Arkan Dinda

Arkan Dinda
Kemenangan



Hari pahlawan belum berakhir SMA Bangsa masih mengadakan lombah untuk hari jumat ini.


Dinda mengambil bagian membagikan gantungan kunci dari tutup botol yang di rangkai dan di buat serta di bentuk dengan cantik dan bentuknya bukan tutup botol lagi lebih seperti hiasan gantungan kunci. Hari ini di depan Gerbang Kiran Rita dan Dinda bersama teman-temannya yang lain ada Lia dan juga Yeni bersama Dinda dan Rita dan juga Kiran.


Setiap pengendara atau supir ojek atau taksi online. Di bagi-bagikan gantungan kunci ada juga yang di buat dari kain perca yang terbuat dari batik dan kain berwarna hitam atau biru dengan di selingi kain batik. Gantungan kunci dan bros itu di bagikan hingga habis satu kardus air mineral.


Termasuk ke semua siswa dan suswi juga guru. Semuanya juga harus ke bagian.


"Din tolong lo ambikin yang ada di atas meja gue di dalem kelas nanti bawa aja ke bawah pohon akasia sana nanti kita kumpul," ucap Rita dengan wajah ramah tersenyum manis Dinda langsung bergerak pergi ke kelas Rita.


Kelas dua belas sekarang.


Seketika tidak sengaja Dinda membawa sekotak sepatu pada Kiran Seketika itu juga Arkan masuk melewatinya.


Dinda ada di kelas Rita untuk mengambil di kotak gantungan kunci dan Bros di atas meja Rita.


Seketika akan keluar Arkan masuk.


"Eh." Dinda terkejut lengannya di pegang Arkan, otomatis Berhenti dan mundur selangkah pelan.


"Kenapa kak, apa kakak belum ke bagian?" ucap Dinda berusaha tenang dan tidak akan terpengaruh perasaannya. Rasanya tidak mungkin Kak Arkan menariknya mundur, karena rasanya Pasti asing untuk kak Arkan. Tapi, Dinda memikirkan perkataan Gareng dan Kuta waktu itu.


Bagaimana ini, Sudahlah diam saja Dinda...


"Maaf." Suara pelan Arkan tepat di samping telinga Dinda. Tidak mengerti maksud satu kata itu. Dinda tatap menatap diam. Arkan seketika menoleh menatap Dinda.


Dinda terdiam seketika Arkan melepaskan tangannya dari lengan Dinda dan berjalan menuju kursinya mengambil tasnya dan keluar meninggalkan Dinda yang terdiam. Wajah Arkan menggambarkan jika tidak terjadi apa-apa tadi.


Arkan kesal dengan Dirinya kenapa bisa dirinya tidak bisa menahan kesal ini Arkan sudah berusaha tenang tapi, rasa bersalah di hatinya belum hilang ketika Melihat air mata sudah tidak mengalir. Tapi, wajah Dinda yang Arkan lihat ingin rasanya meminta maaf karena telah membohongi Dinda.


wajah polos Dinda, Arkan tidak tega.


Tapi, apa yang akan terjadi selanjutnya.. Apa Arkan tidak bisa membuat semua keadaannya terbalik. Arkan sendiri masih belum bisa memperkirakannya Dilema ini perasaanya dan Masalahnya semuanya rumit. Arkan melewati Kiran dengan tenang wajah datar dan tatapan mata menatap ke depan biasa.


"Dinda," suara Kiran menyadarkan Dinda dari lamunannya Kiran memang datang kekelas Arkan ketika Arkan keluar kelasnya dan Kiran tidak tahu tentang kejadian Arkan memegang lengan Dinda dan mengucap maaf di samping telinga Dinda.


"Eh.. iyaa.. Kenapa ayo," ucap Dinda ketika sadar dari lamunannyaenatap kepergian Arkan dan semua perkataan Gareng dan juga Kuta.


Di bawah pohon kali ini Rita dan teman-teman osis perempuan lainnya duduk dan mulai bersantai.


Tidak lama Dinda dan Kiran datang.


"Kak Rita ini kak," ucap Dinda baru meletakannya di tangan Rita yang baru menerimanya.


"Eh.. iya makasih ya Din. Sini duduk bareng kita," ucap Kak Rita, pada Dinda.


Kiran seketika menarik Dinda untuk Duduk.


"Ini kalian pilih ambil masing-masing gue kasih," ucap Rita.


Dinda menatap Kak Rita yang meletakan sekotak bros dan gantungan kunci di tengah mereka dan menyuruh yang lainnya mengambil.


Tidak lama setelah itu semuanya mendapatkannya Dinda tidak ikut berebut mengambil gantungan kunci itu, seketika Dinda kaget dengan tepukan di bahunya oleh Kak Rita.


" Iya Kak... "


"Ini Buat Lo sama Arkan kasih ke dia juga ya.. gue tahu di males nerima kayak ginian tapi, kalo lo yang ngasih sapa tahu Dia mau," ucap Rita.


"Tapi kak," ucap Dinda yang ingin mengatakan jika Arkan saat ini sedang menjauh darinya.


"Dah lah.. gak usah malu Dia gak bakalan macem-macem lo kasih aja kalo nolak lo kasih langsung di tangannya gini," ucap Kak Rita menatap Dinda. Memeragakan meletakan gantungan kunci itu di tangan Dan menutupnya dengan lima jari jari tangan.


Dinda menatap apa yang Kak Rita lakukan hingga Rita dan lainnya mulai bubar dan Rita juga sempat mengajak dan tersenyum pada Dinda.


"Duluan aja kak," ucap Dinda tersenyum Dinda menatap gantungan kunci itu.


Seketika Dinda merasa jika ini bukan Akhir.


Dinda harus bisa mendekati Kak Arkan lagi.


Dinda ada perasaan menggebu di hatinya.


"Kiran? kalo gue yang deketin kak Arkan duluan gimana?" ucap Dinda menatap kedepan.


"Kalo gue yang buat hari-harinya Kak Arkan menyenangkan gimana?" ucap Dinda lagi dengan menggebu.


"Boleh.. semua boleh lo lakuin dan itu semua masih wajar tentu boleh. Gue dukung lo seribu persen Yo.. mau gue anterin." Kata Kiran dengan bangganya sambil bergerak bangkit membawa tasnya dan ponsenya di masukan dalam saku.


Dinda mengangguk dan bangkit dari duduknya mereka melangkah pergi untuk menemui Arkan.


Sampai mereka di dekat lapangan Futsal Dinda menciut tiba-tiba.


Arkan sedang duduk di samping teman-teman lainnya yang baru beristirahat.


"Ayo... Dinda sono," ucap Kiran.


"Enggak bisa ran gue malu, takut ah.. udah nitip aja ama lo nanti kasih ke kak Yuda kak Yuda kasih ke Kak Arkan gitu aja ya..." Kata Dinda dengan takut dan malu juga gelisah. Dinda berbalik pergi seketika Kiran menariknya lagi untuk berbalik.


"Ih.. lebay deh Din.. dah sono buruan. Waktunya keburu kak Arkan main lagi," ucap Kiran. Dinda menatap dua gantungan kunci di tangannya.


"Dah Ah.. ogah.. Dah nonton aja," ucap Dinda seketika suara peluit terdengar semua pemain kembali masuk lapangan Futsal.


"Tuh.. kan ya udah deh..." ucap Kiran kesal. Mereka mencari tempat duduk Mereka mendapat tempat duduk di pinggir lapangan. Seketika pemiliknya datang mereka terpaksa mengalah dan berdiri.


"Waaah. Itu Kak Arkan baru tahu kalo main bola Futsal gak kalah keren kalo maen bola basket."


"Iya.. Kak Citra pasti bangga kalo tahu kak Arkan sebagus ini."


"Ih.. gak juga mungkin biasa aja."


"Lo gak percaya kemaren yaa.. Kak Citra bikin unggahan Foto di anterin pulang sama Kak Arkan dan dia pake helm warna hitam trus kek ada tengkorak sama mawarnya gitu. Ih.. keren banget senada sama helm, motornya Kak Arkan juga, manisss banget." Obrolan anak-anak kelas sepuluh di belakang Kiran dan Dinda.


Kuping Kiran seketika panas. Tidak terima Dinda tidak dianggap yang jelas Itu helm buat Dinda dan Citra cuman numpang, jengan Kiran di dalam orangnya, ingin rasanya menyupah serapah mulut-mulut tidak tahu kebenaran asal jeplak dah kayak itu kenyataan.


"Oh.. iya asal kalian tahu, Kak Citra itu cuman numpang helmnya Dinda. Yang sebenernya itu Kak Arkan beli itu helm buat Dinda bukan buat kak Citra," ucap Kiran membuat gadis-gadis di belakangnya terdiam dan mendengus sebal karena Sejak mereka membicarakan Citra dan kak Arkan, unggahan foto Citra dan helm hitam. Mereka semua tidak tahu jik Dinda lah yang pertama kali mendapatkannya.


"Halah.. itu ngarep aja bisanya Kak Dinda, juga gak bakalan bisa Kak Dinda dapetin Kak Arkan," ucap salah satu anak kelas sepuluh yang memandang Dinda rendah, yang embicarakan unggahan foto Citra.


"Ih.. cocokan Kak Arkan sama Kak Citra karena mereka cantik sama ganteng, Kak Dinda kalah sama Kak Citra," ucap salah satunya. Seketika itu Kiran mulai emosi dan ingin memukul mereka seketika Dinda menahannya.


Kiran semakin Marah seketika Dinda mencegahnya.


"Udah lah biarin."


"Kak Arkan juga punya hak kali, Oiya kalian jangan percaya yang menurut kalian salah," ucap Dinda anak anak kelas sepuluh yang membicarakannya.


Mereka menatap kesal dengan lirikannya mereka benci dengan Kiran dan Dinda yang pura pura baik menurut mereka.


"Ih.. Dinda lo nih apa sih, Lo itu udah menangin tempat di samping Kak Arkan dan Lo malah ngelarang gue buat hajar tu mulut gak guna yang suka ngomongin orang. Heran gue sama kuping sama Hati lo, Terbuat dari apa sih, Lo dengan mudah tahan lo emosi tapi, masih lumayan wajar dan kadang ngelampauin batas. Lo tenang aja mereka ngomong gitu tentang lo, Kalo gue udah gue jambang tu rambut yang sok di cantik-cantikkin" Kesal Kiran.


Dinda tersenyum. Menggeleng.


Mengusap bahu dan merangkul Kiran.


"Gak Papa lagian gue gak butuh pengakuan mereka," ucap Dinda dengan wajah berseri.


Kiran akhirnya meredam amarahnya dan terpaksa tersenyum melanjutkan lagi menonton futsal.


Golll....


Sorakan mereka ketika bola yang Arkan tendang masuk kedalam gawang.


Semua bersorak meriah menang karena mereka juga ikut senang ada ke menangan Arkan.


Poin beda satu angka dan tendangan Terakhir Arkan adalah di akhir waktu jadi oto matis nilai tim Arkan bertambah di detik terakhir dan Tim lawan tidak.


Dinda dan Kiran tersenyum bahagia. Arkan sempat melihat kerah penonton sekilas ada Dinda di sana.


Tidak tahu kenapa perasaannya menghangat. Lalu Dinda pergi ketika akan pengambilan Hadiah. Arkan mencari dan teman-temannya meminta Arkan mengambil hadiah untuk mereka.


"Wakilin gue, Lo aja," ucap Arkan singkat pada teman timnya di depannya, asal tunjuk.


...Hal terindah yang harus di jaga, Hal terindah ternyaman...


...~Arkan Prawira....