
Pertanyaannya adalah apa bisa Dinda seyakin itu pada omongannya di waktu lalu, Dinda sendiri bilang kalo hati manusia berubah ubah.
Dinda ragu tiba-tiba.
Apa ini yang namanya pertanggung jawaban atau ujian dari Yang Kuasa buat perasaan Dinda.
Ingatkan Dinda supaya tidak sembarangan bicara.
Dinda Dinda.... merutuki diri sendiri.
Dinda mengayuh sepeda setelah dari butik ke rumah Ayahnya Syifa.
Satpam yang sedang ada didepan gerbang setelah menerima paket dari kurir makanan. Melihat Dinda mendekat.
"Non Dinda," ucap Satpam dengan ramah.
Dinda tersenyum mengangguk.
"Gimana kabarnya Pakde," ucap Dinda.
"Baik Non," ucap Satpam itu dengan ramah.
Dinda masuk dan memarkirkan sepeda nya di tempat yang aman dan benar lalu masuk menaiki tangga.
Sampai didalam Dinda tidak lupa mengucapkan salam.
Dinda menghampiri suara bising di dapur.
"Eh.. Dinda sini bantuin kita cuci tangan dulu lo," ucap Syifa.
Dinda mengangguk melangkahkan kakinya ke tempat cucian piring dan mencuci tangannya.
"Kamu udah makan belum?" ucap Ibunya dengan acuh tanpa menatap Dinda.
"Belum laper bu, Oiya Dinda bantuin apa nih Kak," ucap Dinda.
"Oh.. Ini kamu aduk adonananya nanti biar Mama yang manggang," ucap Syifa menjelaskan.
Dinda mengangguk.
"Emang siapa tamunya yang mau dateng," ucap Dinda sambil mengaduk adonannya.
"Kamu gak usah keluar nanti malem kamu nginep kalo mau, kalo gak nginep pulang aja gak papa," ucap ibunya menjawab pertanyaan Dinda.
Angguk-angguk Dinda.
"Ada yang mau kasih lamarnya nanti malem jadi yang dateng itu cuman Kakek neneknya aja, katanya sih orang tuanya udah gak ada," ucap Syifa di sela dirinya menata kueh di toples dan sajian piring juga menata beberapa sayuran.
"Oh... Keluarganya kayanya sayang banget ya ampe mau ngadain lamaran, buat cucu kesayangannya," ucap Dinda senang.
Jujur Dinda tidak mengerti tapi, kenapa perasaan Dinda senang tapi kan, bukan Dinda.
Tapi, kenapa dirumah ini memang siapa yang akan menikah Kak Syifa, apa iya tapi kenapa pikiran Dinda ngarahnya ke kak Arkan dan waktu Kak Arkan sama-sama Kak Syifa.
"Dinda lo bisa nginep gak malam ini aja," ucap Syifa.
Seketika Dinda terkejut buyar lamunananya.
"Eh.. Itu kayaknya enggak deh," ucap Dinda.
Syifa mengangguk.
Acara masak masak mereka masih berlangsung.
Hingga tidak terasa waktu cepat berlalu sampai selesai acara didapur untuk ketiga perempuan itu Sekarang jatah Dinda bagian mencuci piring sedikit karena Syifa dan Ibunya akan mandi sekarang.
Terdengar suara mobil.
Ayah Syifa pulang dan Dinda disini!
Sebenernya gak papa sih, tapi, Dinda masih kaku malu, jujur tidak nyaman Dinda.
"Kapan dateng Nak," ucap Ayah Syifa ketika mencuci kaki tangan di kamar mandi dekat dapur.
"Oh.. Itu tadi siang bantuin Ibu sama Kak Syifa yah," ucap Dinda.
Tuan Dhanu mengangguk angguk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Dinda selesai dan sekarang akan pulang ketika akan pulang Ibunya keluar dari kamar dan menghampiri Dinda.
"Kamu makan dulu?" ucap Ibunya biasa tapi wajah ibunya yang dingin terasa seperti perintah yang wajib Dinda lakukan.
"Tapi, udah sore Dinda belum mandi bu," ucap Dinda beralasan agara segera pulang.
Gruduk... Gruuuug....
Gemuruh di langit sore yang mendung.
"Mandi disini pakaian ada, mau ujan mau sakit kamu!" Kata ibunya dengan nada yang dingin tatapan matanya menatap arah lain tidak wajah Dinda.
Dinda diam menunduk. Beralih mengambil air minum dan duduk meminum airnya.
"Iya Bu Dinda mandi dulu," ucapnya lalu pergi setelah menghabiskan air minumnya.
Pergi ke kamarnya yang waktu itu dan masuk kedalam kamar lalu membuka lemari mengambil kaos dan dan celana panjang lalu mengambil Hoddie.
Eh.. Hoddie.. Ingat Dinda. Hoddi Kak Arkan ada pada Dinda.
Sudahlah sekarang mandi dan segera makan lalu kembali kekamar bukannya tidak boleh keluar kalo ada tamu, Memalukan bukan Dinda ini!
Dinda selesai mandi setelah duapuluh menit berlalu sambil keluar memainkan ponsel lalu mengantongi di Hoddienya Dinda mengambil piring didalam lemari Dapur dan bersiap makan.
Seketika Syifa menepuk bahu Dinda.
"Kalo mau makan. Di sini ya, bawa aja kekamar kalo mau makan, nanti juga gak papa," ucap Syifa.
Apa Dinda begitu memalukan. Sudahlah tidak urusan mau memalukan atau tidak yang penting hari ini gak bener-bener memalukan.
Dinda mengangguk.
"Aku bawa kekamar aja deh," Ucap Dinda.
"Oiya.. kalo mau nonton film apa drama ambil aja laptop gue lo sambungin aja hp lo ama wifi rumah," ucap Syifa menata gelas minuman.
"Lah.. Emang apaan sandinya," ucap Dinda senang tapi terlihat biasa. Dinda sangat bahagia jika mendengar kata Wifi dan kata pakai saja, apa itu tidak geratis maksudnya jelas Gratis!
"Lo liat aja di laptop gue!" ucap Syifa sambil menata gelas di atas tisu. Dinda mengangguk.
Ehm.. Lumayan, pikir Dinda dari pada pusing mikirin tamu siapa yang mau nikah lebih baik heppyy aja dulu.
Di sini dirumah Kakeknya Arkan masuk dapur dengan pakaian santai Arkan melangkah ke dapur seketika melihat kakeknya.
"Kakek akan pergi bersama nenek, Kamu selesaikan tugas tambahan itu dan jangan lupa makan," ucap Nenek pada Arkan. Dan tanpa sengaja tatapan dingin kakek dan Arkan saling bertabrakan.
Kakek dan nenek pergi setelahnya.
Arkan masuk ke dalam kamarnya duduk kursi di dekat meja dekat pintu balkon teras kamarnya.
Hari ini hari gajian karyawan bengkelnya jadi Arkan harus fokus menghitung setiap pemasukan jugapengeluaran dan waktu libur. Jika gaji karyawan di perusahan Kakeknya?
Mungkin sebentar lagi masuk dari pesan email Pak Johan, Jika perusahan tentang gaji Karyawan dan keuangan Arkan hanya perlu memeriksanya sebentar. Karena semua sudah melewati Pak Johan sebelum sampai Arkan.
Tarik nafas.... Hembuskan pelan jari tangan Arkan berhenti mengetik.
Seketika Arkan menyambar gelas air minum di dekatnya.
Ada perasaan yang ingin meledak seperti ada rasa gugup frustasi dan ada senang yang berlebih. Apa sebenarnya yang terjadi?
Arkan menatap keluar jendela pintu Teras Balkon.
Awan hitan mendung. ada gemuruh dan kilatan cahaya di balik awan hitam
Sama dengan Dinda, Dinda juga sedang dikamarnya seketika menoleh ke jendela.
Arkan di dalam kamarnya meraup wajahnya dan meletakan tangannya menutup hidung dan mulutnya satu tangannya memeriksa pesan masuk di laptopnya.
Jangan katakan pada Arkan untuk hal bahagia dan romantis. Arkan payah dalam menjalin hubungan dengan perempuan.
Yakin saja, Mereka melihat Akan pintar dan pandai cerdas tampan, mereka juga pikir Arkan bisa menjadi lelaki romantis nyatanya tidak ada yang... Arkan rasa tidak ada hal romantis yang dia lakukan untuk Dinda atau neneknya.
"Hallo Kan... Lo yakin kasih Citra kelonggaran, nih cewek sulit banget ditanya," ucap Yuda di sebrang telepon.
Di tempatnya Yuda sekarang berhadapan dengan Citra.
Yuda menatap wajah Citra dengan tatapan kesal.
Citra santai dan tenang seperti tidak terjadi apapun
"Mana Hansimon?" Ucap Arkan di telpon setelah beberapa detik diam setelah Yuda bicara.
Yuda memberikan teleponnya pada Hansimon.
Kini Hansimon memegang ponsel Yuda yang masih terhubung dengan Arkan.
"Tuan," ucap Hansimon.
Di tempatnya Arkan berdiri dan menatap keluar jendela.
"Citra memiliki gangguan jiwa dia bisa merasa panik lalu dia bisa kembali normal. Dia bisa jadi lebih tenang berarti dia tidak bisa di tanyai apapun," ucap Arkan.
Arkan diam. Di tempatnya Hansimon mendengarkan dengan baik.
"Periksa latar belakang keluarganya dan tanya pak Jersey atau Giovano tentang leader Mafia secorpion siapa yang sekarang? Setelah dapat kalian bisa bicara denganku lagi, Tidak lama Dua jam dari sekarang," ucap Arkan lagi dengan wajah datar. Arkan tahu Om Rayhan leadernya tapi, Arkan curiga data tersembunyi dalam Mafia Secorpion sekarang.
Di ruangan gelap dan hanya ada lampu yang penerangan tak seberapa Citra seketika menghela nafasnya.
"Kalian tidak tahu siapa keluargaku, kenapa kalian membuatku seperti ini, sialan," Kata Citra dengan nada marah yang tenang.
"Lo cewek aneh, Lo punya apa sampe berani nantangin kita, Jawab gue siapa bokap lo," ucap Yuda sudah kelewat kesal.
Citra seketika menyeringai.
"Ohya.." ucap Citra.
"Gak gue gak mau," ucap Citra dengan masih keras kepala.
Citra kembali diam menatap sekitar dan tenang.
Yuda keluar dan menyalakan rokoknya. Yuda frustasi
"Yuda, Pak Jersey barusan mengirimkannya pada orang tua Citra," ucap Diyo.
"Hem." Anggukan Yuda.
Di kamarnya Arkan mendapatkan pesan dari Hansimon dan juga informasi lain dari pesan mafia tengkorak.
Seketika Giovano menghubungi Arkan lewat vidio call.
Arkan membukannya dan seketika Giovano menayapnya.
"Arkan Aku katakan perlahan kau sudah memegang ekornya jika kau masih menahannya tidak lama dia akan sadar," ucap Giovano.
"Aku tahu, ini memang masalah besar tapi, jika tidak mau beresiko jangan pernah bermain permainan Berbahaya," ucap Arkan menjawab ucapan Giovano.
Giovano mendengkus, Giovano menatap Arkan yang sibuk membaca di layar.
"hansimon barusaja mencari tahu tentang latar belakang Rosella. Dan sekarang Pak Jersey kau memintanya memberi peringatan pada keluarga gadis Black Rose," ucap Giovano.
"Ini tidak akan lama, aku segera mengetahui siapa dibalik topeng Secorpion itu," ucap Arkan.
Di tempatnya Giovano mengkus berulangkali hingga frustasi.
"Baiklah itu keputusan yang kau ambil, Aku percaya," ucap Giovano lalu menutup teleponnya. Dan Arkan kembali fokus.
Seketika informasi juga masih sangat samar yang Hansimon berikan tapi, dari ciri-cirinya jika Ayah Citra ada hubungannya dengan Rayhan Om nya Arkan.
Arkan menyimpan informasi itu di tempat tersembunyi.
Lalu bergerak menelpon Omnya.
Di rumahnya Omnya sedang bermain dengan Rama dan juga Istrinya di depan televisi.
"Arkan," bisik Rayhan pada Istrinya ketika ponselnya bunyi.
Istrinya mengangguk. Rayhan menjauh dan pergi kedapur.
Terhubung Arkan langsung menempelkan di telinganya.
"Om, Citra Betricias apa om tahu?" ucap Arkan di sambungan Telepon tanpa basa basi.
Seketika Rayhan terdiam mengetuk jari telunjuknya di meja pantry.
"Citra Betricias adalah putri dari sahabatku Gabriel Qnciz," ucap Rayhan dengan santai.
Di tempatnya Arkan tersenyum tipis.
"Sekarang Om, Apa Om mau tahu rencana Arkan," ucap Arkan. Seketika Rayhan berdehem.
Arkan menceritakan tentang Citra yang masih di markas Mafia Tengkorak di Jakarta lalu gangguan kejiawaan Citra hingga informasi tentang latar. keluarga Citra yang tidak terlalu menjelaskan seperti dan bagaimana ayahnya Citra.
Lalu menjelaskan rencananya.
Seketika Rama melempar yoyonya sampai dapur karena talinya lepas.
"Papa... talinya putus," teriak Rama.
Seketika itu telepon selesai dan terputus.
"Iya sayang sini Papa Pasang lagi," ucap Rayhan.
Arkan langsung sibuk setelah menelpon Rayhan. Sibuk melanjutkan pekerjaan tugas kakeknya juga segera belajar.
Di rumah Tuan Dhanu Syifa dan ibunya Dinda sekarang dengan makan bersama Nenek dan kakeknya Arkan setelah sambutan lalu makan malam bersama yang hampir usai.
Lalu mereka pergi keruangan tengah.
Nenek dan kakek Arkan mengeluarkan beberapa bingkisan juga kotak.
" Anda terlalu repot Tuan," ucap Ayahnya Syifa.
Dari pelayan nenek Syifa dan Ibunya Dinda menerima semua hadiah dan bingkisan.
"Ini tidak seberapa. Saya akan memberi apapun untuk kebehagaian Cucu saya, dan Kamu syifa terimakasih karena kamu telah berubah dan menjadi kepercayaan Arkan lagi sebagai teman kecilnya, Maafkan kesalahan saya dulu membuat kalian pindah," ucap Kakek.
"Tidak masalah Tuan, Itu hanya masalalu sekarang yang ada hanya masa depan dan saya juga tidak terlalu memikirkannya," ucap Tuan Dhanu.
"Syifa... Kamu bisa kesini," hcap Nenek pada Syifa
"Iya Nek." ucap Syifa sambil menghampiri neneknya Arkan dan duduk di samping neneknya.
"Kamu harus jadi patner baik kedepannya Nenek percaya sama Kamu," ucap nenek. Seketika Syifa mengangguk dengan tersenyum.
Saat itu juga Syifa mendapatkan gelang cantik dari permata untuk Syifa gunakan di hari pernikahan.
Tanpa ada yang sadar dan tahu jika Dinda mendengarnya.
Dinda terdiam di dapur.
Tersenyum menatap air putih di tangannya.
Seketika Dinda meminumnya. Lalu pergi keluar dapur lewat pintu belakang lalu berputar masuk pintu depan. Dinda berjalan melewati sekat yang tidak bisa di lihat siapapun orang diruang tengah. Karena sekat itu ada di ruang tamu dan Ruang tamu langsung bisa mengarah ke tangga arah kekamar Dinda Syifa juga kedua orangtuanya.
Sampai didalam kamar Dinda membereskan pakaian kotornya dan pergi keluar Dinda pergi tanpa pamit lalu keluar mengambil sepedanya.
"Loh Non mau pulang kan masih gerimis," ucap Satpam.
"Gak Papa Pakde... Dinda lupa kalo ada pr sekolah harus di kumpul besok," ucap Dinda bohong.
Dinda segera pergi dengan sepedahnya hanya Satpam yang tahu.
...Lucu sekali hidup kamu!...
...Berharap dengan hal yang sulit di gapai, mulut bicara seakan tahu perasaan ikhlas. Sekarang adalah hal yang biasa dikatakan dengan satu kata...Apa bisa?...
...~Dinda Alea...