
Dua minggu berlalu di kabarkan Gabriel dan Citra Rosella mati di dalam sel tahanan setelah putusan hakim dan itu di ketahui jika korban bunuh diri dan tidak tahu penyebabnya. Padahal setelah sidang baik-baik saja.
Dan dengan Rosella ibu dari Citra Rosella, Citra Silla atau istri dari Gabriel hampir keguguran tapi, beruntung selamat. Sempat melawan katanya.
Disini Justin dan Arkan menerima telepon dari Silla jika ibunya di rawat dirumah bersama Veronica dan semalam ada hal aneh terjadi, ada peluru masuk rumah Veronica dan membuat kaca tebal itu pecah bekeping-keping.
Sebenernya aneh!
pemimpin gangster perempuan ketakutan dan sampai harus dirawat putrinya. Tapi, yang sebenarnya terjadi ketika kejadian itu Mamanya Silla kehilangan ingatannya dalam waktu singkat tidak tahu penyebabnya apa tapi, ketika sadar dan melihat Silla justru tidak kenal dan hampir keguguran jadi terpaksa Silla mengaja ibunya di rawat di rumah Veronica. Ibunya Silla juga lupa kalu dirinya sedang mengandung.
Arkan tak habis pikir kabar berita hari ini tapi, kali ini dirinya harus mengurus urusan kuliah setelah kembali dari Swis beberapa hari lalu. Bersama semua temannya Arkan duduk di kursi kantin Kampus dengan wajah di tekuk kesal.
Baru saja duduk dan selesai jajan, Arkan langsung pergi di ikuti lainnya.
Tujuan selanjutnya adalah restoran Hotel Posidion yang dimana ruang privat mereka pesan .
Berhubung belum ada yang sarapan ataupun makan dari kemarin sore mereka memesan makanan ketika datang.
"Ini gak baik Kan," ucap Rian seketika membuat ke limanya menoleh, baru saja akan duduk. Saat ini mereka ada di restoran hotel tempat mereka bertemu mengambil tempat privasi.
Setelah lulus sekolah Lorenzo langsung di beri tanggung jawab ayahnya mengurus perusahaan dan juga usaha ayahnya dalam bidang kuliner.
Bagus menjadi pengusaha kontrakan dan kos-kosan bersamaan itu juga sedang membangun apartemen mewah, Orang tua Bagus sedang sibuk di luar negeri juga luar kota.
Neneknya sudah pulang ke rumahnya di luar kota dan Kedua orang tua Bagus mondar mandir karena dua-duanya nenek kakek Bagus sedang ingin di tengok dan sedang sakit juga.
Jadi lah pertemuan mereka kali ini sangat berbeda dari segi pakaian dan bau mereka pasti bertemu banyak orang dan juga sibuk kuliah dan meneruskan usaha orang tua masing-masing. Kalo Rian jangan di tanya dia hanya perlu mengurus perusahan cabang milik kakak iparnya di Indonesia siapa lagi kalo bukan Giovano.
Juga mengurus perusahaan yang berdiri dengan jasa keamanan yang tinggi dan para pekerja juga karyawannya adalah para orang terlatih terpilih berwawasan luas dan lulusan kemiliteran.
Biasa di gunakan para pejabat penting untuk menyewa jasa atau keamanan tingkat tinggi.
Kembali lagi pada pembahasan mereka setelah melihat ekspresi tegang para bujang sibuk.
Seketika, seperti biasa Yuda datang paling belakang dengan hoddi Biru lautnya dan celana jeans hitam robek lutut. Sebenernya sudah datang sejak tadi hanya saja keluar sebentar dengan Justin.
"Kalian bakalan gak nyangka apa yang barusan gue sama Justin liat, di basmant parkiran mobil lantai dua," ucap Yuda memperlihatkan vidio rekaman dimana itu mobil ayahnya Dinda dan juga orang dengan tato Blackrose juga Scorpion di lengan atasnya.
"Lo dapet dimana?" ucap Lorenzo heboh.
"Ini Biasa.. Gue liat di basmen parkiran hotel Posidion," ucap Yuda seketika membuat semua terdiam.
Jika Yuda sering melihatnya apa yang ayah Dinda lakukan? Arkan Seketika berpikir.
"Selanjutnya apa yang bakalan kita lakuin," ucap Justin yang koneksinya nyambung dengan Arkan yang hanya ngebatin.
"Cari tahu dulu, gue yakin ada masalah lainnya selain ini," ucap Bagus seketika bersuara membuat Arkan mengangguk cepat.
"Kita bakalan tahu, gak lama ini, Daftar pertama selidiki Maulana, orang tua Dinda, setelah itu kita kembali ke rencana B." Kata Arkan dengan datar dan tegas berwibawa serius sekali.
Setelah Rencana A mendapatkan semua informasi tentang Gabriel dan menangkapnya lalu terjadi pembunuhan setelah ini berarti orang ini sengaja membuat masalah menyeret atau kerja sama paksa dengan kedua orang tua Dinda. Masalahnya Orang tua Dinda yang Arkan kenal dan itu bersih dari orang-orang macam gengster.
"Ketemu," Celetukan Justin seketika menggeser laptopnya menghadap kelimanya. Tak lama pesanan mereka datang.
Setelah pelayan keluar mereka kembali bicara.
"Orang ini salah satu mantan napi, dia di bayar mahal dia mantan anggota gangster lain, Alasannya bergabung karena uang," ucap Justin menjelaskan.
Semua mengangguk.
Seketika Arkan mendapat telepon dari ibu Dinda.
"Halo tan," ucap Arkan.
Seketika keliamanya diam.
"Arkan Tante minta kamu jaga Dinda ya, Nanti kalo misalkan Tante atau om jauh kamu jangan jauhin dia ya," ucapan ibunya Dinda.
"Kalo gitu tante masih ada urusan makasih ya," ucap Ibu Dinda.
Seketika telpon terputus diakhiri salam.
Arkan menatap aneh ponselnya.
Kembali pada pembahasan dan makanan mereka.
*
Disini Dinda sedang berolah raga bersama semua teman sekelasnya karena pelajaran penjas tentang dasar-dasar bola Volly.
Ketika akan memainkannya Dinda tersandung karena ceroboh alhasil lututnya berdarah.
"Aduh," ucapnya ketika rasanya perih di lutut membuatnya sulit berdiri.
Seketika Beto membantu.
"Laah elo ngerepotin orang aja," ucap Beto seperti tak ikhlas.
Seketika Dinda mencibirnya.
"Halah... Gak ikhlas ngomong lo."
Dinda melepas tangannya dari Beto dan berterimakasih dengan tulus lalu pergi ke pinggir lapangan.
"Eh.. Dinda gak papa lo," ucap Kiran menghampiri Dinda dan melihat keadaannya.
Masalahnya di bagi kelompok jadi Kiran jauh dan tidak sekelompok dengan Dinda.
"Maul," ucap Dinda bergerak untuk turun.
"Diem luka lo bisa bahaya kalo gak di bersihin." ucap Maulana.
"Ih.. Iya gue tahu tapi, gue gak mau kayak gini turunin gue," ucap Dinda.
Seketika mencubit dua pipi Maulana dengan keras membuat sang empunya mengaduh dan menurunkan Dinda dengan perlahan.
Kiran seketika meraih tangan Dinda dan Dinda membawa Kiran pergi dari sana.
"Lo jangan deket-deket gue," ucap Dinda menjauh dari Maulana.
Kiran seketika fokus membantu Dinda berjalan.
Di sini Uks.
Setelah Dinda di obati dengan betadin dan lumayan tak sakit. Dinda dan Kiran keluar uks.
"Eh tunggu disini dulu, Pak Samino juga minta gue buat jagain lo," ucap Kiran.
"Lo mau tanya sesuatu kan," ucap Dinda yang tahu kalo Kiran sebenarnya ingin bertanya sesuatu.
Kiran menyengir seketika mengajak Dinda sedikit ke ujung ruangan Uks dekat dengan meja perawat dan meminta Dinda duduk dan menutup horden sekat ranjangnya.
"Maulana kayaknya obsesi banget sama lo," ucap Kiran.
"Hem.. Iya.. Gue gak tahu, juga maaf ya gue belum cerita tentang ini sama lo ya, Kemaren Maulana di pasar teradisional hampir nyium gue tapi, gue bales nyaci dia dan dia juga ngatain gue murahan karena maunya sama Kak Arkan yang anak orang kaya," ucap Dinda.
Seketika Kiran memeluk Dinda dan melepasnya dan menatap juga memegang kedua pipi Dinda dan menatap kewajahnya dengan serius.
"Inget gue temen bar-bar lo jangan lupa, sekarang gue udah tahu jadi Gue bakalan sama-sama Lo terus," ucap Kiran menggebu. Dinda tersenyum.
"Haah.. Itu dia masalahnya dia kayaknya suka banget sampe dia udah gak punya urat malu lagi, lah lo liatkan dia gendong gue di depan umum malu nya minta ampun gue," ucap Dinda.
"Iya sih," ucap Kiran seketika merubah posisi duduk di samping Dinda dan tangannya memegang dagu seperti berpikir.
"Gak usah sok mikir, Biasa aja," ucap Dinda.
"Lagian gue juga bukan menye-menye lagi gue juga bisa marah," ucap Dinda lagi.
"Iya.. Gue percaya, semoga aja tuh Maulana gak nekat dan gak buat lo lebih sakit," ucap Kiran yang takut jika bayangan itu terjadi.
Dinda menggeleng malas sudah jika sudah pikiran panjang Kiran berjalan membayangkan hal aneh.
"Dah Kantin aja," ucap Dinda. Kiran seketika mengangguk senang dan pergi.
Akhirnya mereka selesai bercerita dan keluar dari ruang Uks dan pergi kekelas karena percuma juga kembali ke lapangan volly karena sebentar lagi waktu istirahat.
Dinda masuk bersama Kiran kekelas dan duduk barus saja mendudukan diri semua temannya masuk.
Lalu beralih berganti baju.
*
Istirahat.
Maulana mendatangi Dinda dan memberikan es greentea untuk membuat mood Dinda membaik.
"Lo apa lagi sih Maul," ucap Dinda yang sekarang sedang duduk bersama teman-temannya di kantin.
Bukan membaik malah di marahi.
"Yaa gue ngasih lah, Mau gak, kalo gak gue buang," ucap Maulana dengan mudah Seketika.
Dinda menatap tajam Maulana dengan wajah tak percaya.
"Sini gue terima, lo ini buang makanan mubazir," ucap Dinda dan membaginya pada Lia Yeni Kiran dan kecuali dirinya.
Maulana menatap heran.
"Ikhlas?" Kata Dinda dengan wajah datar menatap Maulana
"Iya." Wajah kecewa kesal sambil menjawab ucapan Dinda. Tapi, segera di ganti senang palsu.
"Ya udah, kan gue bilang gue gak perlu di kasih apapun, Tuh liat cewek bejibun di muka bumi yang lebih cakep cantik seksi bohai banyak, gue triplek gini jangan mau," ucap Dinda sedikit frontal dan membuat Yeni dan Lia tersedak kuah seblak.
Kiran juga melongo.
Ini Temennya Kiran bukan, aneh! Batin mereka.
"Dinda Lo kecebur sumur keramat tadi," ucap Dodi seketika membuat satu Kantin menatap Dodi dan Dinda.
"Gak gue mandi kembang tujuh rupa sebelum kekantin, sama makan kembang kantil," ucap Dinda asal seketika membuat Beto bergidik ngeri.
"Gak nyangka Temenan ama Kunti jadi-jadian bar-bar kayak Dinda," ucap Beto membuat semuanya menatap sinis dan aneh Dinda.
Bruak..
"Kedep Mata lo semua percaya amat," ucap Dinda sewot tapi, bercanda, seketika membuat mereka kembali biasa dan gebrakan meja dari Dinda membuat Dodi dan Beto diam aslinya mereka terkekeh diam-diam.
Maulana masih disana.
Seketika Dinda melirik dan pergi dari sana, malas dengan Maulana yang masih disana tidak mau pergi juga, haah jengah rasanya.