
Arkan masalah jika tidak menjadi beban tapi, ini adalah hal berat untuk Dinda. Kakek neneknya seharunya tidak menyerang Dinda secara batin Dinda itu bukan Arkan.
Terlihat pemalu ceria dan bahagia berlebih juga bar bar yang kadang muncul tiba-tiba, Dinda ini sangat sedih jika di paksa sesuatu yang sama sekali dia tidak ingin dan di tuntut lebih jauh.
Lalu lingkungan dengan banyak keputusan Kakek harusnya menjadi urusan Arkan. Tapi, Kakek mengajak Dinda masuk juga untuk segera menuruti mengabulkan perintahnya.
Arkan tidak tega apa sejak tadi Dinda ingin bicara tapi Arkan diam saja.
Dinda maaf !
Arkan merasa bersalah sekali pasti di pikirannya buruk, jika masakan tidak enak jika nenek menekannya dan ingin segera punya cicit.
"Kenapa ngomong aja, Aku gak akan marah, Aku yang bakalan jawab kalo nenek nuntut, Kamu itu sekarang tanggung jawab aku juga," ucapannya seperti hal yang membuat Dinda bahagia sebentar.
"Maaf Kak, Nenek minta cepet, katanya kalo masih bisa gak papa tapi, kalo Dinda nolak nenek marah gak, Dinda masih mau lakuin hal lain, Dinda belum siap, takut Dinda bukan ibu yang baik Dan takut kalo didikan Dinda gak bener dan buat malu keluarga, Tapi, kalo Dinda nolak hamil Nenek sama kakek bakalan benci Dinda."
Arkan terdiam menyelesaikan makannya dan meminum air putih hangatnya. Arkan menatap Dinda dan menggeser piringnya.
"Apa yang kamu mau sekarang," ucap Arkan lembut tapi serius.
Bagi Dinda Arkan sangat menakutkan membuat suasana nya tegang dan segan. Walau tatapannya lembut sekarang.
"Mau sekolah dulu," ucap Dinda pelan.
"Ok, sekolah dulu nanti setelah sekolah baru nanti di bicaraain lagi," ucap Arkan.
"Laah.. Kalo gitu nanti kak Arkan gimana, kakek nenek? Kalo kakak di nikahin sama perempuan lain gimana, terus pasti Dinda di tinggal sendirian."
Arkan tersenyum diam dan beralih mencuci piringnya dan mengajak Dinda ke kamarnya.
*
Arkan meminta Dinda duduk bangku di teras balkon dan juga Arkan bersama-sama.
"Dulu sering banget disini, tenang rasanya setiap malem."
Dinda diam mendengarkan.
"Kak Apa Dinda beban apa Dinda jelek banget ya, Apa kakek beneran, apa Dinda gak punya pilihan."
Arkan mengambil tangan Dinda.
"Sini," menepuk pahanya untuk Dinda duduk di pangkuannya. Dinda terdiam sebentar, lalu segera melangkah mendekat dan duduk di pangkuan Arkan perlahan, malu rasanya.
"Biasakan," ucap Arkan.
Dinda Diam. Lalu mengangguk.
"Gak ada pikiran kayak gitu, yang ada kamu itu cewek hiperaktif yang berani nunjukin rasa suka kamu dan aku orang yang kamu deketin, Aku cuek dan gak pantes kamu perjuangin tapi, kamu gak mau ngelepasin aku, Jadi... mana mungkin setelah aku nikahin kamu aku lepasin kamu cuman karena tuntutan Kakek nenek, mereka baru calon kamu satu selamanya." Penjelasan Arkan didengar Dinda.
Ada perasaan lega jika kak Arkan berpikir begitu.
"Aku mau keluar kota besok jadi jaga diri baik-baik nanti ada Gressia kalo Karin mau nemenim kamu juga gak papa," ucap Arkan dengan lembut. Dinda mengangguk sambil Arkan mengelus rambutnya.
Oh.. Setiap hari di manja di perhatiin sekali di buat nangis terus di baikkin kayak gini rasanya Dinda aneh apa Dinda yang lagi beruntung.
Arkan memeluk pinggang Dinda dan menatap wajahnya dengan tenang. Dinda juga malu dan menutup mata Arkan tanpa sadar.
Seketika sadar salah yang matanya di tutup Dinda langsung malu dan minta maaf.
"Maaf.. kak maaf,"ucap Dinda.
"Gak papa hehe," Arkan terkekeh.
Eh ganteng banget.
"Jangan banyak pikiran jangan mikir macem macem, anggep aja kita pacaran jadi kalo buat hamil kamu dan aku bisa pikirin nanti."
Dinda mengangguk dengan senyum tipis.
Di luar sana Veronica dan Silla berhadapan dengan anak buah kiriman Violetta.
"Kalian gak bisa masuk seenaknya," ucap Veronica marah.
Violetta terkekeh.
"Serahin Rosella biar semua segera selesai." Katanya dengan santai dan memainkan pistolnya. Veronica sudah hampir lemah dan batuk berdarah.
Tidak lama dari kejauhan Teman-temannya datang Gressia dan Frank menghentikan motornya di tengah-tengah keduanya dan turun sambil membuka helm.
"Pelanggaran dengan mengganggu ketenangan, ceklis. laporan situasi mengganggu pada pihak berwajib, ceklis," ucap teman Gressia dengan tengil dan menantang.
Sirine polisi seketika terdengar. Violetta mendengkus sebal dan meminta semua anak buahnya mundur dan pergi dari sana.
Silla yang bersembunyi langsung membantu Veronica dan Gressia juga membantunya.
Sirine itu bersal dari ponsel temannya Gressia yang ada di dekat semak-semak sekitar halamam Veronica tanpa di ketahui siapa pun.
Waktu temannya Gressia melempar semua orang lengah dan hanya Gressia dan temannya yang punya ponsel yang tahu.
*
Arkan bangun pagi sekali membiarkan Dinda masih tidur hingga terdengar suara orang mengaji di masjid Dinda bangun. Melihat Arkan sudah wangi dan bersih Dinda menatap Arkan.
Pergi mengikuti Arkan dan menyiapkan sarapan juga bekal.
Didapur semua sudah dalam genggaman Dinda sekaranh dan di bagian lain rumah yang sekarang sedang di bersih kan robot yang sudah mulai bekerja.
"Susu nya rasanya gimana ya," ucap Dinda ketika melihat ada susu ibu hamil.
"Kamu mau minum susu itu berarti kamu harus aku buat Hamil," ucap Arkan seketika membuat Dinda gelagapan dan segera menyimpan kotak susu rasa mangga dan beralih pada sarapan. Aaah malu rasanya.
Arkan tersenyum tipis melihat tingkah Dinda.
"Berapa hari kak," ucap Dinda yang mengalihkan suasana.
"Sampai proyek selesai nanti aku langsung pulang," sahut Arkan.
"Hati-hati kak," ucap Dinda meletakan roti bakar dan selai.
"Pake apa kak," ucap Dinda yang akan memakaikan selai untuk roti Arkan.
Arkan berdehem.
"Gak usah kasih apa-apa, Kamu duduk aja temenin aku makan," ucap Arkan. Dinda menurut duduk dan meminum air hangatnya.
Selesai makan Arkan duduk sebentar dan membuka laptopnya di ruang kerja.
Dinda beralih kekamar mandi bersiap sekolah.
Seketika Dinda yang akan berangkat.
Arkan sudah siap didepan.
Dinda segera mengejarnya dan mengikuti Arkan lagi pula ini sudah waktunya berangkat sekolah.
Di dalam mobil. Dinda melihat setelan pakaian Arkan.
"Ganteng," ucap Dinda pelan.
"Kenapa?"
"Eh..enggak papa."
Seperti terdengar, padahal memang kedengaran oleh Arkan.
Mobil berjalan keluar rumah.
Sampai di Bandara sebelum kesekolah, Sampai di bandara Ada Gressia dan Rettrigo disana.
"Nona," sapa Gressia antusias. Gressia melambaikan dengan senyuman lebarnya Dinda juga melambai menyambut sapaan Gressia.
"Jaga dia dengan baik Proyek merepotkan, Lecet! kalian yang terima hukumannya," ucapan Arkan serius dan tatapannya tajam.
Dinda memegang lengan Arkan.
"Tenang semua aman kok kakak, kakak baik-baik jangan mikirin Dinda nanti kalo kerjaan Beres kakakkan bisa cepet pulang," Kata Dinda yang melepas Arkan akan keluar kota.
Arkan menatap Dinda dengan wajah biasa dan mengangguk.
Seketika mencium kening Dinda didepan Gressia dan Rettrigo.
Dinda seketika malu dan mendorong Arkan menjauh.
"Ehem... aku pergi," ucap Arkan lembut. Dinda mencium tangan Arkan dan melambai.
Gressia dan Dinda sekarang saling berpegangan tangan. Sifat Gressia jika ada Arkan seperti orang yang sedang di hukum penggal, takutnya setengah mati, jika tidak ada Arkan hiperaktifnya sampai lupa kalo dia perempuan.
"Nona ayo aku antar kesekolah dengan mobil pak Bos," ucap Gressia dengan semangat empat lima.
Dinda menganggukkan kepalanya.
Melihat dari jendela kaca ruang tunggu penumpang terlihat itu pesawat dengan logo keluarga Brathadika pesawat Arkan sudah pergi.
Sudahlah sekarang sendiri lagi,
tidak ada yang meminta Dinda bersama Arkan tapi, semua terjadi dan membuatnya bersama Arkan.
Sendirian di rumah walaupun ada Gressia, Dinda tetap kesepian.
Sekarang menunggu semoga saja cepat selesai dan pulang.
Rettrigo melirik orang yang sedang membaca koran. Seketika Gressia membawa Dinda menjauh.
Rettrigo berpura-pura pergi juga.
Seketika Dinda dan Gressia berjalan bersama.
Rettrigo berbalik dari jalannya yang sengaja menjauh tanpa disadari orang asing itu Rettrigo menarik orang yang membaca koran yang hampir mendekati Dinda ke toilet dengan menggeret lehernya.
Orang tadi di lempar ke dinding Toilet dan di hajar Rettrigo hingga babak belur dan seketika itu Rettrigo menyadarkannya.
"Siapa?"
Tanpa menjawab orang itu malah tertawa didalam dan di tatapan Rettrigo tajam. Setelah itu datang dua orang dan membawa orang yang Rettrigo bawa ke toilet.