
Dinda mengusap air matanya sambil tersenyum meringis sedikit terkekeh dan berdehem menarik ingusnya agar tidak jatuh.
Ihhihi malu ya...
Dinda melihat wajah Kak Arkan menatap ke arah kolam renang sambil kepalanya di letakan di pangkuan Dinda.
"Kak," ucap Dinda seketika Arkan mengangkat kepalanya dan melihat Dinda dengan wajah kembali ceria walaupun habis menangis.
Arkan berdehem.
Gerakan cepat Arkan, membuat Dinda tidak sadar lalu terkejut.
Byuuur....
Tanpa aba-aba Arkan menjatuhkan Dinda kekolam.
Gelagapan tidak bisa berenang Arkan ikut terjun lagi, melempar jubah handuknya di kursi.
Dengan cepat Arkan membawa Dinda ke pinggir berpegangan pada besi.
"Kakak," ucap Dinda kesal. Wajahnya basah bajunya haah... Teransparan.
"Kenapa?" Kekeh Arkan melihat Dinda menenggelamkan badanya sampai leher.
"Malu lah bajunya teransparan kakak ih, udah mandi bajunya malah basah."
Arkan tersenyum seketika suasana semakin intim sunyi tanpa suara, mendukung sekali pagi ini.
Arkan menenggelamkan dirinya. Dinda diam saja sampai sesuatu di air bergerak. Kak Arkan benerang lagi.
Hebat, ada dua gaya Arkan lakukan saat berenang tanpa sadar ada penonton yang terpukau.
Seketika Arkan hilang Dinda mencari kesana kemari, tangan masih berpegangan pada besi, Dinda menenggelamkan dirinya seketika wajah di bawah air membuatnya terkejut. Perlakuan intim Arkan membuat Dinda terkejut mata yang perlahan terpejam menikmati serangan manis Arkan oksigen yang datangnya dari Arkan.
Terlepas dari pegangan di besi Dinda memegang bahu Arkan dengan berhadapan tanpa jarak.
Beberapa menit, terbilang lama juga Mereka keluar dari air.
Dinda langsung memerah wajahnya.
Keluar dari kolam renang. Dinda melihat Arkan duduk dan mengelap badanya dengan handuk lalu memberikan pada Dinda. Arkan memakaikan jubah handuk pada Dinda dan mengambil Handuk untuk di pakainya.
****! Dinda sangat cantik sekarang. Arkan sangat ingin membuatnya tidak bisa berjalan tapi, apa bisa?
Tiba-tiba Dinda duduk badannya mengigil.
"Ih.. ka-kak Di-di-dingin maen jeburin aja," ucap Dinda mengigil. Hembusan angin pagi yang tidak tahu kenapa cuacanya jadi mendung, angin juga semakin Dingin.
Arkan seketika menggendong Dinda seperti koala.
Membawa Dinda masuk ke dalam dan naik keatas kamarnya dan mandi dengan air hangat.
Setelah keduanya selesai mandi.
"Haccih... Haccih..."
"Haaah.. Gak mau ini jadi bersin dingin banget lagi," rengekan Dinda membuat Arkan sedikit merasa bersalah.
Berjalan mendekat ke Arkan yang duduk di sofa dan handuk kecil masih menutupi rambut basahnya.
Arkan menarik Dinda yang terus memencet hidungnya yang gatal karena bersin.
Sekali tarik sudah di pangkuan Arkan Dinda gugup setengah mati, posisi ini aneh duduk menghadap Arkan dan seketika Arkan memeluk pinggul Dinda menempel padanya tangan Dinda menahan.
"Kak kok, Haccih..." Arkan memejamkan matanya ketika Dinda bersin kesamping.
"Maaf," malu Dinda.
Arkan tersenyum memeluk Dinda. Mengambil sesuatu di nakas dekat tempat tidur setelah Dinda bangun dari pangkuan Arkan sambil mengucapkan maaf.
"Sini." Arkan mengajak Dinda untuk menghampirinya dan memberikan punggungnya minyak kayu putih dan leher belakangnya juga di berikan minyak kayu putih.
Seketika Dinda naik kekasur dan berbaring.
Rambutnya basah Dinda bangun lagi seketika itu dari belakang Arkan menyalakan pengering rambut.
Seketika Dinda diam mematung rambutnya di keringkan Arkan.
Setelah nyaman dengan baringannya di atas kasur Dinda berbalik melihat Arkan bekerja di sofa kamar dengan laptopnya.
Dinda berlaih menghampiri Arkan. Masuk ke dalam pangkuan Arkan dan duduk di pangkuan dengan manja seperti anak koala.
"Kak," ucap Dinda. Seketika Arkan mengusap punggung Dinda seperti anak kecil.
Selesai dengan pekerjaannya dan sudah di kirim ke Pak Johan juga mengirimkannya Ke Justin tentang bengkel.
Tak lupa Arkan juga harus memeriksa laporan pak Jersey tugasnya masih belum di kerjakan tantang Alderos Sozhak.
Helaan nafas panjang Arkan lepaskan lalu bangkit perlahan sambil masih mengendong Dinda seperti Koala.
Seketika itu Dinda bangun.
"Mau lagi kak." Kata Dinda seketika Arkan menatap aneh.
Kecupan singkat sambil tersenyum. Terkejut Arkan menatap Dinda yang berani.
"Anu-anu boleh gak kak, Kayak tadi di kolam renang," ucap Dinda .
Arkan menggeleng. Meletakan Dinda di kasur perlahan tapi lingkaran tangan di leher Arkan tidak di lepaskannya.
Arkan masih menatap Dinda.
"Gak papa kak, Kalo nenek mau cepet, Kakak juga kelamaan nunggu Dinda," ucapnya Malu.
"Ini bukan Kamu, Kalo kamu siap kamu jangan nangis setelahnya," ucap Arkan menjelaskan.
"Tapi, kalo Dinda gak ngasih nanti...."
Seketika Arkan membungkam Dinda dengan serangan manisnya bukan singkat tapi C*uman durasi waktu lama hingga Arkan berhenti memberi jeda untuk Dinda.
"Kalo kamu mau, siap, Aku gak bisa berhenti di tengah sayang," ucap Arkan sudah sangat serak dan tatapan mata memuja.
Mengangguk takut tatapan matanya masih Ragu seketika Dinda membawa wajahnya mendekat Arkan dan mulai memancing gairah Arkan yang hampir memuncak.
Tidak bisa lepas sekarang Dinda ada dalam genggaman singa yang lapar seperti siluman singa yang butuh banyak asupan makan setelah ratusan tahun berpuasa.
Seperti ratu yang mahkotanya telepas begitu juga kedudukan seperti kejayaannya memimpin rakyatnya
hampir sama seperti perempuan yang memberikan kesuciannya pada pria yang selama ini sah menjadi suaminya Kendali dirinya sudah tidak ada gunanya sekarang hanya suami yang berhak memimpin dirinya, jika Suami yang di katakan tidak bisa memimpin maka pemberontakan akan tumbuh
jika bisa sampai sang istri patuh maka Suami berhasil membuat dirinya terlihat baik walaupun jauh dari kata sangat baik di mata istri.
Hanya sebuah perjanjian sekali seumur hidup yang menentukan kebahagianmu yang diri dan orang lain rasakan.
Keputusan sekali seumur hidup juga akan dapat kendali besar di awal sebelum Dinda dan Arkan sampai sini.
Arkan menyalakan ac kamarnya bergerak berbalik melihat Dinda yang tertidur pulas.
wajahnya merah dan hidungnya perlahan membaik.
Suara desisisannya menahan sakit membuat Dinda bergerak kaku.
Arkan bangkit memakai jubah tidurnya dan bergrak kesamping kasur Dinda dan mengangkat Dinda bersamaan selimutnya.
Semua gara-gara berenang bisa sampai seperti ini, Coba bukan karena hanya berdua di rumah pasti beda.
Seketika Dinda membuka matanya ketika Arkan mendudukannya di bak mandi menyalakan keran.
Dinda menyingkirkan selimut dan Arkan kembali keluar.
Melihat kasur yang meninggalkan jejaknya Arkan dan Dinda.
Arkan menarik seprai putih dan mencucinya bersama selimut yang Dinda bawa.
*
Kiran dan lainnya duduk di taman dekat air mancur. Seketika Yeni bangun dan menghentakan kaki.
"Bosen banget pembuat rusuh di tahan Lakinya," ucap Yeni kesal.
Beto datang menempelkan segelas pop ice di pipi Yeni.
"Minum, berisik lo," ucap Beto lalu membawakan untuk yang lainnya.
"Ya biarin lah Lagian kan emang Dinda udah sah sama Kak Arkan," sahut Kiran seketika Dodi meletakan tangannya merangkul Kiran, mengangguk dan menatap Kiran.
Dengan jijik Kiran mengangkat tangan Dodi dan menjauh kesamping Yeni.
"Dah sekarang ke rumahnya Kiran aja, kita numpang berenang gratis," ucap Chintiya.
Semua langsung mengangguk setuju.
Beto dan Dodi juga setuju.
Kiran mendesah malas jika semua datang kerumahnya hanya untuk berenang sudah tidak kaget.