Arkan Dinda

Arkan Dinda
Masalah belum selesai



Perbedaan waktu untuk beberapa waktu kedepan apa itu terjadi juga pada diri Arkan.


Setelah dari Swiss Arkan akan pulang setelah itu melakukan apa yang kakeknya perintah.


Kakek memang semaunya sendiri.


Arkan menghela nafasnya cukup kasar hampir bisa Alejandro rasa jika Tuan mudanya sedang tidak nyaman.


Di dalam mobil sekarang kembali pulang untuk beristirahat di rumah lama Alano yang sederhana. Sepanjang penjelasan Alejandro dan keluarganya menjaga juga menggunakannya karena dari pada terbengkalai.


Arkan juga menyetujuinya dan Alejandro anggap saja itu rumahnya Karena Arkan tidak akan mengambil apa yang sudah di berikan ayahnya pada orang yang sudah lama bersama ayahnya selama hidup.


Arkan keluar dari mobil bersama Alejandro ketika mobil berhenti tepat di depan garasi terbuka di dekat jajaran garasi kosong di dekat air mancur kecil.


Arkan membuka jasnya dan menggulung lengan kemeja juga membuka kancing atas dan melonggarkan dasinya.


Arkan terdiam ketika melihat penampakan rumah ini begitu mewah hampir sama mewahnya rumah kakeknya. Tapi, wajah Arkan sudah santai dan biasa saja.


Arkan berjalan biasa memasuki rumah yang sepi yang hanya ada beberapa pelayan yang paling di butuhkan.


Seketika itu terdengar suara bola basket dan itu ada di belakang dekat rumah pelayan. Terhitung dua hari Arkan menginap.


Arkan menoleh dan menghampiri tempat itu Arkan menatap kedepan sambil berjalan seketika hampir saja bertabrakan dengan seorang wanita cantik dengan rambut coklat.


"Salam Tuan muda, Selamat datang, Saya Arima istri Alejandro, maaf atas kecerobohan saya," ucapnya dengan menunduk.


Seketika Alejandro ada di belakang Arkan dan berdiri melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Istri Alejandro masih Diam.


"Tidak masalah, Aku hanya salah jalan, Maaf," ucap Arkan singkat lalu segera pergi menghampiri teman-temannya.


Seketika itu langkahnya terhenti.


"Tuan muda silakan gunakan sandal dan berikan jas itu pada saya Anda pasti ingin bersama teman-teman anda," ucap Alejandro seketika di turuti Arkan.


"Terimakasih Pak," ucap Arkan dan Istri Alejandro mememinta jas Arkan.


Arkan lalu pergi menghampiri teman-temannya. Seketika itu mereka melepar bola pada Arkan yang berjalan memasuki lapangan basket.


"Sibuk nih pak Ketu," ucap Lorenzo dengan wajah yang tengil.


Cahaya hangat di sore hari tersa dingin karena anginnya yang seperti sedang membuka kotak flezeer, padahal sinarnya begitu terang.


Maklum ini luar negeri bukan dalam negeri.


Arkan memantulkan bolanya dan memberikan pada Bagus lalu di tangkap dengan tepat di depan dadanya.


Arkan menghampiri dan berdiri mendekat pada Justin.


"Lo mikirin tentang kejadian waktu itu," Kata Justin seketika di angguki Arkan seketika itu Justin Rian juga Lorenzo dan Bagus pergi ke pinggir dan duduk di kursi.


"Barusan Yuda kasih kabar kalo Dinda nginep di rumah Ayahnya dan Rettrigo juga disana buat jagaain Dinda, Gue kayak gak sanggup buat berusaha lebih baik," ucap Arkan seketika membuat Lorenzo mengangguk dan lemar mendengarnya saja sudah tahu pasti jika Arkan sangat sakit hati.


"Ada Rokok lo," ucap Arkan menatap Rian.


Seketika Rian memberikannya pada Arkan dari jaketnya kotak warna merah dengan tulisan Mallbr, Arkan meraihnya mengambil sebatang dan meminta Rian memantikkan korek api untuknya. Korek api dengan isi ulang dan hanya Rian yang punya diantara kelimanya.


Seketika itu semua diam.


"Lo pasti bisa nyelesain semua dengan cara lo, Gue yakin masalah lo pasti bakalan cepet selesai dan lo harus bertahan sama keyakinan lo," kata kata Lorenzo sok bijak.


Seketika mendapat rangkulan dari Bagus. Lorenzo terdiam.


"Lo bisa lakuin semuanya, Sekarang lo resmi jadi pewaris tunggal," ucap Bagus seketika membuat Arkan terkekeh menyeramkan. Temennya mengira jika Arkan bisa memperjuangkan perasaannya pada Dinda nyatanya! Masalah belum sepenuhnya mengurang malah muncul kepermukaan sebentar lagi, Arkan hanya membenarkan instingnya.


"Asal lo tahu,Ini belum semuanya masih ada hal lain yang harus gue urus," ucap Arkan seketika membuat kening keempatnya berkerut.


"Lo pada gak tahu kalo kita belum dapetin tangan kanan Gabriel gue tahu kita emang sembuh dari tu Gabriel ama pemimpin Blackrose tapi, kalo sama tangan kanannya secorpion kayaknya belum," Ucapan Rian seketika membuat Arkan mengangguk.


"Gila... Lo berdua tahu, Gue tahu pasti om Rayhannya Arkan yang kasih tahu, Ye Kaan?" ucap Bagus den Lorenzo heboh sambil melepas bolanya seketika itu Rian mengambilnya dan melemparnya masuk kerinya dari tengah lapangan.


"Hem," Anggukan dan deheman Arkan mengubah raut muka Justin.


"Brengsek juga tu orang, Laah kalo tangan kanannya secorpion lah berarti dari cerita nya kita tahu kalo secorpion pecah jadi dua," Kata Justin kesal karena membuat pekerjaan menjadi dua kali.


"Gak perlu lo pikirin karena semuanya udah gue sama Rian tahu siapa orangnya gak jauh ataupun deket, tapi yang jelas kita harus kembali ama tugas pak Jersey, Beberapa orang yang perlu di tangkap semuanya masih ada hubungannya sama Gabriel juga istrinya dan kasus mereka semuanya tercantum di selembar daftar pelaku yang buat gue yatim piatu sampe sekarang," ucap Arkan.


Arkanbangkit lalu bergabung bermain bola bersama Rian lalu Lorenzo yang seketika menoleh dan ikut bermain.


Bagus duduk disamping Justin.


"Enggak semua yang kita tahu bisa kita lakuin kadang yang kita gak tahu justru buat Arkan adalah hal terbaik, Lo tahu tin Arkan sayang banget sama lo, gue, Lorenzo juga Yuda yang dianggep kakaknya juga Belle ama Lala," ucap Bagus.


" Arkan berubah, Semenjak waktu itu Arkan sebentar-sebentar bisa ngerokok dan gue baru liat sisi Arkan yang lain, Rasanya gue kayak punya temen yang lagi ngendaliin alter ego yang brengsek, Kalo Arkan ngerokok itu lo tahu... kayak setan iblis banget mukanya, Jengkelnya lagi tetep ganteng, heran gue," ucap Justing dengan tak percaya juga kesal seperti Loerenzo jika melihat Arkan kelewat tampan.


Apa lagi pakaian dan lengan Arkan itu mencerminkan Arkan begitu tegas berwiba dan juga laki banget.


Ditambah waktu Arkan kalo berhadapan dengan perempuan di ruang ruang rapat. Justin mungkin akan bertindak biasa tapi, Arkan tetap menjaga dirinya dari kaum hawa walaupun untuk jodoh Arkan tak perlu pakai cara siti nurbaya juga Arkan bisa memiliki tiga atau banyak istri dan selir.


"Gak sadar kita temenan ama tu bocah lama beud," celetukan Bagus membuat Justin mengangguk setuju.


Bagus juga Justin ikut bergabung dengan permainan mereka.


Hingga waktu hampir sore gelap Arkan dan lainnya menyudahinya.


Semua kembali masuk dan setelah meletakan bola di tempatnya seketika itu anak laki-laki kembar membuat Arkan dan Lorenzo terkejut. Lorenzo sepontan melompat dan Arkan menggendongnya di punggung.


"Huuuaaa... Mama! Kak Indri, Setaaan."


Arkan dan Justin terkejut rasanya ingin melempar Lorenzo tapi sialnya kencang sekali pegangannya.


"Huuuaaah... Aku hantu, Siapa kalian," ucap anak kecil yang menggunakan sarung putuh dan satunya dengan topi caping dan sarung tangan kebesaran. Tiba-tiba muncul dan menakuti kelimanya.


Bagus menghampiri mereka berdua bersama Rian Seketika itu Bagus lompat ke atas pelukan Rian seperti koala.


"B*ngSat!" ucapnya ketika terkejut.


"Alex Syam jangan takuti tamu ayah," ucap Alejandro di dengar kedua anak kecil kembar itu seketika Arumi anak pertama Alejandro mendekat kedua tuyul tampan itu. Alejandro yang datang bersama Arumi langsung mengajalk kedua adiknya pergi seketika...


"Ih.. Adek. Minta maaf sama om-om nya," ucap Arumi seketika diangguki keduanya.


"Maaf Om Alex dan Syam tidak akan mengulanginya lagi." Katanya dengan takut.


Tapi lirikan mereka berdua sedang mengatur rencana baru.


"Hey kalian berempat normal," ucap Justin membuat Lorenzo dan Bagus turun.


"Sialan Kaget gue, Gue kira tuyul." Asal Lorenzo seketika membuat semua menggeleng.


"Aha... bener gue kaget, Dek besok lagi jangan kostum itu besok page kostum lontong aja cocok kayaknya," ucap Bagus yang sudah mulai absurd lagi.


Lorenzo mengangguk setuju.


Seketika itu Arkan menatap keduanya.


Tatapan Arkan datar dan tajam.


"Hahaha.. Om yang ini mukanya tengil," ucapnya seketika Justin menatap terkejut. Baru kali ini ada yang mengatai wajah Arkan yang datar dengan tengil bocah ini, anak Alejandro.


Hebat pikir mereka berempat membuat Arkan semakin kesal dan berani.


Seketika anak yang bernama Alex dan Syam menunjukan jari t*ngahnya dan mengatakan kata kasar pada Lorenzo dan Bagus. Seketika itu Rian dan Justin menahannya.


"Brengsek untuk bocah cilk kalo gak dah gue tonjok tuh muka gantengnya," ucap Lorenzo emosi.


Seketika itu Arumi menarik kedua adik lelakinya dan menjewer telinganya.


"Kapok Syukurin lo upin ipin," ucap Bagus seketika membuat Rian Justin Lorenzo menoleh. Ada apa dengan Bagus?


Seketika itu Arkan terdiam menatap Arumi dan kedua adiknya menjauh seketika itu keempat teman Arkan menjaga jarak aman.


Arkan acuh saja melangkah pergi.


"Maafkan anak-anak saya Tuan muda," ucap Alejandro sangat tak enak.


Arkan mengangguk saat melewati Alejandro.