Arkan Dinda

Arkan Dinda
Apa bisa bernafas lega



Dinda di jemput Gressia setelah pulang sekolah bukannya kerumah tapi, mampir ke rumahnya Syifa disana ada bibi dan juga pakde Satpam.


Dinda masuk dan langsung menerobos kedapur.


Tidak terlalu penting tapi, semua yang teman-teman sekalas bilang kalo Maulana di tangkap ketahuan pake barang haram. Terus Lily sama Gengnya gak ada yang jail lagi sama Dinda.


Bagus sih hidup udah normal di bulan ini termasuk sekolah dan jauh dari kata buruk tapi, satu orang, ya Violetta dan ya Tahu lah gimana Kakek dan Nenek desak Dinda.


Dinda menghela nafasnya. Menetralkan degup jantung juga rasa kesalnya.


Dinda melangkah ke taman belakang duduk menatap kedepan.


Apa semua bisa di hindari, Dinda kenapa merasa takut tiba-tiba.


Di lokasi lain Arkan dan Teman-temannya berpisah ini adalah tugas terakhir Arkan dan Rian pergi ke tempat Alderos ada.


Masuk kedalam dengan setelan jas rapi juga formal.


Seorang perempuan cantik mendekati Alderos dan mengatakan ada dua orang yang ingin bertemu dengannya.


Alderos menatap heran asistennya hingga sebuah pintu terbuka. Arkan masuk bersama Rian tanpa basa basi.


"Sebentar," isyarat Alderos Sozhak pada Asisten perempuannya yang akan mencegah Arkan.


Arkan menatap dengan tatapan Datar dan tersenyum miring.


Bangkit dari duduknya Alderos menenteng pistol.


"Tidak bisakah Keturun Alano membuatku tenang ayolah Putraku sangat menyukai istrimu dan Istriku sangat cinta mati dengan Alano ayahmu dan di tambah adikku juga menyukai ayahmu, Apa sebegitu tampan penting kaya raya, sampai Lametta dan istriku memilih pergi demi lelaki sialan. Kau tahu istriku mati karena sangat mencintai Alano dan setelah melahirkan putraku dia bunuh diri, Lametta mengikuti Gabriel dan bekerja sama membunuh mereka karena tidak bisa memiliki Alano maka siapapun tidak bisa," ucap Alderos tanpa di minta.


"INI TIDAK ADIL KAU TAHU, AKU SUDAH SANGAT KERAS BEKERJA UNTUK MEMBUAT MEREKA BANGGA TAPI, MEREKA TETAP MEMILIH AYAHMU YANG TIDAK ADA APA-APA SAMPAI TINGGAL NAMA SEKARANG! Dan putraku cinta mati dengan wanitamu, Lihat saha LIHATLAH AKU AKAN MEMBUAT PENGADILAN MENGULUR WAKTU." Bentakan Alderos Sozhak di depan wajah Arkan yang bergeming.


Rian menatap tidak percaya. Jadi ini maksudnya sulit mengetahui alasan tapi, Alderos menceritakannya sendiri.


"Tapi, jika anda sudah menghabisi mereka kenapa anda membunuh dua orang lagi yang tidak bersalah." Seketika tatapan dan Suara Arkan membuat Alderos terdiam.


"Kau! Apa maksudmu?" Tunjuk Alderos di wajah Arkan.


"Anda membunuh kedua orang tua istri saya dan membuatnya seolah kecelakaan anda juga memalsukan hasil visum, bukti yang Lametta dan Gabriel punya saya sudah dapat yang sebenarnya ternyata Anda semua dalangnya. Tinggal anda yang harus menerima hasil dari bukti yang anda simpan," ucapan Arkan seperti sangat menusuk Alderos yang sudah ketahuan semua kebohongannya dengan tatapa marah dan emosi.


Ucapan Arkan terasa seperti jarum yang tajam, seperti ucapan anak yang ingin balas dendam atas kematian ibu dan ayahnya.


"Heh," senyuman remeh dan memainkan pistolnya. Arkan mendekat seketika Alderos terpojok dengan mengacungkan pistol di dahi Arkan.


Arkan tersenyum.


Alderos marah takut dan tidak ingin masuk penjara.


Tanpa tahu gerakan cepat yang Alderos sadari dari orang di hadapannya. Arkan sudah mengambil pistolnya dari tangan Alderos menjauhkannya dan menjatuhkan beberapa peluru dan membuat pistol berantakan di lantai.


"Anda tidak bisa pergi atau berkutik jangan kira Anda melawan anak SMA tanpa Ilmu dan otak," ucap Rian langsung bergerak mencari hal lain di dalam ruangan itu. Mencari barang aneh atau hal lainnya seperti Dokumen ilegal.


Di lantai bawah semua anak buah Alderos datang seketika itu semua karyawan di minta keluar dan pulang jika ada yang bertanya dan ingin tahu mereka langsung di bunuh saat itu juga.


Arkan mencekik leher orang tua yang ada didepannya.


Jangan mengira Arkan orang tidak tegaan jika dalam hal terpaksa Arkan bisa berubah sepert monster jika di perlukan. Contohnya sekarang.


"Anda sudah banyak bernafas lega sekarang giliran semua korban yang yang bernafas lega, Beruntung dua lelaki itu berkata jujur dan memberikan informasi akurat tentang keberadaanmu," ucap Arkan . Maksudnya adalah dua orang yang Arkan ancam di pesawat waktu itu dan terbang bersama Silla dan Citra Rosella.


Kabarnya juga Arkan meminta mereka bekerja biasa karena mereka sudah berbuat benar dengan membantu Arkan mencari informasi. Jika bukan karena keduanya Secorpion dan Black Rose tidak akan selesai semudah ini, pasti akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Hanya beberapa waktu mereka bekerja karena nama baik mereka perlu di bersihkan.


"Ini data penjualan anak di bawah umur, Ini adalah berkas tentang jual beli barang haram dan ini semua adalah berkas pemerintah yang bekerja sama dengannya makannya anda bisa sangat baik berusaha, ini semua ilegal," ucap Rian seketika membawa semuanya dengan koper dan tas besar yang ada di ruangan itu.


Rian keluar lebih dulu setelah Rian sampai lift. Rian melempar koper masuk lift dan di dalam lif seseorang pakaian seperti ob menangkapnya.


Langsung membawa pergi dan turun ke lantai parkiran di belakang.


Arkan masih menahan Alderos.


Seketika Rian kembali Seketika itu suara bising terdengar.


"Pemanasan," ucap Arkan datar.


Seketika pintu di buka kasar Perkelahian dengan semua anak buah Alderos yang datang Arkan dan Rian.


Alderos tidak bisa melarikan diri karena tangannya di ikat di kaki meja kerjanya.


Arkan tidak kewalahan. Lawan Rian pun diambil alih Arkan ketika akan menyerang Rian di bagian kepala belakang.


Mereka berdua siap dengan kuda-kuda menghela nafasnya seperti orang yang habis berkelahi mati-matian dan olah raga lari atau olah raga adu jotos.


Arkan berdiri tegak Seketika membereskan jasnya yang rapi.


Tidak lama di bawah beberapa mobil polisi berdatangan.


Arkan dan Rian sudah keluar di pintu belakang bersama Alderos.


Kepala kepolisian setempat melihat Arkan dan Arkan juga melihatnya mereka saling mengangguk.


*


Pulang ke Jakarta. Arkan bersama semua temannya hadir dalam sidang yang tanpa ada jeda ini. Hanya ada Giovano Pak Jersey ada Rayhan dan juga Shilla.


Silla hanya ingin lihat siapa orang yang membuat ayahnya tinggal namanya saja sekarang.


Terdengar ketukan Palu hakim tiga kali.


Hakim menjatuhkan hukuman mati dan pada kasus pembunuhan berencana dengan korban empat orang bukti tentang rencana T3Y langsung di setujui Hakim untuk di batalkan. Pengadilan juga meminta jika semua perusahaan farmasi harus di periksa kemudian di seterilkan dari orang atau benda yang kemungkinan berbahaya.


Lima jam sidang berlangsung sekarang semua sudah selesai Pak Jersey dan Giovani bicara pada para jaksa dan juga hakim terlihat saling menjabat tangan.


Silla menghampiri Arkan.


"Makasih Kak, Maaf Sekali lagi karena aku maksa dateng kemari," ucapnya.


Arkan menatap dan menghela nafas terpaksa senyum dan mengangguk.


Silla pamit pergi bersama Veronica yang menunggunya.


Sampai Arkan di rumah dengan rambut yang acak dan dasi sudah didalam sakunya. Arkan masuk membawa kopernya melihat suasana Rumah sepi Arkan menatap Rettrigo di dekat gazebo sedang merokok.


"Ret," panggil Arkan.


Dengan cepat Rettrigo datang.


"Kemana?"


Sebenernya Rettrigo ragu.


"Nona di ajak Nona Thaliya keluar Gressia mengikuti Nona Terpisah kurang paham bos kemana."


Arkan mendesah kesal pergi ke garasinya dan mengambil motor meminta Rettrigo membereskan kopernya di bawa masuk ke dalam rumah dan Mengikutinya pergi.


Arkan keluar dari rumah dengan mengendarai Klx hitamnya keluar dan tak lupa helm Dinda Arkan bawa.


Arkan menelpon Dinda sambil mengurangi gasnya.


Tidak bisa! sudah lelah ingin melihat Dinda malah di buat kesal.


Arkan beralih menelpon Omnya Tidak ada balasan.


Seketika Ponselnya berdering dengan nama Kakeknya.


Arakan menepikan motornya dan mengangkatnya.


Seperti api kecil di siram bensin, Api menyala besar tidak terlihat dan tiba-tiba semua akan habis terbakar.


Tanpa pikir panjang lagi. Mengulur waktu terlalu lama Arkan pergi ke rumah utama.


Ada Semuanya disana termasuk mobilnya Om Rayhan


Di ruang Keluarga Arkan masuk tidak melihat Dinda tapi, Wajah bangga Thaliya langsung terlihat.


Nenek menghampiri Arkan dan memeluknya lalu menengkannya.


"Kakek, Pak Johan, sama Dinda ada di ruangan kakek, ada Syifa juga." Kata Nenek.


Seketika Rayhan merasakan aura membakar dari ucapan nenek, api besar kemarahan yang di tutupi ekspresi datarnya.


Rayhan seketika mendapat tatapan tajam Arkan.


Rayhan merasa ini bukan hal baik jika ada sesuatu yang sedang tidak baik di perpanjang. Pasti Kakek memaksakan kehendak seperti peraturan untuk Arkan lagi. Di tambah membawa Dinda dalam masalah ini.