Arkan Dinda

Arkan Dinda
Uncomfortable feeling



Sampai di sekolah Dinda segera masuk dan meletakan helmnya di loker juga memberikan nomernya pada Arkan karena Arkan memintanya sebelum masuk.


Sampai didalam kelasnya tanpa di suruhpun Dinda langsung piket. Seketika Kiran datang dan memeluk Dinda dan juga Lia dan Yeni yang langsung menghampiri Dinda.


"Lo oon banget kenapa lo maksa bahagia sih gue tau lo berduka tapi, kenapa malah sekolah sih," ucap Kiran jengah.


"Lo ih, Dah tahu Dinda berduka malah di katakaan Lo yang oon Kiran," ucap Yeni.


Dinda di ajak duduk oleh Dodi dan seketika di layani seperti ratu.


"Eh.. anak bobrok kita lagi bersedih jangan diapa-apa ya cui..." Teriak Dodi diangguki satu kelas.


"Ih.. kalian apaan sih gue mau sendiri semuanya jangan kayak giniin gue ke enakan gue, Gue mau piket ini kewajiban gak boleh ada yang ngelarang gue." Kata Dinda dengan cepat membungkam Kiran dan Yeni, seketika Lia mengambil kedu tangan Dinda.


"Lo yang kuat ya," ucapan Lia sangat dewasa.


"Iya, Makasih baget Lia," ucap Dinda menatap sedih Lia dan seketika memeluk dan seketika hampir menangis mereka.


*


Di kampus Arkan sedang fokus dengan dosen didepan yang menerangkan materi.


Arkan memikirkan Dinda yang menangis dan sikap yang aneh diri Arkan Tiba-tiba membalas pelukan Dinda hangat, apa yang terjadi dengan Dirinya. Eh.. Tunggu kenapa Arkan juga sedikit kesal karena Dinda membicarakan undangan Bukannya Kakeknya bilang Dinda yang akan di nikahinya.


Lalu Tentang hal di bicarakan kemarin, tentang kedua orang tua Dinda itu... Ah.. sudah lah nanti saja, tidak terasa waktu habis dan kelas berakhir.


Sekarang semua tinggal Arkan dan Teman-temannya didalam kelas. Dari pintu Yuda memanggil mereka, Yuda yang baru datang mengajak mereka pergi keluar kampus.


Disini Mereka sekarang di Markas Tengkorak.


Hansimon mendapatkan datanya. Dan semuanya hanyalah kecelakaan biasa tapi, tidak bisa di alaskan ada penyebabnya jika beranggapan kalo ini kecelakaan disengaja. Intinya tidak bisa di bilang di disengaja karena rapi.


Arkan Rian Justin Lorenzo juga Bagus meneliti setiap Cctv dan juga tempat kejadian dan sebelum kejadian seketika ketemu di waktu yang sesuadh beberapa menit Ibu Dinda menelpon Arkan, dan itu kejadiannya adalah karena rem blong yang di sabotase. Ada suara bising dari ayah dan Ibu Dinda yang panik karena Rem blong.


"Kami dapat rekaman dasbor mobil dari kepolisian yang menyelediki kasus ini, Pak Jersey mengizinkannya, Katanya ini kemungkinan bersangkutan dengan Alderos dari telusuran kami bos," ucap Diyo.


Hansimon memberikan data lainnya di tablet perseginya.


Arkan menerima dan menelitinya sendiri sambil duduk di kursi belakangnya.


Setelah semua selesai. Arkan dan semuanya duduk di kursi dekat lemari pendingin di lantai dua markas.


"Gak nyaka abis kali ini, mereka bukan ngincer Dinda lagi tapi orang terdekatnya," ucap Bagus.


"Jelas sekarang! tugas kita buat ngelindungin orang terdekat kita ini semua harus bener-bener, jangan sampe ada korban lagi."


Perkataan Arkan dengan tatapan Datarnya membuat semua seketika membeku.


"Iya kita bakalan jagain hal berhaga di sekitar kita." Kata Bagus.


Di depan Paud Lala Larisa baru saja akan menyebrangkan Lala dari sebrang jalan. Tanpa sengaja Larisa melihat situasi aneh.


"Sayang masuk kedalem sekolah lagi cepet," ucap Larisa setengah berteriak, Lala mengerti dan berlari masuk dan menghampiri para bu guru yang sedang bersama teman-temannya yang belum pulang.


Larisa segera masuk mobil dan menelpon Bagus dari dalam mobil.


"Halo.. Halo," ucap Larisa ketakutan.


Bagus yang mendengar suara Larisa seketika panik.


"Ngomong yang bener kenapa?" ucap Bagus Gemas.


Di markas tengkorak semua menatap bagus aneh.


"Lala hampir diculik tolong kamu kesini," ucap Larisa tanpa basa basi.


Seketika Bagus bergegas. di Markas semua menatap Bagus dengan tatapan aneh ketika suara telepon disebrang sana tidak asing seperti... suara Larisa.


"Napa Lo," ucap Rian. Lorenzo juga menatap tanya kenapa Bagus seperti gelisah.


"Larisa sama Lala Dalam bahaya," ucap Bagus. Seketika Lorenzo dan Rian bergegas.


Mereka juga ingin memastikan sesuatu jangan sampe ini jebakan buat Bagus.


Di depan Paudnya Lala seketika di panggil seseorang yang asing bu gurunya mendekat.


Dari jendela mobil Larisa menatap itu seketika mengatakan pada dirinya harus bertindak sekarang.


Larisa berusaha berani dan melangkah menyebrang mendekat ke depan sekolah Lala.


Seketika bu Guru menayapa Larisa.


"Mamanya Lala, Sayang mama kamu," ucap Guru paud itu.


Seketika Larisa memberikan kode pada Lala jangan mendekat.


Orang yang tahu jika ini Larisa seketika mendekat seketika itu. Larisa menoleh dan segera menghindar. tapi, terlambat..


Guru Paud yang melihat keanehan pun segera memanggil satpam.


Seketika itu juga Larisa di tarik kasar dan di ancam dengan pistol.


"Serahin anak lo, Gue mau anak itu," ucap Orang asing itu.


Larisa memberi isyarat pada Lala tenang.


Orang itu menarik Larisa dan menodongkan pistol ke kepalanya. Lehernya di cekik sulit bernafas.


Terus berusaha melepas tapi tak bisa. Seketika petugas keamanan juga sigap melindungi guru dan anak paud yang segera diamankan. Lala juga langsung di peluk gurunya.


"Pak kita bisa bicara perlahan." Kata bu guru memberi pengarahan pada lelaki yang menarik dan menyandra Larisa.


Seketika Bagus datang bersama Rian dan lorenzo.


Tanpa basa basi Rian dan lorenzo menarik Darius dan membuang senjatanya.


Tidak lama petugas keaman membantu dan Lala langsung menghampiri mamanya dan memeluknya Bagus langsung melindungi Larisa di belakangnya meminta Larisa masuk ke dalam area Paud.


Sirine polis datang tak lama turun dua polisi untuk menangkap Darius. Seketika itu Darius mengeluarkan pisau dan menusuk dirinya sendiri.


Saat itu semua polisi yang datang dan terkejut saat itulah semua warga berkumpul tak lama ambulan datang.


Rian dan Lorenzo bicara pada kedua polisi.


Bagus dan Larisa menenangkan Lala.


"Papa... Orang itu jahat, Nanti nusuk lala kayak waktu itu," ucap Lala dengan badan bergetar ketakutan, ucapan Lala di hentikan Bagus dengan menggendongnya dan mengusap punggungnya.


Larisa sebisa mungkin tenang tapi, sebenernya sejak tadi tubuhnya lemas ketakutan. Bagus juga berusaha menenangkan Larisa.


"Kamu dateng sendiri apa sama Pak Supir," ucap Bagus dengan datar tanpa menatap Larisa.


"Sendiri, itu mobilnya disana," ucap Larisa menunjuk mobil H.Kona hitam di sebrang.


"Sekarang tenangin diri kamu ayo pulang aku temenin di belakang, Biar Rian sama Lorenzo urus inj." Perkataan Bagus diangguki Larisa.


*


Setelah mengantar dan menenagkan Larisa dan Lala di rumah. Bagus kembali lagi ke Markas tengkorak.


Tak lama Bagus masuk Rian dan Lorenzo masuk.


"Gimana?" ucap Arkan pada ketiganya.


"Darius datang ke sekolahnya Lala dan hampir aja makan korban," ucap Lorenzo menjelaskan Bagus mengambil air di lemari pendingin dan duduk di sofa meminumnya.


"Kata polisi yang dateng tadi Darius tahanan lapas yang kabur dua minggu lalu dan katanya juga pencarian itu gak ketemu padahal beda pulau harusnya kalo dia bisa sampe Jakarta dia nyebrang dulu lah perjalanan panjang gak mungkin dia jalan kaki dan tadi dari yang kita liat Darius kayak bersih dan gak pake baju tahanan dia juga ada senjata," ucap Rian dianggungi Lorenzo.


Seperti dari yang di jelaskan Lorenzo jika Darius di bantu seseorang tapi siapa?


"Gus.. Gimana Lala," tanya Yuda kini di tatapan Justin kearah Bagus.


"Dia takut trauma liat mantan bapaknya, Ya gue sebagai bapak tirinya menenangkannya," ucap Bagus yang berusaha mengkode jika dirinya dan Larisa sudah sah menjadi suami istri kemarin sehari setelah kelulusan dan sebelum pergi ke Jerman.


"Halah... Sunging lo," ucap Lorenzo melempar roti bungkus ke Bagus dan di tangkapnya.


"Hahah... Ya kali lah ada yang mau kasih gue kado apaan gitu," ucap Bagus pada semua padahal tapi, yang peka hanya Lorenzo.


"Lo udah malem pertamui belom," ucapnya.


"Ck.. Songong jadi Sunging, Pertama jadi Pertamui, Lo gak usah Typo dong zo," ucap Rian kesal sendiri.


"Yaah elah bapak sensian."


Sahut Lorenzo dengan wajah memelas tapi mengejek juga.


"Lo pake K*nd*m apa mau langsung buat adek buat anak bawaan Larisa," ucap Yuda Frontal seketika membuat Rian dan lorenzo tertawa pecah.


Justin menggeleng dan Arkan diam saja.


"Kagak ada pengaman, gue juga mau punya anak dari dia," ucap Bagus.


"Kalo Bisa syukur kalo blom di kasih apa daya," ucap Bagus.


"Woy.. Hargai jomblo disini napa," ucap Rian . Lorenzo setuju dengan seruannya dan deheman juga anggukan.


"Heeh.. Jangan gitu Lo mau buang kemana Rita, Lo kan Cap Playboy, Ngomong Jomblo gak Pantes lo," ucap Justin.


*


Malam ini di rumah Kakeknya Arkan Dinda dan Syifa datang dengan dandanan yang cantik. Di jemput Pak Johan dan bawahannya.


Jika pernikahan di rumah Dinda sepertinya kurang pantas jadi biar Bibi dan Pakde satpamnya saja yang mengurus tahlilan di masjid dekat rumah.


Kakek Arkan juga memberikan salah satu orangnya untuk membantu tahlilan kirim doa untuk kedua orang tua Dinda.


Dinda bingung. Kenapa dirinya diajak kemari dan di pakaikan baju seperti ini.


"Kakak. Maaf nih ya, Kan Bukannya kakak yang mau nikah sama Kak Arkan," ucap Dinda menatap Syifa seketika Nenek Arkan datang menyambut keduanya. Pertanyaan dan jawabannya di tunda ketika Nenek datang di waktu kurang tepat bagi Dinda.


"Dinda selamat datang sayang kamu akan menjadi istri Arkan malam ini."


Deg... Serasa mau pingsan dan sulit bernafas.


Apa ini bercanda.


Gak mungkin.


Kok rasanya aneh, Bukan ini! Kenapa jadi di waktu sekarang.


Pernikahan ini jadi menakutkan bagi Dinda.


Dinda memelas pada Syifa yang tidak menghiraukan tatapan memohon Dinda.


...****************...



Rumah kakeknya Arkan...


Sumber: Pinterest