
Setelah pulang sekolah Citra menghampiri Arkan dan memeluk lengan Arkan sangat erat seperti memang sanngat sayang di lepaskan atau ada lem pada Citra makanya sangat erat.
Arkan menarik lengannya dengan tekanan dari tangannya yang bebas.
"Ih.. Arkan kamu kok gitu sih, Anterin pulang yuk," ucapnya sambil mendekat ke motor Arkan seketika Citra terdiam. Arkan mengambil helmnya yang di ulurkan Justin.
"Maaf Citra, Arkan pulang sama gue si hitam lagi di bengkel dan mau dalam masa perawatan, Mungkin nanti kali si cantik srmbuh si hitam bakalan keluar bengkel," ucap Justin.
"Yahahahah.. Kagak ngerti ya lo, Citra-citra telmu lo, maksudnyq adalah... Kalo Motor Arkan hanya qkan di pake kalo Dinda sembuh dan setelah itu hanya Dinda yang bisa duduk di jok belakang Se-la-ma-nya... Ingat neng Citra, Banang enzo pulang dulu," jelas Lorenzo dengan wajah yang meremehkan seperti tidak memikirkan perasaan Citra. tapi, kenyataannya memang tidak memikirkan perasaan Citra.
Citra menatap kesal dan pergi.
"Lah.. Lah.. Kan.. gue bilang apa, Citra itu ngambekan gak cocok amalo kan yang suka ngambekan mening nungin neng Dinda yang selalu membuat hatomu berbunga-bunga Iya gak Gus Bagus." Kata Lorenzo. Bagus mengangguk dan Lorenzo beradu tos dengan heboh tawanya dan Bagus.
Arkan dan Justin terdiam, Justin menggeleng sambil terkekeh tiba-tiba.
Citra menatap kepergi Arkan dan teman-temannya dari dalam mobil.
"Jalan pak," ucap Citra pada Sopirnya.
Mobil berjalan pergi bukan pulang kerumah melaninkan ketempat lainnya.
Arkan sampai di markas Mafia tengkorak dengan mobil dan juga hodi abu-abu dan celana jeans hitan robek lutut.
Arkan turun melangkah masuk dan melihat irang yang sedang terbaring dengan pakaian yang sama.
"Anda benar Tuan, Dia membawa cips peledak di tubuhnya oprasi ini juga menemukan sekantong narkoba jenis langka dan masih terbungkus rapi, jika saja peledak ini bereaksi maka narkoba ini juga akan langsung berubah menjadi bara dan membakar organ dalamnya jadi kamatiannya sama seperti penyakit aneh," jelas Hansimon dengan Detal dan juga memperlihatkan beberapa bentuk barang dan cips dengan logo mawar juga kalajengking logo itu menjadi satu dan sama persis dengan yang di temukan pada sektboard yang arkan patahkan waktu itu.
"Sudah sadar," ucap Arkan setelah beberapa menit diam mengamati beberapa benda dan juga mengamati luka dan orang yang terbaring itu.
"Sudah Tuan hanya saja tubuh dan kondisinya menurun tadi sebelum Tuan kemari" jelas Hansimon.
Arkan mengangguk.
Arkan mengambil segelas Air dan menumpahkannya pelan di atas wajah orang itu.
Seketika irang itu gelagapan seperti irang yang tenggelam dengan cepat bangun dan terduduk dengan tenang tanpa memikirkan kukanya dan dengan memasang wajah keselnya tiba-tiba dia mencaci orang yang menyiramnya ketika tidur.
Ketika sadar sepenuhnya matanya terbelalak ketika yang ada di hadapannya adalah orang yang di cacinya di rumah sakit.
"Sepertinya kau sudah sangat baik, Tuan," ucap Arkan seperti menyindir.
Orang itu bangun dan berdiri turun dari tempatnya tidur. Berdiri berhadaoan dengan Arkan.
"Masih bisa berdiri berati bisa duduk seperti ini." Sambil mendorong orang itu terduduk kasar di kursi Arkan mengambil kursi untuknya. Lalu belati kcukup besar dan muat di genggamannya.
"Katakan siapa bos mu, Ah.. dua pilihan dan satu pilihan penyelamat, Permainan menyenangkan," ucap arkan dengan wajah tersenyum seperti iblis.
"Aku tidak akan katakan siapapun bosku, atau atasan atau apapun, Mafia yang di pimpin bocah sepertimu tidak akan berjalan lancar, Atu malah terjerat hukumnya sendiri karena bergabung drngan Hukum negara."
Ucapannya sangat percaya Diri di depan Arkan. Padahal Hansimon saja sudah hampir tercekik sekarang.
Orang di hadapan Arkan benar-benar tidak tahu dengan siapa dia bertatapan sekarang.
"Baiklah.. sepertinya kau sangat menyepelekan, Ingat peraturan permainan kita," ucap Arkan dengan wajah dingin serius.
"Siapa Atasanmu? Apa yang kau lakukan di rumah Sakit Herra? dua pertanya itu cukup. Pilihan pertama Ingin katakan lalu bebas selamat semua keluargamu juga selamat Hukum juga akan melindungimu dari tuduhan yang tidak aku lakukan dari bosmu, kedua kau tidak ingin menjawab, berarti terpaksa kau harus jadi umpanku, Satu...satu hal yang paling malas aku katakan karena kau kan baik dalam segalanya hal materi keluarga, Bergabung dan menjadi salah satu dari orang ku," ucap Arkan.
Hansimon menatap tidak percaya. Tawaran itu sangat menggiurkan, Hansimon pasti akan mengatakan semua dan menjadi anggota Arkan, Tapi, siapa yang percaya pada irang yang akan membunuhnya, pasti begitu pikiran orang yang ada di hadapan Arkan. Duga Hansimon menatap orang di depan Arkan sekarang.
"Pilihan yang terburu-buru... Baiklah tidak masalah," ucap Arkan bangkit dari duduknya.
"Lepaskan Dia, dan kau Gareng, Rettrigo kau tahu apa yang harus di lakukan," ucap Arkan. Wajah yang sama sekali tidak ada ekspresi itu melangkah pergi keluar.
Baru Arkan akan melangkah ke mobilnya Seseorang drngan darah di baju dan wajahnya berjalan mendekat. Seketika itu hujan turun.
"Tolong... Tolong aku, Selamtkan aku," ucap Orang itu.
Orang itu terbaring di halaman dan menatap Arka samar masih berdiri mematung menatapnya.
Tidak lama Hansimon datang dan melihat Ada seseorang disana dengan kilatan cahaya Hali lintar terlihat ada darah juga yang membuat air hujan di sekitarnya berubah.
"Bawa masuk," ucap Arkan.
Hansimon mengangguk.
Di bawa masuk oleh anak buah Hansimon. Arkan dengan tudung Hoddienya melangkah mendekat ke pintu mobil dan membuka lalu masuk.
*
Orang yang baru saja di ajak Arkan bicara di buat pingsan oleh gareng. Rettrigo dan satu temannya membawa Orang itu ke mobil. Lalu merek bertiga pergi.
Di pinggir jalanan dekat pertokoan Retrigo menurunkannya dan membiarkannya hingga siuman.
Beberapa menit orang itu terbangun seperti kehabisan oksigen menatap sekitar. Ternyata dirinya di buang Orang itu lanhsung berlari sambil menahan rasa kit di perutnya Berlari kencang hingga sebuah teruk dia menumpang naik tanpa di ketahui.
*
Di tempat lain restoran ini Citra baru saja selesai makan malam dengan seorang perempuan yang sangat cantik dan anggun.
"Lakukan saja tugasmu, Aku ingin kau segera melumpuhkannya saja, Mudah bukan," ucap Citra pada perempuan cantik nan anggun itu.
Seketika senyuman perempuan itu mengisyaratkan hal lain. Rambut merah bergelombang dan mata coklat gelapnya.
"Baik Saya akan melakukannya untuk Anda Nona Rosella," ucapnya.
"Hemm.. Yaa kau selalu terbaik aku harap, untuk tugas kali ini aku tidak yakin jika kau tidak akan mati, Farah," ucap Citra dengan Wajah tersenyum manis.
Seketika Wanita cantik Yang Cintra panggil Farah itu mengikat rambutnya dan memperlihatkan tato mawar hitam di bahu punggung atasnya sebelah kiri. Mawar hitam yang besar.
"Nona Rosella bisa percaya pada saya," ucap Wanita itu dengan percaya Diri.
Seketika Wanita itu bangkit dan pergi dan meninggalkan Citra disana.
Citra sangat terobsesi Arkan dan sekarang Citra akan membuat Dinda benar-benar akan mati dan tidak akan membuka mata untuk selamanya.
Rosella panggilan Citra dalam sebuah tempat yang biasa di sebut kegelapan. Tempat itu tidak siapapun bisa mencari dan mendapatkannya.
Pimpinan gengster perempuan Rosella alisa Citra. Dari anggota Balck Rose yang terkenal bergabung dengan gengster kalajengking.
*
Arkan yang sedang mencari siapa pimpinan kedua klan gengster itu akan segera ketemu ketika Giovano mengatakannya. Sebenarnya tidak harus pergi kesana tapi, ini adalah hal yang tidak bisa di bucarakan lewat perantara.
Permainan menyebalkan yang dibuat para orang yang mendendam dengan Mafia tengkorak dan ingin menduduki singgasana Mafia tengkorak membuat Arkan kesal karena mereka menarik Dinda dan membuatnya sampai seperti sekarang.
Lihat! Permainan Buatan Arkan kali ini, Pasti akan membuat semuanya keluar dari tempat persembunyiannya.