
Hari ini Dinda kepasar bersama Syifa karena bahan yang ibu Dinda mau hanya ada di pasar tradisional dan supermarket itu ada tapi ibu Dinda meminta Syifa juga Dinda pergi kepasar teradisional saja untuk belajar memilah milah bahan dan dan belajar tawar menawar.
Seketika itu Dinda di tarik kasar Maulana. Ketika asik memilih Sawi dan juga sayuran lainnya.
Dinda yang terkejut hanya mengikuti dan tidak curiga.
"Kak Aku bentar sama temen," Syifa menoleh dan mengangguk lalu mengisyaratkan telepon, maksudnya jika terjadi sesuatu telepon saja.
Dinda mengangguk mengerti.
Di belahan bumi lainnya Arkan sedang pusing dengan tugasnya seketika mendapat pesan jika Maulana mengikuti Dinda kepasar.
Arkan tidak membuka dan tidak menanggapi isi pesannya.
Rettrigo berinisiatif karena tidak ada jawaban Arkan .
Rettrigo dan Kuta membagi tugas. Kuta menjaga Syifa kakaknya Dinda dan Rettrigo mengikuti Dinda dan Maulana.
"Ih.. Sakit Maul, Apaan sih lo, Lo mau ngomong apa kenapa bawa ke sini jarang orang lewat disini," ucap Dinda yang menyadari parkiran sepi ini.
"Aku mau bilang kalo aku udah gak tahan liat kamu masih berharap sama Arkan, Setidaknya aku suka sama kamu Dinda," ucap Maulana serius.
Seketika Dinda terdiam menciut di bentak Maulana.
"Ya.. Ya-a-aku gak suka aku, Eh Gue kan nganggep lo temen dan lo lama juga gak Gangguin gue sekarang kenapa lo tiba-tiba dateng dan nyatain perasaan, Oh.. atau jangan lo Prank ya yaa... Dah lah Maull maul gak lucu tahu gak tapi gue terkejut, Haah... gitu," ucap Dinda panjang kali lebar di buat-buat lucu dan mencarikan suasana yang tegang ini. Yang tiba-tiba mendapatkan ide bicara dengan berani.
Maul menatap kanan kiri seperti frustasi juga kesal menghembuskan nafasnya kebawah menolak pinggang dan menatap Dinda yang santai seperti tidak berpikir ketika mengatakan semua itu.
"Kenapa natap gue, Malu dah gue mau belanja ganggu Me time gue lo," ucap Dinda seketika tersenyum pergi seketika tangannya berhenti bergerak di tarik Maulana. Kaki Dinda juga langsung berbalik bersamaan tubuhnya.
"Apa lagi Ullana ulla Maulana, Nyebelin juga lo ya," ucap Dinda yang mulai kesal.
Maulana mendekatkan wajahnya seketika itu Dinda memundurkan wajahnya reflek kepala bergerak karena tanda bahaya di pikirannya sudah lebih dulu waspada dan mewanti-wanti.
Dinda langsung menghentkan tangan Maulana sekali dan menjauh dua langkah ke belakang.
"Ngaco lo ya, Lo Beg* apa pinter, Lo mau nyium gue di tempat umum," ucapan Dinda yang mulai bar bar. Maulana dengar lagi cara bicara kasar Dinda.
"Lo Maksa bener, Denger ya Maulana, Kalo lo caranya kayak gini, Gue juga males temenan sama Lo, Bawa perasaan bikin sepet ati aja lo," ucap Dinda dengan kata-kata kasar dan barbar sikapnya menunjuk dahi Maulana kasar dan Dada Maulana kasar.
"Tapi," seketika Maulana berucap sambil menghentikan tangan Dinda menunjuk Dadanya.
Wajahnya mendekat lagi ke Dinda seketika, memundurkan kepalanya menghindari hembusan nafas Maulana.
"Lo terlalu cantik buat Arkan yang terlalu pendiem yaa walaupun dia pinter anak orang kaya gue tahu itu tapi, Apa harga diri lo sebates itu," ucap Maulana.
Deg.
Mesum juga nih orang.
Sama ... Ternyata sama saja, dasar polos Dinda, dia itu gak beda.
"Heh," Dinda tersenyum remeh mengeluarkan kekehan kecil.
Tanpa sadar semua itu direkam oleh Rettrigo tanpa ada yang tahu.
"Denger! Maulana Bratasena, Gue adalah diri gue, Lo gak pantes ngehina gue, Okeh, Gue akuin gue emang nganggep Kak Arkan adalah yang terbaik, Lo gak kenal gue, Gue juga gak tahu lo, Lo nilai gue sembarang FINE TERSERAH ! Asal Lo tahu, Lo gak pernah ada di posisi gue jadi jangan pernah lo ngomong sembarang di depan orang kayak gue yang ada di posisi persis kayak gue begitu, Gue masih tahan buat gak bunuh dan mecahin semua telor lo, Cakar muka lo," ucap Dinda kasar. Lalu pergi begitu saja dengan marah.
Seketika itu senyum di wajah Maulana tercetak.
Di selah istirahat setelah menyelesaikan pekerjaan Arkan memeriksa suara bising ponselnya yang ternyata pesan masuk dari Rettrigo.
Seketika wajah Arkan yang tadinya lecek kesal dan lelah seketika tersenyum senang karena Arkan bisa melihat Dinda yang berubah lebih berani.
Hampir Maulana menciumnya! Tapi, Dinda menghindar cepat. Arkan senang bukan main.
Seketika menelpon Rettrigo untuk memberi pelajaran pada Maulana.
*
Kembali ke kakaknya Dinda membawa dua kantong pelastik kecil.
"Kak Aku beli susu kedele sama keripik kelanting makan nanti abis belanja ok," ucap Dinda.
Syifa melihat dan tersenyum mengangguk. Sebenernya Syifa ingin bertanya pada Dinda tapi tidak apa-apa sepertinya ya sudahlah, Syifa jangan kepo lagi.
Disini mereka membeli rempah.
Kerasa denging kuping Dinda. seketika menghentikan langkah dan beristigfar. Syifa juga seketika menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang dan melihat Dinda aneh.
"Kenapa?" Heran dengan tingkah Dinda.
"Oh enggak apa-apa kak!" Sambil tersenyum Dinda kembali menghampiri Syifa dan kembali sibuk membeli beberapa rempah.
"Tumben Ibu nyuruh beli kayak beginian biasanya nyuruh si Bibi," ucap Dinda.
Syifa gelagapan ketika bingung apa alasannya. Sebenernya ini adalah salah satu pelajaran untuk Dinda setelah menikah tapikan Dinda tidak boleh tahu kalo dia yang akan menikah.
Oh ayolah Otak Syifa bekerjalah sudah dua kali menipu Dinda tentang pernikahan sekarang juga harus bisa.
"Haaah.. Itu, Kan ya namanya cewek harus belajar belanja, Kan Mama dulu gadisnya sering kepasar teradisional jadilah gue lo juga disuruh itung-itung kalo gue buat jalan-jalan sama belajar nawar menawar lah kan selama ini cuman beli tahu harga bayar juga sesuai harganya," ucap Syifa.
Seketika Dinda mengangguk paham.
"Iya sih bener juga, Ini itu lebih bagus jadi tahu kalo ada sayuran lain selain kualitas terbaik harga mahal, padahal ada yang bagus dan murah kalo di pasar tradisional, iya, iya paham gue kak," ucap Dinda. Seketika penjuan memberikan Dinda pelastik.
"Mau beli berapa neng seperempatnya lima ribu, boleh pilih sendiri, atau mau yang kunyit jahenya besar- besar juga ada disebelah kanannya ada bunga lawang neng lagi promo murah!" ucap penjualnya memberi penjelasan pada Syifa dan Dinda.
"Oh.. kalo ini apa om?" ucap Dinda.
"Itu jahe merah ada temu lawak, temu kunci," ucap abangnya sambil terkekeh.
Dinda dan Syifa saling memilih meminta beberapa kantong lagi untuk membukus rempah lainnya.
"Oiya bang kalo berambang berapa?" tanya Syifa.
"Murah neng mau berapa? ini yang bagus biasa ini yang paling murah," serunya lalu sambil melayani ibu-ibu lain yang sudah selesai mengambil dan tinggal di timbang.
Sesuai daftar belanjaan dan perkataan Ibunya Dinda. Mereka belanja dengan bertanya dulu agar tidak salah.
Mereka berdua sebenernya tidak tahu tentang rempah kunyit jahe bisa tertukar.
Beruntung mereka berdua bertemu penjual baik kalo tidak sudah di permainkan mereka.
Di tempat lainnya Maulana mengamuk pada seseorang. Wajah Maulana babak belur.
"Anda minta saya untuk mengamankan Dinda karena kalo dia bersama saya dia baik tapi, Anda bilang cepat-cepat! ini tidak mudah asal anda tahu," marahnya Maulana menunjuk seseorang dengan rambut dan berewok putih tapi, wajahnya masih segar.
Terkekeh dengan aduan Maulana Orang itu pergi meninggalkan Maulana duduk sendiri dengan amarahnya di rungan seperti ruangan kerja. Seketika melempar sebuah kertas dengan materai.