Arkan Dinda

Arkan Dinda
Terimakasih yang banyak



Menikmati pecel lele dan Ayam lalu minumnya teh anget manis , jika Arkan air mineral biasa.


Dinda makan dengan lahap tak lupa sebelumnya berdoa.


Arkan juga makan dengan lahap.


"Enak makan di tempat," ucap Dinda setelah selesai menelan makannya.


Arkan hanya mengangguk diam menatap Dinda yang sudah makan habis dua piring.


Setelah makan di tempat Dinda dan Arkan pergi lagi.


"Kak, jangan langsung pulang," ucap Dinda dengan wajah seperti ingin sesuatu lagi.


Sambil menjalankan mobilnya di jalan raya yang mulai ramai setelah jam tujuh malam.


Sebentar Arkan menoleh menatap Dinda.


"Aku mau ketempat ramai kak malam-malam biasanya di alun-alun kota rame," ucapnya.


"Kamu lagi gak enak badan ini udah dingin kamu gak pake baju hangat tadi," ucap Arkan beralasan.


"Halah.. Kak, katanya boleh kayak orang pacaran ayolah kak, sekali aja," ucap Dinda dengan wajah lucu seperti Lala dan Belle yang sedang marah karena permintaannya di tolak.


"Gak." Singkat Arkan seketika membuat Dinda melipat tangan kesal.


"Ya udah. Kakak juga gak boleh tidur di ruang kerja kakak tidur di kamar sama Dinda," ucap Dinda dengan marah. Salah bicara sepertinya Dinda.


Arkan menyeringai misterius.


"Boleh," ucap Arkan satu kata dengan seringai lebarnya.


"Haaah.. enggak kakak jangan ngotak mesum ya ih... gak yang itu, Ya udah kakak tidur di kasur Dinda di lantai atau Dinda tidur diluar," ucapnya dengan menggebu.


"Boleh," ucap Arkan Lagi. Seketika Dinda menatap tajam.


"Ih.. Ya udah pulang aja, Males," ucap Dinda seketika Arkan membelokkan mobilnya ke alun-alun kota.


Dinda seketika tersenyum lebar dan menahan gembiranya dengan menggigit bibir bawahnya.


"Hiiiih.. Kakak Terimakasih yang banyak-banyak makasih Kak Arkan makasih," ucap Dinda.


Turun dari mobilnya yang sudah terparkir sempurna dan menatap ke sekeliling.


Arkan juga turun dan mengambil mantel hangat di jok belakang mobil.


Mengunci mobilnya dan menghampiri Dinda.


"Eh," ucap Dinda yang kaget karena Arkan memberikan jaket itu dengan di lempar.


"Pake, Atau aku pakein kamu didepan umum," ucap Arkan dengan acuh tapi ada banyak perhatian dalam maksudnya.


Dinda mendesis sebal tapi, juga bergerak memakainya. Setelah terpakai Dinda memeluk Arkan tiba-tiba dan mencium pipi Arkan dengan senang dan menggenggam tangan Arkan duluan lalu menariknya. Seketika Arkan tertarik dengan genggaman tangan Dinda.


Setelah di peluk tiba-tiba dan di cium pipi tiba-tiba lalu di tarik tangan Tiba-tiba, heey... itu semua serangan mendadak bagi Arkan jika serangan pukulan Arkan bisa menangkis jika serangan cinta dari Dinda, Oh... Arkan tak kuasa menahannya.


Sekarang berjalan ke tempat penjual boneka lalu penjual balon, ikan-ikan yang berenang di akuarium kecil ada juga marmut kelinci.


Ada toko baju dadakan. Ada game berhadiah boneka pop corn ada juga penjual eskrim lalu pertunjukan badut sirkus orang terbang.


Ada juga anak-anak yang bermain sketboard di arena seketboard sungguhan yang ada di bagian lain dari Alun-alun. Ada juga penjual sirup. Penjual coffe truk juga ada.


Ada mie truk dan jajanan truk lainnya.


"Udah Kak Pulang," ucap Dinda.


"Udah?" Tanya Arkan bingung.


Hanya berjalan jalan dan melihat lalu pulang. Kalo kata lelaki berhemat Dinda adalah Perempuan langka. Tapi, sebenernya banyak cuman gak keliatan aja.


"Kamu gak mau beli apa-apa, makanan jajanan atau boneka eskrim atau apa?" ucap Arkan menatap kesekitar sambil bicara.


Dinda terkekeh lalu memeluk lengan Arkan.


Hey.. Tuan Arkan Prawira yang pintar kenapa saat ini anda loading.


Bukan Loading tapi, Dinda melakukan hal yang menghangatkan hati Arkan.


"Ya udah.. pulang," ucap Arkan singkat dan dengan wajah datarnya. Dinda dan Arkan pergi dari sana.


Baru sampai di parkiran mereka berdua berjalan seketika seorang dengan motor klx melaju kencang. Sadar Arkan menarik Dinda dengan cepat masuk ke dalam selah mobil.


"Kakak," suara Dinda ketakutan.


"Enggak papa, masuk mobil."


Arkan segera naik mobil bersamaan dengan Dinda yang cepat masuk dan segera menjalankan mobilnya.


*


Di rumah Dinda langsung mencuci tangan dan mencuci kaki juga langsung mengganti pakaiannya. Sudah lewat jam sembilan dan sekarang lebih baik Sholat dulu nanti setelahnya bisa lain-lainnya.


Arkan juga Dinda sholat bersama.


Setelah selesai. Dinda ke bawah dan mengambil jamu nenek yang di bawanya tadi Kata Nenek boleh di minum mau tidur, satu tabung botol kecil habis sekarang.


"Bau," ucap Dinda.


Tapi, tetap di minum sampai habis dan langsung mencuci bekas gelasnya, di kursi pantry Arkan melihat Dinda yang minum jamu seperti sangat pahit rasanya.


Dinda sadar Arkan memperhatikan ketika berbalik setelah mencuci gelas.


"Kenapa kak," ucap Dinda mengalihkan suasana.


Seketika Arkan tersenyum.


"Gak papa, Dah ayo, katanya kamu gak ngebolehin aku tidur di ruang kerja," ucap Arkan seketika Dinda terdiam.


"Eh.. itu ya, Yaa udah ayo.. lagian kan udah, sah," ucap Dinda seketika mendapat tawa lepas Arkan kata sah di akhir terdengar lucu bagi Arkan.


Dinda malu melangkah lebih dulu ke atas. Di dapur Arkan masih menggeleng tak percaya, Hanya Dinda yang menurut Arkan bisa membuatnya tertawa seperti ini.


Seketika Arkan mendapat pesan.


Sebenarnya Arkan membawa ponsel Dinda.


Dinda langsung kekamar lupa ponselnya tertinggal di dapur dan Pesan yang Arkan dapatkan itu dari ponselnya Dinda.


"Haay.. Dinda gimana udah dapet pesan dari maut, Aku suka kalo kamu lecet tadi, kamu gak di selametin Arkan kan." Pesan teks itu Arkan baca.


Seketika Arkan mengutak atik ponsel Dinda sambil melangkah ke kamar. Lalu menyimpan lagi di sakunya ketika sudah selesai.


Masuk ke dalam kamar Arkan tidak melihat Dinda dan beralih meletakan ponsel diatas meja dekat sofa kamar.


Arkan langsung naik ke kasur dan mengambil buku di atas nakas dan di bacanya. Lampu kamar juga masih terang. Sambil membaca terdengar suara air di kamar mandi.


Beberapa menit Dinda keluar dengan wajah segara khas ritual sebelum tidur.


"Dinda bayar malem ini," ucap Dinda seketika membuat Arkan terdiam berhenti membaca buku yang sedang di pegangnya dengan berselonjor (meluruskan kaki) diatas kasur.


"Kamu serius," ucap Arkan seketika menatap Dinda dan belum menutup bukunya lalu beralih menatap buku lagi dan menutupnya setelah memberi tanda.


Dinda mengangguk sambil berjalan mendekat.


"Iya, utang mijitin kaki kan," ucap Dinda seketika membuat gerakan Arkan yang duduk tegap seketika perlahan menoleh.


"Hahaha...." Arkan tertawa terbahak.


Dinda dengan wajah polosnya bingung alisnya mengkerut menatap Arkan.


"Emang bayar apa, Duit maksud kakak, tadi bisa sambil baca kalo mijitin, Kalo bayar duit kan belanjanya suruh pake uang kakak semua," ucap Dinda dengan polos.


Walaupun Arkan diam dan seperti kutu buku dan terlihat jarang dekat dengan perempuan hingga pacaran. Arkan tidak polos banget seperti Dinda. Perkataan ambigu saja Arkan bisa mengartikan dengan banyak makna. Seperti kata Dinda yang mau bayar utang malam ini, Arkan kira jatah, jatah yang belum bisa di dapatkan, itu.. yang Arkan kira.


Ternyata mijitin kaki, Ya ampun Arkan terlalu gak sabar ya, ya... gimana ya, namanya juga udah sah mau di tubruk-tubruk juga gak masalah.