Arkan Dinda

Arkan Dinda
Masih terlelap



Arkan datang ke rumah sakit dengan tasnya. Arkan melangkah naik ke lantai dimana ruangan Dinda ada.


Sampai disana Arkan melihat Kakeknya baru saja keluar dan ada ayahnya Dinda delangkah berani dan tegas Arkan menghampiri keduanya.


Mengambil tangan Kakek dan menciumnya.


"Arkan. Apa yang kamu lakukan," ucap Kakek dengan wajah penasaran tapi, terlihat menyjndir.


"Aku akan bergantian dengan Ayahnya Dinda, Aku juga ikut terlibat karena Dinda bersamaku waktu kejadian itu terjadi di depanku," ucap Arkan sekaligus Alasan Arkan.


Kakek Menatap Arkan dengan wajah menyelidik.


Tidak lama dari arah lain Kiran Yuda dan Lorenzo datang.


"Kau..." ucapan kakek terpotong. Arkan menatap kakeknya dengan tatapan biasa datar tanpa ekspresi.


Kakek seketika menghentikan ucapannya dan menatap Arkan balik.


"Jangan terlalu lelah," ucap Kakek pelan pada Arkan yang tidak terkejut dengan ucapan kakeknya karena rasanya itu seperti menyindir untuk jangan melupakan pekerjaan yang kakeknya berikan dan tugas sekolah yang tidak bisa terlewatkan.


Kakek pergi melewati Arkan. Lorenzo yang mendengar Kakek Arkan bicara dengan pelan pada Arkan seketika terkejut.


"Gue rasa ada yang berubah," ucap Pelan Lorenzo seketika mendapat cubitan dari Kiran.


"Sssst.. Kak Lorenzo ngawur banget sih." Katanya dengan wajah kesal.


Yuda menggeleng ketika Lorenzo menatap kearahnya.


Ayah Dinda berjalan masuk kedalam ruangan tunggu keluarga. Lalu membereskan semuanya. Arkan meletakan tasnya di atas sofa dan menatap Ayah Dinda yang membereskan semua barangnya.


"Terimakasih Tuan muda, Saya sangat senang tapi, anda juga kerepotan, maaf merepotkan," ucap Ayah Dinda apa adanya.


Arkan mengangguk. Ketika selangkah berbalik Arkan bersuara.


"Arkan.. panggil aku nama saja, Anda orang tua dan saya adalah teman anak anda, Selain di kantor atau di pertemuan jangan gunakan panggilan Tuan muda," jelas Arkan dengan wajah datarnya.


"Hemm.... Baik Arkan," ucap Ayah Dinda dengan wajah tersenyum ramah.


Arkan menatap ayah Dinda dengan senyum tipis hampir tidak terlihat.


Ayah Dinda pergi dan juga sempat menyapa Lorenzo, Kiran dan Yuda.


"Kak Kiran ke tempat Dinda ya," ucap Kiran dengan semangat empat lima.


Yuda mengangguk.


"Nanti gantian! Lo dua jam aja," ucap Lorenzo.


"Siap Kak zoo!" ucap Kiran langsung bergegas dengan ponsel dan kabel chargernya.


Arkan membuka tirai jendela dan menatap keluar dengan kaca Jendela pembatasnya, Kaca jendela yang tidak terbuka itu, memperlihatkan suasana kota yang masih ramai dan lampu-lampu menerangi kota.


"Hasilnya apa," ucap Lorenzo menanyakan tentang orang dengan tato mawar hitam dan kalajengking yang mereka temui di rumahsakit waktu itu dan di bawa Hansimon pergi.


"Mereka nyebrang ke pulau jawa, Orang itu nekat datengin Tuanya," Yuda yang menjawab ucapan Lorenzo.


Lorenzo mengangguk mengerti.


Arkan menghela nafasnya berbalik dan duduk di sofa membuka Laptopnya dan ponselnya lalu mengeluarkan kabel charger laptop.


"Kalian bisa tidur atau mau kemana boleh, Asal balik lagi, jangan ngilang." Kata Arkan pada Yuda dan Lorenzo.


"Ya elah Kan lo kira kita anak-anak apa!" ucap Lorenzo tidak terima.


Arkan mengangguk. Wajah fokus menatap leptop.


Lorenzo membuka kulkas dan mengambil buah lalu Yuda pergi keluar mencari area untuk merokok.


Di ruang Dinda suara alat medis yang memperlihatkan kondisi Dinda yang sedikit membaik.


Kiran yang duduk di samping Dinda seketika meneteskan air matanya.


"Din.. lo gak capek tidur mulu merem mulu, tuh... kelopak mata lo gak kedip-kedip... bangulah Dinda... makan seblak mercon lagi bakso aci bubur ayam... Dinda lo ngerasa gak kalo hari ini dan kemaren lo menang banyak perhatiannya kak Arkan tapi, sayang lo belum sadar. Coba aja lo buka mata dan liat Kak Arkan sikapnya manis ke lo.. Pasti lo seneng," ucapan Kiran lewat begitu saja tidak ada siapapun yang menanggapi, sama seperti bicara dengan tembok.


Hanya suara alat medis yang masih bersuara sampai sekarang.


Di luar Ketika Yuda akan merokok seketika bahu Yuda bersenggolan bahu dengan perawat perempuan berambut merah. Yuda memiringkan kepalanya.


"Tidak ada perawat yang rambutnya di warnai." Ucapnya sambil melangkah dan perawat berambut merah itu sudah masuk lift. Yuda sudah keluar di depan teras halaman tempat orang menunggu dan datang dengan mobil atau ambulance, di dalam lift Farah orang suruhan Citra sudah masuk dan bersiap naik. Diam menatap pintu lift.


Yuda sudah sampai di luar seketika mematahkan rokoknya dan membuang sambil mengumpat.


Melangkah setengah berlari menuju lift perasaannya sangat tidak enak dan menyebalkan.


Di ruang tunggu keluarga Arkan dan Lorenzo mendapat telepon dari Yuda secara bersamaan.


"Cewek rambut merah pakain perawat lantai 8, lift." Ucap Yuda Di telpon dengan melihat sekitar.


Arkan dan Lorenzo segera bergegas. Dan masuk kedalam kamar Dinda.


"Eh.. Kak kok pada..." Seketika Kiran diam dengan isyarat Lorenzo.


Kiran di tarik Lorenzo masuk kedalam tirai yang mengelilingi ranjang Dinda. Lorenzo menutupnya mengelilingi mereka bertiga.


Di Lift wanita rambut merah Farah, Suruhan Citra sudah sampai di lantai delapan khusus kelas Vvip.


Yuda terus mengumpat sambil berlarian menaiki tangga ketika melihat waktu jam di tangannya jika lift itu pasti sudah sampai di lantai delapan.


Arkan siap di sekitar Lorenzo Kiran dan Dinda.


Mereka seperti berwaspada untuk sesuatu.


Masih berjalan mendekat Wanita rambut merah itu menghentikan langkahnya ketika ada seorang perawat sungguhan lewat.


"Eh.. Kamu mau keruangan mana?" ucap Perawat yang berlarian memanggil Perawat yang berhenti.


Segera bergegas belok ke kanan Perawat itu menyusuri Lorong hingga di depan sebuah ruangan dengan pintu dan kartu khusus dari kaca. Kecuali keluarga, Perawat dan orang yang di izinkan keluarga boleh masuk, Selainnya tidak bisa.


Tapi, wanita rambut merah itu punya kartu akses. Seketika Yuda sampai dan langsung merampas Kartu akses itu.


"Tuan saya perawat apa yang anda lakukan," ucap Wanita rambut merah itu.


Seketika Yuda melihat kartu pengenal dan mencocokan foto dan orang di hadapannya.


"Anda benar perawat." Yuda bertanya menyelidik dengan melihat wajah di foto kartu pengenal dan wajah asli.


"Iya.. Tuan."


Jawaban wanita didepan Yuda membuat alis Yuda berbenturan.


"Kode anda?" ucap Yuda menatap orang didepannya .


Kode khusus sudah Arkan berikan pada beberapa perawat yang akan bergiliran memeriksa Dinda tidak boleh bertukar ataupun mewakilkan dengan menggunakan kode yang Arkan berikan.


Kakek Arkan juga menyetujui dan Johan juga membuatkan kartu khusus jadi Ada dua dokter Lima perawat wanita dan dua lelaki yang boleh keluar masuk, Sisanya tidak dapat di perbolehkan.


Dari Arkan, Ayah Dinda, Kakek Arkan, Johan, Yuda, Lorenzo,Bagus, dan Justin. Mereka sudah menerima semua biodata orang yang menerima kartu dan kode khusus. Jadi Yuda kenal siapa yang boleh dan tidak boleh masuk. Jika kode tiruan itu akan langsung ketahuan. Mereka juga bisa membaca kode yang Arkan buat hanya sekali lihat tapi, untuk peniru mereka tidak tahu cara melihat kode itu dengan benar.


Ada cara tersendiri yang Arkan miliki kenapa orang di sekitarnya yang bisa membaca sekilas tapi, yang lainnya tidak bisa.


"X#Jkl00%," ucap Perawat rambut merah itu. Yuda tersenyum.


Mematahkan pengenal itu.


Foto sama tapi, kode salah.


"Bukan itu kodenya dan perawat seharusnya tidak bisa membacanya, Bodoh." Yuda melangkah maju menarik papan catatan di tangannya. Seketika terlihat ada suntikan yang sudah berisi dengan cairan obat yang biasa di gunakan medis untuk suntik mati.


Tidak terima wanita rambut merah itu menarik kartu akses Yuda di saku jaket dengan mudah dan masuk tanpa menutup pintu dia Melempar kartu itu kelantai sambil berlari. Yuda mengejarnya.


"Bocah ingusan tidak akan bisa." Kata Wanita rambut merah itu.


Seketika dia membuka tiap ruangan khusus itu dan kosong hingga satu ruangan belum di bukannya tapi tidak sempat karena Yuda menarik tangannya dan mengahalanginya masuk.


Seketika wanita rambut merah itu kesal.


"Sialan... Siapa kau berani membuatku kesal." Bentaknya dengan keras.


Yuda yang menatik tangan wanita itu dengan keras seketika terlepas karena menghindari pukulan di area sensitifnya.


"Maaf Nyonya tapi, aku tidak berkelahi dengan wanita." Seketika Tanpa ada banyak bicara wanita itu melayangkan pukulan tendangan juga perlawan bertubi-tubi hingga Yuda sedikit kewalahan menghindar.


"Tidak ada waktu lagi," Ucap Yuda. Pada Telpon yang masih tersambung dengan Arkan dan Lorenzo.


Yuda melawan perempuan licik, dia membawa benda tajam dan menggunkan pisau menyerang Yuda terlanjur sangat kesal. Hingga Yuda menjauh dirinya langsung Masuk ke ruangan Dinda seketika menguncinya dari dalam. Senyap ruangan yang tidak ada siapa pun hingga Arkan yang diam berdiri di belakang pintu tidak disadari. Seketika Kiran menyenggol apel di atas nakas dan membuat wanita itu segera membuka tirai seketika membuka tidak ada siapapun kecuali seseorang yang terbaring di ranjang, Dinda.


Seketika itu wanita itu berlutut dan mengduh sakit dan Arkan langsung menarik tangannya kebelakang.


Seketika itu perempuan itu berlutut dengan tangan yang terikat kebelakang, Gerakan Arkan cepat tidak bisa Wanita itu kira rasanya sudah jatuh berlutut dan tangan terikat di belakang tiba-tiba.


Tak lama Kiran datang dan menampar wanita itu.


Palaak....


"Berani yaa Lo... Maen masuk aja nyamar jadi perawat lagi, Kurang duit lo, sampe ngelkuin hal kotor!" ucap Kiran.


"Weeet.. Sabar Ran.. jangan di ceramahin." Kata Lorenzo dengan menepuk bahu Kiran tapi, langsung di tepis Kiran.


Perempuan itu menatap marah pada Kiran dan Arkan hingga Lorenzo.


"Untung tidurnya Dinda aman sampe kenapa-kenapa Gue..."


"Kiran." Suara Yuda membuat Kiran berhenti. Yuda masuk setelah Lorenzo membukakan pintu untuknya.


"Heemm.. Bagus pawang halalnya disini, Makanya Yud Ade jangan suka telat ngamplas mulut. Kan kasar mulu ngomongnya." Oceh Lorenzo seketika Kiran mencubit Lorenzo.


"Aaa..." mengusap perut yang di cubit Kiran.


"Ih.. diem." Kesal Kiran.


Arkan menatap perempuan itu. Seketika Yuda yang berdiri di belakang wanita itu seketika melihat ada sebuah tato hitam.


Ketika akan membuka kerahnya Kiran menahan Kakaknya.


"Mau ngapain, Kiran hajar sampe macem-macem sama cewek," ucap kiran.


Yuda berdecak malas.


"Buka bajunya Ran," ucap yuda.


"Astagfirullahaladzim Kakak.... Kakak mau ngapai," ucap Kiran heboh.


Seketika Lorenzo dan Yuda akan melakukannya perempuan itu berontak.


"Eeeitt.. iya iya.. Kiran yang buka. Permisi." Kiran membukanya ternyata menggunakan pakaian lengkap di dalamnya dan baju perawat ini hanya baju samaran.


Ketika di buka mawar hitam besar di punggung atas terlihat. Arkan menatap datar Lorenzo dengan tatapan terkejut dan Yuda mengangguk.


Kiran terdiam seketika Yuda menarik kasar adiknya untuk menjauh.


"Gue telpon Kuta sama ..." Seketika terpotong ucapan Lorenzo oleh Arkan.


"Grees.. Panggil Gresia aja," ucap Arkan dengan datar.


Lorenzo mengangguk.


Dalam hatinya perempuan itu mengumpat kesal. Salah meremehkan Arkan dan pengawalannya dikira tugasnya kali ini sangat muda ternyata, Malah dirinya yang kena. Dirinya tidak akan bicara apapun sampai nyawa taruhannya.