
Dinda sampai di butik mamanya Kiran dengan sepeda lalu segera masuk dan mengerjakan pekerjaannya. Memeriksa beberapa pakaian yang belum tertata.
Juga membantu merapikan benang yang setelah dari penjahit.
Kiran juga melakukan hal yang sama.
Setelah itu mereka juga membersihkan debu jika kotor lantainya.
Tidak lama datang banyak orang mereka membantu melayani.
Hari ini sangat ramai ketika Dinda dan Kiran baru saja istirahat sebentar.
Sejam lebih beberapa menit berlalu berangsur pembeli berkurang dan sekarang semakin jarang Dinda merapikan lagi beberapa Gaun ke tempatnya juga beberapa pakaian pesta.
Dinda seketika menatap lemari kaca yang berderet lima kotak dan di pisah dengan gantungan pakaian pesta lalu ada lima lemari kaca kotak masing-masing berisi satu gaun putih besar seperti untuk pernikahan.
Dinda tersenyum tapi, matanya menatap sedih.
Dinda menunduk dan pergi dari sana setelah satu dua menit berlalu.
Dari samping Tempat Dinda berdiri sebenarnya Mamanya Kiran sedang berdiri memeriksa beberapa gaun.
Mamanya Kiran juga sempat melihat wajah Dinda yang menatap sedih ke gaun putih didepannya.
"Rumit sekali permainan untuk Arkan dan Dinda, Semoga saja Tante Amelia memang memilih calon istri untuk cucunya yang benar-benar terbaik," ucap Mamanya Kiran dengan suara pelan.
Tidak terasa sudah waktunya pulang, hari semakin sore Butik juga hampir akan tutup di waktu azan Magrib.
Dinda yang baru keluar bersama Kiran dan Mamanya lalu berpisah dengan kendaraannya masing-masing.
Dinda mengayuh sepedanya terus melaju melewati pinggir jalanan aspal. Sampai di gang tempat jalan tikus, Dinda paling cepat sampai rumah dan cepat sampai butiknya Mamanya Kiran.
Dinda mengayuh sepedanya santai ketika sepeda sudah berbelok ke dalam gang dekat perumahannya.
Dinda berhenti didepan gerbang turun dari sepeda dan membuka gerbang.
Seketika suara mobil dan suara Motor membuat Dinda menoleh.
Mereka?
Kak bagus Kak Lorenzo Kak Justin juga kakaknya Kiran dan Kiran kemari, ada apa sebenarnya? Juga Rettrigo dan Kuta mereka juga turun dari mobil.
Dinda membuka pintu gerbangnya lebar dan mempersilahkan semuanya masuk.
Dinda membuka pintu rumahnya menyalakan lampu teras dan lampu pagar juga menyalakan lampu ruang tengah ruang tamu dan juga dapur.
Dinda juga menutup jendela dengan horden transparan.
Menyalakan Ac.
Dinda membuka kulkas dan mencari beberapa botol air.
Lorenzo dan lainnya duduk di ruang tamu Kiran ikut masuk kedalam membantu Dinda.
Setelah semua selesai Dinda mencuci kakinya dan juga mencuci mukanya dan merapikan rambutnya. Seketika Yuda mengeluarkan keresk putih, itu adalah makan malam ini.
"Makasih kak!"
"Maaf ya, Dinda cuman punya itu aja," ucap Dinda. menatap semuanya canggung sih.
Dinda seketika di rangkul Kiran.
Seketika Justin terdiam.
"Dinda. Maaf apa kita ngerepotin lo sekarang?" ucap Justin dengan sopan.
"Eh.. enggak juga kok, Dinda senang justru kalian dateng," ucap Dinda.
Lorenzo menatap Bagus Justin Yuda bergantian.
Rettrigo dan Kuta. Dua temannya lainnya da di depan teras.
"Dinda maaf, itu pesan Arkan, Arkan gak berani dateng ke lo dan minta maaf langsung, Ada banyak kata maaf yang mau Arkan bilang tapi, percaya sama Arkan Kalo Arkan masih bisa jaga lo walaupun bukan Arkan langsung, Karena dia terlanjur janji," ucap Lorenzo berputar-putar.
"Ck... berbelit banget lo Lorenzo." Kesal Bagus.
Seketika Dinda tersenyum dan mengangguk.
"Hehe... Udahlah Kak, gak masalah Dinda tahu kok kalo Kak Arkan udah di jodohin dan besok yang akan jadi istri Kak Arkan waktu pernikahan Dinda tahu siapa, Jadi maksudnya Kak Arkan minta maaf lewat Kak Lorenzo itu Dinda ngerti maksudnya." Seketika semua diam. Mereka tidak menyangka jika Dinda sudah tahu lebih dulu.
"Kita gak maksud buat lo sama Arkan kek gimana-gimana tapi," ucap Lorenzo bimbang bingung malu menatap Dinda.
"Tenang aja kak, Dinda bentar lagi kelas dua belas setelah Kak Arkan lulus dan kakak-kakak semua juga lulus Dinda akan tetep ceria jadi Dinda yang ceria, Dinda ikhlas Dinda kan gak boleh egois, Kebahagian Kak Arkan lebih penting, Dinda udah pernah bilang kalo Dinda gak jodoh.... Gak heh.. Gak Jodoh sama Kak Arkan, Dinda... Dinda harus Ikhlas Kak Arkan bahagia sama orang yang lebih baik buat Kak Arkan." Seketika Dinda menutup matanya. Kiran yang peka mengerti langsung memeluk Dinda.
Seketika Itu semua menunduk sedih.
"Kok Gue gak terima ya, Harusnya Bos ama bu Bos dong bukan sama cewek lain," ucap Kuta kesal.
"Gue juga gak nyangka itu, Gue liat Dinda sama Arkan kayak saling melengkapi tapi, kenapa pas Arkan gue lihat nyaman sama Dinda dia malah harus membuat semua impiannya sama Dinda hancur, Sedih banget plus rumit," ucap Lorenzo.
"Gue juga liat semua kenyamanan itu di mata Arkan," sahut Justin.
"Gue rasa ini bukan akhir dari segalanya, jadi Dinda, Lo mau nyampein apa ke Leader?" ucap Kak Yuda.
Dinda menunduk mengusap air matanya.
Seketika Kiran menatap marah Kakaknya.
"Emang ya, orang sedih juga, gak mau liat sikon," ucap Kiran mengatai kakaknya.
Yuda mendengkus pada Kiran.
"Gak usah, biarin aja lagi pula kalo Dinda jawab maafnya pake perantara sama kayak Kak Arkan ini gak akan selesai."
"Dan Dinda mohon. Kalo gak ada yang bilang ke kak Arkan kalo Dinda udah tahu semuanya," ucap Dinda. Justin mengangguk.
"Ya udah kalo gitu kita pamit mau sholat di masjid terus langsung pulang, makasih ya Dinda ngerepotin," ucap Justin.
Mereka semua berdiri dan keluar dari rumah Dinda.
Setelah semua pergi termasuk Kiran yang memeluk Dinda sebelum pergi. Setelah itu Dinda menutup pintu gerbang dan pergi masuk kedalam lalu menutup garasi setelah memasukan sepedanya.
Dinda menyalakan televisi dan pergi mandi lalu membuka makanan cepat saji dan memasukannya ke open listrik. Setelah Mandi dan sholat magrip juga sudah Dinda duduk didepan televisi seketika itu Dinda mendengar ponselnya berdering.
Dinda menjawabnya dan mengatakan, Jika mau datang lagi gak masalah Dinda akan masak semuanya.
Seketika Di masjid depan gang Kiran menerima pesan Dinda.
"Apa ran jawabnnya," tanya Lorenzo pada Kiran.
Gara-gara tindakan sok Cool Justin mereka tidak jadi makan bersama di rumah Dinda.
"Bisa Katanya," ucap Kiran seketika itu semua langsung pergi lagi kecuali Rettrigo dan Kuta mereka akan makan tempat lain bersama dua temannya.
Dinda menyiapkan tempat piring gelas juga makanan yang Kakaknya Kiran bawa tadi di meja pantri dan meja makan.
Terdengar suara gerbang di buka Dinda membuka pintunya dan melihat Kiran yang membuka Gerbang untuk yang lainnya masuk setelah semua kendaraan masuk kini Yuda yang menutup pintu pagarnya.
Dinda langsung mendapat senyuman dari Kiran.
"Maaf ya Dinda jadi gak enak, Sok Cool sih Kak Justin nih," ucap Kiran menatap marah kearah Justin.
Justin tenang seperti tidak memiliki rasa bersalah.
Mereka masuk Dinda mempersilahkan semua duduk di tempat yang mereka mau ruang tengah ada tv mau di ruang tamu juga bisa.
Setelah semua cuci tangan dan duduk santai juga menonton tv seketika Lorenzo membongkar isi lemari tv Dinda.
"Dinda lo suka film action film berbau kekunoan," ucap Lorenzo.
"Oh itu, iya Kak," ucap Dinda.
"Pertama kali gue masuk sini tempat berantakan gegara orang-orang tak tau malu itu," ucap Lorenzo mengingat bagaimana Arkan dan mereka menyelamatkan Dinda dari orang suruhan Black Rose dan Scorpion.
"Rajin juga Dinda," sebut Yuda seketika menatap seluruh ruang tv.
Dinda mendengar hanya diam saja malu.
Sedangkan Kiran membawa makanan ke meja tv dan minuman Dinda yang membawanya.
"Dinda pinter juga lo milih film Bebas bau pornoan paling nih film cuman ada adekan kissnya beberapa," ucap Bagus.
"Halah Sok tahu Lo," ucap Lorenzo. Seketika Justin menyambar kaset film yang terlihat menarik.
"Kita nonton ini aja gimana?" ucap Justin.
"Boleh! puter aja kak," ucap Dinda.
"Yaaha.. Lo ngiler juga Tin, Sebelum itu gue minta izin dulu ntar kita kena marah lagi," ucap Lorenzo dengan semangat seketika Yuda menyambar ponsel Lorenzo.
"Ini Rumah Dinda dia yang punya ngapain lo tanya Leadernya," ucap Yuda.
"Dah lah kak Zo gak masalah, Anggep aja lagi Nobar," ucap Dinda seketika membuat Bagus dan Yuda berseru girang.
Malam ini di rumah Dinda ramai dengan teman-teman Arkan dan juga Kiran yang menemani Dinda.
*
Arkan dirumah. Tepatnya di dalam kamarnya Baru saja masuk dan melepas pakaian formalnya Arkan baru saja mengadakan rapat.
Seketika ponsel Arkan bergetar dengan pesan masuk.
Di lihat ternyata rekaman suara dan juga pesan ketik. Pesan itu dari Yuda.
Arkan membaca pesan ketik itu.
"Sebenernya gue gak janji sama Dinda tapi, gue harap lo bisa rahasiaain kalo gue kasih tahu lo, Sekarang kita lagi di rumah Dinda makan bareng sama nobar bareng, gue ajak Kiran." Pesan dari Yuda.
Berikutnya pesan suara. Arkan memutarnya.
Arkan mendengarkan semuanya sampai selesai terakhir tidak terdengar suara lalu berhenti.
Arkan meletakan kembali ponsel disampingnya.
Ternyata Dinda udah tahu pantesan belakangan ini dia sering banget ngehindar dia juga gak pernah lagi kirim pesan tanya kabar, Arkan merasa tak karuan sekarang.
Arkan tidak tahu Dinda mendengarnya darimana yang jelas kenapa Hati Arkan sakit kalo Dinda tahu dirinya akan menikah.
Akh.. Arkan.... Kenapa rumit banget!
Seketika Arkan bangkit dan pergi dari kamarnya dengan pakaian dan juga badan segar Arkan sudah siap akan keluar seketika Arkan membuka pintu kamarnya Kakek baru saja datang.
Jarang sekali kakeknya menghampiri Arkan di kamarnya.
"Mau kemana?" Kata kakek dengan nada suara yang Dingin dan datar.
"Keluar!" jawab Arkan apa adanya. Singkat saja jawaban Arkan.
"Kamu Tidak bisa keluar rumah kamu se enaknya sebentar lagi kamu akan menikah dan kamu juga akan menjadi pewaris perusahan besar, Belajarlah bertanggung jawab dengan baik," ucap kakek dengan tegas ada nada menyindir dan tidak suka Arkan sering keluar dan pulang pergi malam. Sebelumnya memang Kakek biarkan Arkan pergi dan pulang malam sekarang sudah tidak bisa.
"Arkan gak minta kakek buat nikahin Arkan. Arkan cuman mau buat kakek nenek seneng dan bahagia punya Arkan dan juga semua pencapain Arkan buat Kakek tapi, Kakek masih belum paham sama Arkan, Kakek terlalu memaksa, Apa Arkan boleh tahu kenapa, Gak, kakek Gak akan jawab atau tanya, Pertunangan sama Citra Kakek ambil keputusan tanpa Arkan, Lalu batalkan tanpa tanya Arkan, Kakek gak tanya Arkan apa kamu baik-baik aja mengurus semuanya, Udah berapa hari dan berapa waktu kamu sibuk Arkan, Gak... Semua pertanyaan itu kakek gak pernah tanyakan, Apa Arkan masih kurang," ucap Arkan meluapkan semua emosinya dengan nada bicara yang masih sopan.
Jika yang sebenarnya yang di ajak bicara bukan kakeknya Arkan sudah membentak tapi, Arkan berusaha bicara dan meluapkan emosi dengan pelan dan menekan nada bicaranya agar tetap terdengar sopan di telinga kakeknya.
Kakek menatap Arkan dengan wajah marah.
Plaak....
Tamparan keras penuh emosi Kakek berikan hingga wajah Arkan merah dan sudut bibirnya berdarah.
"Jangan Sombong kamu, Ingat kamu siapa yang ngurus? Kakek sama Nenek! Gak tahu terimakasih malah jadi anak sombong gak tahu diri dan pamrih, Ingat Saya kakek Kamu gak pernah mengajarkan sifat sombong itu," ucap Kakek dengan menatap marah Arkan urat lehernya begitu terlihat menegang karena emosi dan amarahnya meluap keluar karena Arkan.
"Baik... Kalo kamu mau bebas dari peraturan Kakek, Kamu tinggal di rumah lama Orang tua kamu tanpa pelayan dan lakukan semua sendiri, Sekarang!" ucap Kakek dengan membentak didepan wajah Arkan.
Tangan Arkan mengepal keras. Emosinya terkumpul dalam kepalan tangan itu.
Tidak bicara Apapun Kakek tetap menatap Arkan yang pergi lagi masuk kedalam kamarnya memberisi barang juga pakaian dan yang bisa di bawa sekarang dengan cepat.
"Anak tidak tahu terimakasih, dikira sudah menjadi anak yang penurut dan baik ternyata sama saja sikapnya seperti ayahnya yang terlalu bebas dan tidak tahu asal usulnya."
Seketika Arkan menghentikan gerakannya menyeret koper keluar kamar.
"Jangan Anda salahkan ayah Saya atas dasar dan peduli Apa anda menilai Ayah saya Anda hanya orang yang suka menilai hal buruk seseorang," ucap Arkan dengan bahasa formal dan nada hampir meninggi menatap Kakeknya dari samping.
Berlalu Keluar Arkan seketika Nenek menghentikan Arkan dengan langkah kakinya. Arkan menoleh.