Arkan Dinda

Arkan Dinda
Gantungan Kunci



Akhirnya Futsal kali ini Arkan dan timnya menang juara pertama di raih timnya Arkan Kelas dua belas, juara kedua kelas sepuluh, ke tiga kelas sebelas. Semua di kumpulkan dari pemenang ketiga ke dua dan pertama.


Arkan terdiam menatap di tepat bangku penonton tadi tidak ada Dinda Lagi tadi dia sempat lihat ada Dinda dan Kiran tapi, sekarang tidak ada.


Sejam kemudian Arakan bangkit bersama tasnya membiarkan Rudi dan Alex yang mewakilkannya menerima hadiah dari kepala sekolah Arkan berjalan ke toilet lelaki untuk mencuci wajahnya dan tangannya.


Setelah dari toilet Arkan melangkah kan kakinya ke kantin di sana ada Lorenzo yang baru duduk tidak lama Justin dan Bagus datang Arkan bergabung.


"Heeyy. Pak Ketu, Teraktirannya ya," ucap Bagus yang tahu Arkan menang Futsal kali ini. Arkan mengangguk saja.


Seketika Lorenzo dan bagus pergi mengambil makanan dan tak lupa mereka menawari Arkan.


Air mineral hanya itu, yang Arkan minta.


Arkan menjawab hanya, satu barang saja. Lorenzo tidak heran karena Arkan jarang makan macam-macam. Kecuali, Dinda yang berikan tapi beberapa minggu ini Dinda kan menjauhi Arkan karena Arkan lupa dengannya.


Di kanti Dinda dan Kiran saling dorong-dorongan.


"Permisi... maaf.. Kak aku boleh pinjem Kak Arkannya sebentar?" ucap Dinda pada Justin yang menoleh sedangkan Arkan hanya menatap datar sekilas dan kembali menatap layar ponselnya.


"Lama juga gak papa," sahut Lorenzo yang tiba-tiba datang seketika Lorenzo meletakan minuman Arkan dan pergi ke meja sebelah berjarak dari Arkan dan Dinda.


Kiran juga duduk bersama Justin Lorenzo dan Bagus.


"Kak.. dah kebagian belom nih Kak Rita bagi-bagi," kata Kiran ketika duduk bersama ketiga teman Arkan.


"Nih.. Yang mana aja," ucap Kiran menatap wajah Lorenzo dan Bagus juga Justin yang bingung.


Justin mengambil pertama lalu Bagus lalu lorenzo


"Sampeein makasih ke dia," ucap Justin.


Kiran berdem mengangguk lalu mengambil keripik didepannya. Sebenarnya ketika Dinda pergi kekelas dua belas kelasnya Rita, Rita meminta Kiran memberikan ini pada Lorenzo, Bagus, Justin.


Menoleh ke arah Dinda, Kiran hanya melihat Dinda seperti sedang takut bicara.


"Dinda," suara Kiran mengisyaratkan agar Dinda bicara.


Dinda terdiam takut menggeleng.


Dinda tadi berani tapi, sekarang takut tidak tahu kenapa, ih.. labil banget jadi orang.


Dinda masih diam sedangkan Arkan menunggunya tanpa bicara apapun menatapnya juga tidak.


Kiran dan Lorenzo sama-sama gemas. Bagus dan Justin hanya bisa sabar dan sibuk dengan makanan dan ponsel mereka.


Satunya pemalu tapi ceria sedikit kadang juga cerianya berubah sedih melankolis.


Yang satunya datar dingin nyeremin, ganteng pula, ngomongnya irit cuek, idaman semua perempuan.


"E..E...hm... kak, Ini gantungan Kunci, terima aja, ini Kak Rita yang kasih," ucap Dinda takut-takut, sambil menjeda ucapannya mengingat kata apa yang ingin di ucapkannya. Sepertinya kata yang sudah keluar dari mulutnya salah total.


"Buat lo aja," ucap Arkan singkat.


Dinda terdiam.


"Em.. Kak Di tepak tangan kakak ada apa kenapa kakak sembunyiin," ucap Dinda. Arkan mengkat tangannya dan memperlihatkan telapak tangannya yang kosong.


Seketika Dinda berdiri bergerak cepat meraih tangan Arkan dan memberikan gantungan kunci itu.


"Kakak ambil aja ini dari Dinda, Dinda juga punya, kita samaan, Kak Jangan jauhin Dinda ya," ucap Dinda ketika jarak mereka sedikit dekat. Arkan sempat menatap bola mata coklat milik Dinda yang sayu dan lembut.


Arkan terdiam seketika wajahnya mengancang.


Masih dengan pakaian futsalnya Arkan menarik Dinda seketika Itu juga Dinda terbawa.


Loh.. loh bukan begini gak jadi kayak gini harusnya.


"Kiran gue.. " Ucap Dinda sambil berjalan cepat menjauh ucapannya tidak selesai.


"Iya.. gak papa gue sama ka enzo kak Tin sama Kak Gus disini," ucap Kiran seketika menyahut ucapan Dinda yang belum selesai.


Lorenzo terkekeh seperti orang yang merasa jika dirinya sangat kesal.


"Lo pada Liat temen lo hmmpp," ucapan Lorenzo seketika terhenti dengan tangan Bagus yang menutup mulutnya.


Justin menoleh pada Kiran, Kiran menatap ketiganya seperti menantang.


"Bentaran kak Ngomongnya aku pesen batagor. Dengan santainya mengatakan itu di depan tiga laki-laki yang badannya lebih besar dan juga lebih tinggi darinya.


"Hm." Sahut Justin sambil mengangguk.


Tidak lama setelah bangkitnya dan sekarang kembali lagi Kiran duduk sambil mengunyah batagornya.


"Tanya aja kak mau ngomong apa sama Kiran," ucapnya dengan santai.


Bagus menatap Kiran dengan tatapan intimidasi.


"Ran lo temenan lama sama Dinda. Lo tahu kalo Dinda suka banget sama Arkan?" ucap Bagus.


"Iyaa." Jawab kiran santai sambil memakan batagornya.


"Lo tahu kalo Kiran suka sedih setelah dari kejadian rumah sakit itu?" ucap Justin


"Iya." Jawab Kiran lagi sambil mengangguk.


"Lo juga tahu kalo Dinda sama Syifa itu sodara satu bapak?" ucap Lorenzo kali ini.


"Iya dong, eh.. tapi, baru-baru ini lah, kalian pasti tahu berita itu kan," ucap Kiran.


Seketika Bagus menatap Horor Lorenzo.


Lorenzo meringis.


"Sory. sorry.. " Ucapnya.


"Tapi yaaa, kak." Ucapan Kiran Tiba-tiba.


Mereka menoleh.


" Dinda itu klo sedih masalahnya berat, Dinda selalu minta sendiri dan gak butuh temen kecuali, Akunya yang maksa, dan dia juga terpaksa harus mau aku temenin tapi, juga ada kalanya aku harus tau kondisi kalo mau nemenin dia sedih atau nangis," ucap Kiran seketika Kiran menghentikan makannya dan beralih Meminum esnya.


"Kak... Kakak bukan ember bocor kan." ucap Kiran memastikan jika teman-teman kiran bukan lambe turahan. Kalimat Kiran seperti mengancan Lorenzo.


"Yaelah.. takut Amat... tenang aja aman. Justin pendiem Bagus masa bodo kalo gue lewat aja." Sahut Lorenzo dengan wajah kesal tapi, nada bicaranya santai.


Kiran menatap tidak percaya..


" Gak usah deh dah itu aja. pasti itu aja yang penting dan Di butuhin."


Kata kiran sambil mengambil keripik dan nemakannya dengan santai.


Lorenzo menghela nafasnya tadi dirinya sudah semangat sekarang malah jadi malas.


"Kak teraktirannya ya, kan Kak arkan menang, Aku ambil sebungkus lagi buat Dinda." Kata Kiran dengan santai.


"Hem.. Iyee. Lo juga kalo mau nambah kagak papa," ucap Lorenzo.


Kiran tersenyum lebar.


Kini Dinda dan Arkan di belakang sekolah. Arkan menarik Dinda hingga duduk di bangku yang ada di sana.


Dinda terduduk dengan wajah takutnya Dinda masih berani menatap wajah Arkan yang terlihat kesal.


Arkan menatap Dinda dengan sorot tajam.


"Apa aku salah kak, Kenapa kakak kasar, aku kan gak narik tangan kakak terlalu kenceng, apa sakit?" ucap Dinda dengan polos dan wajah takut masih berani menatap sorot tajam mata Arkan.


"Gue mau lo jauhin gue, Gue gak mau deket sama lo," ucap Arkan kasar nadanya sangat tidak enak Dinda dengar.


"Memang, Kakak memang gak suka Dinda, Dinda tahu, tapi, Kakak gak pernahkan Dinda paksa buat ikutin ke inginan Dinda, Enggak!" sahut dinda dengan wajah takut masih berani menatap Arkan. Seketika raut wajah arkan berubah sedikit. Ketika ekor mata Dinda mengeluarkan butiran keristal.


"Hiks... Kakak lupa sama Dinda, Kakak ngejauhin Dinda, ucapan Kakak bohong, Kakak bilang kalo ngejauhin Dinda, Di da bakalan celaka," ucap Dinda.


Arkan diam memperhatikan emosi Dinda.


"Cukup kak, Di saat Dinda pengen pegi kakak malah bilang maaf dan itu tersa tulus banget di kuping Dinda, Apa maksudnya?" ucap Dinda.


Arkan menatap Dinda dengan wajah datar dan kesalnya sedikit .


'Gareng, Kuta mereka udah ngomong, batin Arkan.'


"Sekarang mau kakak apa, Mau liat Dinda nyaksiin apa pun yang Kakak kasih ke Kak Citra," ucap Dinda lagi, seketika membuat Arkan diam.


Tidak tahu kenapa perasaannya semakin rumit.


"Gantungan kunci itu Kak buang juga gak papa," ucap Dinda. Bangkit dari duduknya berbalik pergi.


"Gue simpen," ucap Arkan seketika.


Dinda terkejut. Menghentikan langkahnya tersenyum tipis.


"Makasih, Kakak juga selamat atas kemenangan kakak, Anggep aja gantungan kunci itu hadiah dari Dinda buat kakak, Murahan ya, hadiahnya..." Kata Dinda.


Seketika Dinda berbalik pergi.


Wajah Dinda kembali sedih.


"Perasaan ini...Rumit, sulit di pahami, penyebabnya... " ucap Arkan sambil menatap wajah Dinda suara ucapan Arkan sangat pelan menatap gantungan kunci terbuat dari bambu yang di ukir .