Arkan Dinda

Arkan Dinda
Permainan berubah



Arkan yang tadinya akan pergi ke bandara bersama yang lainnya tertunda karena Pak Jersey yang ingin mengatakan sesuatu. Lalu terpaksa mereka menghentikan penerbangan untuk hari ini.


Sekarang Arkan dan Semuanya sedang duduk mempelajari tugas dan mendengarkan arahan Pak Jersey dan Giovano.


Seketika Giovano akan meminta Robot pelayan yang ada di ruang tertutup di paviliun itu pergi mengambilkan air. Seketika itu Tez datang dengan wajah kalut dan juga kencang.


"Maaf Tuan saya tidak sopan, Ini penting Lametta dia orang suruhan itu datang Tuan Rayhan baru saja datang bersama orangnya Nona muda dan Nyonya juga Anak Tuan Rayhan sedang ada di tempat aman bersama para pelayan," jelas Tez dengan cepat tanpa ada jeda dan dengan sangat jelas mereka semua dengar termasuk orang-orang Pak Jersey.


Arkan menatap Pak Jersey dan semua temannya juga.


"Permainan di mulai," ucap Arkan seketika mengambil pistol di sakunya dan melihat jumlah peluru yang masuh itu.


Berjalan keluar lebih dulu menenteng pistol keluar.


"Gak bisa di biarin," Kesal Lorenzo dan Bagus berucap bersama.


Yuda memeriksa peluru yang itu. Giovano segera keluar dengan Tez mengikuti Arkan. Yuda dan Rian setelahnya.


Lalu Pak Jersey yang menghubungi anak buahnya.


Arkan bersiap diluar seketika itu sepi tidak ada apapun yang datang. Lorenzo dan bagus yang datang dengan berlari menghentikan larinya di samping Arkan dan Rayhan yang baru sampai langkahnya di samping Arkan.


"Kurasa aku akan terlambat kembali pulang, kukira kau sudah pergi nak," ucap Rayhan.


Arkan Tersenyum aneh. Bergeming membelakangi Rayhan.


"Aku yang merasa jika ini adalah kau yang lakukan," ucapan Arkan sangat tak sopan, Rayhan tak keberatan, nanti juga Arkan akan mengubah cara bicaranya dengan sendirinya.


Yuda dan Rian.


"Sepertinya mereka hanya membuat Tez jadi umpan bagaimana kalo kita yang maju duluan, Giring mereka ke daerah jauh dari pemukiman," ucap Rian seketika berjalan ke arah mobil jeep mewah yang terparkir didepannya.


Arkan segera mengikuti R


ian begitu juga Lorenzo


Sebuah mobil bak terbuka sport dengan label plus di depannya sport mahal itu Justin kendarai.


"Cepat!" teriak Justin pada Yuda dan Bagus.


Mereka langsung pergi seketika Naik ke mobil Rayhan menarik tangan Yuda.


"Jaga Arkan, Aku percaya pada mu," ucap Rayhan pada Yuda.


"Iya Om," ucap Yuda dengan tegas. Rayhan melepas tangannya dari tangan Yuda.


Yuda Justin dan Bagus pergi dengan mobil.


Giovano dan para bawahannya menjaga rumah.


Rayhan menatap mobil Arkan menjauh.


*


Disini di depan gerbang jarak yang jauh Tez juga ada di mobil Justin.


Senjata laras panjang siap Bagus dan Tez bawa.


"Dimana Tez kau melihatnya," ucap Justin.


"Menuju kemari." Seru Tez.


Dor..Dor...


Presetan tembakan umpatan mereka cukup terdengar seperti suara yang bersamaan mengucap umpatan yang sama.


Seketika Bagus bersiap membalas.


Dor..Dor...Dor... tiga tembakan mengenai tiga orang yang menaiki motor.


Dari dalam halam Giovano Pak Jersey dan Rayhan melihat ada percikan dan suara gemuruh berisik kendaraan atau benda keras yang saling menghantam.


Tez menginjak pedal gas bertukar tempat dengan Justin.


Rian dan Arkan bersama dengan Lorenzo bersiap dengan senjatanya.


"Bagi tugas," ucap Lorenzo keras dengan suara teriaknya. Justin mengerti.


Mereka memisahkan kendaraan Seketika Yuda yang fokus tak sengaja melihat mobil Arkan menjauh bersama Rian dan Lorenzo.


Sial..


Tidak ada dan mereka belum datang.


Situasi yang tidak tepat.


maksudnya adalah Bantuan.


Di rumahnya Giovano menatap datar beberapa orang yang hendak masuk.


"Aku sudah mengira ini," ucap Giovano dengan cepat menembak beberapa orang dan seketika habis di bantu Rayhan dan Pak jersey. Hanya membuat mereka lumpuh tidak mati.


"Aku harap mereka memang datang ke tempat itu," ucap Pak Jersey seketika Giovano menatap tajam bersamaan Rayhan hingga kakinya bergerak menghampiri pak Jersey dan mencengkram kerahnya kasar.


"Hati-hati Aku orang tua kau tahu," ucap Pak Jersey terdengar seperti bercanda.


"Maksudku bukan daerah rawan pereman," ucap Pak Jersey.


Cengkraman di leher kerah baju pak Jersey terlepas. Rayhan menatap Pak Jesey tak suka.


"Tidak nyaman kau tahu," ucap Pak Jersey membuat Rayhan mendengkus malas.


Di mobil dengan pertahan hanya senjata Arkan Lorenzo dan Rian sampai di jembatan bersamaan itu sebuah mobil terus mengejar dan menembaki mereka.


Hampir sampai di ujung jembatan beton yang panjang. Tembakan itu membuat ban mobil belakang bocor.


Rian segera menghentikan mobilnya.


Berbarengan tembakan yang tak berhenti.


Mereka mengisi banyak peluru di pistol dengan cepat dan membawa pistol cadangan keluar.


Keluar mereka dari mobil.


Seketika itu mobil lawan berhenti berjarak dan menurunkan Lametta dan Anak buahnya lelaki.


"Tidak sulit menebak ternyata aku mengikuti mu Arkan, Putra Alano," ucap Lametta dengan wajah senang. Arkan berdiri menatap Lametta. Seketika tembakan di lepas Lametta. Seketika Arkan menghindar dan membalasnya.


Mereka memelilih berlari menjauh. Dengan cepat Lametta dan anak buahnya mengejar Arkan Lorenzo dan Rian.


Masuk ke dalam hutan mereka berpencar.


Tembakan masih terdengar seketika itu.


Suara Hellikopter datang. Semua terkecoh Kecuali Rian Lorenzo dan Arkan.


Menghajar sekitar Delapan orang lebih itu mudah bagi Arkan dan Rian dan Lorenzo. Lametta terpojok pistolnya kehabisan peluru.


Arkan mendekat dengan melempar pistolnya.


Lorenzo menangkap tepat.


"Ternyata aku terlalu meremehkanmu bocah, Ternyata kau cukup hebat ya, Bagaimana jika dengan ini," ucap Lametta seketika bergerak dengan Pisau belati berukuran besar. Berputar seperti akan merobek perut Arkan menyamping.


Dengan cepat Arkan menghindar. Gerakan yang cepat juga Arkan membalas tidak mau membuang waktu Arkan melumpuhkan semua serangan Lametta dengan cepat hingga sulit bergerak.


"AK... SIALAN.. LEPAS," ucapnya memberontak.


Arkan memegang kedua tangan perempuan itu di belakang dan membuatnya berlutut. Tidak bisa bergerak dengan keadaan seperti itu.


Lorenzo tersenyum getir Tidak lama Justin dan Yuda berlarian menghampiri mereka.


Bagus dan Tez membawa beberapa orang dengan tangan sudah terikat kecang lalu membuat beberapa orang yang pingsan dan kesakitan dengan Tali kencang.


Hellikopter suruhan Pak Jersey sudah siap.


Bawahan Pak Jersey memberi salam pada Arkan yang babak belur sedikit dan hanya robek di bibir sedikit dan membiru sekarang.


"Tuan Arkan," ucapnya.


"Bawa mereka," ucap Orang myang menyapa Arkan.


Hellikopter besar itu memasukan semuanya termasuk Lametta dengan kaki dan tangan terikat. Termasuk jari-jarinya. Jangan kira Arkan tidak ingin melakukan itu, Arkan yang melakukannya, Jika seorang perempuan penjahat sudah pasti akan cerdas tidak ada penjahat perempuan yang tidak bisa melarikan diri.


Arkan menatap helikopter yang akan terbang dari dalam mobil yang sedang berjalan.


Helaan nafas Arkan seketika keluar dengan kasar membuat Lorenzo dan Bagus menatap dengan aneh. Eh.. tidak aneh hanya kaget karena sudah biasa seperti itu.


Arkan memejamkan matanya sambil menunggu mobil sampai.


"Gila.. Arkan ada aja caranya, Dia manjat pohon Rian sembunyi tuh di bawah daun kering, Gue nunggu Daun kering jatoh di atas Targert.. Gilaa pinggang gue sakit untung jatuh di atas bada orang yang gede."


Cerita Lorenzo yang menceritakan kejadian tadi.


Rian menggeleng seketika Lorenzo memukul bahu Rian tanpa alasan.


"Ehh.. Maaf.. Gue kira Justin biasanya gue ngebuat Justin teraniyaya, iyakan Tin," ucap lorenzo dengan bangga.


Justin menggeleng.


Mobil yang di gunakan Rian di derek tidak bisa di gunakan.


Tez fokus mengemudi dan lorenzo hanya diam yang lainnya juga diam dan lebih memilih memejamkan matanya.


Sampai di rumah Giovano mereka semua turun. Arkan langsung berjalan ke arah paviliun dan segera mandi. Melihat jam nya dan waktu sholat Isya Arkan langsung mengerjakannya setelah mandi. Lalu pergi keruangan dengan banyak komputer dan juga tempat yang di pakai berkumpul mencari dan rapat tentang Informasi.


Yuda dan Lainnya masih di luar bicara dengan Pak Jersey.


"Terimakasih, Kalian memang bukanlah pasukan biasa. Dimana Arkan?" ucap Pak jersey.


"Biasalah pak, dia pasti milih bersih-bersih istirahat terus ibadah," Sahutan Lorenzo.


Pak Jersey mengangguk mengerti.


" Baiklah silakan kalian istirahat, Terimakasih, Lametta orang selanjutnya setelah Farah anak buah Blackrose. Permainan mereka berubah dengan cepat karena kalian dan terutama Arkan, Mereka tidak akan pernah menyangka jika mereka akan kembali berurusan dengan ku dan Giovano melalui Arkan, Yaa sudah.. ini tidak akan selesai Aku juga akan kembali, dan tenang kalian tidak usah memikirkan mobilnya Giovano yang akan menanggungnya," ucap Pak Jersey.


Giovano mendengkus kesal.


"Ah.. begitu, Terimakasih Pak," ucap Lorenzo seketika di sikut Yuda di injak kaki nya oleh Justin.


Pak Jersey pergi dari kediaman Giovano dan Rayhan juga akan pergi tapi, sebelum itu Rayhan akan mengambil putranya tapi, dimana?


"Paviliun dia pasti menemui Arkan," ucap Giovano tiba-tiba, membuat Rayhan menghembuskan nafasnya dan melangkah ke arah paviliun.


Di kamarnya Arkan baru selesai sholat isya.


"Kakak," ucap Rama. Seketika membuat Arkan menoleh.


"Kakak kok gak ngomong kakak marah sama Rama karena Rama gak bilang kalo Rama sayang kakak gitu, iya, Bunda Rama bilang kalo Kakak orang yang baik," ucap Rama panjang lebar. Arkan tidak kunjung bicara Rama malu dan menunduk dengan wajah lesu.


"Iya.. Terimakasih, Aku juga sayang Rama, Bagaimana kabarmu? Kelas berapa sekarang?" ucap Arkan datar dan dingin.


"Haaha... Kakak ngomong, Rama sayang deh, Makasih Kak, nanti Rama bilang sama Papa kalo Rama mau maen ke rumah Kakek, maen sama Kakak, Kak suka motor gitukan, yang gede-gede sam mobil bagus, Rama juga suka banget..." Celotehnya tidak berhenti dan menjawab semua pertanya yang Arkan katakan di akhir ceritanya.


"Iyaa kak, Aku kelas satu sd aku sekolah di Jakarta, Aku lagi libur Aku ikut ayah ke sini katanya mau ketemu kakak aja, Mama sama Mb rumah temen Rama di Jakarta," ucap Rama dengan polos sambil memegang rabot-robotannya.


[maksudnya mb temen rama itu, Pembantu/pengasuh]


Arkan tersenyum tipis mengusap kepala Rama. Seketika Rama melompat memeluk Arkan erat, Arkan terkejut dan memebalas pelukan Rama.


Seketika Rayhan mengetuk pintu.


"Rama ayo pulanh," ucap Rayhan. Rama melepas pelukannya dan menatap ayahnya.


Arkan menatap kearah lainnya.


"Daah.. Kakak, Rama mau naik pesawat mau pulang langsung, Oiya Rama lupa, Papa.. kita bisa main kerumah kakek buat ketemu kakak kan pah," ucap Rama.


Seketika Rayhan bingung ingin menjawab apa dulu Rama bertanya Rayhan beralasan sibuk sekarang apa.


Arkan menatap wajah Rayhan yang pias dan takut jawabannya yang akan di ucapkan membuat Rama kecewa.


"Om dateng aja, Ini buat Rama, " ucap Arkan seketika membuat Rama melompat kegirangan. Rayhan mengakat Rama dan mengendongnya.


"Terimakasih, Aku akan menghubungimu jika Rama ingin kesana," ucap Rayhan, Arkan mengangguk. Senyum tipis Rayhan di wajahnya terukir.


Rayhan pergi seketika itu Lorenzo dan lainnya masuk dan melihat Arkan baru selesai sholat.


*


Orang dengan tato kalajengking di lehernya itu sedang berolahraga lari ditempat di atas alat olah raga yang di gunakan untuk berlari.


Terdengar pintu terketuk seketika dia menghentikan larinya dan diam.


Orang itu masuk dan dengan badan bergetar orang itu melangkah mendekat.


"Tuan Lametta tertangkap." Laporan itu seketika membuat seluruh ruangan seperti di liputi es dan membekukan ruangan.


Tapi, orang yang melapor itu serasa di rebus diatas kuali besar.


Orang itu berbalik dan meraih botol minum didekatnya. Menghampiri informan itu seketika


Sebuah pukulan dari botol air mineral itu merobek kepalanya.


"Siapa lagi orang bodoh yang bekerja denganku, Haaa katakan," ucapnya dengan emosi dan suara tinggi hingga urat lehernya terlihat.


"Akh... Sialan, kenapa cepat sekali kenapa permainan dengan Lametta juga kalah, Sekarang selain kau penembak gadis itu dan dua wanita yang sudah menjadi tahanan Jersey, Siapa lagi yang bisa membuat Arkan pergi dari posisi tengkorak, Kekuasaan Mafia tengkorak harus ada padaku," ucapnya dengan wajah seperti senang tapi marah dan terlihat rangnya begitu tegas tatapan tajamnya membuat orang itu ketakutan.