
Dinda pergi keluar kandang Alea atau kamar Alea, menghampiri Arkan ke tempat permainan biliyar. Tidak ada Arkan!
"Loh kok gak ada," ucap Dinda. Dinda melangkah ke ruangan atas tempat kerja Arkan.
Tidak ada juga.
Dinda kembali turun ke bawah. Dinda pergi keluar melewati jalanan pertama masuk hampir mirip labirin tapi, tidak terlalu sulit.
Dinda sampai di tempat bertemu Beto. Seketika Rettrigo keluar dan terkejut seperti melihat hantu.
"Non-nona," ucap Rettrigo.
Dinda menatap horor.
Padahal Dinda juga tidak mengejutkan Rettrigo ketika datang. Dinda menepis kesalnya dan beralih mencari Arkan.
"Dimana Kakak?" Kata Dinda singkat sambil toleh-toleh ke kanan ke kiri.
"Oh.. Bos, Ada di depan kalo gak di ruang latihan."
Seketika Dinda berjalan keluar. Salah jalan, Rettrigo langsung mendesah malas.
"Nona mari saya antar ke ruang latihan," ucap Rettrigo.
Dinda menoleh dan mengikuti langkah kaki Rettrigo. Menyusuri tempat lain di balik pintu dekat meja pingpong dan dekat meja biliyar.
"Sepi," ucap Dinda. Seketika pintu cokelat terbuka lebar memperlihatkan deretan anak buah Arkan yang berlatih menembak dan memanah juga melempar pisau atau kapak.
"Haah.. Itu kak Arkan," ucap Dinda berlari kesana menghampiri Arkan yang sedang memanah.
Dari cermin atas antara Dinding atas dan Atap. Arkan melihat Dinda berjalan mendekat. Dengan cepat Arkan mematikan rokoknya dengan mematikannya di atas tempat sampah rokok.
Dinda memeluk Arkan dengan cepat menubruk Arkan.
"Makasih kak Makasih banyak," ucap Dinda sambil memeluk Arkan dari belakang. Seketika Arkan membawa busur ke tempatnya dan melepas perlengkapannya dan juga berbalik. Tak lupa mengambil jaketnya.
"Kita pulang," suara berat Arkan membuat semuanya masih tetap posisi tidak menoleh sama sekali.
Arkan mengajak Dinda keluar dari ruangan latihan.
*
Di Halaman depan Arkan mengajak Dinda pulang dengan memakaikan helemnya.
"Kak, Dinda makasih banget karena kakak ternyata udah bener-bener siapin semuanya buat Dinda, Oiya kak..."
Senyap sementara.
"Kakak ngerokok di belakang Dinda, Kak Apa Binatang itu semua dari tempatnya Kak Citra," ucap Dinda seketika membuat gerakan Arkan mengancingkan hlem berhenti.
"Hem."
Bukan jawaban malah deheman Dinda butuh jawaban.
"Kak Kalo misalkan Kakak sakit karena ngerokok gimana Dinda kan gak mau kakak sakit," ucap Dinda seketika Arkan naik kemotor tidak menanggapi Dinda.
Dengan wajah kesal dan mutungnya Dinda naik kemotor.
"Belom mandi bau," ucap Dinda.
Arkan masih Diam. Ih.. kenapa sih diam aja.
Dinda juga diam tidak mau pegangan pada Arkan seketika Arkan membuat motornya berkompromi dengan membuat Dinda memeluknya dari belakang tanpa Arkan minta.
Di Markas semua bernafas lega terutama di ruang latihan. Mereka seperti menghadapi ujian super sulit.
Lebih baik mereka di suruh berkelahi dengan musuh yang banyak dari pada melihat istri Bosnya, Bukannya baik mereka juga akan mati fisik batin, hanya karena Dinda istri Arkan menatap mereka atau tersenyum pada mereka. Arkan terlihat sangat obsesif.
Mereka juga tidak ingin melihat iblis Arkan bangkit dan menyiksa diri mereka masing-masing.
Lebih buruk Dari Giovano, pikir semuanya.
*
Arkan masih diam fokus dengan kemudinya Dinda juga sedang asik menikmati pemandangan malam.
Eh.. tunggu kok perasaan Dinda gak enak kenapa?
"Kak Kita berhenti kepinggir jalan dulu," ucap Dinda seketika Arkan menurutinya berhenti ke tempat yang sepi dari mobil dan motor.
Salah, firasat Dinda yang minta berhenti di pinggir jalan justru membuat mereka hampir terserempet mobil kontainer besar.
Jarak yang tipis sebelum Arkan mendekatkan motornya ketrotoar mobil lebih dulu melaju cepat, sigap Arkan memeluk Dinda dan melindungi Dinda dari kepingan bangunan atau benda tajam lainnya.
Bau darah.
Dinda seketika melihat lengan Arkan sobek dan tertancap kaca.
Tidak lama datang semua warga berkumpul di tempat kejadian.
Posisi Arkan sudah turun dan motor dan Dinda baru saja turun. Beruntung hlem masing mereka pakai.
"Haah, kak darah," ucap Dinda fokusnya yang sebentar menatap truk itu lalu langsung melihat lengan Arkan yang melindunginya.
"Gak papa," sahut Arkan dengan acuh wajahnya menatap mobil besar bermuatan kotak panjang atau box besar.
Dengan melihat wajah Arkan yang memandang ke arah lain, Dinda perlahan mencabut kaca yang berukuran sedikit besar dan terlihat oleh matanya.
"Aarg.." Ringisan pelan Arkan hampir mirip desisan perih.
Dengan telaten Dinda mengikatnya dan menutup lukanya, pertolongan pertama sebelum sampai rumah.
"Kita pulang," ucap Arkan yang merasa Dinda sudah selesai membungkus lengannya.
Arkan menatap wajah Dinda yang basah karena menangis, walaupun pakai helm Arkan masih bisa tahu..
"Iya." Suara serak menangis Dinda.
Datang seorang warga menghampiri Arkan dan Dinda.
"Kalian gak papa, Ayo kepinggir dulu biar di obatin," ucap salah satu warga itu.
"Enggak papa Pak, Terimakasih, Kita langsung pulang saja, terimakasih tawarannya," ucap Arkan dengan sopan.
Salah satu warga mengangguk mengerti.
" Oh ya udah kalo gitu, hati-hati ya," ucap salah satu warga.
Tidak lama Arkan pergi bersamaan itu motor Yuda datang dan melihat Dinda menjauh bersama Arkan.
Yuda menelpon seseorang.
"Jalan utara deket penyebrang, jam 19.12."
Kata Yuda di telponnya lalu mematikan sambungannya dan pergi tanpa putar Arah.
Di markas.
Diyo dan Beto menyelesaikan tugas hari ini bukti terkumpul satu persatu.
*
Sampai di rumah Arkan langsung memasukan motornya ke garasi.
Dinda juga langsung masuk dan menyiapkan pakaian Arkan dan pergi menyiapkan kotak p3k.
"Kakak Mandi dulu," ucap Dinda dengan wajah sedihnya.
Arkan menurut saja dan pergi mandi. Air yang mengalir terlihat juga busa bercambur dengan darah.
Keluar kamar mandi Dinda menunggu Arkan.
Dengan pelan santainya Arkan duduk di mana Dinda berada dan menyuruhnya.
Lengan kekar dan perut kotak-kota dada bidangnya terlihat sangat bagus dan... menggoda Dinda.
Arkan tidak menggunakan atasan sekarang.
"Kakak gak pake bajunya, ada aku disini emang gak malu," ucap Dinda langsung fokus pada Luka di lengan Arkan.
"Ini punya kamu," ucap Arkan dengan mudahnya. Dinda mendengus kesal.
Dengan telaten dan pelan Dinda fokus mengobati Luka Arkan.
"Kakak ada yang ke gores lagi gak?" Ucap Dinda berusaha memecahkan keheningan lagi.
Dinda melihat kedua tangan Arkan mengepal dan terlihat sangat keras ketika Dinda memberikan betadine.
Dinda berdiri di belakang samping Arkan merasa ngilu dan nyeri sendiri padahlah Arkan yang punya luka.
Sebentar lagi Dinda selesai.
"Bagus selesai." Melihat hasil mengobati luka di lengan Arkan Dinda menatap wajah tenang Arkan yang memejam.
Tanpa sadar tatapan Dinda turun kebawah melihat bentuk perut Arkan lalu bahu yang terluka waktu itu juga ada luka di perutnya.
"Bekas lukanya besar," ucap Dinda pelan. Arkan perlahan membuka matanya seketika menatap Dinda.
Arkan Bergeming.
Dinda mengambil sesuatu seperti salep di kotak p3k. Lalu mengolesi di perut dan juga beberapa tempat luka lainnya. Supaya bekas luka tersamarkan.
"Kamu ngapai?" Suara besar Arkan membuat Dinda seketika malu. Dinda langsung meneggakan tubuhnya dan meletakan salep di tempatnya.
Jangan-jangan Kak Arkan mikirin Dinda lagi mesum.
"Ya ngobatin ini lah lukanya yang berbekas disamarin." Alasan yang semoga aja di percaya tapi, tidak percaya sama sekali.
Dinda pasti sudah mengamati tubuh bagian tasnya lama. Pikir Arkan.
"Kamu mau nyentuhkan, sentuh aja, itu punya kamu," ucap Arkan dengan santai. Bukannya senang di izinkan Dinda malah mencubit paha Arkan.
"Aw.." kaget Arkan. Sebenernya tidak ada apa-apanya cubitan Dinda, Arkan sengaja kaget.
"Apaan sih. Malu," ucap Dinda seketika Arkan menyeringai.
"Cuman kita berdua."
Seketika Dinda menjauh dan berdehem.
Oh iya belum makan apapun dan belum mandi Dinda langsung berlari kekamar mandi dan sekaligus menyambar pakaiannya diatas kasur.
Arkan tersenyum tipis dan diam melihat Dinda masuk kamar mandi.
Seketika Arkan mengambil kaos hitamnya lengan pendek dan memakainnya sambil berdiri. Punggungnya yang terlihat ada bekas luka tapi, sudah sangat lama dan samar, Selama ini tahunya jika Tubuh Arkan bersih dari luka dan tato sebenarnya banyak hal yang Arkan lewati dan membuat tubuhnya juga terluka. Sebelum bisa seperti ini.