Arkan Dinda

Arkan Dinda
Pulang bersama



Arkan masih tetap menunggu hingga dua puluh lima menit.


Ketika Akan bangkit menyusul Arkan seketika melihat Dinda turun dan akan segera sampai di parkiran Arkan mengambil helmnya dan milik Dinda juga.


"Lo ngapain?" Suara Arkan tiba-tiba membuat Dinda terkejut dan menatap Arkan kaget. Dinda menatap heran seketika melangkah maju bersamaan.


"Eh.. Dinda.. lah Kakak kali yang ngapain... eh..." Terpotong karena Dinda menangkap lemparan helm dari Arkan.


Dinda terdiam berusaha mencerna hingga, ting... Bohlam berwarna kuning akhirnya menyala ketika sempat rusak di atas kepala Dinda.


Arkan menoleh melihat Dinda yang senyum-senyum sendiri.


"Heh..." Suara Arkan. Seketika Dinda terkejut dan langsung memakai helm dan naik keatas motor Arkan. Arkan menjalankan motornya pergi. Ketika itu seseorang berpakaian hitam dengan motor langsung menikuti Arkan dari jarak agak jauh. Arkan berhenti di lampu merah. Seketika melihat seseorang yang mencurigakan dari sepion motor orang Di depannya.


"Kita mampir dulu boleh gak aku mau beli novel baru tapi, kalo kakak gak bisa gak papa," ucap Dinda.


Arkan berdehem sedikit keras agar Dinda dengar.


"Haah.. Apa kak?" ucap Dinda yang tidak dengar.


Arkan mendengus.


Menoleh kesamping.


"Iya." Sahut Arkan.


Seketika Dinda serasa berdebar, benarkah Arkan mengiyakannya Ah... jangan-jangan ini kencan terselubung dalam mampir ke toko buku. Eh... Kalo bener gak papa deh.


Arkan Melajukan motornya berbelok, tidak lurus. Mengarah ke Mall yang terdapat toko buku terbesar di Jakarta.


Dinda dengan senang hati menikmati Cerita pulang bareng dengan tema mampir ke toko buku tapi, isinya kencan terselubung, Eaaa.. sak Ae dah.


Arkan membanting stir cepat masuk ke halaman Mall lalu basmant parkiran. Lalu mencari tempat parkir Arkan mendapatkannya, tempat parkir yang dekat dengan pos keamanan.


Dinda turun dan membawa Helmnya Lalu Arkan melepas helmnya seketika Arkan memanggil Dinda. Karena membawa-bawa helm masuk ke Mall.


"Malu-maluin!" Seketika Dinda sadar kesalahannya dan cengenegsan.


"Heheh Maaf ya kak.. Nih Dinda taro sini aja," ucapnya dengan wajah malu.


Mereka berdua lalu berjalan seketika Arkan menarik Dinda untuk berdiri di sebelah kanannya ketika motor mencurigakan itu masuk, sama... Plat nomornya. Sempat Arkan Liat sekilas plat nomor itu.


Arkan berjalan berpura-pura tidak sadar. Masuk lewat bintu basment kedalam mall.


Sampai di tempat pakaian Dinda berjalan terus menuju eskalator. Seketika Arkan menarik Dinda untuk berada di sebelah kirinya.


Dinda hampir pusing dari tadi suruh geser.. geser kiri kanan.


"Aduh.. Kak? kenapa sih?" ucap Dinda. Arkan tidak menoleh atau menjawab fokus kedepan dan jalanannya juga beberapa hal yang membuat dirinya dan Dinda celaka.


Sampai di Toko buku terbesar Dinda seketika terkejut..


"Waah.. Ini beneran, Aa.. ada novel baru.. ini Eh.. Gak jadi deh.."


"Eh.. ini ada judulnya aaa bagus banget, harganya.. ehm gak jadi deh."


"Huuh.. Dinda fokus satu novel aja.. bingung semuanya bagus banget hiiih.. Ini godaan..." Kesal Dinda baru masuk disambut novel bagus ketika lihat harganya tidak sesuai Dinda mundur dan berucap pelan menolak dan mengembalikan buku ke tempatnya.


Lagi dan lagi hingga Dinda harus sabar menabung dulu untuk bisa membeli novel itu. Dinda mencari novel yang ia inginkan.


"Yaahh.. Tinggal satu.. Syukur deh kebagian," ucap Dinda dengan Lesu. Arkan yang mengikuti Dinda hanya diam memperhatikan hingga semua ekspresi Dinda bisa Arkan lihat.


Arkan melihat juga bagaimana Dinda menekan keinginannya untuk membeli semua novel itu.


Sampai di depan Kasir Dinda menyerahkannya, lalu membayarnya. Arkan melihat Dinda mengeluarkan uang koin dan uang receh kertas. Kasir itu tertawa.


"Yaa ampun Mbnya ini terlalu polos ya, ini asli celengan." Kata Kasir itu.


"Heheh iya Mb.." Sahut Dinda santai.


"Eh.. Mbnya kok gak minta pacarnya," ucap Kasir itu.


"Oh.. dia.. Gak lah.. ngapain kan ini saya yang make saya yang baca, kalo belum ada ikatan harus menafkahi jangan sekali-kali minta, Apa lagi pacaran, Gak jelas hubungannya, banyak mintanya, kita gak tahu dia itu pake uang hasil sendiri atau masih minta orang tua," ucap Dinda seketika membuat Kasir bungkam.


"Eh.. " Kasir itu kaget dan tersenyum.


"Uangnya kembali tiga ribu.. Terimakasih ya,"ucap Kasir Itu Dinda mengangguk.


Keluar dari toko buku Dinda kembali melalui jalan yang tadi. Ketika akan menaiki tangga Eskalator Arkan mengganti Dinda untuk disebelah dekat tepi Eskalator.


"Kak Arkan takut aku di senggol orang ya," ucap Dinda dengan Pd. Arkan tidak menjawab.


"Gak, Gue mau jatohin lo dari Eskalator." Suara Arkan tiba-tiba.


Deg...


Serem amat, niat banget nih orang kayaknya.


"Jahat amat kak Ngomongnya, kalo gak ya udah... santai aja kali," ucap Dinda tapi, ada senyuman di wajah Dinda karena suka dengan perlakuan Arkan. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah menjaga dari orang yang mengikuti mereka.


Sampai di lantai bawah Dinda langsung berjalan duluan dan pergi masuk ke pintu yang tadi mereka lewati bagian toko pakaian pintu keluar di samping, langsung menuju parkiran basmant.


"Kak.. Makasih ya udah nemenin Dinda, oiya.. Kakak gak izin gitu sama tunangan kakak," ucap Dinda. Arkan diam saja.


"Kak.. Kalo Kakak diam berarti kakak lagi mikirin tunangan Kakak waktu jalan sama Dinda karena takut dimarahin yang kedua, kalo kakak ngangguk berarti kakak Gak ada apa-apa dan jawab ucapan makasih Dinda tadi."


Seketika Dinda menghentikan langkahnya karena Arkan tidak menjawab apapun.


Arkan acuh saja terus berjalan sampai di motornya Arkan menggunakan helm Seketika Akan ada motor yang melaju kencang Dinda langsung bergeser tanpa sadar mengambil helm pemberian uluran tangan Arkan.


Ciiiit...


Nyaringnya suara rem motor dan ban motor yang terseret. Membuat orang berkumpul karena suaranya cukup mengundang banyak orang untuk penasaran melihat.


Dinda yang akan menoleh langsung Arkan tarik dan seketika Dinda menatap Arkan.


"Naik." Katanya dengan datar. Dinda langsung melakukannya dan duduk dengan tenang.


Dinda tidak melewati jalan masuk tadi tapi, jalan keluar lainnya bersama Arkan karena jalan masuk Basmant tadi ramai orang yang sedang bubar.


Arkan melajukan motornya tenang hingga keluar area mall.


Sampai turun kejalan raya Arkan Masih sedikit tenang karena orang tadi tidak mengikuti mereka.


Arkan harus punya rencana lain agar nyawa Dinda tidak terancam. Tidak di sekolah atau di luar rumah. Dinda selalu dalam bahaya. Dan Anehnya apa yang Arkan lakukan, melindunginya, ini bukan Arkan, harusnya Arkan membiarkan saja ingin Dinda mati atau pun di culik tapi, sesuatu dalam dirinya selalu mendorong Arkan untuk selalu melindungi Dinda dan jangan pernah membiarkan hal buruk terjadi pada Dinda.


Di belakang Dinda seketika mengingat kejadian semalam tentang yang memalukan dan tentang wajah lebam Arkan dapat semalam. Dinda sepertinya memang membawa masalah. Lebih baik Dinda harus jaga jarak tapi, Apa bisa.


Pulang bareng kali ini aja Dinda dapet tambahan rasa suka ibarat kasih bintang lima ke abang ojol Kalo yang dinda Alamin adalah tambahan bintang lima kalo Arkan berbuat manis dan memperlakukan Dinda seperti orang terpenting yang harus dijaga.


Dinda harus mencari cara agar Dinda dan dirinya bisa berjauhan dengan Arkan sebentar.