
Arkan menatap semuanya dengan tatapan datar. Lalu berbalik lagi menatap kedepan.
"Hari lo masih harus berjalan, Jangan ikut berhenti kayak Dinda, Lo adalah tujuannya selama ini. Jangan jadiin Dinda kecewa ngejar lo yang ternyata lemah karena dia, Gue rasa walaupun Koma aatau terbaring lemah gitu gue yakin yang naksir Dinda juga bakalan banyak, percaya sama gue, Lo harus pahamin diri lo tentang Dinda," ucap Justin. Masih sempat-sempat mengatakan hal yang tidak ada sangkutannya tentang masalah kali ini.
Arkan menatap kedepan bergeming sama sekali.
"Walaupun Yaah.. Lo belum jadian sama Dinda, Kayaknya orang kek lo gak demen pacaran, Ngaku lo? Gue Doain semoga aja lo sama Dinda langsung akad," ucap Lorenzo malah membuat suasana serius lebih banyak bercanda karena ucapannya menggoda Arkan tentang Dinda.
"Gue harus ada alasan buat jelasin semuanya ke Rian besok sekolah," ucap Arkan.
Setidaknya membuat seorang Rian mengerti itu perlu, setelah salah paham tentang gadis yang di taksir Rian meninggal karena Arkan sekarang Arkan harus menjelaskan kejadiannya pada Rian besok.
Di sini di ruangan rawat Dinda Ibunya menatap sedih Dinda dan mengusap kepala dan dahi Dinda perlahan.
"Maafin Ibu nak," ucap Ibunya dengan wajah sedih.
Seorang mengetuk pintu dan itu adalah Suaminya ayah kandung Dinda yang selama ini semua orang kira sering bermain api dengan ibu Rian. Yang selalu di rumorkan buruk tapi, tidak pernah menganggap Rumor buruk itu tentangnya.
Yang sebenarnya terjadi adalah Ibu Rian memang dekat dengan ayah kandung Dinda dan ibu kandung Dinda. Mereka bertiga dulu sahabat tapi, karena waktu itu Rian hanya tahu dari pandangan matanya jika ayah Dinda buruk dan terbawa kesalnya Rian membuat Dinda takut, tapi, yang sebenarnya semua hanyalah salah paham.
Sekarang Dinda tidak akan bicara dengan siapapun atau menatap dan memandang siapapun karena sekarang semua terbalik semua memandang mengharapkan mata Dinda terbuka.
Citra yang mendengar jika Dinda di rawat di rumah sakit merasa menang dan sangat merasa beruntung karena kesempatannya untuk menjauhkan Dinda dari Arkan dengan mudahnya sudah di bereskan, dan kerjakan oleh orang yang Citra tidak ingin tahu siapa.
Citra di dalam kamarnya sedang sibuk membaca berita dan informasi tentang rumor yang menjerat kedua orang tuanya termasuk orang tua Rian Daman sekarang.
"Ternyata Informasi ini berlaku juga dan bermutu," ucap Citra dengan wajah jahatnya dan liciknya.
Bangkit dari duduknya menghadap komputernya Citra menatap foto masa kecilnya waktu bermain bersama Arkan yang yang datar dan dingin sejak kecil bahkan sekarang seperti itu.
Citra tersenyum-senyum sendiri membayangkannya.
Rasanya semua keinginanya untuk memiliki Arkan sangat tinggi tapi, apa bisa? Tentu bisa karena Citra tidak akan mengalah untuk siapapun walaupun Arkan sendiri memintanya untuk berhenti memikirkannya karena Citra sangat menyukai dan tidak rela Arkan jauh.
Di kamar rawat Dinda kali ini kedua orang tua yang masih sedih menatap putri malang yang menjadi korban keegoisan orangtua kini masih belum bisa menunjukan ekspresi ceria dan sedih dan tatapan mata hangat penuh harapannya.
Di Rooftop Arkan dan semuanya turun setelah bicara menggunakan Lift untuk turun ketika sampai di lantai kedua dari lantai paling atas Arkan merasa seseorang yang tidak jadi masuk kedalam lift itu sepertinya mencurigakan.
Saling menatap kelimanya. Yuda dan Lorenzo mengangguk.
Mereka keluar lift dan berusaha mengejar orang itu.
Sadar dirinya di ikuti. Dia lari dengan cepat, untuk terus menghindari Lorenzo dan Yuda yang menurutnya mulai curiga.
Tidak salah Arkan dan teman-temannya mencurigai orang ini,
di kamar mayat mereka sekarang.
Arkan baru masuk dan mengunci pintu dari dalam. Lorenzo Bagus Justin mundur dan Yuda tepat di belakang orang itu.
"Petugas listrik." Ucap Arkan.
"Saya mohon saya hanya bekerja jangan apa-apa kan saya, saya mohon," ucap orang itu dengan wajah takut dan terlihat sangat benar-benar nyata.
Arkan tersenyum miring sepertinya raut wajah Arkan sama sekali tidak percaya dengan orang yang memohon di hadapannya.
"Katakan petugas listrik mana yang memiliki tato mawar hitam dan kalajengking," ucap Arkan tegas jelas dan dingin tatapan Arkan sangat tajam hingga membuat orang di depannya benar-benar takut sekarang.
"Saya..saya..." Seketika berhenti dan terkekeh orang itu bangkit sambil masih terkekeh.
"Arkan.. Ketua baru dalam Mafia tengkorak yang tersohor di Indonesia juga Italia. Huuh begitu mudah ya Giovano memberi jabatan ini padamu, Busuk," ucap Orang itu di akhiri umpatan di depan Wajah Arkan.
Arkan menatap Datar Orang itu.
Bagus dan Lorenzo maju. Seketika memukul orang itu hingga babak belur.
"Kan, Sebaiknya kita kasih Hansimon, biar dia selidikin dan cari tahu," ucap Justin.
Seketika tatapan Arkan mengarah pada Yuda.
Yuda mengangguk.
Arkan menyentuh bahu Bagus.
Bagus dan Lorenzo menghentikan pukulan dan menyiksa orang itu.
Sreek..
Arkan membuka baju petugas listrik itu yang sudah lemah tidak berdaya dan memeriksa bagian leher tangan dan lengan atas.
Tidak ada tanaman benda apapun.
Arkan mebuka baju petugas hingga keperut dan membuka bagian perban luka memperlihatkan perut yang baru di oprasi sepertinya oprasi itu tidak berjalan lancar dan lukanya sedikit terbuka jahitan tidak rapi.
Orang itu terlalu lemah untuk bicara. Arkan melihat dengan seksama goresan itu.
"Hubungin Hansimon." Perintah Arkan.
Yuda mengangguk.
Bagus dan Justin keluar mencari kursi roda dan juga beberapa kain untuk menyamarkan orang yang mereka temui sebagai orang sakit.
Sekarang mereka bertiga keluar hanya Bagus Yuda dan Arkan.
Lorenzo dan Justin kembali ke tempat di mana ruangan Dinda ada, agar tidak ada yang curiga dan mencari keberadaan mereka.
Di depan rumah sakit dekat parkiran yang luas hampir jarang mobil atau ambulan parkir.
Tidak lama Mobil van hitam datang. Hansimon turun bersama dua orang dan menghampiri Arkan Yuda dan Bagus di batu satu orang membawa masuk orang yang mereka curigai ke dalam mobil tanpa menjadi pusat perhatian.
"Tuan, Apa yang ingin anda lakukan pada orang ini?" tanya Hansimon.
Arkan menatap orang yang baru masuk mobil van.
"Caritahu, sampai luka yang dia miliki, Jangan laporkan pada Giovano sebelum semua selesai," ucap Arkan dengan tegas menatap Hansimon.
Hansimon mengerti.
Melangkah pergi, Baru selangkah berbalik Hansimon kembali berbalik.
"Maaf Tuan, apa anak-anak bisa menjenguk Nona?" ucap Hansimon.
Arkan menghentikan langkahnya dan menoleh.
Satu menit berlalu. Arkan berbalik menghadap Hansimon.
Dua menit kemudian.
Arkan berdehem anggukan samar. Hansimon mengerti.
"Tunggu aku yang menghubungi kalian kapan kalian bisa datang."
Angguk lagi Hansimon.
"Baik Tuan. Saya akan menyampaikannya pada anak-anak." Kata Hansimon dengan pelan.
Arkan berbalik pergi lalu Yuda dan Bagus pergi mengikuti Arkan dan sempat menyapa Hansimon.
Hansimon pergi bersama kedua anak buahnya.
Juga orang yang mencurigakan yang Arkan dan teman-temannya temui.
Sambil melangkah masuk ke dalam lobi rumah sakit lalu Lift di susul Bagus dan Yuda.
Arkan terdiam menatap kedepan pintu lift.
'Dinda.. aku harap semua bisa selesai sekarang, batin Arkan.'
Bagus bercermin pada dinding Lift.
"Ternyata gue ganteng juga iyaa.. kan," ucap Bagus mengajak Yuda dan Arkan bicara.
"Gantengan juga gue, Setelan Tuxsedo gue nih..." Sombong Yuda.
"Songong amat dah... iye tahu Tuxsedo lo beda seratus juta ama punya gue," ucap Bagus.
Seketika Yuda berdecak malas.
"Berisik lo, Males gue... Dah lah muka paspasan lo itu gak ada yang bisa ngalahin ukiran sempurna yang ada di wajah gue." Sahut Yuda dengan percaya diri yang tinggi.
Bagus berdecih. Bagus menatap Arkan yang diam mengisyaratkan pada Yuda dengan dagunya.
"Arkan, Lo banyak pikiran ae..Gue tahu, lo emang paling ganteng tinggi berduit dan anak orang kaya, setidaknya lo jangan pasang muka dingin lo dong kalo lagi bareng sama kita, Asal lo tahu, Lo gantengnya tiga kali lipat tahu gak kalo muka dingin lo kayak gitu dan itu betambah tiap menitnya!" ucap Bagus. Arkan menoleh. Lalu Bagus terdiam Yuda malah menertawai Reaksi Bagus ketika ucapannya di tanggapi tatapan tajam Arkan.
Bagus langsung diam seperti kucing yang di marahi pemiliknya dan tidak di berikan makan.
...Dinda Alea nama itu adalah yang pertama yang bisa membuatku berbeda dari biasanya, membuat hariku penuh cerita tentangnya...
...~Arkan Prawira....