Arkan Dinda

Arkan Dinda
Penjelasan



Dinda baru saja sampai dirumah setelah Arkan mengantarnya. Berpamitan untuk kembali pergi Dinda juga tidak lupa mengucapkan terimakasih. Ketika Dinda akan membuka Pintu rumah Ketika itu di rumah besar.


Syifa masih terdiam duduk di sofa setelah tadi habis di ceramahi Ayah dan Ibu sambungnya.


"Jangan biarin dia ngomong apapun sebelum Dinda datang." Nada bicara Ayah Syifa sudah sangat kesal sejak tadi.


"Jay... Kamu pergi jemput Dinda mungkin dia sudah pulang," ucap Ayah Syifa pada Sopir pribadinya.


Jay mengangguk dan segera pergi dari hadapan Tuannya.


Mendengar suara mobil menjauh Ayah Syifa pergi ke arah ruangannya dan Syifa sendirian duduk disana.


'Liat aja pasti bela terus bela terus... Sebenernya anak Papa nih Aku atau Dinda kenapa papa marahin aku justru bela Dinda.. Dimana salahku, aku kan cuman mainan aja sama Dinda, yaah walaupun buat dia kayak orang stres depresi terpojok banget tadi, batin Syifa.'


Di rumahnya Dinda baru selesai mandi dan akan pergi keluar untuk membereskan halaman.


Seketika sebuah mobil mewah berhenti.


Dinda menatap siapa yang turun. Seorang dengan pakaian rapi.


Seperti Sopir.


"Permisi." Suara orang itu.


Dinda menyahutnya dari tempatnya berdiri.


"Iya.. Cari siapa ya om."


Dinda tetap berdiri di tempatnya Dinda takut dengan kejadian semalam jadi Dinda harus benar-benar hati-hati.


Orang itu tersenyum.


"Permisi.. Maaf Nona Dinda nya ada saya mau bilang jika Tuan meminta Nona datang."


Katanya di balik gerbang.


Perasaan Dinda mengatakan jika Hal ini akan baik-baik saja. Dengan berusaha Berani Dinda melangkah mendekat ke gerbang.


"Iya Saya sendiri." Sambil membuka gerbangnya sedikit.


"Saya jay, Saya sopir pribadi Tuan Dhanu, Nona Dinda di minta Tuan untuk datang segera kerumah." Jelas Sopir itu dengan ramah.


"Oh.. Ehm.. saya kedalam dulu ya Pak, Tunggu sebentar," ucap Dinda dengan segera berlari masuk lalu tidak lama keluar dengan membawa tas kecil dan ponsel.


Dinda sampai di gerbang Dinda langsung keluar dari gerbang pagarnya lalu menguncinya. Sopir itu mempersilahkan Dinda masuk lebih dulu kedalam mobil. Lalu sopir itu naik kedalam mobil.


Di tempatnya berdiri. Seseorang menelpon temannya atau siapapun sekarang.


Di sini di bengkel Arkan baru saja mengambil Air dari dalam lemari pendingin minuman.


"Iya..."


"Awasi aja, bagi tugas." ucap Arkan lalu memutus panggilan.


Orang berdiri menatap Dinda pergi langsung meminta salah satu temannya mengikuti Dinda.


Arkan yang baru saja duduk dengan tenang seketika mendapat kabar jika hari ini ada rapat mendadak.


Lewat pesan suaranya Pak Johan meminta Arkan segera datang karena dalam waktu beberapa menit lagi Rapat akan di mulai.


Tanpa basa-basi Arkan langsung bersiap. Tidak lupa menitipkan bengkel pada teman-temannya. Dan akan segera kembali setelah selesai.


"Ok tenang aja lo, Lala.. Om Enjo... mau dong," ucap Lorenzo pada Arkan yang pergi membawa helm lalu lanhsung beralih pada Lala yang mengambil es cincaunya karena enak rasanya. Bagus sedang sibuk dan Lala sedang ingin bersama Lorenzo.


Arkan sudah siap dan langsung pergi dengan motornya tanpa banyak bicara apapun lagi sebelum berangkat. Arkan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


Arkan merasa sedikit kesal tapi, ini genting dan Pasti permintaan kakeknya yang harus tepat waktu.


Macet!..


Kesal Arkan tanpa banyak pikir Arkan mencari jalan tikus agar segera sampai ke kantor pusat di jarak yang memakan waktu beberapa menit dari Bengkel. Jika dari rumah juga sama jauhnya.


Di sini Dinda baru saja sampai dan turun dari mobil Dinda melihat Pakde dan gerbang yang sedang di tutup. Langkah selangkah Dinda menaiki tangga teras hingga sampai didalam Dinda masuk.


Ini pertama kalinya Dinda melihat Ayahnya Syifa tersenyum hangat padanya. Apa salah lihat... iya kali salah liat?


Dinda berjalan mendekat lalu duduk dan Ayah Syifa juga duduk setelah berdiri menyambut Dinda.


"Sebenernya kalian, Saudara kandung beda ibu dan Istri pertama saya adalah ibu kamu." Menunjuk Dinda.


"Dan saya menikahi ibu kamu." Menunjuk Syifa.


"Karena Ibumu tidak ingin mengandungmu dan di permalukan keluarganya." Menatap Syifa.


Seketika Syifa kaget dan Dinda menoleh kesamping menatap Syifa yang sekarang terkejut. Apa! ibunya Syifa mau mengaborsi kandungannya sewaktu Syifa belum lahir.


"Tapi, kenapa... Syifa benci... ternyata itu selama ini Papa selalu nyalahin Syifa apapun itu karena Syifa bukan, Bukan... anak papa iya... Kenapa gak dari dulu papa bilang," ucap Syifa memotong penjelasan ayahnya.


Dinda menunduk takut malu.


"Hahah... gak, gak mungkin bener... nenek kakek selalu sayang sama Syifa dan gak pernah sayang sama Dia," ucap Syifa menunjuk ke Dinda.


"Itu karena keluarga ayah ingin keturunan yang baik dan karena kepintaranmu di bawah Syifa maka kamu..." Ayah Syifa tidak berani melanjutkannya malu menatap Dinda.


Dinda meremas ujung tas kecinya dan ponselnya.


Mata Dinda bekaca-kaca. tapi bibirnya tersenyum. Mengangguk kecil.


"Oh.. Gitu, Iya.. gak papa kok, Dinda baik-baik aja, Dinda bisa jaga diri lebih baik lagi nantinya, Walaupun Dinda memang gak di inginkan karena Dinda kurang berperestasi. Hemm.. Gak masalah. Dinda akan berusaha jaga nama baik Ayah sama Ibu, Dan.. Apa lagi yang Ayah.. Ehmm Maaf Om bilang," ucap Dinda menahan air mata agar tidak jatuh tapi tetap jatuh.


Segera di hapusnya sebelum pipinya basah karena air mata.


"Dinda.. maaf Tapi, kamu bisa tinggal sama kami dan Ibumu juga mau tinggal dengan kamu," ucap Ayah Syifa.


Syifa gelisah tidak tenang.


Selama ini dirinya adalah anak yang ada di luar nikah dan Dinda justru anak istri pertama Ayahnya.


"Gak.. Gak usah gak apa-apa kok... Dinda.. hem.. Dindak hiks... Dinda bisa tinggal di rumah Dinda... kecil.. Hem Hiks... Hiks... Makasih udah kasih tahu Kalo sebenernya Dinda.." Dinda bangkit seketika Ayah Syifa juga bangkit.


Ketika akan mendekat. Dinda menahannya.


"Sekarang Om.." Terpotong.


"Ayah.. Aku mohon panggil aku ayah lagi nak," ucap Ayah Syifa.


Dinda mengangguk sambil menangis mengusap air matanya.


"Ma-Maaf Om.. Ayah.. Ayah..jangan deket Dinda lagi, Kak Syifa memang lebih baik dari Dinda tapi, Kak Syifa kurang kasih sayang, Jangan pikirin Dinda. Dinda mau pulang, Assalamualaikum."


Melangkah keluar sambil menghapus air matanya. Dinda berjalan membuka gerbang sendiri lalu keluar begutu saja. Dinda berlari terus lari sambil menangis.


Dinda cengeng... bisa gak sih gak usah nangis, Payah...


Dinda terus berpikir dan mengolok dirinya lemah.


Orang yang Boby minta mengawasi Dinda masih mengikuti Dinda dari jarang lumayan jauh.


"Haaah... Kenapa.. aku harus nangis... ih.. ini semua gak penting buat di nangisin Dinda payah... Cengeng." Seketika hujan turun Dinda terjatuh duduk.


Menangis sambil menunduk. Kembali bangkit berdiri berjalan pelan untuk sampai kerumah sambil menangis.


Semuanya memang memiliki ukuran terbaik dan yang terburuk akan di singkirkan. Jika Ibu Dinda sayang dan ingin Dinda tinggal Ibunya sama sekali tidak ada di sana meminta sendiri untuk anaknya, tinggal hanya ayahnya Syifa yang bicara.


Dinda berpikiran jika Ibunya memang sangat menyangi Syifa dibanding Dinda yang tidak ada apa-apanya.


Menjaga nama baik. Nama baik sendiri saja sudah rusak sendiri karena orang yang gak suka.


Tapi, buat Ayahnya yang hari ini mengaku untuknya. Dinda akan janji untuk tidak menjelekkan nama keluarga ayahnya.


...Mau seburuk apapun dan sebesar apapun hal yang kita tidak suka. Tapi, Kita harus di paksa Menerimanya dengan baik....


...~Dinda Alea....