Arkan Dinda

Arkan Dinda
Seperti biasa



Kembali sekolah dengan tenang Dinda yang sudah bangun dan melaksanakan kewajibannya sekarang ingin mandi. Baru akan mandi Dinda melihat Arkan duduk di meja makan dengan tenang sambil memainkan ponsel tekejut Dinda langsung menempel tembok seperti kucing yang melihat musuhnya mendekat.


"Ka-kakak... nga-ngapain kesini. Ka-kan Dinda belum mandi dan Aaa... jangan liat kemari muka Dinda pasti jelek, Haahk Gak asik Kak Arkan masuk rumah gadis sembarang kalo Kakak liat aneh-aneh gimana kakak kan cowok..." Terpotong.


"Makan sarapan, Ayo berangkat." Kata Arkan seketika membuat Dinda melotot heran Eh.. Dinda baru sadar jika rumahnya bersih dan meja makan juga rapih dan darah. Loh... ini masih mimpi tapi, kok ada... Hih, pikiran Dinda melayang jauh.


"Iyaa mandi ini mandi," ucap Dinda ketika tatapan tajam Arkan membuat Dinda menciut takut. Segera Dinda mandi kilat lalu danda Kilat dan menyusun buku dan mengambil sepatu lalu kaos kaki. Lalu pergi ke meja makan.


Arkan sudah tidak ada, Kemana perginya?


"Loh.. kemana kak Arkan," ucapnya. Arkan duduk di atas motornya sudah siap dengan Helmnya dan Ponselnya sambil sibuk mengetik sesuatu. Dinda keluar Seketika Akan menutup Pintu Dinda terdiam. Arkan mengangkat wajahnya.


"Helm." Satu kata keluar dari mulut Arkan yang tertutup helm fulfacenya.


"Iya.. lupa bentar kak," ucap Dinda lalu bergerak cepat masuk kedalam dan keluar dengan helmnya.


Setelah sudah siap Arkan keluar dari halaman Dinda juga berjalan pelan sambil mengingat-ingat kunci jendela pintu kompor lampu dan pendingin ruangan piring kotor belum di cuci, garasi tertutup sudah semuanya aman dan tinggal gerbang terakhir Dinda tutup rapi dan kunci.


Dinda menghampiri Arkan dan duduk diatas motor Arkan dengan tenang. Setelah siap dan Dinda mengatakan sudah. Motor Arkan melaju pergi.


*


Di sekolah Arkan datang terlalu pagi karena sekolah masih sepi.


"Baru jam enam," ucap Dinda. Seketika membuka helmnya dan menatap Arkan.


Arkan seketika menoleh. Dinda membuang pandangannya.


"Makasih kak, ini pagi banget," ucap Dinda. Arkan berdehem.


Arkan turun dari motornya. Melepas helmnya. Seketika Menarik Dinda lagi.


"Haa.. Apa kak." Bingung Dinda.


"Helm."


Dinda seketika sadar dan cengenegsan.


"Ini kakak. Maaf ya heheh," Katanya lalu pergi berlari kecil Duluan.


Melihat Dinda menjauh Arkan menelpon seseorang.


"Zo lo jemput Rita, Minta Yuda anterin Kiran," ucapnya ketika telepon pada Lorenzo tersambung.


"Haah.. Apaan.. Lo kira gue apa.. ogah gue jemput Rita," ucap Lorenzo terkejut dengan suara serak bangun tidurnya.


"Gue terlanjur bawa Dinda ke sekolah pagi," ucap Arkan lagi.


"Tapi, kan gue baru...." Terputus belum sempat selesai bicara. Kesal. Lorenzo Kesal karena Arkan. Sekarang hari ini Lorenzo harus menjelma menjadi kang ojek untuk Rita dan menjadi anak baik bagun pagi.


Kak Indri Kakak Lorenzo terkejut karena adiknya bisa bangun pagii.


"Astagfirullahaladzim, Kamu adik saya... Ya ampun Kamu dapet berkah pagi ini bangun pagi," ucap kan Indri dengan mengejek Lorenzo.


"Apaan Kak.. Dah lah diem ini semua Arkan penyebab nya." Keluhnya sambil memakan roti tawar selai kacangnya.


"Haah.. Arkan. Bener-bener Kakak beruntung karena Kamu deket sama Arkan besok-besok Kakak kerja sama Arkan lagi biar kamu jadi anak baik terus," ucap Kak Indri yang tahu siapa Arkan.


Haah.. Bukannya tenang sebentar malah dapat ceramah nasehat dari kakaknya dan malah memuji Arkan, Adiknya juga bisa di puji.


"Dah Kak.. Lorenzo berangkat dulu, Assalammualaikum."


"Yaa Allah Demi apa... Adek bisa salam. Papih... Lorenzo udah tobat... Pih liat anak biangkerok udah insyaf..."


"Stop.. stop kak.. Apaan sih Kakak gak jelas deh Berisik tau gak pagi-pagi rusuh, suara kayak kaleng kejepit pintu."


Bukannya Marah Kak Indri justru menghitung uang.


Lorenzo sudah mengira jika akan besar uang sakunya. Seketika kertas berwarna hijau dan tiga kuning Kakaknya geser untuknya.


"Yaa Elah kira tambahin berapa... Segini cuman nambah Serebu kan Kakak juga biasanya ngasih pake dua rebuan, Jahat emang Kak Indri."


"Oh Gak mau Gak papa kakak kasih ini Aja," ucap kak Indri ketika Akan Menarik lembar berwarna hijau Lorenzo menyambarnya dengan cepat.


"Eh.. Enggak kak.. Gak masalah segini Makasih kakak ku yang cantik baik, Makasih banyak sudah bermurah uang pada adik paling ganteng mu ini," Ucap lorenzo lagi bergegas berlari keluar.


Mengeluarkan motornya dari Garasi dan mengambil Helm coklat khusus perempuan di rak helem milik Kakanya.


" Buat siapa, Gak pernah kamu pinjem helm kakak," ucap Kak Indri bertanya menyelidik.


"Eh.. itu.. Anu.. Buat.. Ehm.." Seketika wajah Kak indri seperti gozila yang siap mengeluarkan nafas apinya.


"Lorenzo!" Suara marah Kak Indri. Kak Indri pati mengira Lorenzo akan mengajak perempuan lain dengan helm kakaknya.


"RITA KAK! Buat Rita," ucap Lorenzo cepat ketika langkah kaki kakaknya semakin dekat padanya.


Seperti ada efek besarnya meredakan emosi kakaknya dengan menyebut nama Rita.


"Rita.. Haaah.. Sama Rita.. Ya ampun Kakak izinin kalo buat Rita, Kamu pilih yang paling bagus buat Rita kalo buat cewek lain awas aja, Tiga bulan kamu gak ada jatah uang saku," ucap Kakaknya dengan sangat senang dan gembira hingga Lorenzo bingung diam menatap heran.


"Jangan Pink kak Lorenzo ketara kalo mau bawa cewek, Ini aja Rita juga gak suka ngejereng-ngejreng warnanya," ucap Lorenzo.


Kak Indri terdiam menatap helm coklat itu. Beberapa detik kemudian anggukan kepala Kak Indri terlihat Lorenzo.


"Ok. Sana Nanti dia nungguin Pulangnya anterin juga ya, Kalo gak setiap hari aja, Uang tatan kamu nambah nanti," ucap Kak Indri seperti racun juga sogokan semangat Lorenzo tapi, Lorenzo tidak percaya karena kakaknya sering bohong tentang uang saku di tambah.


*


Dinda seketika teringat piket ketika melihat jadwal di mading kelas ternyata dirinya yang piket.


"Ada kerjaan ternyata.. Gak papalah,"ucapnya menatap jadwal piket kelas.


Sambil menyapu lantai lalu menghapus tulisan di papan tulis dan merapikan meja guru. Dinda seketika teringat kejadian semalam.


Dinda seketika malu pipinya memerah.


Apa semalam... Dinda ingin bunuh diri, Sialan, ini pasti kerjaan Jin rumah. Gak penjahat gak Jin ganggu hidup tenang orang aja, kesal Dinda menatap lantai yang di sapunya.


"Malu banget pasti, Hiiih.... Kak Arkan jadi Ilfil dong," ucap Dinda yang tidak ingat jika Arkan ada di rumahnya pagi-pagi dan mengantarnya kesekolah.


Dinda lupa hal itu, jika Arkan Ilfil Arkan tidak akan melakukan hal di lakukannya tadi menjemput dan menyiapkan sarapan untuk Dinda.


"Tapi, Kak Arkan biasa aja kayak gak ada sesuatu terjadi. Jangan berhap besar Dinda huhu.. Huuh. Kayak biasa aja," ucapnya pada dirinya sambil menyapu lantai.


Tanpa sadar Arkan mendengar semuanya yang Dinda ucapkan.


Arkan sedang ada di depan kelas Dinda di balik dinding dekat jendela dan pintu kelas lain sebelah kelas Dinda.


Wajah Arkan masih datar tanpa Ekspresi. Seketika Lorenzo datang dan mengagetkan Arkan tapi, Arkan tidak Kaget.


Tidak Lama Rita yang ada di belakang Lorenzo bisa datang bersama Kiran dengan mengobrol.


...Sikapnya membuatku semakin berharap besar dekat dengannya tapi, Sikapku membuatnya mundur perlahan, Dilema yang tidak berujung yang kurasakan....


...~Dinda Alea....


^^^-----------------^^^


 


...Sebuah perasaan suka tidak mungkin sesederhana itu....


...~Arkan Prawira....