
Dinda melangkah keluar dari perpustakaan mengejar Arkan.
Ternyata Arkan sudah jauh Arkan tidak terlihat. Dinda mengedikkan bahunya kembali masuk ke dalam perpustakaan lalu tak lama keluar lagi, pergi menuju ke kelasnya, perasaannya mengatakan jika Kiran sudah di kelas sekarang.
Arkan baru saja duduk bersama semua teman-temannya di pinggir lapangan basket. Sudah berganti dengan kaos basketnya. Arkan mengambil bola dan memainkan bola basket. Tidak lama semua temannya juga ikut bergerak berbaris untuk pemanasan. Arkan memimpinnya bersama Justin.
"Sory gue telat," ucap seseorang yang baru saja datang, Rian. Dia yang sekelas dengan Arkan dia juga satu tim basket dengan Arkan.
Justin mengangguk mempersilahkan Rian bergabung.
Sempatnya, Tatapan mata Rian menatap Arkan. Sedangkan Arkan hanya menatap kedepan acuh seperti tidak sadar di perhatikan Rian tapi, sebenarnya Arkan tahu jika Rian menatapnya.
Selesai, Pemanasan cukup mereka langsung latihan.
Tidak lama saat itu juga Pak samino datang.
Membimbing para pemain basket yang sedang latihan sudah tugasnya.
Bola basket di dribel di oper kemudian bagian Justin menangkapnya.
Bagian Leo melemparnya masuk ke ring seketika Rian tidak sengaja menghalanginya.
Rian merebutnya dan membagi pada Feri. Ketika Bola kembali lagi pada Rian, Rian akan melemparnya seketika bola melayang Arkan berhasil meraihnya sebelum masuk ke ring.
Seketika membalas melemparnya ke ring lawannya.
Lemparan tepat. Arkan dan timnya mendapatkan poin terbanyak dalam latihan yang memakan waktu beberapa menit ini.
"Bagus.. Hari ini latihan cukup, Rian main kamu bagus, Arkan kamu tambah lebih baik, oiya lusa nanti kamu latihan futsal sama Anak kelas Sebelas campuran sama kelas dua belas sekaligus." Pak Samino sangat senang hari ini dan juga Rian membuat moodnya semakin baik. Pak Samino juga mengingatkan Arkan untuk datang latihan futsal lusa nanti.
"Baik pak." Sahutnya sopan menghadap Pak Samino.
Arkan pergi menghampiri tasnya duduk bersama Justin dan lainnya setelah bicara dengan Pak Samino.
Melihat Arkan sudah duduk Syifa menghampirinya.
Menawarkan minuman dingin, uluran tangan itu tidak di tanggapi Arkan, jangankan menoleh mengatakan sesuatu saja tidak.
Justin menyenggol lengan Arkan. Arkan tidak terusik.
Teman latihan basketnya juga menatap Syifa lalu Arkan dengan aneh. Setelahnya mereka semua berpira-pura tidak tahu.
"Arkan nih lo haus pasti," ucap Syifa menggoyangkan sedikit di samping Arkan. Arkan menoleh, tatapan datar yang selalu Syifa lihat.
Arkan pergi dari tempatnya, tidak menerima minuman dari uluran tangan Syifa. Arkan yang berlalu pergi, Syifa juga kecewa, Justin juga langsung mengikuti Arkan.
Rian tersenyum miring sebelum pergi, menatap Syifa. Syifa membalas tatapan remeh Rian dengan lirikan sadisnya.
Rian juga beranjak pergi dari duduknya. Mengikuti langkah Justin.
Kini, di ruang ganti Arkan dan Justin baru saja datang dan akan mengganti pakaian basket dengan seragam sekolah lagi.
"Sok jual mahal lo, bilang aja lo seneng karena populer!" ucap Rian yang baru datang dan berucap seketika juga Arkan menghentikan sebentar kegiatannya.
Rian membuka loker pakaian di sebrang Arkan.
Justin hanya diam karena Rian masih bicara.
"Cupu lo!" ucap Rian seketika pintu loker tertutup keras oleh Rian.
Arkan tetap tenang. Arkan memilih pergi dari pada meladeni Rian yang berusaha membuatnya marah dan membuat Arkan terkena masalah.
"Dulu lo gitu sampe orang yang paling gue suka lo ambil juga, Sekarang dia udah mati."
Bruaak...
Cengkraman dileher Rian membuatnya menatap Arkan dengan remeh. Arkan tidak bicara dan langsung menyerang Rian dengan mencekik lehernya.
Wajah Rian seketika memerah.
"Heh.. ngapa? marah lo?" ucap Rian lagi.
"Kan, udah jangan... jangan ladenin dia lagi," ucap Justin mencoba melerai.
Arkan melepas cengkraman lehernya. Menatap Rian datar.
"Gue enggak pernah tanggepin dia, lo ama dia aja yang baper," Kata Arkan dengan wajah datar nadanya menusuk kasar pada Rian.
"Iya kenapa, gue baper, karena gue suka sama dia dan dia lebih milih lo dan asal lo tahu, kalo Anak kelas Sebelas yang suka meratiin lo.... Dinda Alea namanya, Kalo bisa lo jauhnya dia dan minta dia supaya enggak berharap sama lo," ucap Rian seketika.
Justin mendorong Rian kasar.
"Lo kalo gak suka ya udah... enggak usah ganggu kita-kita lagi, lo pindah ke sekolah ini sama aja lo udah buat diri lo bermasalah lagi ama kita-kita, Dan inget ya.. Mau cewek manapun yang suka sama Arkan, Arkan enggak pernah nanggepin dan kasih harapan apapun. Jika lo...dan dia masalah lo, Si Dinda Alea suka sama Arkan itu hak dia buat apa dan apa urusan lo, campur urusan hak orang aja ribet hidup lo!" ucap Justin yang tidak bisa lagi menahan kesal.
Rian memang pernah bersama dengan Arkan tapi, dulu sebelum gadis yang Rian sukai mati bunuh diri Karena Arkan tidak pernah menanggapinya.
Dari situlah Rian yang berpikir jika dirinya sudah susah payah memberikan gadis itu pada Arkan tapi, Arkan tidak peka. Rian marah dan menjadi musuh Arkan dan teman-temannya.
Arkan melangkah pergi meninggalkan Justin dengan Rian. Tidak lama Arkan keluar ruang ganti Justin juga keluar. Didalam Rian menendang pintu loker keras.
"Sialan." Umpatannya Kesal karena Arkan masih bisa tenang tidak bisa begitu lebih emosi. Padahal Rian berharap Arkan akan menyerangnya berutal lalu membuat namanya buruk, jika nama Arkan buruk maka Rian akan sangat senang.
*
Dinda berjalan memasuki kelasnya Dinda duduk dengan tenang seketika Dodi memberikan bingkisan untuk Dinda.
"Weh.. apaan nih.. curiga gue," ucap Kiran meledek Dodi.
"Dih.. bukan gue.. itu ada cowok yang enggak berani ngasih ini ke Dinda makanya nitip ke gue," ucap Dodi membela diri.
Kiran tidak percaya begitu saja, Kiran meledek menyenggol bahu Dodi dan memojokkannya. Seketika Dodi memegang kedua bahu Kiran.
"Bukan, gue Kiran," ucapnya kesal.
"Halah... masa... lo aja kali, pake tipu-tipuan.. heheh..." Seru Kiran menatap Dodi dengan alis turun naik.
"Kiran." Suara Dodi menjadi datar. Dodi ketua kelas di kelas Dinda. Kadang Dodi juga sering mengobrol dengan Dinda dan juga Kiran.
Seketika Kiran merasa jika ada sesuatu yang aneh di dirinya. Dodi seperti menatapnya aneh. Kiran melepas kedua tangan Dodi di bahunya.
"Ih.. lepas, aneh.. lo geli gue jangan pegang, pegang, ntar lo suka lagi sama gue," ucap Kiran sambil melangkah ke kursinya lalu duduk.
Kiran baru saja duduk Dodi masih berdiri di samping mejanya.
"Emang, emang gue suka sama lo," Kata Dodi dengan ekspresi serius. Kiran terkejut, terdiam sekejap.
"Tapi, Bohong, yaah.. Baper ya lo... Huuh lemah banget hati lo," ucap Dodi heboh. Kiran yang memang perasaan tadi terkejut kesal Karena Dodi bercanda.
Dinda menggeleng tersenyum.
"Awas lo.. pulang lewat gerbang gue habisin lo," ucap Kiran di buat seram. Dodi lebih tertawa. Memajukan wajahnya, Kiran memundurkan kepalanya refleks ketika Wajah Dodi tepat didepannya terus mendekat.
"Sory, gue lewat jalur akad enggak lewat gerbang kalo kita sah kita langsung buat baby," ucap Dodi.
Tawa teman-teman Dodi seketika pecah.
Kiran makin malu.
"DODI... MESUM LO YA.. IH.. DODI.. PERGI LOO DARI DEPAN GUE."
Dodi seketika duduk ketika melihat Pak Udin masuk dan menghampiri Dodi.
Memberikan buku paket, Dari gerakannya menunjukan setiap lembar, pasti akan ada jamkos lagi, Kiran dan Dinda memperhatikan itu.
Setelah selesai bicara pada Dodi, pak Udin pergi keluar kelas.
"Waah.. jamkos lagi, bay-bay.. bapak Udin tersuayang," ucap Chika di lebih-lebihkan.
Pelajaran Matematika Pak Udin selalu membuat mereka pusing jadi jika Pak Udin tidak masuk. Mereka sangat bahagia. Walaupun di tinggalkan catatan.