Arkan Dinda

Arkan Dinda
Pergi



Arkan menatap Neneknya yang berjalan mendekat di bantu Bi Yum.


Arkan berhenti dengan menghela nafasnya Arkan berjalan melangkah menghampiri neneknya dan memeluk neneknya.


"Arkan jangan pergi, disini aja sama Nenek. Besok Nenek udah janji mau buat kegiatan tanam sayur sama Rama, Masa kamu pergi," ucap Nenek memelas sedih.


Arkan melepas pelukannya.


"Maaf Nek, Arkan harus pergi, Arkan gak bisa disini lagi," ucap Arkan lalu mencium pipi neneknya kanan kiri juga dahi Neneknya.


Kakek menatap Arkan dari lantai atas dengan wajah datar.


Arkan berlalu pergi keluar rumah.


Arkan membawa koper dan memasukannya kedalam mobil dan mengeluarkan mobilnya.


Lalu menutup garasi mobil lagi lewat pengaturan ponselnya.


Arkan melajukan mobilnya keluar rumah Kakeknya.


*


Arkan tidak langsung pergi kerumah orang tuanya yang kosong tapi pergi ke markas geng motornya untuk menenangkan diri.


Devan yang melihat mobil Arkan segera keluar dan menyapa Arkan.


Seketika Arkan melambai mengangkat tangan jawaban sapaan Devan.


Mereka masuk berdua dan duduk bersama Menenangkan pikirannya disini sepertinya lebih baik.


"Kan Maen gak lo," ucap Dodi. Dodi salah satu anggota geng motor di geng Arkan dia juga kelas sebelas sama sekalas dengan Kiran juga Dinda. Dodi si ketua kelas yang senang menjahili Kiran.


Arkan mengangguk.


Bersama mereka bermain game ps.


*


Waktu menunjukan pukul Setengah sepuluh malam. Arkan yang juga sedang memejamkan matanya menangkan pikiran di sofa pijat. Seketika meraih ponsel yang berdering.


"Kan, Sekarang Markas," ucap Justin di seberang teleponnya.


Arkan seketika memutusnya di sebrang sana Justin mendengkus kesal.


Arkan bangun.


"Wira, Lo kunci semuanya kalo lo dah gak nginep lagi disini," ucap Arkan menatap tajam Wira.


"Siap Bos tenang aja selalu ingat," ucap Wira salah satu anak kelas sepuluh adik kelas Dodi.


"Halah.. Boong lo kemaren pintu belakang lupa lo kunci untung gue balik lagi teru..." Seketika terpotong karena Wira mencubit perutnya Dodi, yang ember emang Dodi.


Arkan mendengar itu dan acuh saja.


"Gue pergi dulu," ucap Arkan Berjalan keluar.


Menaiki mobilnya dan pergi ke markas tengkorak.


Arkan yang sedang mengemudikan mobilnya tidak sadar jika Lorenzo dan Rian ada di belakangnya.


Beberapa menit Arkan sampai, jarak markas tengkorak dan markas Geng motornya hanya beberapa puluh menit jika Arkan menaiki mobil dengan kecepatan tinggi otomatis sampai cepat. Jalanan di sana juga sepi.


Seperti jalanan Aspal baru tanpa penduduk padat.


Arkan keluar dari mobil setelah sampai dan langsung masuk seketika itu Lorenzo dan Rian ikut masuk.


"Citra bisa kabur," ucap Rian.


Seketika Arkan melangkah cepat masuk kedalam.


Seketika itu Justin meletakan beberapa borgol dan pisau juga seperti kunci perusak alat elektronik.


"Emang bener," ucap Bagus, menatap semuanya.


Seketika Semua menatap Arkan dan Bagus.


"Selama ini apa yang Pak Jersey laporkan?" ucap Arkan pada Hansimon.


"Laporan terakhir yang Pak Jersey berikan tentang Citra dan jawaban keluarganya yang hanya di terima dan tak di balas," ucap Hansimon.


"Gue inget, kemaren ujian, gue liat Citra juga masuk tiap Ujian Itu Citra atau bukan tapi sedikit tenang sih anaknya," ucap Lorenzo.


Arkan terdiam.


Pembicaraan dan rencananya dengan Om Rayhan juga sudah berjalan.


Hansimon seketika memberikan ponselnya pada Arkan dengan layar panggilan Rayhan Secorpion.


"Arkan, Kamu udah dapet semua berkasnya kamu tinggal periksa semua di rumah Ayah kamu, Om kirim semuanya malam ini, Om juga minta maaf... Kamu jadi pergi dari rumah itu sepertinya Karena Om," ucap Rayhan di telepon


"Enggak Om ini gak ada hubungannya, Makasih Om," ucap Arkan menjawab dari Telepon.


Arkan memberikan lagi ponsel Hansimon pada pemiliknya.


Disana terlihat Citra mengeluarkan sesuatu di balik rambutnya lalu membuka ikatan tangan dan kaki yang sudah di pasang alarm dan beberapa sandi.


Setelah merusak kunci Citra membanting dan menginjak kunci itu lalu Pergi keluar ketika semua lengah.


Arkan bergegas memeriksa tempat.


"Jam berapa?" ucap Arkan.


"Sekitar jam sembilan dia baru lompat keluar kita juga liat ada darah di tembok." Lapor Diyo.


Arkan memeriksa tempat Citra di introgasi dan keluar lewat jendela bebas tralis kacanya pecah tapi bukan dengan benda tumpul atau tajam.


"Dia nekat banget nendang jendela ini," ucap Lorenzo yang tahu juga jika kaca jendela di pecah dengan sikut tinju atau lutut.


"Biarin sampe sini, Kalian siapin buat tiga malem besok kita pasti kedatangan tamu," ucap Arkan membuat semua menatap heran.


Seketika Arkan keluar dan duduk di depan kap mobilnya.


*


Di rumah besar, setelah menunggu lama Mobil menjemputnya sekarang baru sampai dan Citra turun dengan wajah buruk dan pakaian kumal.


"Silla," ucapnya seketika perempuan cantik mirip dengannya dan dengan kaca mata itu berlari dan memberikan selimut untuknya.


"Maaf Kak, Apa kakak nyerah aja, Citra kan suka sama Arkan, dan Citra yang suka Arkan itu Citra Silla Betricias," ucap Perempuan cantik dengan Kaca matanya ada nada percaya diri dan tidak mau kalah.


"Diem lo, Gue Citra Rosella Betricias gue cuman mau cewek itu habis! di tangan gue," ucap Citra.


Dari luar pintu datang seorang lelaki dengan kemeja biru laut dan dua kancing atas terbuka dasinya juga sudah entah kemana di belakangnya ada wanita cantik yang waktu itu mengantarkan Citra memberikan surat pemberhentian kerja sama pada Kakeknya Arkan.


Ya... ibunya Citra.


Citra memiliki keluarga yang sulit di ketahui siapapun sampai rinci Keluarga Citra hanya di publikasikan menurut ucapan ibunya wakil pemimpin rumah tangga Istri Gabriel Qnciz.


"Mam... Apa Mama tidak bisa memberikan Citra tempat lagi untuk mengambil alih Blackrose?" ucap Citra Rosella dengan wajah mengiba.


Citra Silla adik dari Citra Rosella itu menunduk takut.


Seketika ibunya tersenyum.


"Sudahlah Rosella lihat bagaimana putri sulung mu memegang kendali lebih baik kau menjadi seperti Silla dia akan normal sama seperti mu," ucap Gabriel Qnciz ayah dari dia anak perempuan kembar itu. Pada ibu dari dua anak kembar dan untuk Citra Rosella yang baru saja keluar dari sarang mafia tengkorak. Membanggakan Citra Silla didepan Istri dan anak kembar tuanya


Nama ibu dari dua anak kembar itu adalah Rosella.


"Kau selalu membedakan anak-anak kita kau sudah melupakan Ambar dan sekarang kau harus fokus membuat keluarga mereka hancur karena Ambar aku hampir kehilangan Rosella," ucap ibu dua anak kembar itu.


Yaa... hanya Rosella yang di khawatirkan.


Silla adalah anak yang kurang perhatian tapi, dia sangat penurut.


Kisahnya sangat sedih sulit di jelaskan bagaimana Silla masih bisa tersenyum sampai sekarang dan selalu perhatian dengan keluarganya.


"Silla siapkan makan malam untukku saja dan setelah itu kembalilah belajar dan istirahat di kamarmu," ucap Gabriel Qnciz ayahnya yang setiap perkataan seperti menyayangi Silla tapi, sikapnya selalu dingin. Silla mengangguk pergi mengerjakan segalanya.


Seketika itu Gabriel merenggangkan otot lehernya tato secorpion terlihat.


"Kau masih lemah jika masih bisa tertangkap mereka, kau harus berterimakasih pada Adikmu karena selama kau di culik kau bisa di gantikan adikmu," ucap Ayahnya Sambil berlalu pergi.


Seketika itu ibunya juga mengejar sang ayah yang menaiki tangga.


*


Di markas Arkan diam dan masih duduk menatap langit malam di atas kap mobilnya.


Bintang begitu penuh di langit seperti taburan geliter berwarna putih ada sedikit campuran warna lain tapi, putih lebih mendominasi warna langit malam yang gelap.


"Gue kira semua baik-baik ternyata gak sejauh gue kira," ucap Rian sambil menyalakan rokonya.


"Yaa... Gue ngerti apa yang di alami tu orang yang seumur hidup berteman sama Arkan baru hari ini kali ini kenyataannya gue liat dia selalu menyendiri dan selalu diam sama sekali gak ada cerita apapun terakhir cuman nyampein maaf ke Dinda dah itu aja," ucap Justin sambil menenggak es americano yang baru saja Diyo bagikan.


"Gue ketemu dia di jalan arah kesini, Gue liat Arkan ada di markas Adventure Dia keluar dari sana, Asli tu muka Arkan kagak datar kek biasanya, Asli banget lecek moodnya juga ancur tapi, sayang tetap gantengan dia dari pada gue," ucap Lorenzo seketika membuat semua kesal sudah serius mendengarkan malah membahas ketampanan dirinya, memang nyebelin juga Lorenzo ini.


Yuda memakan kacang mette di dalam mangkok yang di raupnya dan ada di telapak tangan kanannya. Yuda menggeser mangkok ketengah agar semua bisa makan.


Bagus langsung mengikuti Yuda memakannya.


"Gue jadi inget gimana senengnya tuh muka waktu Dinda selalu ceria ama Dinda, gimana tuh kutup cair pelan-pelan tapi, tiba-tiba Kakek Arkan membuat semuanya kembali lagi seperti semula," ucap Lorenzo.


"Iya... " Sahut Justin.


"Sebenernya kita gak boleh ngatain dan ngomongin dia di belakang tapi, kalo kita senggol dia sekarang habis babak belur nih muka," ucap Yuda.


"Kita tunggu aja sampe dia bener-bener bisa lega sama masalahnya terus kita ajak dia buat cerita, walaupun dia musuh gue karena Dinda gue kasian bener liat dia sendirian mulu gitu," ucap Rian tertuju untuk Arkan.


Seketika semua mengangguk mengiyakan apa yang Rian katakan.


Mereka duduk melingkar diatas kursi santai dan meja dari ban besar dan ada api yang menghangatkan mereka di dalam drum sedikit jauh disana didekat Diyo dan teman-temannya.


Tapi, hawa panasnya cukup bisa menghangatkan mereka mungkin yang paling kena Rian dan Yuda.