
Arkan yang masih terkekeh, dan masih membuat sebuah lingkaran berputar di atas kepala Dinda. Alias bingung dan tidak peka. Seketika Arkan menatap wajah Dinda. Seketika itu Dinda sadar dan menatap marah Arkan.
"Kakak!" Kesalnya memukul Arkan dengan guling sekali.
Seketika Arkan meminta ampun.
"Sini, sebelum malem banget," ucap Dinda. Dengan malu Dinda melihat kaki Arkan dan Arkan yang dengan santai memberikan kakinya untuk di pijit.
"Kamu bisa," ucap Arkan kembali membuka buku bacaannya tadi.
"Yaa cuman pijit biasa pelan pelan aja, kan belajar jadi baik," ucap Dinda dengan berani memegang kaki Arkan. Aneh rasanya!
Sambil memijit kaki Arkan, Dinda menatap Arkan sesekali.
"Kak, Nenek tanya kapan terakhir bulanan, Dinda jawab jujur terus tanya lagi, kamu makan semua yang nenek kasih kan, Dinda angguk aja, Karena kenyataan emang iya, Nenek sebenernya baik tapi, Dinda kan belum mau itu... sekolah belum lulus," jelas Dinda.
Arkan menatap Dinda yang memijit kakinya.
Menghela nafasnya.
"Yaa itu terserah kamu, Aku juga udah terlanjur jatuh cinta sama kamu, aku nikahin kamu bukan karena perintah kakek, Kan aku udah bilang kamu calon istri ku nanti," ucap Arkan sambil membaca tulisan di buku yang di pegangnya.
"Gampang banget ngomong cinta sekarang malah aku yang susah ngomong kayak gitu, malunya," kata Dinda pelan mirip orang bergumam.
"Tapi, kakak di tunangin gitu diem aja, di jodohin gitu aja diem aja," ucap Dinda. Arkan diam saja mendengar.
"Terus kalo misalkan kakak gak jadi hmmm," ucap Dinda terhenti seketika serangan Arkan membuatnya bungkam.
Dinda mendorong dada Arkan.
"Iiiih.... pertama itu," ucap Dinda menghapus bekas ci*man Arkan.
Arkan menatap Dinda dengan datar.
"Kenapa di hapus," ucap Arkan dengan raut dinginnya.
"Ih Itu kan bibir Dinda lagi pake madu buat perawatan pelembab alami," katanya dengan jujur. Seketika Arkan tersenyum.
Lidahnya bermain merasakan manisnya bibir Dinda di bibirnya.
"Kakak!" Kesal Dinda membuat Arkan mendapat pukulan bertubi di lengannya. Dengan cepat Arkan menahannya seketika itu Arkan menindih Dinda dan berada di atasnya.
"Ka-kak mau ngapain jangan kak, jangan kak, Tolong kak! Dinda mohon kak jangan!" Mohonnya Dinda seperti orang yang akan di perkosa.
Seketika Arkan tersenyum lebar matanya mengerling jengah Seketika itu Serangan Ci*man di wajah Dinda membuat Dinda memejam takut.
Seketika Arkan mencium semua yang ada di wajah Dinda tidak ada yang terlewat termasuk bibir. Dahi lebih lama.
"Udah tidur aja," ucap Arkan .
Dinda terdiam seperti patung ketika Arkan menyingkir dari atasnya dan meminum air di atas meja dekat sofa kamar.
"Enggak akan aku ngelakuin hal itu, Aku tahu kamu masih punya hal lainnya, Sampai kamu lulus kamu bisa pikirin itu lagi sama Aku," Jelas Arkan lalu pergi kekamar mandi Dengan mengangguk seperginya Arkan lalu menutup pintu kamar mandi.
Arkan masuk kamar mandi Dinda membenarkan baringnya di atas kasur dan memeluk dirinya dengan erat. Ada rasa deg-degan yang dasyat. Oh ya ampun Dinda jangan parnoan sih.
Dinda!
Dinda!
Seketika lampu kamar Mati dan lampu tidur di tempat Arkan menyala. Dinda menatap itu tiba-tiba Arkan berjalan ke kasur perlahan duduk dan berbalik masuk ke dalam selimut. Arkan mematikan lampu tidurnya seketika itu bintang di langit-langit kamar menyala menerangi setengah kasur dan tidak kena sampai wajah.
Ya kali kak... Dinda bisa tidur suasana ini bener bener nakutin buat anak gadis kayak Dinda Deg degan luar biasa sekarang.
"Kamu gemeteran."
Tanpa sadar Dinda sudah dalam pelukan Arkan dan wajahnya menatap leher dengan jakum Arkan yang bagus dan sempurna.
"Kak, Kok merinding ya, jauhan kak gerah," ucap polos Dinda masih sempat membuat Arkan tersenyum dalam diamnya seketika dengan takut Dinda menempelkan telapak tangannya Didada Arkan, eh.. engga jadi lah.
Dinda menarik tangannya lagi dan memilih membatasi tubuh atasnya dengan tangan agar tidak dekat dan menempel pada Arkan.
"Kamu belum tidur, hem?" ucap Arkan.
"Eh.. baca Doa," alasan Dinda.
Dengan percaya saja Arkan diam.
*
Beberapa menit berikutnya suasana kamar sudah sepi dengan berani Arkan melepaskan pelukannya dari Dinda dan menatap wajahnya.
"Cantik manis dan ayu, Kamu yang pertama, Kamu yang terakhir, Aku gak bisa janji buat gak bikin kamu nangis tapi, aku juga gak bisa janji buat bahagiain kamu, Janji itu berat walaupun ringan di ucapan dalam perpuatan janji belum tentu bisa di tepati, dan aku lebih memilih usaha terbaikku sebelum menjajikan apapun dan sepertinya tidak akan menjajikan apapun hanya ada usaha aja," jelas Arkan dalam hati pelan dan senyap.
Sambil menatap wajah tenang yang selama ini seperti anak-anak kadang menjadi sosok perempuan dewasa pengertian kadang juga bisa jadi keduanya dalam satu waktu. Haah... Satu waktu itu juga bisa membuat Arkan Mabuk karena Dinda adalah Dunia berwarnanya sekarang.
Arkan bangkit dari tidurnya.
Arkan tidak akan bisa tidur jika belum tengah malam. Arkan keluar ke pintu balkon dan menutupnya lagi dengan pelan. Arkan merorok seperti biasa jika ada hal yang membuat Arkan suntuk Arkan akan merorok. Setelah lulus SMA bersamaan dengan masalah besar menyeret Dinda dengan paksa dalam sehari Arkan bisa merokok sampai satu bungkus dan lihainya tanpa Dinda tahu.
Kakek neneknya juga tidak tahu jika Arkan merokok jika tahu, tidak tahu hal apa lagi yang akan kakeknya ucapkan, pasti menyindir ayahnya Arkan lagi, padahal orangnya sudah tidak ada.
Sambil merokok Arkan menatap ponsel Dinda dan disebelahnya ada ponselnya juga.
Sebelum ke balkon Arkan sudah mengambil ponsel terlebih dahulu.
Arkan menelpon seseorang dengan ponsel Dinda. Lalu nomor lainnya hingga semua nomor asing.
Dan terakhir nomor yang bisa terhubung dan itu adalah suara lelaki.
"Hai... Dinda gimana Lo mau kabur ama gue, udah gue bilang kalo Arkan itu punya kekasih namanya Violetta."
"Dinda gue sayang sama lo gue harap lo gak sedih disana, Lo bisa kasih tahu alamat lo ke gue gue bisa dateng malam ini Arkan lagi di luar kota kan, Dia sebenernya di Jakarta gak pernah di luar kota."
Di seberang sana Maulana menatap telpon yang terputus. Seketika menelpon lagi Maulana tidak bisa lalu mengirim pesan.
"Selamat malam Dinda semoga besok lo bisa curhat semuanya ke gue." Pesan teks singkat Maulana kirim ke ponsel Dinda.
Maulana ingin mempengaruhi Dinda ingin membuat Dinda buruk di mata Arkan.
Sadari dulu, Maulana itu berurusan dengan siapa, Arkan lebih suka bergerak senyap lalu kalian tertangkap jika sudah seperti ini jangan salahkan Arkan jika ada waktu di mana orang yang mengusiknya akan mendapat hal tidak terduga.
Lelah! terlalu banyak ungkapan, jika terlalu cepat bergerak kurang seru.
Arkan melihat dengan seksama informasi yang Hansimon berikan dari semua nomor itu dari Diyo.
"Keluarga Bratasena, Keluarga yang tidak lelah mencari masalah, sekarang malah mau terlilit masalah besar, kalian telah membuka kandang buaya untuk menyantap kalian hidup-hidup." Kata Arkan ketika membaca beberapa informasi yang masuk.
Di komputer Diyo saat ini foto Alderos Sozhak dan Kepala keluarga Bratasena adalah kerabat dekat termasuk Violetta tidak heran jika Violetta bisa sembuh dengan baik dan seperti tidak pernah ada di situasi membunuh dirinya luar dalam itu karena Alderos Sozhak membantu Violetta keluar dari kematian dengan pengobatan ilegal, obatnya yang tidak akan didapatkan di perusahaan farmasi legal di seluruh dunia, ya karena hanya Anak buah Alderos Sozhak yang memproduksinya.