
Kini usia kandungan Dinda hampir masuk tujuh bulan dan Arkan di minta kakek untuk membawa pelayan tapi, Dinda tidak mau karena jika ada pelayan dirinya akan malas malasan. Dinda sekarang ada di salon tempat bundanya Rama melakukan perawatan setelah tidak ada shif rumah sakit.
Dinda duduk sambil melakukan spa yang baik untuk ibu hamil.
Di rumah kakek sebelum ke salon.
Dinda dan Arkan bertemu Rama dan Bundanya.
Tidak lama Thaliya datang dan melihat Dinda hamil lalu mendengus kesal pergi meninggalkan Dinda dan lainnya.
Sekarang Dinda sendirian di ruangannya tidak lama Bundanya Arkan selesai dan sekarang Dinda mungkin akan selesai sebentar lagi.
Dinda memikirkan kejadian pagi tadi ketika Thaliya menatap benci ketika Dinda duduk disebelah tidak sengaja Thaliya pergi.
"Tante tadi pagi Thaliya..." Suara Dinda yang datang menghampiri Bundanya Rama yang duduk tenang membaca majala.
"Hem.. Kenapa? Udah segerkan, Sekarang kita mau kemana lagi?" Setelah keluar dari tempat spa dan Salon.
Mereka masuk kedalam mobil yang sopirnya sendiri sudah menunggu sejak tadi.
"Apa Thaliya benci banget, Maaf tante," ucap Dinda setelah duduk didalam mobil.
"Enggak ada yang benci sama kamu cuman Thaliya sedikit terlalu suka sama Arkan nanti waktunya Thaliya pasti ngerti. Jangan kamu pikirin selagi Thaliya gak ganggu kamu kamu jangan gangguin dia," ucap Bundanya Rama begitu tenang.
Dinda tersenyum.
Tidak sadar jika sopir mereka sudah di tembak kepalanya dan jalanan turunan membuat laju mobil tidak tentu. Merasa mobil tidak nyaman Dinda dan Bundanya Rama melihat sopir.
Seketika terkejut dengan cepat bundanya Rama menarik Sopir ke samping dan memutar stir ke jalur senggang kendaraan. Menginjak rem dengan kaki sopir da menyingkirkan kaki lainnya yang menginjak pedal gas.
Dinda menelpon Arkan situasi ini Dinda buntu hanya Arkan-Arkan di kepalanya.
Di rumah Nenek memecahkan piring dan mangkuk bersamaan. Seketika dada Nenek sesak.
"Arkan." Nenek memanggil nama Arkan.
Kakek dan Arkan yang baru datang seketika melihat Nenek kebingungan duduk di lantai di bantu berdiri asistennya segera mendekat.
"Nenek? Nenek kenapa?" Arkan menatap neneknya.
Nenek menoleh dengan suara Arkan terus memanggilnya dan memembuat kesadaran nenek kembali.
"Arkan.. Kamu cari Dinda cepat... Cepat!" Nenek sangat panik.
Seketika Arkan lupa ponselnya ada diruangan Kakek. Arkan mengambilnya dan melihat panggilan Dinda dua puluh kali.
Arkan tanpa bicara langsung berlari pergi keluar dan mengemudikan mobilnya dengan kencang.
Rayhan yang baru selesai pertemuan seketika melihat ponselnya terkejut karena panggilannya sampai lima kali dari istrinya.
Rayhan segera menelpon lagi tapi, tidak diangkat.
Rayhan panik dan berlari keluar dan langsung meminta cepat mobilnya di siapkan seketika itu lambat orang keluar mobilnya Rayhan menarik kasar dan naik kedalam mobilnya.
Di depan trotoar Dinda duduk di bawah atap Halte ada banyak warga berkerumun untuk melihat. Istrinya Rayhan sudah banyak Luka.
Ponsel Dinda berdering mengangkatnya.
"Iya.. Di depan Halte Raja, deket taman kota," ucap Dinda di telepon. Seketika mati ponsel Dinda gelap sepenuhnya.
Tidak lama datang ambulan dan polisi.
Arkan dan Rayhan datang dan langsung memeluk keduanya dengan erat.
"Kok bisa barengan?" Kata Bundanya Rama dan Dinda bersamaan.
"Kamu.. Sayang," ucap Rayhan khawatir langsung meminta petugas medis mengobati luka istrinya Dinda juga di obati.
Polisi menghampiri Bundanya Rama dan bertanya tentang bagaimana kecelakan terjadi dan kenapa sopir bisa tertembak.
Dan juga memeriksa surat-surat kendaraan.
Semua selesai di tempat ternyata hanya kecelakaan.
Arkan terdiam ketika melihat dahi Sopir terkena pluru.
"Tertembak?" ucap pelan Rayhan.
*
Dinda terus saja di marahi Arkan tidak boleh ini tidak boleh itu.
"Kakak ini rumah kakek jangan gitu!" Bicara dengan merapatkan giginya kesal.
Arkan duduk didepan Dinda di dalam kamarnya.
"Kamu tadi siang kan kecelakaan sayang, Kamu pasti kenapa-kenapa tapi, kamu gak ngomong."
"Ih.. Enggak kok kak.. Aku gak papa!"
"Kak Nikahnya kapan?"
Di bahas lagi. Dinda sulit sekali percaya jika Arkan tidak menikah.
"Aku gak nikah sama siapa-siapa."
"Ih.. Kakak... Aku tanya Kakak itu pasti mau nikah kenapa kalo gak nikah Dinda di bawa kemari."
"Zalfa itu udah sama Gareng, Zalfa itu ibu dari anak Gareng, Zalfa hamil tuju bulan. Sekarang Rasya Yin tante kamu ngambil Zalfa, dia di minta karena alasan Tante kamu sendiri."
Dinda terdiam.
Beberapa menit kemudian Dinda menangis.
Arkan menatap Dinda aneh.
Dinda sangat senang seketika melompat lompat diatas ranjang.
Arkan seketika menariknya untuk berhenti.
"Dinda."
*
Di markas Rayhan sendiri. Sudah lama dirinya tidak membuat orang sengsara.
"Siapa yang memintamu untuk membuat keponakan dan istiku kecelakaan."
Rayhan menatap orang yang sudah babak belur terduduk di atas lantai bawah lampu lima watt.
"Haah.. Tidak.. tahu," ucapnya meremehkan Rayhan.
Rayhan mengancamnya dengan sesuatu seketika reaksi orang itu berubah tegang dan marah.
"Siapa?" Wajah datarnya Rayhan membuat orang itu sedikit takut sekarang.
Rayhan masih menunggu sambil melihat Arlojinya.
"Apa kau tidak akan membunuhnya?" Tanya orang itu.
"Tergantung jawabanmu," ucap Rayhan datar.
Di ruangan lain tempat seorang dengan mata satunya sedang menikmati wanita banyak disampingnya dan minuman.
Seketika petugas Datang dan menyegel dan memberi penghentian akses usaha ini.
Arkan mendapatkan kabar dari Pak Jersey jika orang yang Arkan maksud sudah didapatkan.
Rayhan di ruangannya mendapatkan telepon dari Arkan.
"Bagaimana?"
" Roger Joyer masuk kasus berat dan Pak Jersey sudah selesai menangkapnya."
Arkan menutup teleponnya dan menatap Dinda yang sedang tertidur.
Rayhan terkekeh.
"Maaf tapi, sepertinya kau salah orang menuduh jangan salahkan aku memberi tanda," ucap Rayhan.
Dor...
Peluru menembus paha lelaki didepannya.
Erangan sakit dirasakan.
Giovano datang ke tempat Pak Jersey di lapas yang baru saja menangkap orang yang memiliki rencana untuk menghabisi istri Rayhan dan istri Arkan.
"Bosan hidup kau."
"Biad*p Aku hanya ingi kedudukan tengkorak itu, kau membuatku tidak bisa masuk kedalam organisasi itu, kau yang bersalah aku hanya balas dendam."
Giovano meminta untuk membuka sel tahan itu.
Setelah terbuka Giovano menghajar orang itu sekali pukul.
"Ingatlah! Kau berurusan dengan putranya Alano Brengs*k."
Kalimat itu membuat orang itu membeku diam bergetar hebat.
"Ja-jadi yang aku ha-adapi adalah putranya. La-lalu..." Menatap Giovano meminta tolong.
"Apa.. kau menatapku, Pikirkan sendiri jalan keluar mu, Salahmu berurusan dengan orang yang salah."
Orang mata satu seketika bergetar ketakutan menangis histeris sambil terkencing-kencing.
Giovano keluar dari sana dengan membenarkan jasnya.
"Si*lan, Dia membuatku gatal ingin menghabisi dia," ucap Giovano pada Tez supirnya.
Di penjara orang tadi sudah berganti baju tahanan duduk di bawah jendela sel dengan melipat kaki memeluk lututnya.
Kilas kejadian dulu teringat kembali ketika dia menghajar Alano di tempat kerja sewaktu menjadi karyawan biasa. Membuat Alano hingga tidak berdaya dan pingsan dua puluh empat jam di dekat sungai.
Sampai besoknya Alano datang masuk kerja dan melangkah ke meja kerjanya seketika pekerjaannya menumpuk.
Setelah pulang bekerja Alano kembali di bawa ketempat sepi terowongan yang jarang kendaraan lewati.
Alano di hajar beberapa kali hingga jatuh tersungkur ketika itu Alano mulai jengah seketika Alano membalas lebih kejam dan membuat mata orang itu rusak dengan tertusuk pulpen.
Di penjara. Orang mata satu itu seketika berteriak histeris. Sudah banyak berharap tidak bertemu Alano malah dia ingin menempati posisi Tengkorak ternyata pemiliknya adalah putranya Alano sendiri.
Bayangan kematian sudah ada didepannya seketika wajah datar Alano tanpa ekspresi menghajarnya kembali berputar.
Seketika itu tambah histeris.
*
Arkan di kamarnya seketika tersenyum aneh mengusap kepala Dinda dengan wajah menyeramkan walaupun tampan Wajah datar tanpa ekspresi ketika tersenyum seperti iblis itu membuat yang melihat pasti bergidik ngeri.
...Aku akan menghabisi siapapun yang berusaha menyentuhmu. Kaulah ketenangan dan kebahagianku selama ini...
...~Arkan Prawira...
The End......