
Sehari sudah terlewati,
untuk ujian kali ini semua murid SMA tempat Arkan dan teman-temannya tempati ini akan menjadi kenangan, hanya dalam beberapa hari lagi.
Mereka, untuk kelas dua belas sudah selesai menjalani ujian terakhir di hari ini dan akan ada waktu istirahat selama beberapa hari sebelum waktunya acara perpisahan.
Selama itu Arkan akan jauh dan Dinda akan menjauh darinya tidak ada kata atau ucapan sambut atau sapaan tapi, untuk Dinda hal itu bisa atau bisa jadi terbiasa walau hati Dinda yang labir pasti nolak.
Misalnya sama seperti hari ini Rita datang ke bengkel untuk menyampaikan pesan Dinda pada Arkan.
Setelah itu Rita pergi tanpa ada pamit lagi.
Kebetulan di bengkel Arkan masih dengan pekerjaannya dan yang menerima adalah Justin.
Arkan selesai dari membereskan mobil pelanggan seketika Justin memberikan kotak dan ada memo diatasnya.
"Maaf kak Dinda Labil banget ya," tulisan memo pertama dengan emot senyum.
"Ini kueh buat Kakak, Karena kemaren Kak Arkan makannya lahap berarti ini aku buatin lagi pake rasa beda tapi tetap sama judulnya Kueh untuk kak Arkan." Tulis Memo kedua.
"Aku gak bisa jauh dari Kak Arkan, Dinda paham posisi Kak Arkan, Dinda janji sekedar ini aja dan gak akan muncul di depan Kak Arkan. Dinda juga ganti nomer, Semoga hari Kak Arkan menyenangkan." Tulis Memo ketiga.
Arkan tersenyum tipis dan membuka kotak itu ternyata kueh dengan bentuk sama seperti waktu itu tapi ada banyak rasa disana.
Arkan mencicipinya satu dan tersenyum tipis.
Arkan suka hal ini sekarang.
Tapi, untuk kata menjauh yang sempat Arkan pikirkan untuk Dinda sepertinya tidak, gadis itu sulit jauh dari Arkan dan Arkan entahlah bingung sekarang dengan perasaannya dan perintah kakek yang terus menghantuinya .
"Weh... Kueh.. Nih, Dinda ya, Katanya dia menjauh kalo masih gini caranya... gak bakalan menjauh ceritanya, Tuh anak emang susah move on dari lo, Jadian.... belom udah disakitin harapannya," ucap Lorenzo ngawur. Seketika jitakan Bagus melayang.
"Ngomong lo kondisiin," ucap Bagus. Arkan terdiam biasa saja. Sedangkan Lorenzo dan Bagus saling oceh-ocehan satu samalain tapi, tangannya menyambar kueh yang sedang Arkan cicipi.
Arkan terdiam saja mendengar Bagus dan Lorenzo berdebat.
Seketika Rama dan ayahnya datang dengan mobil yang ban nya kurang angin.
"Kakak," terikanya turun dari mobil dengan tas ransel besar dan berisik seperti alat tulis saling berjatuhan, membuat Bagus dan Lorenzo menoleh cepat. Saat itu Arkan hanya melirik saja.
Rama ternyata, bersama ayahnya pikir Arkan.
"Disini bengkel kamu, Om juga pernah mulai dari sini, Apa kamu mau om bantu," ucap Om Rayhan menatap ponakannya.
Seketika Arkan berdiri.
"Ada yang bisa di bantu Om." Sahut Arkan mengalihkan pembicaraan. Rayhan yang asik melihat lihat bengkel Arkan mengangguk angguk mengerti.
"Iya.. Itu tambah angin ban depan kanan kiri." Katanya sebelum Arkan menunggu lama.
Rama mengikuti Arkan yang mengisi Angin di ban depan mobil sebelah kanan.
"Kok gak ada suaranya sih pah," ucapnya memanggil ayahnya.
"Ada kok nih," ucap Arkan seketika menyabut selang pompa angin itu. Rama berseru heboh seperti melihat hal baru.
" Ih... Aneh."
Rama berseru riang.
Seketika itu ban sebelah kiri depan.
Rama masih mengikuti Arkan.
Rayhan menatap kebersamaan Rama dan Arkan dengan nyaman dan hati yang tenang, Andai saja Alano dan Ambar masih ada Arkan juga akan seperti Rama mendapatkan kasih sayang berlimpah dari kedua irang tua lengkap.
"Udah om," ucap Arkan, seketika membuyarkan lamunan Rayhan.
"Berapa," ucap Rayhan.
"Gak usah om buat Rama aja," ucap Arkan.
"Kamu ini kamu itu kerja om pasti bayar karena om pelanggan," ucapnya dengan tenang. Om Rayhan memberikan uang yang pas pada Arkan.
Arkan tersenyum menerima uangnya.
"Makasih om," ucap Arkan menerima uang berwarna coklat dengan angka lima dan tiga nol di belakangnya.
"Ini," ucap Arkan pada Rama.
"Ok makasih kak," ucap Rama.
Rayhan sebenarnya tidak ingin memberikan uang banyak tapi, Rayhan takut Arkan sakit hati jadi Arkan menerima uang pecahan lima ribu itu juga mengerti dan tahu jika Omnya pasti memikirkan perasaannya, tadinya Arkan mengira Omnya tidak sampai sana ternyata Omnya paham.
Dan Rama menerimanya kembali dari Arkan, karena Rama bercerita jika ia menabung untuk membuatkan rumah besar untuk Bundanya. Arkan memberikannya karena Arkan tahu Rama pasti akan menjadi anak yang baik untuk Bunda, Mengingatkan Arkan pada Mamanya, mereka sekarang bersekongkol karena Rama minta Arkan jangan memberi tahu Papanya.
Rama langsung naik mobil mengikuti papanya.
Tak lama setelah mobil Omnya Arkan menjauh. Disana Seseorang dengan topi hitam tersenyum dengan semirk. Aneh.
*
Malam tiba Dinda baru saja pulang dan sekarang sedang duduk di teras karena pegal dengan kakinya berjalan mondar mandir. Ramai sekali tadi butik mamanya Kiran.
Baru akan masuk seketika Dinda di panggil seseorang ternyata tukang kurir makanan.
Dinda menghampiri dan menyakan berapa harganya. Kurir bilang sudah dibayar.
"Itu masakan Mamah katanya kamu suka, Mama minta kamu makan jangan, gak makan!" Pesan Syifa.
Entah kenapa rasanya Dinda sakit ya, tapi, kan Ini kebahagian Kak syifa sama Arkan kenapa harus kesal. Dinda harus bahagia juga.
Dinda pergi ke belakang untuk mengangkat jemuran yang kering lalu meletakan depan tv. Melakukan rutinitas sehabis pulang kerja seperti biasa.
Di rumahnya, Arkan sedang memfokuskan dirinya pada pekerjaan. Seketika Terdengar suara mobil, Arkan membuka monitor nya dan melihat mobil Kakeknya.
Arkan membuka Gerbang dan membiarkan mobil masuk nanti gerbang juga akan tertutup otomatis ketika mobil sudah masuk.
Kakek datang bersama Pak Johan Arkan menghampiri Kakek yang duduk di ruangan tengah dan mencium tangannya.
"Sepertinya kamu tidak perlu melakukan acara perpisahan itu lebih baik kamu langsung berangkat ke Jerman dan juga Swiss urusan mu disana lebih penting dan besar," ucap Kakek dengan wajahnya yang sangat datar dingin dan tegas.
"Dan setelah itu kamu bisa langsung memulai acara pernikahanmu," ucap Kakek dengan wajah senang.
"Iya," Sahut Arkan singkat. Tidak ada pilihan lain.
"Tuan besar sebaiknya Tuan muda bertemu dengan teman-temannya sebelum pergi karena saya juga pernah merasa muda," ucap Pak Johan yang tiba-tiba memberi saran tanpa di minta.
Kakek berpikir sejenak.
Seketika Kakek mengangguk.
"Tidak masalah hari itu saja setelahnya kamu bisa berangkat."
Kakek bangkit dari duduknya dan pergi lagi.
Arkan terdiam menatap kepergian kakek dengan wajah datarnya.
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu hari Arkan di hari acara kelulusan tiba.
Para Siswa siswsi yang akan lulus hari ini sudah tampil dengan dandanan cantik dan tampan Kelas dua belas yang akan segera menjadi alumni ini sudah tampil sangat sempurna khusus untuk hari ini.
Dinda dan semua temannya hadir di acara itu membantu Gisella adalah wakil ketua osis kelas sebelas Ips dan juga Ketua osis Baru Dodi yang juga ketua kelas di Kelas Dinda.
"Mereka hadir hanya karena perintah guru, Kalo gak, gak bakalan dateng," ucap Laskar pada Lorenzo yang duduk sambil memaikan ponsel di kursi peserta kelulusan.
"Arkan diam di kelasnya," ucap Rita pada Dinda ketika acara penyerahan raport dan ijasah akan dilaksanakan tapi, hanya Arkan yang tidak ada.
"Lah.. kenapa kok gak disini," ucap Dinda sepontan menolak.
"Samperin geh Din," ucap Lia.
"Lah.. kan gue masih ada kerjaan," ucap Dinda menolak.
"Lah.. lah... Bilang aja lo malu lo suka kan kalo disuruh gini sono samperin keburu ada yang lain yang nyamperin." Kata Kiran sambil mendorong bahu Dinda menyuruh pergi.
Dinda akhirnya pergi meninggalkan tugasnya di bagian konsumsi.
Ketika sampai di kelas Arkan tidak ada. Dinda mencari ke perpustakaan. Dinda tidak melihat siapa pun.
Seketika Dinda melihat Kakaknya Syifa dan Arkan berciuman di dekat ruang kebersihan.
*
Yang sebenarnya terjadi. Arkan keluar kelasnya dan akan pergi ke toilet dekat perpustakaan. Tapi melihat Syifa yang ketakutan melompat kesana kemari. Arkan penasaran den mendekat.
Ketika di dekati ternyata Syifa di ganggu belalang sembah di dekat sanggulnya dan membuatnya histeris.
Arkan mengambil belalang itu dan membunganya. Lalu memeriksanya lagi karena permintaan Syifa tanpa menyentuh Syifa.
Dan saat itu Dinda melihat jika Arkan mencium Syifa.
Dinda mengepalkan tangannya dan merasakan kesal yang sangat Dinda memberanikan diri mendekati Kak Arkan.
"Kakak... Sebentar lagi acara kelas Dua belas. Kakak di cariin temen-temen kakak," seketika Dinda berucap seketika itu membuat Arkan menoleh cuek dan Syifa mendorong Arkan keras dan menjauh. Syifa langsung menghampiri Dinda dan menggandeng tangannya.
"Makasih Kan, Belalangnya tadi," ucap Syifa dengan keras.
Dinda semakin murung memang arti belalang itu apa, pikir Dinda.
Arkan menatap Dinda yang menjauh dengan wajah yang datar tanpa ekspresi.
Arkan mengira Jika Dinda melihat Arkan dan Syifa dengan salah paham pasti, Sudahlah biarkan saja!
Arkan pergi ke toilet dan akan menghandiri acara kelas dua belas nanti.
*
Semua selesai tinggal pensi dari beberapa adik kelas dan kelas dua belas.
Dinda dan teman-temannya duduk di depan kelas Sepuluh Ips dengan kipas kipas.
"Beeuubh.. Capek nya, Dodi.. teraktir es dong," ucap Lia juga Gisella.
Seketika Dodi berdehem.
"Lo pada Aus bentar gue mintain ama pak Udin, Bu Siska," ucap Dodi segera berlari pergi.
Dinda masih diam memikirkan kejadian tadi seketika menyambar air mineral gelas dan mengambil sedotan dan menusuknya dengan sadis lalu meminumnya.
Tanpa sadar Kiran memperhatikan Dinda jadi ngilu sendiri.