
Arkan yang baru selesai mencuci pakaian seketika masuk ke dapur dan membiarkan Dinda mengambil apa yang di mau. Arkan kembali duduk di kursi Pantry, maksudnya untuk mengamati memperhatikan Dinda tapi, terkejut ketika tangan. Dinda dekat dengan gelas yang diambil lalu pecah dan Dinda jatuh terduduk memegang sendok dan memukul dadanya seperti orang tersedak.
Arkan segera menarik pelan Dinda ketika akan berusaha membereskan pacahan gelas.
Dinda terdiam takut dengan raut wajah datar dingin Arkan sekarang.
"Dinda mau beresin..."
"Gak usah!" ucap Cepat Arkan membuat Dinda diam seribu bahasa. Suaranya datar dan besar seperti membentak tapi, sebenarnya hanya berucap nada bicara biasa.
"Tapi,"
"Duduk disana," ucap Arkan cepat lagi memotong ucapan Dinda.
Arkan mengambil saput dan tempat untuk membersihkan pecahan kaca gelas.
Dinda perlahan duduk di kursi dan terdiam seketika batuk lalu terdiam lagi.
Keringat muncul lagi pucat wajahnya.
Arkan yang sudah selesai membereskan kekacauan Dinda.
Datang lagi, Dinda langsung berdiri berusaha untuk bisa dan memberikan kebohongan pada otaknya jika tubuhnya baik-baik saja. Tidak akan lemas, kalimat bohong itu Dinda terus ucapkan untuk otaknya.
Mengambil Teh dan menyeduhnya dengan air panas.
Setelah itu duduk dengan memakan roti selembar dengan mentega dan gula.
Tidak ada rasa. Makan saja!
Dinda meminum teh dengan sendok pelan karena panas teh pait tanpa gula yang pas.
Sebenernya tehnya pake gula tapi, sedikit seujung sendok.
Arkan masih diam diam memperhatikan Dinda.
Seketika selesai Dinda akan mencuci gelas dan piring. Arkan mengambilnya dan mencucinya lebih dulu merebutnya dari Dinda, Dinda malu dan Diam saja.
"Makasih," ucap Dinda.
Posis Arkan yang memunggungi Dinda, karena sedang mencuci piring, membuat Dinda tidak tahu Jika Arkan sedang tersenyum sekarang.
*
Setelah Sholat Magrib Arkan langsung ke ruang kerjanya. Dinda pergi kedapur.
Hanya melihat makanan tadi pagi dan Kak Arkan apa makan masakan tadi pagi.
Dinda mencium sayurnya hampir basi lalu membuangnya dan nasinya masih lumayan.
Mengetuk ngetuk meja kompor dengan telunjuknya.
Seketika haus mengambil air minum Dinda seketika menoleh ke ruang kerja Arkan.
Lampunya menyala pintunya juga terbuka sedikit.
Berjalan menghampiri ruang kerja Arkan sudah lebih baik sebenarnya tapi, boleh gak ya, Dinda minta jajan diluar.
"Permisi... Kak, sibuk gak?" ucap Dinda.
Arkan diam membaca sesuatu, di depannya layar monitornya, juga masih menyala.
Menghampiri Jendela Dinda berusaha menyudahi marahan ini, Tidak bisa lama-lama Dinda juga yang dosa. Mana muka Kak Arkan kalo kesel dah kayak mau bunuh orang.
Menutup tirai dan juga mengecilkan ac sedikit.
"Kak.. Makan diluar?" ucap Dinda takut-takut.
Dinda yang ngajak marahan Dinda juga yang baikkin Arkan. Arkan menatap layar monitor dengan tenang wajahnya tampan tanpa ekspresi.
"Maaf Kak, Dinda buat masalah seharian ini, Dinda ngaku kalo Dinda masih anak anak," ucap Dinda dengan takut dan malu.
Lagian siapa suruh nikain anak tujuh belas tahun dah kayak pedofil tapi, Masalahnya beda kalo sama Arkan.
"Kakak juga sih ngapain ada Violetta disana. Nenek kan tadi suruh nganterin kueh, gak di makan kan jadinya, Huuhh.. serba salah jadinya, Nenek juga tadi tanya in Dinda lagi, padahal mau cerita juga tapi, Kak Arkan malah sama Violetta satu ruangan mana enak banget duduknya didepan kakak."
Seketika Arkan menatap layar monitor mengetik sesuatu. Lalu menutup layar dan menutup apa yang sedang di bacanya.
Dinda terdiam dan menatap apa yang Arkan lakukan. Dinda yang berdiri di dekat Arkan hanya bisa diam.
Kursi Arkan berputar menghadap Dinda yang berdiri di sampingnya.
Wajah datar Arkan menatap wajah yang merasa bersalah dan matanya berkeliling mencari tatapan yang nyaman di pandang, tangannya terlihat saling menggenggam takut.
Perkataan Arkan membuat pipi menggembung malu dan sedikiti memerah Dinda malunya sangat terlihat.
"Ya.. Maafkan Dinda dateng mau cerita, sampe kantor yang nenek kasih tahu dari sopir malah di gituin sama resepsionis ngeselin mana di katain kalo cewek blezer hitam itu istrinya Kakak, katanya kalo gak ada janji gak boleh masuk, Katanya kurir makanan," ucap Dinda persis seperti sedang mengadu.
Arkan tetap menjelma menjadi pendengar setia jika Dinda sudah banyak bicara.
"Lah.. Kan Dinda cuman ngasih tahu, Terus malah di katain suruh pergi. Dinda maksa aja masuk pas lengah Dinda naek pake tangga darurat naik lift rame. Pas waktu sampe lantai pertengahan Dinda lupa gak tahu ruangan Kak Arkan, tiba-tiba pesan masuk ngasih tahu, langsung deh ke sana waktu itu juga rasanya Dinda udah pengen muntah."
Dinda kembali Diam menunduk. Sepanjang ucapan yang keluar dari mulut Dinda masih Arkan dengarkan dengan baik.
"Terus, tentang nenek apa yang mau kamu bilang," ucap Arkan. Tidak tahu kenapa Arkan sulit marah dan kasar pada Dinda di situasi tertentu, tidak tau jika situasi sedang tidak bersahabat dengan emosi besar Arkan.
"Nenek kasih jamu ke suburan, kayaknya ketinggalan di kantor kakak, Dinda juga kesel kenapa bisa ketinggalan." Bicaranya lagi dengan pelan masih dengan nada dan perasaan bersalah.
"Sini," ucap Arkan dengan lembut. Menarik Dinda duduk di pangkuannya. Sama seperti pertama kali di Balkon rasanya aneh merinding gimana gitu. Takut sebenarnya Dinda, kalo dalam situasi di pangku Arkan.
Kak Arkan mangku Dinda lagi!
"Kak Aku duduk sendiri ya," ucap Dinda malu.
Seketika tangan Arkan memeluk pinggang Dinda.
Tangan Dinda masih menjauhkan perut dan dada dari jangkauan Arkan.
"Kenapa? Gini lebih nyaman, Kamu masih marah?"
"Enggak." Sahut cepat Dinda dengan malu.
Seketika suara perut membuat keheningan diantarannya pecah.
"Eh.. Jamu nenek gimana terus kuehnya gimana?" ucapan Dinda mengalihkan suara perutnya yang keroncongan.
Arkan Tersenyum lebar.
*
Berjalan masuk kedalam mobil.
Keluar untuk membeli apa yang Dinda mau.
Untuk kali ini Arkan kabulkan jika setiap hari jangan harap di izinkan.
"Ngambil jamu nenek kak," ucap Dinda pada Arkan. Seketika Arkan mengangguk.
Menjalankan mobilnya ke kantor dan seperti biasa secara otomatis rumah pintar akan bekerja jika majikannya pergi.
Beberapa menit sampai di kantor. Cepat sampai karena perjalanannya juga gak macet.
Masuk ke dalam parkiran halaman depan petugas keamanan yang berjaga menyambut mobil yang datang yang keluar ternyata Arkan. Mereka langsung mengantarnya masuk. Dinda tetap Di mobil tidak Arkan izinkan turun.
Tidak lama Arkan kembali dengan kueh dan jamu nenek tadi.
Dinda menerimanya dari Arkan yang sambil masuk ke dalam mobil. Di samping Arkan, di luar mobil petugas keamanan menatap kepergian mereka.
"Mereka yang megang lengan kamu?" ucapan Arkan membuat Dinda ngeri tiba-tiba, di tambah raut wajahnya yang dingin.
"Eheem. Iya," sahut Dinda.
Dua petugas keamanan akan dapat Shif malam karena menyentuh Dindanya Arkan dengan kasar.
Jangan bilang mudah karena berjaga malam di kantor sangat di hindari semua petugas keamanan.
Walaupun gajinya di naikkan.
*
Di pinggir jalanan pecel ayam yang dulu jadi langganan Dinda sekarang buka tempat dan juga membuat bakso dan menu makanan lainnya.
Dinda menatap takjub dari dalam mobil.
"Mau turun atau aku aja," ucap Arkan sambil membuka sabuknya. Dinda tanpa bicara langsung Turun Arkan menoleh dan tersenyum.
Di luar mobil Dinda masuk ke dalam warung pecel lele.
"Eh.. neng Dinda, Sehat? Lama bener gak mampir," ucap ibu-ibu itu.
"Eh.. iya Bu, Baik alhamdulillah, Ibu juga gimana kabarnya? " ucap Dinda.
"Baik Banget neng Syukur Alhamdulilah, Sekarang Pakde sama ibu, buka lapak permanen di bikini sama Mas Arkan katanya nanti waktu lapak permanen Mas Arkan mau dateng juga sama perempuannya, Ibu tadi ngira adek atau siapanya ternyata malah sama Neng Dinda, Eeh.. Ayo masuk keasikan ngobrol diluar," ucap Ibu warung pecel lele.
Dinda duduk di kursi kosong bersama Arkan. Kalo Kak Arkan kayak gini mana mungkin marahannya tahan lama. Lembut baik penyayang, intinya kayak ratu, tapi, Dinda masih ngerasa aneh.