
Bekerja di ruangan sang ayah membuat Arkan merasakan jika ini masih hangat dengan bekas Ayahnya bekerja.
Perusahaan yang didirikan dengan keringat dan darah Ayahnya sendiri Perusahaan yang menopang perusahan besar di Indonesia dan Jerman. Perusahaan Kakeknya saja harus bergandengan kerjasama kuat dengan perusahan MC.
Suasana yang tak berubah sejak dimana pemilik pertama masih berusia dua puluh lima tahun dan baru menyukai dan bersama ibu Arkan yang baru saja berusia dua puluh satu tahun muda bukan,
lalu mereka memiliki Arkan dan mereka juga pergi sebelum sempat melihat tumbuh kembang Arkan hingga sampai Arkan bisa berdiri di ruangan ayahnya menghadapi orang-orang masalalu orang tuanya.
Menyedihkan menjadi Arkan. Menyenangkan sekali menjadi Arkan jika orang melihat Arkan adalah putra tunggal pewaris tunggal juga lelaki tampan dengan wajah datarnya.
Tidak ada yang bisa mendapatkan hatinya selama ini karena Hati Arkan hanya untuk orang yang spesial di hidupnya.
Haah.. Foto..
Tidak disimpan atau di sembunyikan masih ada disini dan masih sangat baik terlihat ayahnya begitu muda dan ada satu foto di belakang foto ayahnya Foto ibunya juga Giovani dan istrinya.
"Siapa yang merawat ruangan ini," ucap Arkan pada orang yang menjadi moderator juga pengurus di perusahaan ini.
Alejandro namanya.
"Saya sendiri Tuan saya meminta bantuan pada petugas untuk membersihkan semua ruangan dan saya juga yang mengawasi langsung. Semua barang tidak boleh berpindah tempat karena Tuan Alano tidak menyukai barangnya bergeser dan berpindah." Pejelasan Alejandro cukup membuat Arkan mengangguk paham.
Lelaki berusia empat puluh tahun lebih itu mengangguk sopan ketika Arkan berbalik menatapnya yang tadinya membelakanginya.
"Aku dengar Papa Memiliki rumah lain di Swiss," ucap Arkan yang tahu dari Rayhan.
"Iya Tuan saya akan mengantar anda kesana,"ucap Alejandro dengan sopan.
"Hem... Setelah pekerjaan ini, Tolong juga beri tahu teman-temanku untuk menginap disana," ucap Arkan seketika Alejandro terdiam.
"Orang yang datang dan masuk ruangan ini sebelum anda," ucap Arkan melanjutkan ucapannya yang sebelumnya.
Alejandro mengerti.
*
Dinda membayangkan betapa indahnya jika dirinya yang membagikan undangan itu untuk temannya.
Haah sudahlah itu hanya imajinasi yang tak akan menjadi kenyataan.
Dinda hanya akan menjaga diri dengan baik sakit memang melihat yang di suka menyukai yang lain harusnya Dinda tidak bilang kalo Dinda menyukai Kak Arkan waktu itu tapi, ya basi sudah semuanya.
Sekarang sudah sakit baru menyesalinya, Dinda duduk disamping Syifa yang sibuk membuat Desain untuk undangan seseorang kata Syifa kakaknya undangan ini harus sesuai pendapat Dinda karena Syifa malu menanyakannya pada yang Lain.
Memohon hingga setengah jam dan meneror Dinda lewat telponnya membuat Dinda akhirnya luluh.
Saat ini setelah pulang kerja dan main sebentar dari tempat Kiran Dinda mampir kerumah Ayah Syifa.
Sekalian nginap katanya mau mengajak main dandan-dandanan ala putri kerajaan. Gak masuk akal kan, masa iya, yang mau nikah Kakaknya yang suruh jadi model Dinda yang suruh kasih pendapat saran Dinda.
Aneh.. Dinda gak mengerti dengan ulah absurd Syifa yang tobat ini.
Iya, Tahu kakaknya sudah tobat tapi, kalo gini cara orang lagi patah hati di suruh ujian nahan sabar, Ngeselinkan.
Tapi, Tak apalah Syifa kakaknya juga tidak tahu kalo Dinda sudah mengetahui semuanya.
Sekarang selesai separuh Desain Dua jam berlalu baru satu halaman dan itu belum ada seratus persen.
"Kak.. Mang harus banget sempurna b ajalah nanti juga tuh undangan di buang ama yang nerima," ucap Dinda acuh mulai dengan sifat bar bar yang lama terpendam kini bangkit dari kuburnya.
"Ya Allah... Dinda kamu bikin gue down klo lo ngomongnya gini, Ampela mulu gue ngasih lo, Hati gue dah habis buat lo," ucap Syifa.
Sabarkan Syifa karena saat ini Syifa tidak tahu jika Dinda sedang kesambet setan ngeselin.
"Ya gak bakalan lah, emangnya undangannya dari kertas orang ini proyek cetak pertama gue buat seratus undangan dan yang di undang itu kerabat sama kolega yang di percaya, gak banyak kok, dan bikinya dari kaca dan khusus," ucap Syifa panjang lebar.
"Nah apa lagi itu kak, Tiba-tiba Pyar... Pecah undangan musnah, apa lagi sebelum di bagiin," ucap Dinda dengan senyum jahilnya. Tudak ada hati ketika membuat raut wajah Syifa kesal sekarang.
Seketika Syifa menghembuskan nafas kasarnya.
Punya ade satu baru di akui kemarena ngeselin minta ampun coba kemaren Syifa gak ngambil hidayah dah abis mulut Dinda Syifa robek-robek.
"Kok kayaknya gue curiga deh," ucap Syifa seketika membuat Dinda terdiam pura-pura tidak tahu apapun.
"Lo gak suka banget sama undangannya kenapa, Lo ada masalah apa sama undangannya," ucap Syifa seketika membuat Dinda kena batunya sendiri.
"Bentar kak aus minum dulu," ucap Dinda bergegas lari kedapur dan segera minum air dan menatap gelas air. Syifa menggeleng ada saja, tapi, lucu juga kalo Dinda hampir ketahuan seperti ini.
Sebelumnya maafkan Syifa kakaknya ini sudah bersekongkol dengan orang yang membuat rencana.
Tidak lama ibunya datang dengan beberapa paper bag besar dan juga beberapa taplak meja baru.
"Sini mah biar kita aja," ucap Syifa membantu mamanya bersama Dinda membagi Paper bag itu.
Syifa langsung mengajak Dinda ke kamarnya dan meletakkan semua kekamar Syifa.
Sebenernya harusnya di kamar Dinda. Tapi, tidak juga nanti ketahuan jadi gak...Ah.. pusing sudahlah permainan ini seperti susunan teka teki jika Dinda tahu bocorannya.
Beberapa jam lalu Kakek dan Rayhan baru sampai di bandara Internasional Indonesia.
Di sana di ruangan lain Giovano dan Pak Jersey juga sudah meninggalkan ruangan itu untuk mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Apa fungsinya mereka semua datang tanpa Arkan tahu?
Fungsinya hanya untuk melihat apa yang akan Arkan lakukan untuk menutup permainannya dengan Gabriel Qnciz.
Jika Rayhan jelas tak tega dan Gabriel akan semakin marah, maka dari itu biarlah Arkan saja.
Arkan baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke rumah sederhana yang Alejandro bilang.
Rumah mewah seperti ini di bilang rumah sederhana.
"Maaf Tuan jika saya lancang tapi, demi bisa menjaga perusahaan dan rumah Tuan Alano saya dan istri saya tinggal disini juga," ucapnya ketika berjalan masuk kedalam.
Suasanaya tenang tidak terlalu banyak pelayan dan keluar masuk rumah juga biasa Arkan suka seperti ini.
"Kenapa tidak ada yang menyambut apa karena?" ucap arkan terhenti bersamaan Langkah kakinya.
"Iya, Tuan Alano tidak suka terlalu banyak orang jadi beliau hanya mempekerjakan saya dan dan beberapa maid juga tidak bisa sembarangan orang masuk kerumah ini dan yang pertama kali masuk orang asing adalah teman-teman anda Tuan," ucap Alejandro.
Arkan mengangguk.
"Tidak masalah, Keluarga anda dan Anda bisa tinggal disini sampai kapan pun anggap saja keluarga lagi pula papa mengenal anda tidak setahun dua tahun bahkan sampai beliau tiada Anda menyambut dan bicara baik dengan saya," ucap Arkan dengan tenang tanpa ekspresi.
Alejandro tertegun sebentar lalu tersenyum.
"Terimakasih Tuan saya akan menjaga pesan anda terimakasih atas kemurahan hati anda Tuan," ucap Alejandro dengan bangga dan begitu senang.
Alejandro sangat tak menduga jika saat ini yang berdiri didepannya adalah putra dari bosnya dan juga orang baik yang membuatnya masih bisa hidup sampai sekarang.