langsung menembak tapi, Rettrigo pikir situasinya yang awal sudah riush suara tembakan.
Melangkah perlahan mendekat.
Dinda menangis menatap Arkan yang bukan seperti Dinda tahu.
Arkan yang ada di depannya sangat terlihat sadis dan bengis kejam dan dingin tidak segan menghabisi.
Darah pun masih ada di baju dan tangannya.
Arkan yang terlihat berantakan ini memang masih bisa membuat Dinda suka, tapi, dia kasar.
Dinda tidak suka.
"Pergi.."
"Pergiii... Semua.. Aaa... Pergi kalian semua. Hmppp," ucapan Dinda seketika berhenti ketika lakban hitam membekap mulutnya lagi.
Seketika itu juga Arkan mendang dada orang itu hingga membentur meja makan dan jatuh kelantai.
Lalu Arkan menariknya dan memukulinya didepan Dinda. Seketika itu juga Lorenzo dan Bagus juga Rettrigo yang tau sedikit Arkan. Walaupun mereka dekat Arkan orang yang tertutup.
Baru tahu jika Arkan yang sangat murka sekarang.
"Stop.. Hiks.. Stop kak.. Kakak ... Kak Arkan," ucap Dinda pelan dengan tangis.
Dinda. Menangis.
Suara Dinda tidak jelas karena lakban hitam di mulutnya.
Tapi, Arkan mengerti teriakan histeris Dinda berikutnya dengan suara tangis bersamaan.
Arkan berhenti.
Lalu lakbannya dan Bagus, Lorenzo juga Rettrigo memanggil beberapa temannya yang berjaga diluar membawa semua orang ini keluar. Teman-teman yang datar tidak lama setelah yang lainnya masuk IGD.
Tidak lama setelah semuanya keluar di bawa orang-orang Bagus dan Rettrigo.
Bagus dan Lorenzo juga Rettrigo memanggil petugas pembersih rumah.
"Bersihin kekacauan di rumah ini, Dan Uang tutup mulut mu," ucap Rettrigo. Orang itu mengangguk mengerti. Tukang bersih-bersih itu adalah salah satu kenalan Rettrigo jadi aman.
Dinda terdiam badannya bergetar.
Tidak tahu dorongan dari mana Arkan memeluk Dinda dengan erat berusaha menengkan.
"Gue gak bisa jaga, Lo. Maaf, Gue gak bisa suka sama lo, maaf," ucap Arkan.
Dinda bergerak melepaskan dirinya dari Arkan. Arkan melepas pelukannya. Arkan membuatkan Dinda bangkit seketika terhuyung dengan cepat Arkan menangkapnya.
"Kamar," ucap Dinda datar.
Arkan mengangguk membopongnya kekamarnya. Lalu mendudukan Dinda pelan. Lalu keluar mengambil semua hal yang di perlukan.
Arkan kembali dengan kotak obat.
"Pergi." Kata Dinda dengan kasar mengusir Arkan.
Seketika Arkan berdiri.
Mengangguk Arkan pergi keluar. Seketika sebuah suara gelas jatuh membuat Arkan menoleh.
"DINDA!" Kalini Arkan yang berteriak histeris memanggil nama Dinda dengan penuh khawatir dan takut.
"Biar Aku mati, Biarin aku mati kak, Semua orang gak butuh. Ini pasti emang takdir buruk aku," ucap Dinda.
Arkan langsung berlari mengambil pecahan gelas yang Dinda pegang hingga tangannya berdarah. Arkan merebutnya perlahan dan membuangnya.
"Enggak.. ini salah, Hiks.. Aku salah, Aku gak boleh sia-sia ini hidup ini, Aku tertekan," ucap Dinda mulai tenang. Tapi, masih sedih, Arkan menatap dengan tatapan datar dan dingin.
Tanpa perintah siapapun dan hanya rasa simpati Arkan mengambil kotak obat
sebelumnya,
memberikan Dinda minum yang di ambilnya dari dapur.
Dinda langsung menatap Arkan sedih Arkan menatap Dinda dengan datar dan dingin. Arkan membersihkan pecahan itu dan membuangnya ke. tempat sampah. Setelah aman Arkan kembali lagi pada Dinda.
"Maaf kak," ucap Dinda Malu, dengan tubuh gemetar dan tangannya yang memegang erat gelas air.
Seketika tenang dengan tangan Arkan mengambil Alih gelas dan meletakannya di atas nakas.
Dengan cepat dan tidak terasa sakit Arkan mengobati tangan Dinda dengan perban dan obat merah lalu memberikan salep pereda luka pada sudut bibir Dinda tanpa ekspresi Arkan tetap tenang memberikan salep di sudut bibir Dinda. Selesai.
Arkan bangkit keluar kamar lalu kembali tidak lama dengan membawa kantung es.
"Kompres." Arkan memberikan pada Dinda.
Dinda seketika menjatuhkan air matanya lagi cepat-cepat di hapusnya dan menatap Arkan.
"Kakak, kenapa kayak gini sama aku, Kakak bilang gak suka gak mau deket sama Dinda tapi, Kakak perhatian gini bikin Dinda berharap." Jelasnya dengan sangat sedih hingga menangis kembali.
Emosi Dinda tidak setabil Arkan tetap tenang hingga tanpa aba-aba tangan Arkan menyentuh kepala Dinda.
"Istirahat." Katanya lagi dengan singkat lalu keluar kamar Dinda.
Dinda hanya bisa Diam tidak ingin mencegah Arkan, malu.
Bisa tidak Kak Arkan yang Dinda tahu sekarang tersenyum padanya, Sepertinya mustahil.
Sampai wajah Dinda bisa tumbuh keriput pun Arkan tidak akan pernah suka dan tersenyum pada Dinda Mungkin, Dinda terlalu berharap.
Dinda diam di atas kasurnya masih dengan posisi sama. Hingga Rumah benar-benar sepi.
Kembali menangis menenggelamkan wajahnya ke dalam lutut kaki yang terlipat dan tangan yang memeluk kakinyanya.
Tanpa Dinda tahu Arkan belum benar-benar Kembali. Arkan berada di halaman rumah Dinda bersama Rettrigo.
"Bos. Rokok."
Arkan rasanya asing dan tidak ingin merorok sekarang tidak tahu kenapa selera merokoknya hilang sekarang.
"Bos... banyak pikiran," ucap Rettrigo dengan pelan. Arkan menghela nafasnya dan menatap Rettrigo tajam, Isyarat untuk diam saja.
Rettrigo paham dan tenang saja sekarang.
Arkan melihat jam di jam tangannya. Sudah sangat malam.
"Bergantian klo capek. Lima subuh nanti gue dateng lagi," ucapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Seketika ponsel Arkan bunyi ketika akan naik keatas motornya.
Di sini markas geng motor Arkan. Devano dan Diyo mendapat informasi tentang cips yang di dapat dari semua kamera kecil dan penyadap suara.
"Telpon Bos," ucap Diyo pda Devano. Devano mengangguk.
"Hallo Pak ketu," ucap Devano.
Di halaman Dinda Arkan berdehem menanggapi sambungan Devano.
Dengan serius Arkan mendengarkannya sampai di titik dimana penjelasan Devano berakhir seketika itu Tatapan dan raut wajah Arkan benar-benar terlihat bengis dan menyeramkan.
"Nah.. kalo gak salah ini ini ulah Gangster yang bener-bener nantangin Lo lagian gak ada yang tahu di negara ini kalo lo salah satu pemimpin Mafia tengkorak yang sekarang masih baru-barunya... Diyo aja kagak kenal mereka tapi logo tampilan cipsnya itu gak asing Diyo sama gue tahu kalo itu punya gengster terkenal dan punya sistem IT canggih yaa gak kalah sama Kak Giovano punya lah," ucap Diyo panjang lebar.
"Hampir bisa di buka tapi, Hampir ketahuan lokasinya gak jauh dari pulau jawa, Itu markas sementara mereka," ucap Diyo setelah merebut paksa ponsel dari tangan Devano.
Rettrigo dan Diyo memang terlihat seperti orang asing dan mereka bisa mengerti dan bisa bicara bahasa Indonesia karena mereka bergaul dengan geng motor Arkan.
Tuut...
Baru akan mengeluarkan suara lagi, Malah Devano mendengar suara sambungan terputus. Diyo menatap polos sambil mengedikkan bahu.