Arkan Dinda

Arkan Dinda
Perhatiannya Dan seorang Teman



Arkan masuk ke dalam kantin bersama teman-temannya ketika baru akan duduk seketika semua anak-anak berlarian berkumpul di halaman kantin terbuka.


"Weeh... woy.. bro.. lo pada diem aja noh si anak baru cewek lagi buly Dinda anak kelas sebelas itu," ucap Bagus baru saja datang dengan tergesah. Seketika dengan cepat Lorenzo pergi mengikuti Bagus tapi, Justin menghentikan langkah seketika itu juga Lorenzo dan Bagus berbalik.


"Kan Lo diem aja kenapa lo gak?..." Kata Lorenzo.


Justin berdehem.


"Kita liat sendiri aja." Kata Justin yang tau tatapan dingin Arkan.


Seketika Bagus menyenggol bahu Lorenzo.


"Lo lupa.. Ha. Arkan itu gak suka kek begituan emang kita, suka nyari bahan gosipan netijen." Kata Bagus.


Lorenzo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sampai mereka di halaman kantin.


Terilat ramai dan Kiran di pegangi oleh paran antek-anteknya Syifa dan Citra memojokkan Dinda di bangku kantin.


"Gue duga lo yang buat Arkan terus ada di rumah lo dan gak angkat telpon gue."


Kata itu keluar dari seorang Cita yang masih mendapat gelar murid baru.


Bisa Cita berbuat seperti itu karena orang tuanya sangat kaya dan kepala sekolah juga tidak bisa berbuat apapun jadi bebas untuk Citra, eh.. tapi Citra tidak begitu mengharapkan pembelaan orang tuanya kalo salah ya hukum.


Sebisa mungkin Citra terlihat selalu baik teladan di depan Arkan.


Seketika Citra melihat ada Bagus dan Lorenzo juga Justin.


Citra menarik Dinda untuk bergeser agar wajahnya bisa menatap Dinda dan wajahnya tidak terlihat oleh Justin dan Bagus juga Lorenzo.


"Ngomong! lo diem aja... bisu lo, Oh... gue tahu... Haaah.. ya ampun jijik gue kalo jadi lo. Lo kasih hal berharga lo sama laki-laki buat nemenin lo dan Arkan pasti lo bujuk iyaa kan, ngaku lo!" Kata Syifa dengan wajah marah dan kesal.


Dinda masih diam menatap keduanya dengan wajah menahan emosi ingin menangis dan berteriak, Sekarang tangis dan ingin membetak... rasa itu harus Dinda tahan.


"Ya ampun Pelacur emang pelacur, Selalu di untungkan, makanya lo tambah cantik karena sugar dady lo dan Arkan juga lo paksa kan, Huh.. gak nyangka gue." Seketika Celetuk dari Syifa membuat Dinda mengepalkan tangannya.


Dinda tidak kunjung bicara dan mengeluarkan suara.


Mereka jadi merasa di kacangin dan Kiran sudah sangat marah hingga wajahnya memerah.


"Kalian ini bisa gak sih gak usah ngurusin hidup orang, oh jangan jangan kalian punya hidup yang aneh dan gak sesuai sama derajat kalian yang tinggi gitu, Kalian kalo....." Seketika ucapan Kiran berhenti ketika melihat Dinda berdiri.


Wajah Dinda datar dan menatap dengan tajam Citra dan Syifa.


"Hahaha.. liat dia kayaknya mau bilang kalo dia emang ngelakuinnya, Ayo sini kalian yang mau ngantri nomer sama Dinda gue bantu, ayo sini." Celetuk salah satu antek-anteknya Syifa.


Tuk.. tuk... tuk..


Ketukan jari telunjuk Dinda membuat keheningan diantar mereka semua.


Wajah Dinda terangkat dengan tatapan bengis yang Kiran sendiri juga kaget.


"Dinda.. lo gak papakan. Din," ucap Kiran lagi dengan Khawatir. Takut-takut Dinda kesambet.


"TUH LIAT ULAH LO SEMUA GUE YAKIN LO SEMUA AKAN BERMASALAH, GUE JAMIN." Suara keras Kiran seketika membuat semuanya saling berbisik.


Mereka mundur dan memberi ruang yang cukup untuk Dinda.


Dinda beralih mengikat rambutnya yang terurai.


"Udah... pidatonya... udah, Makasih karena kalian buka aib di depan umum, Maaf... sebenernya yang kalian bicaraain gue atau kalian sendiri. Kalian sangka gue gak berani lawan kalian gak berani ngomong gitu, Denger baek-baek... Buat Lo Kakak tiri gue," ucap Dinda dengan berani dan melupakan status adik kelas yang sopan.


"Waah.. ternyata Syifa kakak tiri Dinda.. uh.. jahat banget ya."


"Ih.. iya.. gak malu banget."


"Jangan-jangan bener, kalo mereka ngomongin diri mereka sendiri."


"Iya setahu gue Dinda itu gak kayak gitu orang nya."


Lorenzo dan Bagus seketika terkejut dan mundur.


"Kan.. lo!" Kata Bagus dan Lorenzo bersamaan ketika merasa ada hawa dingin dan merinding di belakang mereka yang membuat mereka ketakutan.


Mereka meneguk ludahnya kasar ketika tatapan Arkan begitu datar dan Dingin. Justin santai saja. Karena Justin tahu Arkan yang berdiri di dekatnya tepat di belakang Lorenzo dan Bagus.


"Gue.. gak kenal lo jangan sok kenal dan anggep diri gue kakak tiri lo, jijik gue." Sanggah Syifa tidak ingin dirinya menjadi jatuh dan di pandang buruk mendengar bisikan siswa siswi membuat Syifa gugup karena tanpa langsung namanya perlahan jadi jelek.


"Ups.. Maaf Kakak gue yang cantik." Kata Dinda dengan tenang dan disertai senyuman.


Citra seketika pergi sadar ada Arkan dan diam saja ketika Arkan terlihat baru datang dan berada di belakang Kiran.


Citra diam berpura-pura tidak tahu.


"Awas lo," ucap Syifa di telinga Dinda dengan berbisik.


"Dinda!" Kiran langsung menggandeng Dinda dan membawanya untuk pergi dari sana seketika semua bubar Citra juga bubar dari sana. Sempat ingin pergi Citra ragu tapi, demi tidak terlihat buruk di depan Arkan, Citra pergi saja.


Seketika Lorenzo menarik tangan Rita tidak sengaja lewat.


"Lo tahu apa yang di bilangin Dinda ke Syifa." Seketika Rita menarik tangannya dari tangan Lorenzo yang memegang tangannya.


"Tanya aja sendiri, Gue juga gak terlalu mau tahu jadi semuanya lewat aja di kuping gue." Kata Rita santai.


Bagus mengangguk.


"Tapi, Lo pasti tahu kan," ucap Arkan kali ini bersuara dengan datar.


Rita mengedik sekali sambil menggeleng.


"Gak sama sekali. Tanya sendiri kalo lo perduli sama dia, Gue mulu lo tanyain, Gue kakak kelas bukan emaknya," ucap Rita acuh pada Justin. Tidak berani pada Arkan. Justin berdecak malas, semua takut pada Arkan jika ingin membuang ucapan pasti Justin. Huuh...


Seketika tatapan remeh Lorenzo menatap Rita.


Rita langsung terkejut.


"Heh.. napa muka lo Zo.. kurang sajen lo?" ucap Rita yang aneh tiba-tiba.


Justin seketika membalik Rita.


"Posisi gini bener lo semua, eh.. aku salah bukan semua eh kok aku sih... gini bang Enzo, Ade Rita bisa kali di teraktir sekali-kali." Celetuk Bagus pada Lorenzo. Arkan pergi meninggalkan mereka yang sedang berdrama.


"Ih.. Justin Bagus.. kalian apaan sih aneh lah," ucap Rita kesal. Rita berjalan menjauh seketika Bagus menahannya.


"Dah lah kalian ini, Rita gak bakalan suka sama cowok bekas pake buang." Kata Lorenzo santai sambil duduk di kursi kantin yang kosong.


"Haah. Bekas pake, Lo gila ngomong apa lo barusan," ucap Bagus emosi.


Seketika Rita melerai dan menatap keduanya.


"Gak usah berantem deh anak kecil jadinya." Kata Rita dengan nada marah menatap keduanya.


"Haaah.. sumbu pendek lo, maksud bekas pake bukan dalam artian yang lo pikirin bambang," ucap Lorenzo.


Seketika akan memukul, Rita menghadang Bagus.


"Nama Bapak gue tu Ta," ucap Bagus kesal.


"Enzo.. lo ya.." ucap Rita.


"Sengaja.. sorry, Maksud ,gue..." Lorenzo menoleh semuanya agar tidak ada yang memotong ucapannya lagi.


"Kalo gue kan Play boy, Rita mana mau, Rita cewek polos suci gak pernah pacara, Deket sama cowok aja malah di gebukin ama dia," ucap Lorenzo dengan menatap Rita dengan menunjuk dengan dagunya.


Bagus dan Lorezo berdecak kagum. Rita diam karena benar yang Lorenzo bilang.


"Gila.. Ta.. gue sama Justin gak salah pilih, Lo emang pawangnya buaya.. Gue setuju, Lo gimana tin," ucap Bagus menatap Justin meminta dukungan.


Justin mengangguk dengan santai.


"Ih.. apaan sih aneh deh kalian gue kan gak suka sama dia," ucap Rita.


"Jangan gitu kalian nanti yang suka sama dia," ucap Lorenzo dengan nada bicara yang berbeda.


Kompak Bagus dan Justin berseru gak mungkin. Seketika Lorenzo menarik Rita menjauhkan dari Bagus dan justin yang tidak sehat.


Di sini taman sekolah bagian utara dekat lapangan Volly.


"Gue gak nyangka. Kalo semua pada ngebelain Dinda. Senep gue dengernya.. harusnya mereka terpengaruh tapi, Dinda yang tenang dan sikapnya tadi bener-bener gak pernah gue tahu. Gue kesel liat aja, Semua pasti akan ngebully Dinda satu sekolah. Besok.. iya besok gue harus buat Dinda jelek di mata semuanya termasuk bikin Arkan ilfil dan Arkan gak akan mau deket Dinda jangan kan deket ngebelain terus juga gak bakalan terjadi."


Syifa menatap semua teman-temannya dengan wajah yang terlihat sudah memiliki rencana jahat.


Arkan sedang melepar bola basket masuk kedalam ring berung kali dari tengah lapang ke dalam Ring yang sebelah kanan dengan santai.


Seketika suara tangis, Arkan dengar di belakang podium penonton.


"Gue... buruk ran.. sebaiknya lo gak usah temenan sama gue. Gue gak sanggup kayak gini rasanya gue mau mati, Asal lo tau ran gue kasihan lo yang gak tahu apa-apa.. lo yang gak tahu kalo lo salah punya temen dan begaul sama gue, cewek buruk dan banyak masalah. Gue..gue..." Dinda menangis dengan sesegukan yang begitu pilu Kiran mendengarnya rasanya Kiran jngin menangis saja. Kira tahu seberat apa Dinda hingga bisa berdiri disini di hadapannya dan sekarang masalah datang dan hampir menghancurkan mental Dinda menjadi debu.


"Inget lo Dinda.. Dinda temen gue gak gampang nyerah gitu aja, gue selalu ada lo bisa bilang ke gue.." ucap Kiran dengan lembut sambil memeluk Dinda.


"Maaf ya Ran lo pasti merasa susah deket dan temenan sama gue, gue akan ikhlas kalo lo gak betah temenan sama gue."


"Buset.. dah.. Dinda Alea, Dengerin gue baek-baek yaa.. Kita temenan gak setahun dua tahun kita juga pernah jualan roti kering bareng waktu Smp buat bayar semester lo.. dan juga spp kelas sepuluh. Gue gak bisa jauh dari lo.. Lo udah kayak ladang gue buat dapet pengalaman banyak, justru gue ngerasa seru karena gue bisa nabung bisa tahu susahnya cari uang dan gak terlalu nyusain orang tua, Dan Mama papa gue aja suka sama lo karena lo anak yang baik, pengaruh lo ke gue itu bagus tau... Sekarang jangan ngerasa rendah." Kata Kiran panjang lebar dengan lembut.


...Gak semua hal harus terjadi sesuai harapan, mau setiap hari berharap baik dan lancar itu mustahil karena setiap halnya akan ada warna haru atau warna amarah dan warna keraguan atau tidak mau tahu....


...Jika hanya putih... hidup tidak akan seru teman....


...~Dinda Alea dan Kiran Sari....