
Setelah kembali dari acara itu Dinda merasa kurang nyaman masalahnya tempat itu atap, Dinda kira dirinya sudah sembuh malah sekarang takut dan Trauma lagi.
Dinda Demam dan izin tidak pergi kesekolah lagi selama beberapa hari dan masih menerima tugas dari Kiran dan Lia atau Yeni yang mengerjakannya bersama di rumah Arkan atau di kirim lewat ponsel.
Seperti sekarang Dinda asik mengerjakan tugas Tentang menghitung dan tentang sejarah.
Bersama-sama sih tapi, Dinda ada yang aneh kali ini dia lebih giat Lia aja heran.
"Lo kenapa Dinda?" Tanya Kiran
"Entah gue gak papa tuh," sahutnya asal Biasanya kalo tugas rumah kelompok mengerjakannya bersama Dinda lebih banyak Diam kali ini malah dia lebih sibuk.
"Lo makin rajin Kemaren-kemaren kemana aja yang rajinnya males mulu tuh," sahut Yeni menggoda Dinda.
Dinda tersenyum menggeleng.
"Iya nih gue lagi pengen kan sebulan lagi ada TO 1 2 3, terus ujian-ujian abis tu Ujian beneran, Yaa setidaknya gue mau lihat kemampuan gue diakhir buah dari males gue," ucap Dinda asal seketika Kiran tertawa terbahak-baha Yeni terkekeh Lia juga.
"Gila-gila... Tuh otak lo boleh di tuker gak kayak Patrik star sapa tahu nanti pas ujian pinter lo," ucap Yeni sambil terkekeh. Dinda langsung murung.
"Yang namanya mau dapet hasil bagus gak gitu Juminten, Lo belajar dari awal nilai hariian itu nyata lah nilai kelulusan itu nyata juga tapi, lebih memuaskan nilai harian, Dasar lo ada-ada aja, aduuh Temen gue satu ini, ada aja imajinasinya," Kiran sampai mengeluarkan air mata.
"Lia emang gitu," menoleh bertanya pada Lia.
Lia mengangguk dan berdehem.
"Huuh.. Percuma, Brengs*k."
Dinda marah karena percuma belajar giat.
"Gak gitu ceritanya Din, Nilai itu cuman angka kalo kita belajar buat diri kita itu bagus, kita yang untung walaupun nilai kita gak bagus-bagus amat tapi, apa yang kita tahu dari lamanya waktu belajar itu yang penting, Nambah ilmu bagus kalo nambah nilai itu yang bikin pening, Masalahnya lo nambah ilmu itu memuaskan diri kalo nambah nilai di puaskan contekannya," jelas Lia.
Dinda mengerti, Maksudnya adalah tidak penting mau berapa nilai dari hasil belajar yang penting itu ilmu yang didapat dari belajar, Gak masalah nilai kecil kalo orangnya cerdas mah siapa yang tahu.
"Orang Bodoh belum tentu Bodoh, Orang pintar belum tentu pintar, Beda orang pintar dengan orang cerdas, Jangan karena Nilai jelek gak masalah, Gak gitu! Inget Din kalo belajar lo bagus lo juga akan terima hasil yang bagus, dari usaha belajar memuaskan yang lo sendiri lakuin pake niat, tapi kalo sebaliknya lo juga jangan kecewa karena gak semua peroses jadinya mulus mulu kayak eskrim, kayak jalan tol," jelas Yeni.
"Ooh.. Gitu," sahut Dinda.
*
Sebulan berlalu dan sekarang waktu sudah melewati TO pertama, sudah seminggu TO berlalu Dinda sudah melihat hasil TO 1 lumayan mengecewakan.
Bagaiamana menunjukannya pada Kak Arkan. Sudahlah pikirin nanti.
"Wooy.. mana nih yang rajin belajar." Yeni datang-datang rusuh.
"Gimana?" Kiran menanyakan kabar ujian Dinda Dinda menoleh menatap Kiran dengan wajah di tekuk.
"Haahah.. Jelek tapi, lumayan buat awal gak masalah gak kaget," ucap Dinda.
Dinda pulang dengan lemas kerumah ternyata didepan Arkan menunggu.
Arkan menyanyambut dan menatap Dinda.
"Kak Jangan kecewa ya, Gak bagus hasilnya tapi, Lumayan," ucap Dinda.
Arkan tersenyum.
"Gak masalah."
"Kamu mau keluar jalan-jalan?"
Seketika Dinda bersemangat menoleh cepat dan menatap Arkan yang dengan santai masih berjalan didepan.
"Gak masalah? Jalan-jalan keluar?"
"Boleh banget kak Ayok."
Dengan cepat Dinda bergerak naik keatas menyusul Arkan.
"Tapi," ucap Arkan terhenti berbalik menatap Dinda dan seketika Dinda terdiam.
Dinda mengerti dan ternsenyum.
"Kakak ikhlaskan, yang anu-anu itu bedakan," ucap Dinda dengan wajah polosnya.
Arkan mengangguk dengan senyuman dan kekehan.
*
Minggu keduanya setelah beberapa hari, Dinda melakukan TO lagi yang ke 2 bersama teman-temannya juga.
Hasilnya Lumayan, tidak terlalu meningkat pesat.
Ok besok adalah TO terakhir.
Dinda harus belajar giat. Di rumah Dinda belajar bersamaan Arkan yang juga sibuk. Arkan tahunya jika Dinda masih belajar tidak tahu jika waktu hampir jam sebelas malam.
Arkan masih membiarkan Dinda belajar.
Seketika Arkan keluar lagi dari ruangannya Dinda tidur beralaskan buku. Arkan hanya bisa menggeleng merapikan buku-buku Dinda dan menggendong Dinda ke kamar.
Setelah selesai TO3 kini berikutnya Ujian lainnya sampai lulus.
Belajar terus Dinda tidak ada istirahat sambil menghafal dan menuliskan beberapa rumus penting.
Malamnya belajar juga sampai jam sebelas lagi setiap hari sampai ujian nasional.
Beberapa jam berlalu beberapa hari berlalu kini jam tujuh pagi lagi di hari Ujian nasional berlangsung sebentar lagi.
Dinda bersiap dengan semangatnya.
Kiran menggeleng.
"Semangat membara Dinda," ucap Kiran.
*
Selesai ujian nasional waktunya untuk pengumuman kelulusan.
Rasanya panas dingin gugup tiada akhir.
Kiran Lia Yeni mereka biasa aja tapi, Dinda aneh karena keringat dingin.
"Kok Pengen muntah gue," ucap Dinda ketika sedang berdiri bersama-sama semua temannya di lapangan untuk mendengarkan pidato kepala sekolah dan wakil kepala sekolah.
Kiran melihat Dinda pucat merasa Khawatir.
"Lo gak sarapan kali," ucap Lia ketika sadar Dinda pucat sekali.
"Iya kali dikit dari kemaren gue begadang mulu buat belajar mati-matian," sahut Dinda.
Yeni dan Lia mengangguk.
Kiran menenangkan Dinda. Dinda mengangguk.
"Udah, Ran kek nya bisa sampe selesai kira kira mendekati waktu pulang," jelas Dinda yang tidak tega melihat wajah khawatir Kiran.
"Serius lo, Lo sih maksain diri kalo gak bisa begadang jangan begadang," ucap Kiran kesal melihat Dinda menahannya.
Pidato kepala sekolah selesai sekarang pengumuman kelulusan.
Seketika semua bersorak riang mereka akhirnya Lulus Seketika itu Dinda tidak tahan dan pergi ke toilet berlari dengan kencang.
Kiran mengejar Dinda ketika Dinda berbalik dan langsung berlari bersamaan itu semua bubar dan kembali kekelas ada yang langsung pulang atau mengurus sesuatu di ruangan guru dan ruang TU.
Lia dan Yeni pergi kekelas membereskan tas Dinda dan Kiran.
Sampai mereka berdua di depan Toilet Kiran dan Dinda ada, saat itu juga ada yang mau masuk Yeni menghalanginya.
"Jangan masuk Ada yang perutnya gak beres kalian mending ke toilet atas aja," ucap Yeni.
Lia mengangguk.
Dua siswi itu kesal dan pergi ke toilet atas.
Di dalam Toilet Dinda memuntahkan semua makanannya termasuk makanan semalam.
Sekarang benar-benar pucat Dinda.
"Aduh... Gimana gue telepon kak Arkan aja apa Gressia, Kak Arkan lagi ada urusan kampus baru aja Kak Yuda bilang di Wa," ucap Kiran panik
Dinda bersandar di dinding dan menatap Kiran.
"Dah naik ojek aja," ucap Dinda.
"Gak bisa gue bisa bareng lo kok mampir kerumah nganter lo dulu gak masalah," ucap Kiran.
"Udahlah Ran gak papa gue bisa pulang sendiri kasian Tante nungguin lo lama di butiknya nanti kalo rame kasian Tante," ucap Dinda menatap Kiran.
Kiran jadi kesal sendiri.
Masalahnya ponsel Dinda juga lobat.
"Tuut... Hallo kak, Kak Arkan mana?"
Dinda berjongkok di toilet merasa kepalanya sangat pusing.
Di kampus Arkan baru saja keluar ruang Dosen dan melihat Yuda berlarian menghampirinya.
"Tentang Dinda," ucap Yuda memberikan ponselnya.
Arkan menerimanya dan mendengar penjelasan Kiran seketika itu Kiran mematikan ponselnya.
Arkan sangat marah. Kenapa sulit sekali meminta untuk tidak begadang dan ini hasilnya, malah masuk angin gara-gara begadang.
Jangan-jangan Dinda memakan makanan macam-macam disekolah atau Maghnya kambuh.
Arkan langsung pergi ke Sekolah Dinda dan masuk memarkirkan Mobilnya.
Arkan turun tanpa menoleh kesana kemari.
Menelpon Kiran sambil berjalan dan menanyakan dimana mereka sekarang.
Di Uks. Dinda terbaring dengan keringat didahi dan wajahnya pucat.
Arkan masuk dan langsung melihat Dinda.
"Kakak," ucapnya malu.
"Makasih Kiran," ucap Dinda tidak enak dengan tatapan Arkan dan berusaha mengalihkannya ke Kiran.
Di luar uks semua melihat Dinda di gendong Arkan sambil berjalan mengarah ke halaman dan parkiran mobil motor.
Kiran langsung memasukan tas Dinda dan membukakan pintu depan untuk Dinda. Arkan langsung masuk ke bangku kemudi.
Pandangan atau pemandangan yang di nikmati semua siswa siswi yang melihat Dinda di gendong lelaki tampan, membuat mereka merasa iri dan menggeleng tak percaya.
Pikir mereka, Dinda sangat beruntung.
Hadiah lulus di gendong pacar dari kelas sampe mobil. Itu adalah hal yang gak pernah mereka alami dan mereka belum bisa wujudkan.