
Dinda menatap dari jauh. Jauh saja sejak beberapa minggu hingga beberapa minggu berlalu Arkan tidak bisa Dinda dekati, Ada saja halangan yang ini yang guru yang Arkan di panggil temannya.
Di kantin sekarang Dinda dan Kiran berduaan.
"Batagor Din," ucap Kiran. Dinda mengangguk menatap Kiran.
Tidak lama dua piring batagor datang.
Mereka berdua makan bersama.
"Ran... Kira-kira Kak Arkan lupa gak ya ama gue," ucap Dinda pada Kiran. Kiran menatap Dinda lalu menggeleng lalu menyuap Batagor masuk mulutnya.
"Yaaa bisa jadi sih, tapikan lo sama Kak Arkan gak ada apa-apa," ucap Kiran seakan menyindir setatus siapa Dinda dan siapa Arkan, ngenes emang juga menyedihkan sekaligus Dinda sedih dan sadar lagi status aneh itu.
Kiran yang sebenarnya sudah lama ingin mengatakan tentang dirumah sakit waktu itu tapi, Kiran sudah janji dengan kakaknya karena Arkan.
Dinda bisa tidak tahukan ya Kalo Kiran menyimpan hal yang seharusnya gak perlu juga di simpan tapi, ini sudah di cover janji kalo bongkar rahasianya berarti Kiran ingkar.
"Aaah.. Lemes gue gak dapet vitamin dari Kak Arkan ngeliat mukanya doang dah kayak hp baru cas langsung di cabut, kagak kepake lama tahu gak," ucap Dinda tiba-tiba Kiran terkejut langsung memasang wajah tenang dan santai biasa seperti tidak ada yang terjadi.
"Yaa.. gimana lagi kan kelas 12 mau ngadepin ujian kelulusan jadi sibuk banget, apa lagi kayak Kak Arkan. Lo kan baru beberapa waktu beberapa bulan di perhatiin kak Arkan," ucap Kiran lagi, Tidak tahu kenapa setiap Kiran menjawab keluah kesahnya selalu... seketika membuat Dinda sadar.
"Ih.. iya bener juga." Lemas Dinda menatap Batagornya di depannya dan memakannya.
Selesai makan siang istirahat di kantin, setelah olah raga juga pelajaran penjas dan setelahnya jamkos karena guru-guru ada urusan.
Dinda dan Kiran keluar dari kantin dan pergi ke pinggir lapangan Bola.
"Bosen mau apa yaa biar gak bosen," ucap Dinda seperti punya banyak rencana tapi, kenyataannya tidak ada.
Kiran menghela nafasnya.
"Daah.. Maen basket aja mumpung sepi pinjem bola sama pak Yoyo gak masalah bukan." Ide Kiran membuat Dinda setuju sangat. Anggukan antusias dan tersenyum lebar.
"Boleh... Ayo cepet," ucap Dinda semangat menarik Kiran ke ruang pak Yoyo.
Seketika Yeni memanggil Dinda dan Kiran.
"Woy.. Ayo temenin kita maen, Jamkos nanti lapangan basket sepi, maen-maen aja lempar-lempar," ucap Yeni sambil berteriak Dinda byang baru berjalan menghentikan langkahnya Kiran menunjuk dengan dagunya, isyaratnya, lebih baik main bersama Yeni dan lainnya!
Berhubung mereka menggunakan baju kaos olah raga dan belum ganti.
Mereka juga ada jamkos setelahnya jadi pake saja baju olah raganya sampai pulang sekolah.
"Weh... Yoi..." Sahut Dinda dan Kiran keras setelah tatapan kesepakatan.
Tidak lama Chintiya datang bersama Lia dari mengambil beberapa Bola.
"Gue lo kita bertiga maen bareng aja, biar sekalian belajar buat ujian penjas," ucap Lia.
"Ok.. Miss Lia," ledek Yeni. Kiran juga ikut bermain dengan Lia dan Yeni. Dinda bermain sendiri Chintiya juga.
Mereka bermain bola basket. Sedangkan Dinda mengambil bola untuknya sendiri.
Melempar tidak masuk untuk pertama.... Lalu kedua... Lalu ... Ketiga... Ke Empat... Ke Lima.
Lemparan ke Lima Dinda tidak masuk juga.
"Brengsek lo... Ring basket kurang aja, Gue gak sampe. Kenapa.. lo gak mau nerima bola gue, Haaaah.. Liat ini ke enam gue pati bisa dari tengah lapangan," ucap Dinda menatap sengit Ring basket. Teman-temannya yang mendengar Dinda hanya bisa mengelus dada. Tingkah Dinda sulit di tebak marah-marah kok sama Benda mati! Gila kali!
Memantul-mantulkan bolanya lalu mengukur dengan bola dan tatapannya.
Lempar!
Kring..
Masuk, Bola masuk ke dalam Ring Basket dan jatuh. Dinda senang sangat, senang sekali.
Yeeeh... berhasil, serunya keras. Untuk sepi bisa malu temannya.
"Waaah.... Dinda hebat," ucapnya dengan semangat empat lima membanggakan dirinya sendiri.
"Lagi kita mulai lagi," ucap Dinda.
Seketika lemparannya meleset dan malah ke arah lainnya. Dinda malas sebenernya, akhirnya mengambil Bola yang mengelinding juga dari pada ilang.
"Ih jangan... Ba..likin," ucap Dinda ketika sebuah tangan mengambil bolanya dan ketika wajah Dinda terangkat.
Orang yang selama ini menunggu Dinda menatap Dinda dari jarak dekat.
"Balikin" ucap Dinda acuh dan pergi sambil merampas bola kasar.
"Alea," ucap orang itu.
"Apa sih Kak... jangan ganggu Dinda, Dinda males sama Kakak," ucap Dinda sambil berjalan seketika menoleh kebelakang wajah Rian tersenyum menatapnya. Dinda membalik wajahnya lagi dan pergi.
"Dinda tunggu bentar," ucap Rian tiba-tiba. Dinda menghentikan langkahnya terpaksa dan membalik badannya menatap Rian sengit.
Dari tempatnya Kiran dan Lia juga Yeni Lalu Chintiya mereka menoleh ketika teriakan Rian memanggil Dinda.
"Ran, Dinda noh," ucap Yeni.
"Iya gue tahu, Liatin aja dulu," ucap Kiran. Mereka tahu jika Rian hampir melecehkan Dinda dari Kiran jadi tidak heran sekarang mereka cukup berjaga-jaga jika melihat Kiran ada di pengawasan mereka dan Rian jika sedang kumpul bersama lalu Rian mendekat mereka akan biasa dan tidak masalah karena jarak itu dekat jika ingin berbuat macam-macam mereka juga sedang di sekitar Dinda, Intinya mudah aja kalo kayak kemaren Rian dateng sendiri ke kelas dan ngajak Dinda tapi, dari situ Rian dan Dinda gak tahu kalo Kiran sama Lia Yeni mengikuti Dinda.
Menunggu hal yang tidak mereka harapkan semoga Rian tidak membuat Dinda marah dan kejadian buruk pada Dinda.
Rian menatap wajah kesal Dinda.
"Kamu Lucu, Udah sembuh?" ucap Rian bertanya juga menatap wajah kesal Dinda dengan senang. sambil memantul-mantulkan bola.
"Iya," ucapnya singkat.
"Kamu kenapa gak samperin Arkan kalo lagi istirahat dia," ucap Rian membuat Dinda menghela nafasnya.
"Apaan Kak, gak usah urusin Dinda Kakak juga buang waktu Dinda," ucapnya kesal dan berbalik.
Seketika tangan Dinda di tahan Oleh Rian.
"Gue suka sama Lo dan perlakuan gue waktu itu emang kurang ajar banget maafin gue, Tapi, Gue tahu lo suka sama Arkan gue harap ngeliat lo bahagia sama Arkan adalah cara terbaik gue mencintai lo Din," ucap Rian seketika membuat raut wajah Dinda berubah derstis dan terlihat ada tatapan bersalah di mata Dinda.
"Kakak... udah Dinda anggep temen dan kakak sendiri, Kak Rian gak boleh suka sama Dinda, Maaf Kak, Dinda udah Maafin kak, Dinda faham mungkin waktu itu Kakak lagi gak bisa nahan emosi karena kesal sama berita itu tapi, setelah Kakak tahu yang sebenernya Kakak berubah, Jadi Dinda gak masalah, saling memaafkan aja," ucap Dinda dengan nada suara sopan sekarang.
Rian tersenyum manis dan melepaskan tangan Dinda.
Seketika menatap Dinda mendekat.
Memeluk Dinda seketika Dinda berjongkok di bawah menjauh. Menghindar tepat waktu.
"Maaf Kak.. Pelukannya tidak termasuk," ucap Dinda dengan wajah terkejut juga kaget tapi masih sangat Lucu.
Arkan melihat itu dari tempatnya berdiri. Seketika berbalik Pergi. Baru saja melangkah Pergi Sebuah bola basket terlempar ke punggungnya. Arkan menoleh dengan wajah marah. Melihat siapa pelakunya Arkan menatap datar.
"Kakak liat Dinda ngobrol sama Kak Rian ya," ucap Dinda. Arkan diam. Sambil mengejar Bola dan mengambilnya Dind lalu berdiri didepan Arkan.
"Kakak marah ya?" Menggoda Arkan yang kesal dengan tatapan dinginnya, kadang Dinda takut kadang juga berani tergantung jika Dinda berbuat salah dan tatapan Dingin Kak Arkan bisa jadi menakutkan.
Arkan tetap Diam.
"Oh.. Ya uah deh.. Daah.. Dinda maen dulu ya sama Yang lain," ucapnya pergi seketika Arkan menghela nafasnya dan berbalik.
"Tungggu..." ucap Arkan terjeda dan berhenti seketika ketika melihat Dinda masih di depannya tadinya
Arkan sudah berjalan pergi setelah tahu Dinda yang melemparnya dan bertanya apa dirinya marah Arkan tetap berjalan acuh saja, tadinya Arkan ingin menghampiri Dinda dan mengajaknya bermain karena dirinya sudah selesai dengan ujian sekolahnya.
"Kenapa Kak, Kakak marah yaa, Cemburu atau mau ngejar Dinda?" Ucap Dinda menggoda Arkan. Wajah tersenyum lebar dan raut wajah jahilnya sangat terlihat.
"Hayo.. Ngemeng-ngomong aja kak, Dinda Alea akan mendengarkannya," ucap Dinda dengan wajah terlalu ceria berlebih. Basa aneh yang membuat Arkan aneh itu terdengar di telinganya.
Arkan menunduk lalu mendanga mengangkat wajahnya ke atas dan mendesah lega.
"Hmm..."
"Ngomongin apa kamu sama Rian sampe pegang tangan peluk segala?" Tanya Arkan pada Dinda yang sedang menatap Arkan dengan wajah polos.
Menatap mencerna semua ucapan Arkan
"Cemburu kayaknya!" Kata Dinda dengan percaya Diri dan Pasti.
Arkan berdecak malas ekspresi Dinda menyebalkan membuat Arkan harus tertawa, Arkan tidak suka tertawa lepas sekarang di sini.
"Sudah lah," ucap Justin tiba-tiba datang. bagus merangkul Arkan
"Dinda.. Pinjem Arkan nya ya," ucap Lorenzo membuat Dinda mengangguk dengan tersenyum.
"Pulang bareng," ucap Arkan sambil berbalik di tarik Bagus.
Dinda mengangguk.
Dinda rasanya beruphoria sekarang haaah... gak mungkin kan dah banyak kata goda buat Kak Arkan Dinda gak bisa bayangin Kalo Dinda bener-bener pacaran sama Kak Arkan tapi, waktu... waktu itu kalo gak salah Kak Arkan bilang calon istri!
Tunggu!
Kalo Calon istri apa mungkin Kak Arkan serius.
Eh.... Stop Dinda tapi, kan Dinda harus ingat siapa Kak Arkan siapa Dinda kenapa Dinda harus semangat gini, huuuh.. gak boleh senang berlebihan Dinda harus bisa kendalian rasa senang inj sebelum hasilnya kecewa dalam. Kak Arkan orang terpandang di negara ini dan Kota ini tahu siapa keluarga kak Arkan, Dinda Tahu ayah Dinda bisa buat semuanya semau Dinda kalo Dinda minta tapi, itu gak bisa banget? Dinda gak mungkin harus egois.
Istighfar Dinda...
...Ada saat Dimana aku mulai merasa bahagia dan pasti tapi, Saat kelam yang bahkan aku sendiri tak ingin membayangkannya... itu muncul tiba-tiba dan membuat perasaanku harus kembali masuk kedalam ruang gelap yang sebelumnya bersinar karena kebahagian darimu....
...~Dinda Alea....