Arkan Dinda

Arkan Dinda
Seperti Biasa saja



Seketika suara rusuh datang dari Pintu dan langkah berantakan hentakan tak mengira pijakan, Kiran penyebabnya.


"DINDA... ! SELAMAT PAGI... DINDA.... HAAAIII... DINDA KU TERSAYANG KAMU PIKET SENDIRI, SINI NONA BANTU DULU BOLEH," ucap Kiran tidak biasa.


Seketika Dinda memberikan sapu dengan mencondongkan tubuhnya kebelakang. Dinda juga takut Kiran berteriak lagi.


"Gila rame banget cuman dua orang aja," ucap Rita yang sedang berdiri menghadap kelas Dinda dan Kiran.


Seketika Rita terkekeh sambil berbalik seketika itu juga kekehannya berhenti.


"Hem.. Kelas dulu," Deheman Rita lalu membuat alasan sambil berjalan seketika menghentikan langkahnya.


Tangannya terulur Rita seketika menarik kerah baju belakang Lorenzo.


Lorenzo yang mau pergi berbalik arah langsung berhenti.


"Apa?" Tanya nya dengan nada dingin Rita menatap marah seketika menggeret leher Lorenzo dan Lorenzo tertarik mundur kebelakang.


"Eeh.. eh... Kenapa lo tarik gue, Arkan tolongin guee...." ucap Lorenzo dengan miris dan sedih. Arkan diam saja mematung berpura-pura tidak lihat.


Begitu.. Itulah Arkan menyebalkan satu kata ketika Lorenzo dalam hal menjengkelkan, Arkan akan diam dan berpura-pura tidak tahu.


Arkan berbalik pergi ke arah berlawanan meninggalkan kelas Dinda.


"Dinda... Lo kek takut gitu emang gue ngapain lo," ucap Kiran sedih matanya mulai sayu.


"Lo.. Gendang telinga gue mau somplak gegara suara toak lo, Kiran," jelas Dinda. Kiran terdiam seketika peka dan ya, tersambung pikirannya dengan penjelasan Dinda, Kiran terkekeh malu sambil mengambil sapu dan Dinda kembali menegakkan tubuhnya.


"Eh.. Eh.. Mau kemana lo?" ucap Kiran.


"Mumpung sepi gue mau ngepel kilat." ucap Dinda. Kiran mengangguk angguk saja.


Di kelas Arkan ternyata. Lorenzo waktunya jatah piket kelasnya dan Lorenzo selalu lari ketika di minta menyapu, selalu memiluh menghapus coretan papan tulis saja atau buang sampah. Tapi, kali ini Rita membuatnya double, biarin, Lorenzo biar tahu rasanya nyapu ruangan dan nata meja kursi. Dia selalu biasa ngoyorin lantai tapi, gak pernah mau ngerapiin.


Di lapangan Basket Arkan melempar bolanya masuk ke ring dari tengah lapangan ke ring sebelah kiri.


Berdiri menghadap Ring sebelah kiri.


Suara langkah terdengar Arkan, seperti sedang lari kencang dari arah parkiran.


"Woy... Kan." Justin berteriak dengan keras.


Tak lama Bagus datang.


"Brengsek lo, Lo minta Lorenzo buat nyuruh kita dateng pagi-pagi ngapain." Kata Bagus dengan mengambil bola yang sudah masuk ring dengan mudahnya.


Bagus menangkapnya dan memantulkannya sambil mendekat ke Arkan.


Justin mengambil kursi yang nganggur di dekat tiang depan kelas sepuluh.


"Ada apa Kan?" ucap Justin sambil duduk.


"Gue gak nyuruh kalian dateng pagi, Gue cuman minta Lorenzo jemput Rita buat nemenin Dinda dan Bilangin Yuda anter Kiran kesekolah, Gue ke pagian bawa Dinda kesekolahan."


Penjelasan Arkan seketika mengubah raut wajah Bagus dan Justin


Sekerang tujuan mereka adalah Lorenzo sedangkan yang baru di pikirkan baru saja datang dari membuang sampah.


"Apa.." Tanya Lorenzo ketika akan berjalan menghampiri teman-temannya malah di tatap Aneh.


"SIALAN LO. SINI LO, GUE GANTUNG LO DI POHON DEKET PARKIRAN," teriak Bagus kesal pada Lorenzo.


Gara-gara Arkan dirinya tidak bisa sarapan bersama Lala dan neneknya dan karena Lorenzo dia jadi terburu-buru.


Lorenzo terkejut dan langsung memutar langkah seribu. Menjauh dari Bagus. Sedangkan Justin hanya bisa menggeleng tak percaya dengan ulah Lorenzo dan Bagus yang tidak terima.


Bagus dan Lorenzo yang sudah berlari keliling Kelas mungkin, tapi disini Di lapangan Arkan memainkan bola Basketnya sama seperti tadi.


"Ngomong apa Dia?" Suara Datar Arkan.


Justin yang sedang memainkan ponsel seketika menatap Arkan dari tempatnya duduk.


"Dia bilang gak tahu apa-apa tapi, pas Yuda nekat nyirem bensin dan mau bakar dia baru di bilang. Kalo atasannya gak suka sama Lo yang sekarang mimpin Mafia tengkorak... udah itu aja tiba-tiba dia kejang dan kaya mati gitu, Pas Yuda meriksa lehernya kira disana ada sesuatu ternyata bener. Ada alat peledak. Belum Sempat dia cerita semua ternyata dari tombol perintah ledak jarak jauh buat dia mati di tempat duluan dan leptop Devano tiba-tiba heng kayak gak kendali pas selesai ngambil cips itu dari falsdisknya yang di lepas dari laptopnya, untung Dia pake Laptop lamanya kalo pake Laptop baru yang isinya data-data penting juga ada data tentang Lo dan Mafia tengkorak habis udah." Penjelasan Justin seketika membuat Arkan menghentikan pantulan bolanya.


"Lo udah nemu bom di rumah Dinda?"


Arkan mengangguk.


"Bom Mainan tapi, bisa buat korbannya hancur berantakan kalo sampe ledakannya langsung, Kalo dari jauh kemungkinan Koma." Kata Arkan dengan tenang.


Wajah justin langsung pias.


"Kita gak nyangka kalo sejauh ini sampe ke petasan militer."


Arkan menoleh, petasan Militer? Justin peka Arkan tidak paham maksudnya.


"Bom bahaya mengancam jiwa," jelas Justin.


"Ada Rencana lagi Kan," ucap Justin tiba-tiba seperti memberi saran nada nya bicara tapi, sebenarnya bertanya.


"Hem.. Gue masih belum yakin kalo kita bisa pake rencana itu tapi, Gue gak mau sekarang Karena lingkungan sekolah lebih bisa mereka jangkau, lingkungan Kuliah juga," ucap Arkan datar.


Justin masih berpikir lagi.


Arkan terdiam berpikir.


"Nah.. Tentang Sms waktu itu.. Itu juga lenyap dalam beberapa menit, gak bayang gue sepinter apa heckernya." Kata-kata Justin membuat Arkan semakin teliti menyusun rencana di otaknya.


Arkan tidak mau gegabah Arkan akan pastikan dulu siapa lawannya dan apa kaitan dendamnya dengan Arkan hingga Dinda terseret paksa sampai kejadiannya seperti tadi malam.


"Brengsek," umpatan Arkan memantunkan bolanya dengan kencang kelantai hingga melambung tinggi. Dengan tepat Arkan menangkapnya pas.


Justin hanya diam saja tidak akan bicara jika Arkan seperti ini.


"Mau kemana?" ucap Justin ketika Melihat Arkan pergi membawa bola basket.


Arkan tidak menjawab dan terus berjalan hingga sampai di perpus setelah mengembalikan bolanya ke gudang alat olah raga.


Bagus seketika menangkap Lorenzo didepan kelas Dinda dan Kiran Ketika Lorenzo akan masuk Kiran menutup pintu. Tepat sekali dahi dan hidung Lorenzo berbenturan dengan pintu. Dengan mudah juga Bagus mendapatkannya.


"Din Apaan tadu?" tanya Kiran yang kaget.


"Palingan Kak Bagus Ama Kak Lorenzo. Dari tadi kejar-kejaran aneh kek kucing tikus." Sahut Dinda enteng.


Kiran mengangguk mengiyakannya.


Melanjutkan pekerjaannya setelah itu istirahat di kantin sekolah. Hanya duduk saja.


"Mau pesen apa lo, gue traktir masih pagi jadi lo pasti gak mau jajan kan," ucap Kiran dengan santainya. Dinda malu tersenyum canggung.


"Gue.. Gak ada beli apa-apa gak usah, jugaan sarapan gue tadi pagi."


Alasan Dinda menolak tawaran Kiran. Dinda mencari tempat duduk dan Tidak lama Kiran datang membawa dua roti tawar panggang.


"Gue pesen dua makan sewadah bareng aja. Gue gak abis makan segini," ucap Kiran memaksa Dinda.


"Ogah... gue kenyang," ucap Dinda menggeleng sambil menenjauh. Seketika Kiran menarik Dinda dan Hap... Roti masuk mulut Dinda dan Kiran merasa bangga.


"Makan jangan di lepeh apa gue beliin lagi tiga roti," ucap Kiran mengancam Dinda. Dengan nurut Dinda menatap Kiran, lalu mengangguk patuh. Dinda mengunyahnya dan memakannya.


Sampai habis. Dari luar halaman sekolah seseorang masih mengawasi sekolahan Arkan dan berlalu begitu saja.


Di perpustakaan. Lorenzo dan Bagus masuk lalu duduk tenang di samping Justin.


"Kita gak nyangkan mobil van yang waktu ngincer Dinda ada di depan sekolah. Lama berhenti. Tapi, gak ada tanda-tanda orang turun." Jelas Bagus dengan tenang. Lorenzo juga mulai serius.


"Iya.. Waktu gue naro tuh sampah di bak sampah depan tenyata tuh mobil masih aada dan lama." Kata Lorenzo, menimpali ucapan Bagus.


"Kayaknya mereka belum Lama setelah Yuda dateng nganter Kiran." Tambah Lorenzo lagi dengan raut wajah serius.


"Seperti biasa saja, Tidak terlalu ketara, Mereka lagi nguji kita, Kalo kita keliatan gelisah bisa jadi mereka langsung keluarin semua rencananya pas kita di luar sekolah."


Celetuk Justin tiba-tiba. Tidak lama Rian masuk tiba-tiba dengan meletakan falsdisknya di atas meja dan menggeser laptopnya pada Arkan.


Rian pergi tapi, tertahan oleh Lorenzo dan Justin. Bagus juga bangkit.


"Gue cuman mau Dinda selamat. Kalo dia milih Arkan gue gak masalah tapi, Kalo Dinda dalam masalah karena nyelametin Arkan baru gue marah, Selagi ini bukan ulah kalian gue akan bantu sebisa gue," jelas Rian dengan santai dan tenang.


"Kalian bisa hubungin gue kalo kalian perlu kalo gak yaudah.. Gue lebih seneng karena gak perlu repot," ucapannya angkuh Lorenzo tidak bisa menahan diri seketika Justin menghalanginya.


Rian tersenyum remeh lalu pergi keluar dengan santai.


Tidak lama sekolah perlahan ramai dengan siswa yang muali berdatangan dan Para guru juga mulai berdatangan.


Seketika Arkan teringat perkataan seseorang semalam ketika sampai rumah setelah dari tempat Dinda.


'Jangan buat mereka curiga kalo lo keturunan Berathadika mereka masih belum tahu itu, sampe lo nunjukin diri lo, Kakek lo Gak akan tanggung-tanggu buat perhitungan ngelindungin cucunya.'


Kata orang yang semalam bicara dengan Arkan dan itu membuat Arkan harus setenang mungkin sekarang bersikap seperti biasanya.


...CAST.......







[Ketua kelas Dinda sama Kiran Ini yang namanya Dodi]



[Rian yang suka sama Dinda dan selalu cari masalah sama Arkan dan temen-temennya. Kadang bisa baik tapi, bermaksud]



[Ini Yuda...


Gaees.. Dia yang selalu buat mudah Arkan di Mafia tengkorak dan temannya Justin juga...]