
Thaliya memberikan Dinda minuman Dinda hanya tersenyum menerimanya.
"Lo tahu kalo Arkan itu pewaris tunggal," ucap Thaliya.
Dinda menggeleng dengan wajah Lugunya.
"Cih.. Gak usah berpura-pura, muka-muka kayak lo itu gak pantes bersanding sama Arkan, Seharusnya gue tapi, gue sepupunya selain sama lo kalo ada anak perdana mentri itu mau nikah sama Arkan gue biarin karena kedudukan mereka sepadan, Gak kayak lo," ucap Thaliya.
Dinda tersenyum menhan sesak seperti hinaan ucapan Thaliya.
"Lo... ! Asal tahu aja, Kalo lo bilang gak tahu itu gak mungkin kalo lo bilang lo gak bakalan di percaya itu mungkin karena Lo nama Lo udah jelek karena nunda kehamilan."
"Maksudnya?" Dinda tidak paham.
"Iya Lo pasti udah tahu kalo Arkan itu anak orang kaya raya, dan Lo cuman dari keluarga menengah atas gue rasa level lo belom bisa menyamai," ucap Thaliya sambil tersenyum ramah.
Dinda mengangguk.
"Pantas atau tidaknya saya bersanding dengan Kak Arkan itu bukan menurut penilaian Kak Thaliya yang cantik dan pintar, Anda juga calon dokter beda jantung, Seharusnya Keluarga itu sudah membuat saya tidak di pantaskan sebelum ijab kabul tapi, kenyataan Keluarganya menerima saya, Memang mereka terlihat tidak suka tapi, Semua orang mengekspresikan rasa suka dan sayang itu dalam berbagai hal ingat itu Kak, Saya lebih muda saya juga harus patuh, tapi jika salah, saya tidak akan diam, Tidak ada penekanan yang tidak bisa membuat saya tidak bebas," jelas Dinda membuat Thaliya menahan emosinya.
"Oh.. Gitu! Kenapa lo gak ngelawan waktu di tuduh itu, pinter juga lo jawab omongan gue, Kayknya lo terlalu sombong," ucap Thaliya membuat Dinda diam sekarang.
Dinda menatap Thaliya menyamping.
"Saya Tidak bodoh, saya tahu situasi mendukung atau tidak mendukung itu bagaimana, Saya bisa meletakan diri saya dengan benar, Dan saya sarankan jika anda membuat saya di permalukan di tempat ini hati-hati, Saya tidak ingin membayangkan kalo saya yang menang dari anda," ucap Dinda dengan sorot mata tajam dan gestur tubuh menantang Thaliya. Seketika mengumpat tanpa suara didepan wajah Thaliya. Thaliya membuang wajahnya kesal pada Dinda yang di kirannya mudah di pengaruhi.
Geram Thaliya. Dikira Thaliya Dinda perempuan yang mudah di bodohi ketika di marahi kakek ternyata keberaniannya keluar untuk beberapa waktu yang Dinda mau tidak asal berani bisa di tempat yang situasinya tidak tepat. Cerdas! Walaupun bukan perempuan pintar Dinda juga tahu tempat.
Thaliya memang berniat membuat Dinda malu tapi, sekarang malah dirinya di buat berpikir dulu karena ucapan Dinda.
Bukan, Thaliya jika tidak cerdas.
"Ok lah, Gue minta maaf karena buat lo merasa tertindas ucapan sama muka gue kurang kondisi baik kalo Liat lo disini apa lagi sama Arkan," ucap Thaliya menyindir terang-terangan tidak suka.
Di sini Arkan duduk bersama keluarga yang diamana Nenek ada disana setelah dari Kakek Arkan di panggil Neneknya.
"Dia cucuku, Arkan," memperkenalkan Arkan.
Seorang gadis sebaya dengan Thaliya sangat cantik dengan rambut pirangnya.
"Kalo gitu tampannya, Saya boleh tidak memberikan waktu untuk Fiona bicara dengan Arkan, cucuku juga belum bicara dengan siapa pun sejak tadi." Alasan perempuan dengan gaya khas kraton kebaya sanggul dan selempang kain jarik dengan benang emasnya.
"Iya silakan," ucap Neneknya Arkan.
Arkan dengan malas mengikuti perempuan yang didekatkan dengan Arkan sengaja.
Dinda dan Thaliya akan menghampiri Arkan tapi, melihat Arkan bicara dengan lain orang membuat Thaliya tersenyum miring.
"Dia cucu keluarga Ningrat dia juga belasteran jerman, gue ngerasa itu yang lebih cocok, ups.. Maaf gue gak kontrol omongan," ucap Thaliya sengaja memancing emosi Dinda.
Dinda tersenyum berbalik menatap Thaliya.
"Gak masalah, Semua tidak harus tentang cinta kadang ikatan bisnis dan teman baik tanpa perasaan itu boleh," ucap Dinda dengan tenang.
Thaliya merasa jika Dinda kesal senyuman miring Thaliya di sembunyikan dari meminum jus mangga.
"Oh ya.. Kalo gue di posisi Lo, Gue samperin dan tunjukin kalo Gue pasangannya, Setahu gue juga gak ada yang gak Jatuh cinta sama Arkan di pandan mata pertama," ucap Thaliya semakin memanasi Dinda.
"Oh baguslah berarti dia masih manusia normal, Simpel aja... Kalo pergi bukan milikku kalo gak pergi berti dia milikku," ucap Dinda santai.
Sekali lagi Thaliya kalah! Memalukan.
Thaliya ingin memancing emosi Dinda tapi, perempuan ini... Dinda pintar sekali menjawab bahkan Thaliya tidak bisa tahu kalo Dinda bisa sampai bicara hal itu menggapi Arkan dengan Fiona santai, di depan matanya sekalipun!
Dinda pergi menghampiri Arkan dan Thaliya melihat itu. Mengikuti Dinda di belakang. Ini adalah kesempatan membuat masalah dan Dinda di permalukan.
"Permisi!" Suara Dinda menyapa Arkan dan Fiona.
"Yaa.. Salam." Sapa balik Fiona dengan ramah.
"Kenalkan dia..." Arkan di hentikan Dinda.
Fiona tersenyum malu dan manis.
Thaliya mendekat dan saling melempar senyum dengan Fiona.
"Fiona, Dia ini anak Sma yang di nikahkan dengan Arkan umurnya muda dan juga Arkan, Jadi.. jangan salah kalo dia kesini cemburu," ucap Thaliya.
"Arkan itu sebenernya melakukan ini karena ada alasannya dia juga gak mudah dekat," ucap Thaliya lagi.
"Eh.. Maaf Dinda aku gak maksud, Maaf ya Arkan Aku gak tahu kalo kamu punya Istri aku kira kamu memang sendiri, Dinda kamu jangan salah paham ya," ucap Fiona tidak enak hati.
Seketika Arkan merasa ponselnya bergetar dan melihat nama panggilannya.
Arkan pergi berlalu menjauh seketika itu sebuah senyuman aneh di wajah Thaliya terlihat.
"Aku ingin ke atap bisa kamu temani aku sebentar aku ingin lebih dekat," ucap Fiona dengan wajah lugunya. Thaliya melirik Fiona.
Fiona lebih bahaya dari Thaliya, Thaliya bisa tahu wajah itu pasti menipu, liat saja nanti Dinda pasti tertipu.
Mereka bertiga pergi ke atap bersama bicara sepanjang lift naik ke atas sampai di atas Fiona menunjukan sikap aslinya dan Thaliya juga. Tidak, Thaliya memang sudah terlihat jahat oleh Dinda.
Seketika tangan Dinda di tarik paksa Fiona.
"Kalangan kelas Atas lo ambil pake cara menjijikan, Lo jual diri sama Arkan," ucap Fiona seketika di tatapan Dinda yang sedikit terlempar menjadi berdiri sedikit terhuyung didepan Fiona.
Fiona menatap dengan tatapan tajam.
Dinda heran sebenarnya ada orang warasnya gak sih kenapa Gak Thaliya gak Fiona orang yang ketemu Dinda bawaannya bully mulu.
Sebaiknya tenang dulu. Dinda menghela nafasnya pelan.
"Lo gak pantes Kalo Sepupunya aja selalu di tolak kalo lo yang gada harga bisa deket, ngaku lo, lo jual apa sama Arkan," ucapan Fiona di luar kata lembut dan terdengar sangat menyakitkan.
Dinda diam tenang dulu.
"Udahlah Fi, Gue kan bilang lo itu gak usah dateng, Ketemu juga kan, Arkan itu emang gak pernah deket siapapun, cewek apa lagi, Arkan itu sekali deket cuman sama Dia. Jadi mau Violetta aja udah gak ada kabar jangankan Violetta yang gak ad, Syifa aja tobat karena dia mikirin persahabatan sama adeknya ini," ucapan Thaliya.
Dinda di dorong mundur hingga berhenti pada pagar pembatas kaca di atap.
Ingatan tentang kecelakaan itu tembakan itu, Dinda seketika sesak nafas bergetar takut.
"Pergi!" Teriak Dinda.
"Heh.. Kenapa dia, Gila, oh ya ampun," ucap Fioan seketika menjambak rambut Dinda kebelakang badannya berdiri membelakangi Pagar kaca. Fiona dan Thaliya berdiri di samping Dinda menatap dari samping.
Hal gila Fiona bisa lakukan apapun karena Fiona tidak takut apapun. Termasuk melempar Dinda dari atap gedung hotel Posidion. Tapi, Fiona tidak ceroboh.
Cklek, suara pintu atap yang Fiona dan Thaliya lewati tadi, di buka dengan santai. Arkan melangkah dengan tenang menghampiri ketiganya yang tidak sadar tapi, Dinda sadar.
"Kalian berdua bisa pulang dengan nyaman kalo gak mau gue kasih kalian berdua pelajaran," ucap Arkan membuat mereka berdua berbalik dan menatap terkejut siapa yang bicara.
Dari belakang Arkan.
Indri dan Luna datang.
"Seperti ini kelakuan kalian berdua Baiklah berhubung, saya tahu tentang nenek kamu Fiona biar ini akan menjadi bukti kamu akan lebih keras lagi diajarkan sopan santun, Benar!" Jelas Luna dengan nada tegas.
"Thaliya, Calon dokter beda jantung itu belajar banyak menghargai seseorang bersikap baik, Tidak membuat masalalu kelam dengan merusak mental orang, bisa-bisa Bundamu tidak percaya kamu sudah belajar keras menjadi Dokter beda Jantung," ucap Indri kali ini.
Bingung mereka sekarang tertangkap basah. Apa yang harus mereka lakukan.
Mereka tidak bisa tenang.
Thaliya dan Fiona pergi lalu Luna dan Indir juga pergi mengikuti mereka. Arkan membuka jasnya dan menyelimuti Dinda.
"Kak.. Ta-takut," ucap Dinda gemetar.
Arkan langsung memeluknya dan mengusap punggungnya berusaha memenangkan Dinda.
Merasa pelukan Dinda kali ini lebih kencang.Arkan msih diam membuat Dinda tenang hingga akhirnya tenang Arkan membawa Dinda turun.