Arkan Dinda

Arkan Dinda
The day that won't stop



Arkan sekarang bersama Keempatnya di rooftop rumah sakit Herra. Arkan berdiri menatap kedepan dengan kedua tangan di masukan ke dalam saku celananya.


Di dalam ruangan Dinda.


Kiran sedih melihat Dinda tidak bergerak sama sekali dan terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Suara alat medis juga masih seirama normal.


"Gue sendirian tanpa lo, Kalo lo pergi gini, Gue ribut sebangku ribut sekelas sama siapa, Perusuh kelas sebelas dua siapa dong lo bangun dong, Jangan tidur mulu, Kesel gue, hiks..." Kiran menangis tidak kuat menahan lebih lama kesedihannya. Syifa hanya bisa diam menatap Kiran memandang dan memegang lengan Dinda.


Di depan ruangan rawat Dinda Kiran dan Syifa keluar lalu bergantian yang lainnya Syifa juga menemankan mereka.


Setelah Rita Indri dan Syifa kini gantian Luna dan Larisa dan seketika, dua gadis kecil yang merengek.


Larisa dan Luna bingung harus bagaimana.


"Sayang dengerin Mama, Kamu disini sama Tante Indri sama Lala juga ya," ucap Luna.


"Ih.. Mama.. Belle pengen liat Tante cantik yang di bilangin Lala, Belle mau liat secantik apa tante cantiknya Lala, Mama!" ucap Bele menuntut dengan wajah dan ekspresi menggemaskan mulai marah melipat tangannya.


"Lala tante boleh gak minta Lala jaga Belle sebentar tante sebentar kok." Kata Luna dengan lembut pada Lala.


Lala mengangguk.


Seketika Belle mau menangis seketika itu juga Lala menepuk bahu Belle.


"Kakak Belle, Disini aja sama Lala," ucap Lala dengan wajah menggemaskan tersenyum lucu.


Rita yang melihat itu merasa gemas.


"Ih.. Gemes deh.. Sama tante aja deh," ucap Rita.


"Tante galak juga mau main kok sama Lala sama Belle." Sahut cepat Kiran


Luna tersenyum menatap Rita dan Kiran.


"Ih.. Ya udah deh kalo gitu, Lala kamu janji ya kalo Tante cantik kamu udah sembuh kenalin aku," ucap Belle dengan wajah kecewa menatap Lala memohon Lala berjanji padanya.


"Ehm..." Lala mengangguk.


Seketika Perawat datang dan bertanya siapa lagi yang akan masuk.


"Iya.." Sahut Luna lalu berdiri dan menghampiri perawat. Seketika Lala menarik Belle mendekat ke perawat lelaki didepan pintu masuk ruangan rawat Dinda.


"Om om. Aku sama temen aku mau masuk boleh gak?" ucap Lala dengan polos.


Perewat lelaki itu bingung.


"Em.. Maaf ya, Adik-adik karena ini ruangan rawat intensif jadi anak-anak tidak di izinkan masuk gitu aja, Maaf ya, Nanti kalo yang sakit adik-adiknya, bisa-bisa, Maaf ya." Penjelasan perawat Lelaki itu dengan lembut.


"Hem.. Sama Aja tuh, Kak Belle kita gak boleh masuk," ucap Lala memberi tahu Bella yang tadinya bersemangat menjadi kecewa.


Orang-orang yang memperhatikan mereka hanya bisa menggeleng dan tersenyum rasanya sangat menggemaskan.


Tidak lama Kakek Arkan dan Ayah Dinda datang.


"Siapa yang memaksa masuk," ucap Kakek Arkan.


Seketika semua terdiam dan Luna, Larisa mereka berdua sudah masuk bersama Syifa sejak tadi.


Lala seketika terkejut dan berdiri di belakang Belle.


"Ih Lala ini Kakek ganteng tahu, kamu jangan takut!" ucap Belle seketika membuat Indri kakak Lorenzo terkekeh.


"Takut Kak Belle," ucap Lala dengan bersembunyi di belakang Belle.


Perawat lelaki yang mendengar perkataan polos Anak kecil didepannya hanya bisa tersenyum senyum.


Kakek Arkan menatap Belle yang mendanga menatapnya.


"Kakek... Belle mau jenguk tante cantik yang Lala bilang," ucap Belle. Seketika menggeser tubuhnya memberikan kesempatan pada Lala untuk menatap Kakeknya Arkan.


"Ehmm.." Anggukan Lala.


Ayah Dinda tersenyum berjongkok menyamakan tingginya dengan kedua anak kecil itu.


"Nanti saja ya kalo Tantenya udah bangun," ucap Ayah Dinda.


Seketika mereka berdua saling berpandangan. Menghela nafas lucu di depan mata Ayah Dinda.


Mereka berbalik dan duduk di kursi.


"Dimana Arkan?" ucap Kakeknya Arkan pada Nenek yang duduk di sana.


"Dia sedang pergi dengan teman-temannya." Kata Nenek.


Kakek mengangguk samar dan pergi masuk kedalam ruang tunggu keluarga.


Di rooftop sekarang.


Yuda sudah menyalakan sebatang rokoknya dan membuang asapnya ke arah lain agar teman-temannya tidak kena.


"Weh.. Bagi," ucap Lorenzo.


Yuda mengesernya dan memberikannya.


Arkan berjalan maju bersandar pada pagar kaca dengan kedua tangannya.


"Gue masih ngerasa kalo gue bersalah banget kali ini, gue bingung apa yang gue rasaain ini," ucap Arkan tiba-tiba.


"Itulah.. Itu.. Gue udah pernah bilang ama lo jangan menan pura-pura amnesia jadi gini deh," celetuk Lorenzo. Arkan menunduk dan kembali mengangkat wajahnya berbalik Menatap Justin dan Bagus yang duduk di kursi. Yuda berdiri santai sambil merokok sedangkan Lorenzo bermain ponsel sambil merokok.


"Itu gak ada hubungannya karena ini kecelakaan apapun bisa terjadi," ucap Justin seketika. Loerenzo Bagus dan Yuda mengangguk samar menatap Justin lalu menoleh pada Arkan dengan tatapan yang heran.


"Gue rasa lo jangan terlalu mikir ini salah lo karena mereka emang mau buat lo lemah, Jangan terpengaruh emosi lo, Biasanya yang gue tahu lo selalu tenang tapi, kali ini Lo keliatan bener-bener lemah dan hancur," ucap Yuda seketika mengalihkan tatapan Arkan ke lain arah.


"Jarak Hotel Posidion sama Rumah Sakit Herra gak terlalu jauh Gue bisa lihat tempat gue berdiri sama Dinda dari sini lumayan samar tetep kelihatan," ucap Arkan menatap kearah atap Hotel Posidion.


Bagus berdiri dan menatap kearah tatapan mata Arkan mengarah.


Benar. Terlihat!


"Apa kita lanjut laporan aja ke yang lain biar masalah ini cepet kelar," ucap Lorenzo.


"Gak.. Segampang itu," ucap Justin. Yuda berdehem.


"Bener.." Kata Yuda tiba-tiba.


Lorenzo mengangguk mengerti.


"Kita berempat baru tahu kalo Farles juga jadiin Syifa bonekanya waktu itu dan buat Dinda tertekan waktu itu adalah Syifa yang pake bantuan Farles." Kata Justin.


Arkan terdiam mengalihkan pandangannya menatap keempat temannya.


"Gue tahu," ucap Arkan tenang.


"Farles mati dalem sel nya lo tahu," ucap Justin.


Arkan mengangguk.


"Berarti bener kalo emang Farles cuman alat perantara mereka," ucap Bagus seketika,


Yuda mengangguk.


Arkan terdiam berpikir tentang masalah kali ini.


"Pak Jersey! kita minta bantuan dia dan selama ini juga dia gak masalah kalo kontekan atau hubungan sekedarnya sama kita gimana cuman cari tahu tentang beberapa banyak musuh Mafia tengkorak yang mau dan udah hampi selesai balas dendam," ucap Loerenzo seketika Bagus Justin dan Yuda menatap Lorenzo.


"Weeh otak buaya lo bisa kepake juga," ucap Bagus seketika membuat Lorenzo mendengus kesal.


"Gue setuju." Sahut cepat Arkan. Semua mengangguk.


"Selama di sekolah lo jagain Dinda dan mobil van hitam itu, Lo minta kita bertingkah biasa aja, gue baru inget kalo salah satu siswa sekolah kita adalah mata-mata dia, Cewek kelas sepuluh," Kata Bagus seketika membuat Justin menoleh.


Seperti ada jalan keluar dan sisi lain yang bisa mereka harapkan.


"Lo serahin kekita tentang anak cewek mata-mata itu, dan Lo biasa percaya sama kita." Kata Bagus pada Arkan. Arkan mengangguk.


"Gue tahu itu," sahut Arkan datar.


"Lo udah terlalu lama sedih gue tahu lo sedih lo ngerasa kali ini Dinda adalah hal penting di hidup lo, Gue rasa Hari dan waktu lo yang sekarang jangan lo sia-siain, waktu itu berharga kalo lo diam aja, lo gak bakalan nemuin dia, Kita kayaknya gak bisa minta bantuan Pak Jersey! " ucap Yuda.


"Leh kenapa gak bisa bukannya..." Terpotong ucapan Lorenzo dengan tepukan tangan Bagus di bahunya.


"Kita tanya sama yang punya organisasi ini," ucap Arkan tiba-tiba.


Sejetika mereka menatap Arkan. Mengangguk samar bersamaan. Menurut mereka sepertinya pemikiran Yuda lumayan masuk akal Jika mereka meminta bantuan dari Kepala keamanan seperti Pak Jersey bisa-bisa mereka tidak bisa menggunakan cara mereka.


Walaupun mereka sudah mengikat hubungan legal. Tetap ini adalah urusan oraganisasi Mafia tengkorak sebelum Arkan masuk, alangkah baik jika bertanya pada Giovano.


Arkan menatap Yuda.


"Berarti yang harus kita lakuin sekarang adalah nyelesain rasa penasaran kita tentang orang itu," ucap Justin.


Di tempat lainnya di kursi santai depan kolam renang segelas wine yang masih utuh. Dan seorang lelaki dengan pakaian serba hitam terlihat kancing dua atasnya terbuka.


"Tugas anda sudah selesai ,Tuan." ucap seseorang yang melapor dengan wajah tertunduk takut.


Orang itu berbalik tersenyum menyeringai.


"Sasaran?" Tanya orang yang duduk santai di kursi santai sambil tangannya mengambil, meraih segelas wine di atas meja.


"Tepat di dadanya, kemungkinan gadis itu akan selamat sangat tipis." Jelas orang yang membawa laporan.


"Bagus.. Kerja bagus. Ambil bayaranmu," ucap seorang dengan gelas wine di tangannya.


Seketika datang dua orang dan salah satunya membawa pisau belati.


"Bayaranmu adalah jasamu yang tidak akan aku bayar tapi, aku akan mengambil sebagian organ tubuhmu untuk aju jual," ucap Orang dengan segelas Wine yang hanya di mainkannya.


Seketika orang suruhannya itu menurusk orang yang sudah menembak Dinda lalu menjatuhkannya ke kolam.


Beberapa menit di tarik keluar dari kolam dan mereka membawa orang itu ketempat lain.


Orang dengan segelas Wine yang hampir berkurang banyak itu, Menyeringai dengan bangganya.