Arkan Dinda

Arkan Dinda
Ingin mencapai sesuatu



Dinda menghapus air matanya dengan perlahan dengan tatapan basah dan sedihnya Dinda terpaksa tersenyum lebar sambil menatap Kiran yang bersemangat dengan senyumannya.


"Sekarang gue harus kuat bukan," ucap Dinda menatap Kiran.


"Hem.. bener banget.. ayo sekarang ke toilet kita beresin bekas cengeng lo," ucap Kiran.


Dinda mendesis.


Di balik dinding itu Arkan terdiam seketikan menjatuhkan bola dan mengambilnya lagi, bola memantul.


Arkan tidak ingin bicara apa-apa pun walau mendengar semua ucapan Dinda.


Arkan kembali ke tengah lapangan. Memainkan bola basket lagi dengan tenang. Hanya suara bola basket yang membentur lantai yang terdengar.


Dinda yang melangkah melewati lapangan basket seketika menoleh.


'Ada kak Arkan apa dia denger ya? Semoga aja tangisanku gak keras. Batin Dinda.'


Dinda berhenti di tempat yang membuat bayangan wajahnya terlihat jelas oleh Arkan.


Dinda menunduk pergi meninggalkan lapangan dengan Kiran.


Arkan sempat menatap bayangan Dinda lalu kembali memantulkan bolanya dengan tenang dan melemparnya masuk kedalam Ring.


Semua yang Dinda rasakan hampir sama dengan Arkan. Lucunya Arkan menjalaninya dengan santai, bukan Lucu, aneh bisa di bilang begitu.


Arkan menghadapi situasi tenang dan Dinda tadi juga seperti itu. Itu bagus. Arkan tidak menyangka tadinya Arkan kira Dinda akan mengamuk dan membuat kacau. Arkan datang terakhir hanya untuk melihat akhirnya. Ternyata salah Arkan justru tidak mendapatkan hal seru melainkan hal yang lumayan menyenangkan.


'Tenang di balik pemberontakan, batin Arkan.' Seketika senyum tipis Arkan terlihat. Seperti tidak tersenyum tapi, Arkan sebenarnya tersenyum.


Lorenzo membawa Rita ke kelasnya dan meminta Rita duduk.


"Diem disini lo aman." Kata Lorenzo lalu pergi. Seketika Rita memegang tangan Lorenzo. Seketika itu juga Lorenzo berhenti dan membalik badanya.


"Maaf Ta, Lo berharga jangan sampe lo terluka karena gue." Kata Lorenzo serius dan dingin


Seketika pegangan tangan Rita melemah dan terlepas.


Rita membeku diam di tempatnya. Ada rasa sedih dan kecewa.


Lorenzo pergi meninggalkan Rita.


"Apa gue jelek banget ya, sampe lo pake cara halus itu, Tapi, gak papa kalo kita cuman temenan gue suka, ok heheh...."


Suara bicara Rita terlihat bohong Lorenzo tahu Rita kecewa.


Tapi, percayalah Rita bisa mendapatkan yang lebih baik dari Lorenzo.


Presetan tidak peka atau berpura-pura. Lorenzo tahu Rita sangat menyukainya tapi, Lorenzo tidak bisa.


Sekarang mungkin waktu yang tepat menyampaikannya pada Rita.


Ternyata Lorenzo benar dan Rita membohongi dirinya dengan ucapannya sendiri.


Lorenzo sudah keluar kelas dan Rita hanya diam dan sibuk lagi dengan Dunianya. Wajah Rita juga tenang saking tenangnya perasaan kecewa dan sedih sulit terlihat dan senyum cerah lebih ketara.


*


Arkan berjalan dengan membawa alat bersih-bersih untuk mengganti alat lama di gudang kebersihan.


Arkan sengaja membantu Pak Yoyo karena permintaan Bu ayu, pas Arkan tidak sengaja lewat dan para osis sedang rapat jadi tidak bisa ganggu.


Ketika tidak sengaja terjatuh Arkan kembali berhenti dan memilih menyusunnya untuk membawanya masuk ke dalam gudang.


Seketika akan mengambilnya tangan Arkan bersentuhan dengan tangan Citra.


"Arkan aku bantuin boleh ya?" ucap Citra dengan wajah tersenyum manis.


Arkan diam saja dan hanya menoleh sekali melihat wajah siapa.


Wajah datar tanpa ekspresi itu begitu kental di tambah pahatan es abadi yang terlihat sekarang.


Di depan kelasnya Dinda mematahkan gagang sapu karena ada laba-laba di dekat pintu.


"Yah.. patah nih," ucap Dinda seketika semua mata menatap Dinda.


"Dinda!" Teriak mereka satu kelas yang kesal pada Dinda.


Dinda menoleh kelain arah diam saja berpura-pura tidak tahu.


Yeni mendekat dengan polpen di tangannya.


"Lo ke gudang kebersihan minta pak Yoyo sapu sekarang!" ucap Yeni dengan menyeramkan. Rasanya Dinda menciut.


"DINDA!" Suara Yeni di samping Dinda.


ucapan Dinda terpotong oleh Yeni yang marah dan Dodi berpura-pura tidak tahu dan malah pura-pura tidur.


Kiran tersenyum miris.


"Ran temen yok," ucap Dinda yang sudah malas dan takut jika Suara keras Yeni kembali merusak gendang telinganya.


"Bentar Mak... gue ambil patahannya. Oiya kemocengnya juga gak," ucap Dinda menyindir Yeni.


"Gak..." Sahut Yeni cepat Wajah Yeni merah padam dan terus membunyikan pulpennya, ctak ctak..


"Gue bukan mak lo, Gu tusuk juga mata lo," ucap Yeni kesal.


Seketika Dinda meraup wajah Yeni.


"Uluh.. uluh.. lucu banget sih anak manis...ade gak boleh sadis sadis... nanti jodoh takut tahu sama bini modelan gini..." Goda Dinda seketika Yeni menepisnya kasar.


Ketika akan marah lagi Yeni tidak melihat Dinda lagi.


Kiran dan Dinda sekarang sudah berjalan keluar kelas dan hampir sampai di gudang kebersihan dekat ruangan Pak Yoyo.


Ketika melangkah dengan jalan mundur tidak sengaja Dinda mendorong punggung Arkan dengan punggungnya.


Seketika itu semua alat bersih-bersih yang Arkan sudah bawa jatuh kembali berantakan.


Mendengar suara berisik Dinda langsung berbalik dan heboh.


"Eh.. ya ampun maaf.. maaf.. Gak sengaja. Sini di bantuin." Dinda langsung mengambilnya dan memberskannya dan menatanya di dalam ruangan kebersihan tanpa tahu siapa yang di buatnya kesulitan tadi.


Dinda akan membawa sekotak kanebo ketika itu sebuah tangan berurat menghentikannya.


Dinda mendangak ternyata, Arkan.


Seketika Dinda langsung takut dan mundur perlahan ketika akan mundur lagi Kiran


membuatnya berhenti.


Dinda langsung menoleh kebelakang Ada Citra.


"Lo ngapain?" ucap Arkan datar dan tanpa ekspresi.


Dinda tersenyum kikuk.


Seketika Dinda masuk ke dalam ruangan setelah Arkan masuk.


"Kak.. patah lagi, minta yaa.. nanti bilang ke pak Yoyo." Kata Dinda sambil menatap dengan berbinar.


"Ngomong sendiri." Singkat Arkan lalu keluar.


Dinda langsung lemas. Dinda melangkah keluar seketika melihat Arkan bicara dengan pak Yoyo.


"Eh.. neng Dinda. Iya ambil aja, Awas jangan patah Lagi." Kata Pak Yoyo ketika melihat Dinda.


Lalu Arkan pergi begitu saja tanpa menoleh. Pemandangan itu tidak lepas dari tatapan mata tajam Citra.


Dinda malu sekarang, Maunya apa sih. Orang tadi suruh ngomong sendiri giliran mau ngomong sendiri malah di mintain.


Untung suka, kan jadi gak benci kesel malah tambah suka banget pake exstra.


Arkan seketika berhenti ketika seseorang menarik tangannya.


"Kak.. Makasih ya, aku ambil dua jaga-jaga sapunya takut rusak lagi sama tanganku," ucap Dinda dengan wajah cerianya.


Arkan menatap Datar melepas pegangan tangan Dinda dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Sekarang aku harus bisa dapetin hati Kak Arkan aku tulus suka Kak Arkan Semoga aja Kak Arkan tahu perasaan ku.. Semangat buat pencapainnya besok Dinda. Pepet terus Kak Arkan jagain jodoh orang gak masalah. Walaupun gak jodoh sama Kak Arkan, Dinda janji bakalan jaga perasaan dan buat hati Kak Arkan selalu senang dan nyaman sama Dinda. Setelah Kak Arkan dapetin Jodohnya, aku harus bisa biasa aja." Katanya pada diri sendiri.


Dalam langkahnya menjauhi Dinda, Arkan mendengar semuanya dan hanya diam tanpa ekspresi.


Pendengaran Arkan tajam jadi Dinda tanpa sengaja membuat Kutub abadi longsor dan membuat lautan bekunya akan mencair perlahan dengan ucapan tanpa sadarnya.


'Lo gak akan bisa sesuai sama ucapan lo, Tujuan lo payah, batin Arkan.'


Dinda berbalik melangkah seketika tatapannya berhadapan dengan Citra.


"Daah.. Makasih sudah melihat kedekatan kami," ucap Dinda dengan Pdnya.


Sebenarnya Dinda tidak suka menyakiti perasaan orang tapi, kemarin Kakak kelas baru itu, Citra hampir menghancurkan mental dan membuat dirinya mati perlahan.


Sesekali Dinda membuat orang kesal tidak masalah bukan. Khusus Kak Citra Hari ini Kakak kelas barunya.