
Sebelum ada dua puluh empat jam Arkan tidak akan pulang kerumah. Dinda di ajak Arkan untuk meningap di hotel Posidion.
Bersamaan itu Violetta datang dan memeluk Arkan, hampir, sebelum sehelai benang lengan panjang atau baju Arkan di sentuh Violetta. Dinda menarik lengan Arkan dan memeluknya, suasana Hotel ramai tapi, biasa saja tidak jadi pusat perhatian.
"Arkan kamu kenapa ngejauh?" heran Violetta membuat geram Dinda. Dinda masih menatap Violetta dengan ramah.
Arkan diam dengan wajah datar tanpa ekspresi apapun menatap Violetta dengan dingin.
"Maaf yaa situ, siapa?" Perkataan menusuk Dinda pada Violetta dengan berani kerena Violetta yang kira Dinda sudah berubah menjauh dari Arkan malah bertemu lagi, tidak tahu sengaja atau memang dia punya rencana, licik!
Violetta tidak menyahut ucapan Dinda dan fokus pada Arkan. Seketika Arkan menarik Dinda ke lift dan naik ke lantai di mana kamar Arkan ada jika menginap di hotel Posidion.
Baru Lift sampai Dinda langsung di gendong Arkan didepan seperti pengantin baru. Dinda terkejut dan menatap Arkan aneh.
Kenapa di liat dari sini aneh? maksudnya wajah Arkan tampak ganteng dari jarang dekat wajah Dinda.
Seketika Dinda sadar.
"Kak! Turun ih malu," ucap Dinda menjauhkan dirinya dari Arkan tapi, tidak bisa.
"Buka pintunya," ucap Dinda ketika Arkan memberikan kartu akses pintu kamar.
"Gak ada siapapun ayo, apa kamu mau kayak gini terus," ucap Arkan seketika itu Arkan langsung tersenyum jail pada Dinda menatap wajah merah Dinda malu.
Ada nada-nada bicara yang tidak sabar apa yang Kak Arkan mau, Dinda merasa merinding sekarang.
Menempelkan kartu dan membukakan pintunya. Masuk kedalam pintu tertutup sendiri dan terkunci otomatis.
"Di kamar atau di..."
Dinda melompat dari gendongan Arkan dan berjalan seketika Arkan menarik tangan Dinda pelan dan berbalik cepat. Jatuh terduduk Dinda di Sofa.
"Kak!" Terbungkam seketika dengan cara manis Arkan.
Hampir hanyut permainan Arkan, Dinda cepat mendorong jauh dada Arkan.
Bugh..
Pukulan Dinda mengarah di lengan kekar Arkan.
"Kakak... Jangan gitu malu Dinda, serasa di perkosa tahu gak," ucap Dinda. Seketika membuat Arka Tertawa terbahak hingga perutnya sakit.
Arkan tertawa sampai terduduk di lantai seperti berlutut didepan Dinda wajahnya di atas pangkuan Dinda.
"Kakak..." Kesal Dinda.
"Kamu lucu banget sayang, C*uman itu kan gak masalah kan halal dapet pahala," ucap Arkan.
Dinda seketika malu menatap wajah Arkan dari atas.
"Violetta?" Ucap Dinda seketika Arkan menatap Dinda dengan menyanggah tubuhnya dengan kedua tangan di sofa. Arkan menatap dengan serius.
"Gak ada nama orang lain diantara kita, Kalo bisa kamu manggil namaku dan aku manggil nama kamu," ucap Arkan dengan wajah menatap wajah Dinda dengan tatapan yang sulit diartikan.
Oh.. ada kain yang panjang Dinda rasanya ingin mati, Ayolah tatapan tajam kak Arkan kali ini bisa buat Dinda pingsan sekaligus serangan jantung.
Tanpa aba-aba Dinda diangkat Arkan ke kamar.
"Kamu liburkan tiga hari," ucap Arkan. Seketika Dinda melotot kaget.
"Kakak kan kita bahas itu kalo Dinda udah... Haah, Lulus aja kak.." Seru Dinda ketika serangan manis Di dahi Dinda terus di berikan.
Kamar... Bahaya, sudah masuk kamar.
"Kakak!" Kesal Dinda. Seketik Arkan tidak mendengarkan dan membuka kemeja kokonya yang di pakai jumatan siang tadi dan sekarang sudah lewat isya mereka juga sempat mampir di masjid sebelum sampai disini.
"Kak," ucap Dinda ketakutan. Arkan menatap Dinda dengan wajah tersenyum hangat.
"Aku mau mandi, kamu mikir apa?" ucap Arkan.
Eh... Malu... Haaahha. Dinda malu, Tolong ada yang bisa sembunyiin muka Dinda. Kalo gini kaya Dinda sendiri yang ngerasa pengen anu-anu.
Arkan melirik dan langsung segera masuk seketika itu Dinda kesal dan menatap Arkan.
"Apa Mau mandi bareng?"
Tanpa bicara Dinda langsung memasukan dirinya ke dalam selimut dan memerah malu sudah wajahnya tadi.
Arkan sangat gemas wajah Dinda sangat merah padam malu.
*
Di rumah Maulana, Violetta datang dengan gayanya yang sombong. Violetta dengan gaya angkuhnya duduk dan menatap ayah Maulana.
Alderos Sozhak menatap Violetta dengan tatapan yang sangat tajam.
"Kenapa kau ceroboh," ucap Alderos Sozhak tanpa basa-basi.
Violetta tertawa.
"Tidak... Bukan ceroboh pak tua, Aku hanya ingin melihat perubahan alami yang membuat mereka menjauh lalu aku akan mendapatkan Arkan."
"Kurasa kau harus benar melakukannya sebelum aku kehabisan sabar untuk menunggu rencana mu, Maulana tidak dapat diandalkan, Anak itu terlalu payah," ucap Alderos Sozhak meremehkan anaknya yang sudah tidak bisa apa-apa karena terkena hukuman ketahuan memakai barang haram di sekolah dua hari lalu.
Violetta tersenyum remeh.
"Hasil terlalu memanjakan," ucap Violett dengan wajah yang licik lalu bangkit berdiri pergi dari sana.
Violetta merokok di halaman dan menatap awan cerah yang terkena cahaya rembulan.
Tidak mungkin jika mereka melakukannya di hotel kenapa Violetta merasa jika rencananya akan gagal. Tidak mungkin bisa seperti itu!
Argh! Violetta ceroboh jika saja tidak sembarangan mengirim pesan itu mungkin sekarang Arkan menjadi miliknya.
*
Di markas geng motornya sedang ada banyak sekali barang yang sedang di hitung oleh Lia Yeni juga Rita dan Chintiya.
Mereka para perempuan di undang dadakan untuk menyusun dan merapikan. Dodi malas merapikan jadi dari pada Justin dan Lorenzo kena bogem Arkan lebih baik panggilkan ahlinya saja.
"Sebenernya gue cuman mau angkut Rita, eh berhubung noh Lia satu paket ama Yeni ama Chintiya ada di rumah Rita les, sekalian aja," ucap Lorenzo sambil duduk memainkan ponselnya bersandar pada pinggiran sofa.
"Laah.. lo kak kalo mau nyolek si Lia bawa Yeni, ya kali lo nyolek Lia kagak bawak Yeni," ucap Chintiya. Membuat Lorenzo mendengus sambil melempar kertas kado sisa.
"Ini ide siapa?" Ucap Lia seketika tatapannya pas menatap wajah Justin.
"Ehem.. Ini sebenernya buat ulang tahun Dinda, Kalian jangan bocor sebelum Arkan bilang," ucap Justin dingin.
Lia mengangguk lalu ber Oh ria.
Rita melemparkan lakban warna pada Lorenzo.
"Lo nganggur bantuin napa, jangan makan gaji buta lo," ucap Rita membuat Lorenzo kaget.
Emang sih mereka bakalan di bayar Arkan karena ini untuk Dinda. Tidak bisa geratis mereka menggunakan tenaga untuk menyusun semua barang untuk di berikan di panti asuhan.
Kembali lagi ke hotel Posidion Arkan berdiri di balkon luar sambil merokok.
Dinda terbangun jam sepuluh malam ke kamar mandi seketika keluar dari kamar Mandi Dinda sadar kak Arkan gak ada di tempat tidur. eh ada cahaya bulan. Dinda keluar dan melihat kak Arkan baru saja duduk di kursi santai di teras balkon yang cukup luas.
Dinda melihat tatapan mata Kak Arkan, sedih banget. Sepi sunyi keliatan di sorot matanya. Melangkah ragu, Dinda akhirnya berani melangkah mendekat. Menyentuh bahu Arkan. Seketika Arkan melihat Dinda menarik tangan Dinda pelan dan duduk di pangkuan Arkan.
Tiba-tiba Kak Arkan meluk habis matiin puntung rokoknya yang udah mau habis.
Takut-takut Dinda membalas pelukan kak Arkan lalu mengusap punggung Kak Arkan takut-takut.
Seketika Tangan Arkan mengambil salah satu tangan Dinda mengusap kepala belakangnya.
Kaget! Dinda seketika mengusapnya pelan.
Malam ini ada hal yang mengandalkan peran Dinda menenangkan amarah dan emosi Arkan.