Arkan Dinda

Arkan Dinda
Malam!



Dinda menatap takut pintu putih yang akan terbuka itu sedangkan di luar Ada beberapa saksi dan kenalan ayah Dinda juga Kenalan Kakek Arkan.


Acara ijab kabul yang sedang berlangsung.


Arkan mengucapkan nama Dinda Alea dan nama ayah Dinda di belakang nama Dinda dengan baik,


Sempurna!


Sekali tarikan nafas yang cukup untuk Arkan. Setelah tanda tangan dan kini Syifa mengambilnya untuk meminta Dinda agar menandatanganinya. Dinda menandatangani berkas itu sempat sebelumnya gugup karena Syifa yang masuk dan melihat berkasnya.


"Kak... Kok aku gak gak siap, Kak batalin aja ya, Gak usah deh, Kak, Dinda kan masih sekolah," ucapnya dengan wajah takut.


"Kamu ini kalo ngomong asal. Kamu harus tahu kondisi ini lebih baik kamu ada di sekitar Arkan." Perkataan Syifa membuat Dinda menghela nafasnya pelan.


"Tapi, Kak Syifa sendiri," ucap Dinda.


"Eh.. Siapa bilang, Hari ini Bibi bawa ponakan sama adenya kerja dirumah trus rumah Mama yang Lo tempatin Gue kasih ama ibunya Bibi, Katanya Ibunya Bibi dah gak bisa jalan dan di rumah kampung juga gak ada yang urus, Kamu gak papakan, Lagian siapa lagi yang mau nempatin, Pakde juga ngajak orang buat bantu dirumah jiladi rame kan," ucap Syifa panjang lebar.


Iya...Dinda mengerti dengang menganggukan kepalanya Dinda menatap Syifa yang sekarang bangkit dan berdiri pergi.


Dinda mengingat hari ini adalah sehari dalam peristiwa. Eh kebalik Pristiwa dalam sehari.


Dinda menarik nafas dan menghela nafasnya lagi.


Malam mencekam pernikahan di malam mencekam. Uh... mencekam semua, Beneran lebih mengerikan dari pada ngeliat setan. Dinda terus gugup gerogi dingin sudah sejak tadi telapak tangannya.


Dua jam berlalu sejak tadi Dinda di dalam kamar apa Arkan begitu lama.


Tidak, sebenarnya Arkan sudah selesai dan sekarang sedang menyambut tamu dan sebentar lagi juga acara akan selesai. Riasan Dinda memang tidak menarik dan gaun yang Dinda kenakan juga biasa.


Tidak lama Nenek dan asistennya juga Syifa masuk dan mengajak Dinda keluar.


Seketika akan pulang penganti wanita malah di keluarkan, mereka cukup tertarik dan memuji kecantikan Dinda. Yang menurut Dinda ini semua tidak terlalu mewah tapi, kenapa mereka menatapnya seperti itu, apa jelek sekali Dinda?


Dari atas sampai bawah semua terlihat sempurna.


Dinda menatap ke bawah tapi tubuhnya tetap tegap setelah melihat dan menatap sebentar banyak orang yang ada di bawah .


Seketika tangan Syifa bergantian dengan tangan yang besar dan hangat.


Sepontan mengangkat wajahnya dan melihat Arkan dengan pakaian rapi khas acara malam ini. Malu-malu Dinda mendekat.


Canggung rasanya, tidak bisa petakilan banyak tingkah rempong sana-sini.


Dinda merasa sangat malu dan asing.


Tidak lama beberapa teman-teman Arkan mendekat ada Kiran bersama Yuda dan orang tua Kiran dan Yuda hadir.


"Jadi sebenernya ini toh calon menantu dan sah menantunya sekarang, Dinda, Yaah Tante kangen kerja bareng Dinda," ucap Ibu Kiran pada Nenek Arkan dan Dinda juga sempat mencubit manis dagu Dinda. Kalo sudah menjadi menantu Brathadika mana bisa bekerja paruh waktu.


Kiran menarik kedua tangan Dinda.


"Maksih yaa, Lo senyum hari ini, tadinya gue ngira lo sedih," ucap Kiran seketika air mata Dinda menggenang Seketika itu Dinda menangis dan Kiran juga memeluk Dinda.


"Waah.. Tante cantik Lala ini ya ehmmm cantik banget," ucap Belle pada Lala.


"Iya, tahu Kakak Belle, Cantikan Tante aku lo," ucap Lala membanggakan Dinda.


"Kita semua perempuan sama-sama sama Cantik sayang," ucap Dinda menengahi ke duanya yang saling ingin memamerkan Dinda..


Belle sebenarnya sudah bertemu Dinda tapi, melihat Dinda dengan gaun simpel dan riasan natural terkesan sangat cantik dan manis. Makanya Lala dan Belle saling kagum dan membanggakan.


"Gimana kalo bawa pulang bungkus aja Om,"ucap Belle seketika mendapat pelototan mata dari Lorenzo.


"Eh.. Buset, Tin ponakan lo apa ponakan gue," ucap Lorenzo asal seketika Justin malu dengan Arkan.


"Eh.." Desis Justin malu menatap Arkan.


Arkan menatap dua gadis piyek itu dengan tatapan heran tak abis pikir.


"Yaaah.. Kok gitu, Om bawa pulang aja lepit-lepit Abisnya Tante cantik ini melebihi cantiknya berbi Belle di rumah om, Power renjer pinknya Belle aja kalah cantiknya ama tante cantik."


Eh Bocah di kira barang Beacukai dikira kain maen lempit-lempit, ini orang woy.


"Sayang, Ini istrinya Om Arkan masa iya Belle buat Om Arkan sendirian nanti Om Arkan sedih sayang gak bisa buat adek," ucap Ayah Belle di samping mamanya. Seketika Luna menyikut perut suaminya.


Aneh saja bicara pada anaknya di tempat umum.


"Ih.... Gak boleh yah, Emang mau malam pertama yang gini gini gitu ya yah," ucapan Belle sama sekali jauh dari usianya. Luna terkejut karena Belle dan Ayahnya sangat nyambung.


Seketika Justin menutup mulut Belle.


"Laah kan waah jangan jangan," ucap Lorenzo mulai heboh karena sikap Belle.


Seketika Belle di bawa ibunya.


Apa lagi ketika kedua tangannya memeragakan kata malam pertama dengan dua tangannya saling mematuk matuk, membuat Dinda malu.


*


Setelah selesai acara dan juga semua teman yang hadir beberapa teman Arkan yang biasa Dinda temui dan hanya Kiran temannya Dinda yang datang sekarang Dinda ada di kamar Arkan.


Di rumah sendiri, Rumah bekas orang tua Arkan.


Arkan sedang mandi dan Dinda duduk diam dengan pakaian bersih dan juga sudah mandi.


Canggung banget gimana sih ceritanya bisa beda gini kalo Dinda nikah canggung banget sama Kak Arkan. Kalo pacaran kan beda. Dinda belum siap satu ruangan sepi sama Kak Arkan. Huaaa... Malu banget, Ya Allah, kejutan ini spesial banget!


"Lo ngapa sambet?" ucap Arkan dengan bahasa Lo gue lagi.


Eh... Dinda seketika langsung kalem lagi.


"Eh.. Ehm.. Gak juga Kak, Kak ada kamar lain aku tidur sendiri ya," ucap Dinda tanpa basa basi.


Malunya Dinda canggung banget kenapa tiba-tiba nikah gak ada penjelasan.


"Aku mau ngomong sama kamu duduk dengerin baik-baik," ucap Arkan dengan wajah serius.


Dinda masih duduk diam. Kok merinding ya!


Arkan datang menghampiri dan duduk di samping Dinda.


"Kak Aku gak percaya kalo kakak beneran jadi in aku istri awalnya kaget kalo kakak nikahnya sama yang lain dari kabar itu tapi, kenapa aku tiba-tiba di kasih tahu kalo aku yang ini.. tuh naninuneno?" Bicara Dinda sangat mengemesakan didepan Arkan padahal Din sedang menahan malu dan canggungnya.


"Semua ini adalah rencana kakek, Aku gak bisa tahu kenapa kakek minta kamu yang sama aku dan nikahin kita di usia muda, Maaf ... Aku emang bukan lelaki idaman yang bisa romatis tapi, Aku mohon kamu harus baik-baik aja selama sama aku aku juga gak bisa janji bakalan amanin kamu terus, karena di luar sana mereka yang jahatin kamu karena aku, Jangan lakuin hal yang aku gak bisa tahu di mana keberadaan kamu, Orang tua kamu udah nitipin Kamu ke Aku sebelum mereka pergi."


Seketika Dinda diam teringat satuhal hal menyakitkan.


"Tapi Kak aku gak percaya, Kalo misalkan kakak sama kakek kakak sengaja karena aku berguna buat sesuatu, Seneng sih Dinda tapi, Kak kenapa Dinda ragu," ucapnya dengan suara lemah menunduk. Takut-takut Dinda.


Arkan mengambil kedua tangan Dinda dan membuat sang empunya menatap lawan bicaranya perlahan.


"Aku akan jaga kamu, Kakek tahu aku gak bisa sembarang kayak waktu itu didekat kamu, Jangan percaya aku seratus persen, Tapi, kamu pasti punya perasaan dan logika buat mempertimbangin semua, Pernikahan ini aku terima karena aku juga Mencintai kamu benar-benar tulus," ucap Arkan serius.


Rasanya seperti akan meleleh.


Seketika Dinda menangis.


"Kak, Maaf tapi, Dinda masih mau bebas nikah ini gak bisa Dinda tahu apa itu rasanya pacaran sama Kakak dan romatisan ala remaja," ucap Dinda.


"Kata siapa?" suara Arkan melembut dan mengusap air mata Dinda perlahan. Huh... kenapa ganteng banget mukanya.


"Kamu bisa pacaran sama aku tanpa di marahin siapapun kamu bisa ngapa-ngapain aku di tempat sepi sekalipun, Kamu juga bisa kuliah," ucap Arkan. Dinda menatap Arkan malu.


"Tapi, Kak... Gimana kalo misalkan Kakak minta itu... terus Dinda nolakkan dosa tapi, kalo gak nolak di perut bisa ada dedenya," ucap Dinda masih sesegukan, polosnya Dinda.


Seketika Arkan tersenyum mengusap kepala Dinda.


"Enggak sayang, Aku gak bakan ngelakuin hal yang bahkan kamu gak izinin." Kata Arkan dengan Lembut.


Klontang kelontang Dar... dar...


Suara petasan didepan rumah Arkan dan membuat Arkan seketika mengencangkan pegangan tangannya pada Dinda.


"Kamu disini aku periksa keluar." Dinda menahannya tapi Arkan mengangguk mengisyaratkan jika semua baik-baik saja.


Di luar terlihat orang dengan hoddie hitam pergi dengan motornya menjauh setelah meledakkan beberapa petasan dan kaleng.


Arkan keluar dengan membuka pintu dan melihat sekitar seketika melihat ada bekas asap dan ada kaleng didepan gerbang


Arkan melangkah ke gerbang untuk melihat dari dekat.


Sampainya disana membuka pintu gerbang kecil dan melihat apa yang membuat berisik tadi.


Serangan pukulan tiba-tiba membuat Arkan bersiap. Seketika menghindar dan tak kena.


Terkejut siapa yang ada didepannya seketika Arkan mendorongnya dan dia pergi dengan berlari cepat.


...****************



...


Ini rumahnya Arkan, Rumah peninggalan irang tuanya.


gambarnya diambil dari dalem gerbang yang ada sensor pengenal jadi yang kelihatan itu gerbang garasi


Sumber: Pinterest