
Sampai di rumah Arkan dan Dinda sudah bersantai diatas kasur dengan televisi yang menyala.
Seketika Arkan mencari stik gamenya dan mencari kaset Gamenya di ruang kerja. Dinda terdiam saja cuek dengan apa yang Arkan lakukan. Setelah selesai Arkan meletakannya diatas meja tv dan malah memutar kaset film horor Stik game dan lainnya di simpan di dalam rak meja tv di kamarnya.
Lalu memeriksa ponselnya seketika rumah sudah terkunci seluruhnya jendela pagar dan pintu termasuk air mancur di luar sudah mati lampu taman mati yang menyala hanya lampu depan pagar lampu teras depan rumah dan ruang tamu dapur dan ruang tv mati. Arkan meletakan ponselnya dan menarik menutup horden dan menekan saklar lampu lalu mati.
Dinda tetap memainkan ponselnya Arkan seketika beralih menyalakan lampu tidur dengan menyambar pipi Dinda. Kecupan singkat.
"Yang Usap kepalaku," ucap Arkan di samping Dinda sebelah lengan Dinda.
Dinda menurutinya mengusap dan sedikit menjambak kecil rambut kepala Arkan.
"Kapan terakhir kali kamu potong rambut?"
"Lupa."
"Kenapa aku gak pernah liat kamu gondrong ya," katanya sambil tangannya terus memainkan rambut Arkan dan mengusap dari sampai rambut Arkan.
"Aku gak suka," sungkatnya.
Dinda mendengus kesal.
"Halah... Boong."
"Kak.. Aku mau tanya?"
"Hem." Arkan menarik tangan Dinda dan mengusap kepalanya dan menciumnya.
"Apa kakak mau nikah beneran?" Seketika Arkan mematikan tv dan berbalik menatap wajah Dinda dan berbaring sejajar dengan Dinda.
"Enggak."
"Kenapa kamu gak bilang aja kalo, kalo dia itu calon kamu, Dokter kandungan aku tadi."
Seperti pertanyaan Sulit. Arkan harus seperti apa menjelaskannya.
Dinda menangis sekarang.
"Enggak aku gak nikah lagi, aku cukup sama kamu aja," ucap Arkan.
"Dinda." Arkan mengusap pipi gembul itu dan tersenyum.
"Aku serius aku gak akan bohong," ucap Arkan.
"Aku tahu semuanya. Karena aku mikirin semua omongan kakek waktu diruangan itu waktu obat itu ketemu, waktu aku denger Kakek tetep nikahin kakak walaupun tahu aku hamil. Nenek juga tatapan sama Dokter kandung itu," ucap Dinda.
Arkan mendekat menatap Dinda dengan serius dan juga matanya yang tajam langsung bertubrukan dengan mata basah bekas air mata.
"Nenek bilang Dokter yang nanganin waktu kehamilan ibunya kakak itu lagi ada urusan di ganti sama keponakannya."
"Nenek juga bilang kalo..."
"Mama sayang itu mama kamu juga." Arkan menyela ucapan Dinda. Tidak menyebut mertuanya sendiri dengan panggilan ibunya tapi, mama sama seperti Arkan.
"Iya Mama itu sama Kayak Dinda ketahuan pas udah telat tiga bulan. Dan sekarang Dinda di posisi kakak mau nikah lagi, Dinda sesek banget rasa,ya, Bagi kakak ke perempuan lain, apa Kakak suka?"
Seketika Arkan mengecup dahi Dinda.
Arkan diam.
berpikir dan Dinda seketika menatap Arkan dan menc*um bib*r Arkan dengan lembut.
Arkan terdiam.
Tapi, ada rasa senang juga aneh. Hormon ibu hamil kadang gak stabil tadi biasa tadi sedih tadi cerita tadi gak rela. semuanya terjadi tadi-tadi, Dinda merasa sedih apa dirinya harus menjauh dari Arkan.
Sekarang malah, agresif.
Arkan menyeimbangkannya dengan Dinda tapi, sayang Dinda membuat percikannya langsung besar. Arkan tidak sabaran dan mendominasi Dinda lebih besar.
"Aku boleh..." Suara serak Arkan. Dinda terdiam malu.
Tidak ada jawaban Arkan membuka kaos Atasnya dan membuat Dinda di posisi Nyaman.
Menikmati malam ini bersama.
*
Arkan tertidur di pelukan Dinda dan Dinda tidak tidur dia mengusap kepala Arkan dengan Air mata.
Seketika Arkan bergeser tidur menyamping di samping Dinda menghadap Dinda.
Dinda bangun dari ranjang dan mengambil jubah tidurnya pergi ke kamar mandi dan keluar dengan tubuh bersih dan segar.
Dinda melangkah keluar dengan pakaian lengkap dan mantel juga dengan ponsel di kantong mantelnya.
Arkan tertidur lelap.
Dinda keluar rumah tanpa suara lalu keluar gerbang seketika Arkan terbangun dengan ponselnya berdering. Tidak lama hujan subuh turun sangat deras bercampur angin kencang, dingin menusuk kulit. Dinda berjalan pelan dengan payung sambil menangis.
Arkan mematikan ponselnya dan bangun terduduk tidak melihat Dinda tidak mendengar suara air kamar mandi. Tidak mendengar apapun di dalam rumah. Arkan mengecek ponselnya dan mengecek cctv dari ponselnya di teras dan pagar rumah.
Arkan bangun dan segera membereskan tubuhnya.
Dinda duduk sendirian di depan teras Masjid Sudah jauh sekali Dinda berjalan tapi, gak merasa lelah.
Jarak rumah sampai Masjid dekat perumahan Blok Z itu jauh dan rumah Arkan itu di luar daerah perumahan. Subuh-subuh Dinda keluar berjalan sendirian.
Dinda masuk kedalam Masjid yang masih di tutup dan mencari toilet lalu mengambil wudhu.
Dinda pergi ke tempat mukena dan mulai sholat dua rokaat.
Sudah sejak tadi Azan Subuh tapi, baru aja Dinda sampai didepan masjid.
Rasanya tenang sebenentar Rasanya semuanya salah Dinda kalo Kak Arkan nikah lagi dan kalo sampe Kak Arkan dateng cari Dinda.
Kak Arkan gak akan tahu apa yang Dinda rasain Kak Arkan selalu berkilah kalo Dinda nyinggung hal sedikit pribadi yang gak mau di ceritain dari awalnya.
Dinda cuman mau tahu apa yang Kak Arkan bilang waktu Dinda bilang kalo orang yang kak Arkan nikahin itu adalah dokter kandungan kemarin.
Dinda malang, Sudah berbadan dua masih aja merasa sedih.
Boleh Dinda cerita banyak di sujud Dinda, duka Dinda tidak sedalam duka orang lain mungkin tapi, Dinda merasa Dinda paling sakit sekarang.
Dinda mau nangis tapi malu. Dinda gak tahan Dinda kangen Ibu Ayah, Dinda mau nangis didepan mereka.
Apa Dinda buruk banget ya?
Apa karena Dinda gak bisa punya gelar sarjana?
Apa karena Dinda itu bukan orang yang berpengaruh?
Iya, Tahu! Semuanya jawabnya Iya. Dinda gak ada hak Dinda cuman menantu, kemaren di nikahin waktu meninggalnya Ayah Ibu sekarang disuruh cepet hamil waktu sekolah pas udah hamil udah lulus malah Kak Arkan mau dinikahin sama perempuan Lain, Dokter kandungan itu juga udah hamil.
Dinda menatap tulisan dari nomor asing layar ponselnya.
Dinda kembali menangis menutup wajahnya. Sepi suasana masjid.
Beruntung semua orang sudah sholat subuh tadi dan Dinda sekarang sendirian.
Beto dan Dodi pergi ke Masjid Blok Z untuk meminjam sesuatu disana seketika mereka melihat ada orang dan payung, ada yang sedang sholat di dalam mereka masuk saja ke dalam seketika akan mencari barang dekat tempat radio speaker.
Beto tidak sengaja melihat Dinda yang sedang menggunakan mukenah. Seketika Beto menghampiri Dodi.
"Dod ada Dinda!"
"Hah.." Dodi menoleh.
"Sttt..."
Mereka keluar dan duduk diatas motor Dodi sambil memainkan alat bersih-berih yang akan mereka pinjam.
"Nanti lo balikin yang barunya," ucap Dodi.
"Ya elah iye.. Mak gue juga udah nyiapin di rumah ntar pas dzuhur diambil ama pengurusnya di rumah," jelas Beto.
Arkan di rumah baru selesai sholat dan sekarang bergegas keluar dengan jaketnya ketika masuk garasi ponselnya berdering nama Beto.
"Hallo Bang."
"Hem."
"Dinda kok sendirian di Masjid perumahan Blok Z. Lah pan Jauh bang dari rumah abang," ucap Beto.
Seketika Arkan mematikan sambungan Telepon dan membuat Beto menatap layar hp aneh.
Di sini masih di Masjid Beto menunggu kedatangan Arkan bersama Dodi. Tidak lama mobil biru dongker datang dan Arkan turun dengan Hoddi hitam dan topinya.
Sedangkan Beto dan Dodi mengenakan jas hujan Biru dan hijau ada lis neonnya.
"Bang itu Dinda kan," ucap Beto ketika Arkan menghampirinya dan mengajak berteduh di teras dekat parkiran.
"Thank's ya," ucap Arkan dengan nada datarnya.
Seketika Beto dan Dodi mengangguk dan pergi dengan motornya. Arkan menelpon Dinda. Seketika di matikan.
Arkan menelpon lagi di matikan lagi. Arkan menelpon untuk ketiga kalinya di matikan lagi.
Arkan mengirim pesan pada Dinda.
Didalam Ponsel Dinda masuk notif pesan.
"Aku di luar, Ayo pulang." Pesannya.
Dinda tidak membuka pesannya hanya membaca di layar atas notifikasi.
Arkan mununggu sampai jam enam pagi hujan juga masih sangat deras.
Dinda keluar dengan santai melihat ada Arkan menunggunya menatapnya.
Dinda mengacuhkannya dan pergi dengan payung dan sandalnya.
"Masuk mobil."
"Dinda."
Dinda masih diam tidak mau masuk mobil dan seketika Arkan tidak sabar menarik Dinda masuk ke mobil dan mengambil payung Dinda. Arkan mengunci mobil lalu masuk kedalam mobil cepat Dinda menatap keluar Jendela.
Arkan memundurkan mobilnya dan pergi keluar area masjid.
"Jangan ceroboh kalo kamu mau kabur."
"Aku gak kabur, cuman Latihan kabur." Asalan bicara Dinda menjawab ucapan Arkan
"Kamu mau nikah sama Zalfa itu Kamu juga deket kan sama Dia. Aku mending pergi aja, juga buat apa aku di rumah itu, aku juga gak tahu aku kenapa bisa sampe sini berdiri di tempat dan duduk di tempat ini, Ini semua aku mau karena aku pusing harus apa!"
"Kakak Punya masa depan sedangkan aku enggak, aku udah ada dia, Dia pasti akan diambil keluarga kakak. Kakak nikahin aku di posisi aku gak punya ayah ibu kakak bawa aku kakak ambil aku jadi istri kakak. Kakak selalu kasih apa yang aku mau tapi, keluarga kakak minta semua masa depan aku kakak gak akan mau ada di posisi aku, Aku suka kakak dulu tapi, sekarang aku sadar aku cuman jadi bahan candaan Aku gak gak mau kalo aku sampe liat Kakak sama istri baru kakak, Kalian bakalan nikah jadi aku harus jauh- sejauh-jauhnya sama Kakak..."
Tangisan Dinda bersamaan derasnya Hujan. Arkan sampai di rumah memasukan mobil langsung ke dalam garasi belakang dekat kolam renang.
Arkan masih diam tidak bicara sama sekali.
Turun dari mobil dan berputar membuka pintu mobil Dinda.
Dinda membuang muka seketika Arkan mengendong Dinda.
"Turunn.. Gak mau aku gak mau di gendong."
Arkan menurunkannya dan menutup pintu mobil lumayan keras.
"Hiks... Hiks... Kakak jahat.. Kakak gak tahu gimana rasanya Dinda sekarang Kakak selalu diam kalo Dinda tanya hal serius tentang ini tentang lainnya yang singgungan sama keluarga dan pribadi kakak, Kakak itu gimana sih ke Dinda. Kakak gak tahu rasanya seseknya, Mau mati tiap hari mau mati tiap waktu," ucapnya.
"Udah... Udah marahnya," ucapnya dengan nada sedikit tinggi. Dinda diam, menangis menatap kebawah.
"Kamu itu bisa ngebahayain Nyawa kamu kalo kamu Ceroboh kayak gini sekarang Duduk." Arkan menarik Kursi di dalam garasi dekat meja komputer sudut.
Dinda masih berdiri diam.
"Duduk diasana." Sekali lagi Arkan bicara menahan marahnya.
"Duduk!" Bentak Arkan kelewat sabar.
Dinda kaget dan duduk menurut perintah Arkan.
"Kamu tahu Aku tadi bilang kamu itu satu-satunya Dinda. Aku serius."
"Kamu keluar dari rumah subuh-subuh sehabis kamu lakuin itu ke aku, Apa Maksudnya kamu Mau buat retak hubungan kita."
" Kamu mau buat masalah, hem?
Pikir Dinda.. Pikirin nyawa didalem perut kamu, Ok... Aku semua tanggung jawab kalo kamu kenapa-kenapa tapi, kamu pasti ngerasa bersalah seumur hidup kalo sampe dia yang lagi ada didalem perut kamu yang kenapa-kenapa, iya," ujarnya dengan emosi tertahan menekan setiap kata yang di ucapkannya didepan wajah Dinda.
Dinda menunduk takut masih menangis.
Arkan berlutut memegang kedua tangan Dinda yang dingin dan basah.
"Maaf... Aku kelepasan. Maaf."
Dinda mengangguk pelan.
Arkan menangkap wajah Dinda dan menc*um bib*r Dinda lembut.
Tangan Dinda mengenggam pergelangan tangan Arkan kuat.
Seketika Arkan melepaskan C*umannya.
"Dinda minta maaf kak," ucapnya.
Arkan kembali menc*um Dinda lembut. Dinda berusaha mengimbangi Arkan air matanya masih menetes membasahi pipinya.