
Dinda melangkah keluar ruangan guru setelah menghadap pak Udin. Untuk mengumpulkan tugasnya. Dinda melewati mading sekolah. Seketika langkahnya terhenti.
"Apaa ini," suara Dinda terdengar heran ada perasaan malu dan sakit hati.
"Ngapa.. kaget lo, Itu pembalasan karena lo mempermaluin gue, Lo gak akan bisa nghindar." Nada bicara Syifa angkuh melipat tangannya di atas perut dan medecih.
Sreekk... Merobek kertas karton dan semua tempelannya dan meremasnya.
"Kenapa... lo malu kenyataan gitu, Lo gak berguna pecundang lahir dari rahim..." terpotong dengan telunjuk tangan Dinda.
"Lo...Lo gak bisa menghina rahim ibu gue, Lo juga lahir dari rahim perempuan dan Lo adalah perempuan, Ama mulut Selokan lo gak pernah lo Rombak biar bersih terus walaupun yang keluar tetep kotoran dan bau busuk." Sarkas Dinda menunjuk wajah Dinda.
Syifa menatap tajam tangannya mengepal menyingkirkan telunjuk Dinda yang menunjuk wajahnya.
"Heeh..." tersenyum remeh. Dinda melangkah mendekat Syifa diam di tempatnya.
"Gue gak ngerasa kalo lo... orang baik... tapi, Lo bisa jadi orang baik, Sekolah lo 12 tahun Sikap lo Tingkah lo Otak lo dan Hati lo, Kayak orang gak pernah sekolah," ucap Dinda dengan menatap Syifa dari atas sampai bawah. Seketika bel istirahat bunyi. Semua siswa siswi mulai keluar kelas berhamburan.
Kiran yang tak kunjung melihat Dinda masuk kelas khawatir dan segera berlari ke arah Ruangan guru berada.
Tiba-tiba Semua berhenti di area sekitar mading sekolah.
Melihat kondisi mading sobek-sobek membuat mereka semua heran dan bingung.
"Rame.. Udahlah Kakak kelas tersayang gue gak mau ribut sama lo, Sapaan kita yang kasar itu cukup dari pada gue nampar lo di depan umum," ucap Dinda yang sangat tenang tapi hati dan dirinya sulit menahan emosi yang sedang meledak-ledak saat ini.
Kiran yang baru sampai langsung menarik Dinda dan membawa Dinda pergi. Dinda juga melangkah cukup jauh.
Seketika langkah Dinda terhenti dengan suara notifikasi semua ponsel yang sekarang bunyi di sekitar Dinda. Dan Ponselnya juga bersuara notif.
"Ahh... ya Ampunnn.. ini Dinda... Kerja keras juga dia cari duit."
"Gue rasa ini editan deh."
"Bukan tahu, Lo liat ini om-omnya jelek banget."
"Gak nyangka gue kalo Dinda maen beginian."
"Gilaa.. pamer badan dia."
"Selama ini udah gak perawan Dia, Busettt... boleh juga kalo gue minta duitnya, rang gampang dapetnya."
Dinda seketika menciut Kiran terus menggoyang bahu Dinda terus menggoyang kecang bahu Dinda, seperti membangunkan Dinda dari tidur yang matanya terbuka.
Dinda menutup telinganya. Air matanya keluar. Berjalan mundur. Tidak tahan Kiran Menendang kotak sampah.
Bruuaak...
Suara keras itu membuat semuanya Diam. Kiran merangkul Dinda yang berjongkok menutup telinga dan menangis.
Kiran merasa sakit hati melihat Dinda seperti ini.
"LO SEMUA POLOS BANGET, KALO KALIAN PINTER PUNYA OTAK JUGA BACA SITUSNYA BACA ALAMAT WEBNYA... RESMI GAK.. KALO GAK BERARTI ITU BUATAN ORANG YANG GAK SUKA SAMA DINDA." Bentak Kiran pada Semuanya.
Tidak lama kepala sekolah dan Pengurus Osis datang membubarkan semua siswa.
"Sekolah tidak ingin ada hal ini lagi Dinda." Suara pak Samino.
"Ini memalukan," desis Syifa dengan suara pelan di samping Pak Samino.
Dinda berdiri dengan Air mata yang bisa menetes kelantai. Wajahnya sekarang sudah basah dengan Air mata.
"MAAF SEMUA.. MAAF KALO GUE PUNYA SALAH.... SEMUA YANG GAK SUKA SAMA GUE BISA BILANG LANGSUNG BISA NGADEP GUE LANGSUNG GAK SEMBUNYI KAYAK GINI." Histeris Dinda menatap semuanya sambil bersuara keras. Sebenarnya tidak ada yang bubar hanya menjauh saja dari pak Samino dan kepala sekolah yang ikut berkerumun.
Pak Samino Pengurus Osis seketika bungkam.
Kepala sekolah yang masih diam segera mengajak Dinda pergi.
"Bukan maksud kami seperti ini Dinda," ucap Kepala sekolah dengan pelan Seketika Dinda menepis tangan kepala yang merangkulnya. Dinda mundur perlahan. Telapak tangannya yang terlihat masih ada Plester luka seketika mengepal keras.
"Saya adalah orang yang paling kalian sakiti, Lihat... bagaimana Karma datang dan Kalian tahu yang sebenarnya, Percuma bicara pada semua yang tidak mau mendengarkan." Dinda menghapus Air matanya. Lalu pergi berlari. Bersamaan itu sorakan cemooh membuat mental Dinda semakin Down dan tangis Dinda semakin parah.
Arkan yang tidak sengaja di lewati Dinda mengumpat kesal.
Arkan melangkah ke arah berlawanan lalu bicara dengan seseorang di telepon.
Di perusahaannya Sekarang Lelaki dan perempuan dewasa sedang sangat panas hati dan Khawatir.
"Kamu lihat... Lihat bagaimana perbuatan anak dari istri keduamu, Lihat. Ini semua sebab kamu tidak mau menghilangkan dan menghapus habis rumor itu," ucap Ibu Dinda.
"Tuan muda Prawira yang menelponku langsung hari ini," ucap Ayah Syifa.
"Pokoknya aku tidak ingin tahu, Kamu harus menyelesaikan masalah ini," ucap Ibu Dinda.
Ayah syifa seketika menarik tangan Ibunya Dinda.
"Bicara apa kamu, Kamu ibunya kamu saja tidak pernah bicara baik kasih sayang yang banyak padanya, Kenapa harus Aku," ucap Ayah Syifa dengan membentak.
Ibunya Dinda diam seribu bahasa seketika matanya memerah dan wajahnya mulai memerah.
"Kita... Kamu tahu Arti kata Kita bukan, Aku bilang jujur terbuka kamu justru diam saja, Bukan aku yang bilang tapi, Kamu, Aku... Tidak bisa menatap wajahnya lama aku tidak bisa, Kamu tahu betapa sulitnya menatap wajah Dinda karena rasa bersalah tidak bisa membawa dirimu dekat dengannya dan menjadi orang terasing dan aku membuatnya menanggung Rumor jelek itu."
"Aku terlalu sedih aku hanya bisa menangis ketika menatap wajahnya, Aku pulang malam aku kembali pulang hanya untuk menghindarinya Karena aku takut dia menangis di hadapanku karena Ayahnya tidak tahu siapa, Aku salah aku ibu yang buruk," ucap Ibu Dinda dengan suara Frustasi.
Akhirnya Ibunya Dinda mengatakan semuanya dan Membuat ayah Syifa terkejut. Mengangkat ibunya Dinda untuk Duduk. Ayahnya Syifa menghubungi seseorang.
"Halo Tuan," ucap Ayahnya Syifa pada sambungan Telepon.
"Saya minta tolong awasi Dinda." Seketika Terdengar deheman dan Telpon terputus sepihak.
Ayah Syifa kembali mengatus nafasnya sambil menguhubungi seseorang.
"Kau lakukan tugasmu, Aku akan bayar mahal jika kau bisa menghapus berita di Internet itu, dalam waktu singkat," ucap Ayah Syifa.
Orang yang di telpon Ayah Syifa sedang sibuk dengan komputernya sebelum ayahnya Syifa bertindak. Orang itu lebih dulu inisiatif karena tahu seberapa sayang Ayah Syifa pada Dinda.
"Baik Tuan, Tapi, ini waktu akan lama perosesnya."
"Jika kau tidak bisa, Keluar saja dan minta orang yang lebih baik gantikan posisimu!" nada tinggi di telpon membuat orang itu dan Ibu Dinda yang mendengar sama-sama terkejut.
"Ba-baik Tuan."
Telpon terputus.
"Brengsek.... Walau berita terhapus mentalnya tetap tidak akan baik," ucap Ayah Dinda dengan nada menyesal dan sedih.
"Maafkan Ayah nak." Katanya dengan sedih. Seketika Ibu Dinda memeluk ayahnya Syifa.
*
Di atap Dinda duduk di Sofa usang dengan malas dan menangis.
Kiran datang lagi sempat sebelumnya duduk bersama Dinda disana.
Kiran memberikan botol air untuk Dinda dan melihatnya meminumnya sampai Habis.
Seketika suara ponsel Dinda dan Kiran bersamaan. Kiran terkejut dan seketika menatap tidak percaya.
"Ran napa lo," ucap Dinda dengan wajah tersenyum senang.
"Buka Hp lo," ucap Kira dengan senang.
Seketika Dinda membuka ponselnya dan Seketika itu Artikel yang membuat Dinda kembali terkejut langsung membuat perasaan Dinda kembali sedih.
"Ini bohong ini gak mungkin."
Di sekolah sekarang Ayah Syifa dan Ibu Dinda datang dan wartawan juga datang tanpa Di undang.
Arkan yang berada di tempat lain di atap mendengar suara tangis Dinda sepertinya sudah lebih baik dan melihat kebawah terlihat mobil Tuan Dhanu ayah Syifa datang.
Arkan menatap Datar ke wajah lelaki dan perempuan Dewasa itu.
'Putri Kalian menyusahkan, batin Arkan.'
Dinda berdiri dan berbalik seketika melihat Kak Arkan.
"Kakak."
Arkan menoleh dengan wajah Datar.
"Ngapain kakak Disini?" ucap Dinda menyembunyikan sedihnya dan berusaha ceria.
"Lo gak usah sok ceria," ucap Arkan seketika membuat Dinda bungkam.
Dinda mengangguk seketika Arkan pergi.
"Loh.. kakak mau kemana?" ucap Dinda. Kiran berpura-pura tidak tahu.
Arkan berhenti, berbalik dan melangkah mendekati Dinda masih ada jarak selangkah.
"Eh... Kakak mau ngapain kok ini deket...." Terpotong dengan tangan Arkan yang mendarat di atas kepala Dinda.
Lalu Arkan pergi sampai Arkan di tangga. Arkan menatap telapak tangan kananya.
'Gue Aneh Hari ini, Apa yang gue lakuin... Batin Arkan.'
Dinda mematung Diam seketika suasana hatinya langsung berubah menghangat..
"Hem.. ada bunga di hatiku yang bermekaran," celetuk Kiran menyindir.
Dinda mendengus sebal.
...Ketika persaan kesal hilang dengan keberadaanmu, Apa aku juga bisa membuat hari-harimu cerah dengan keberadaanku....
...~Dinda Alea...
...Aku tidak bisa percaya dengan Cinta karena hubungan bisa hancur dan membuat salah satunya tersakiti....
...~Arkan Prawira...